( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Kesal


__ADS_3

" Bang sedang apa? " Tanya Annisa sambil mengambil ponsel nya.


" Itu tadi Arka telepon." Jawab Dimas.


Annisa mengecek ponsel nya ternyata Arka menghubunginya, dan Dimas dengan sesekali mengintip saat Annisa memeriksa ponsel nya.


" Ngapain Bang? " Tanya Annisa saat tahu Dimas yang ingin tahu.


" Nggak apa - apa." Jawab Dimas sambil tersenyum.


Annisa pun memasuki kamar tamu lalu melanjutkan chat nya, dan Dimas pun masih berdiri di depan Pintu.


" Abang ngapain disitu?"


" Anak kecil yang ada di wallpaper ponsel nya kamu siapa, anaknya Arka? "


" Oh itu anak kecil ya, dia anak Panti yang sudah Saya anggap sebagai anak Saya sendiri." Ucap Annisa bohong.


" Oh, kirain anak nya Arka, soalnya setahu Abang dia bukan Duda, berarti benar bukan anaknya Arka." Ucap Dimas pergi meninggalkan Annisa.


" Maaf kan Saya Bang, kalau Saya menyembunyikan anak kita." Ucap Annisa sedih.


*******


" Bang kok sudah 3 hari sekarang nggak lihat berangkat Dinas?" Tanya Annisa saat Dimas mengganti perban.


" Abang cuti, Abang nggak Mau ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini."


" Saya sudah baikan Bang, lebih baik Saya besok pulang, dan nggak enak juga kalau lama - lama disini."


" Tinggallah satu minggu, biar Abang merawat kamu."


" Nggak Bang, abang juga sudah banyak menolong. Dan ingat Bang kita buka siapa - siapa lagi baik secara Agama atau Hukum."


" Annisa, Abang ingin menebus dosa yang selama ini Abang jahat dan menyakiti hati kamu. Tolong biar kan Saya menebus nya, agar Saya tenang."


" Sebencinya Saya, tidak akan pernah bisa terlalu benci sama Abang karena bagaimana pun Abang adalah.. " Ucap Annisa yang tidak melanjutkan kata - kata nya.


" Abang adalah apa? "


" Bagaimana pun Abang adalah Mantan suami dan Saya pernah mengandung anak Abang."


" Jangan kamu ingat kan lagi masalah anak, jujur Saya sedih karena kegugurannya kamu gara - gara Abang."


" Syukurlah kalau Abang menyesal walau terlambat."


*******


" Kamu sudah cari di mana Jhoni sama Aldo?" Tanya Pak Bowo.


" Kamu sudah cari mereka berdua tapi tidak ada, bahkan mereka membawa kendaraan motor trail nya." Ucap kepercayaan Pak Bowo.


" Mereka Mau jadi pengkhianat rupanya."

__ADS_1


" Kami akan terus mencari mereka sampai ketemu, lalu kami bawa ke hadapan Bos."


" Bawa mereka berdua Secepatnya."


******


" Kamu kok nggak bilang sih mau kesini?" Tanya Dimas saat Siska datang ke rumah nya.


" Surprise dong. " Ucap Siska sambil melangkah masuk kedalam ruang keluarga.


" Yank, itu gelas ada 2 punya siapa?" Saat Siska melihat gelas kosong di atas meja makan.


" Oh itu tadi ada teman." Ucap Dimas bohong.


Annisa saat hendak masuk kedalam rumah lewat Pintu belakang, melihat Siska yang ada di ruang tamu yang terlihat arah lurus dari Pintu belakang.


" Aduh ada Siska, bisa - bisa marah kalau Saya disini." Ucap Annisa lantas terlihat langit mulai gelap dan hujan pun turun, namun saat akan masuk dan bersembunyi di dalam Siska berjalan mendekat, lalu Annisa dengan segara bersembunyi.


Angin yang kencang membuat jendela bergerak membuka dan menutup bahkan Pintu pun ikut bergerak.


Siska menutup Pintu tersebut dengan menguncinya, dan membiarkan Annisa kedinginan di luar.


" Sialan Siska, Saya terjebak di luar sudah hujan angin kedinginan lagi.


" Hujan gede yank." Ucap Siska.


" Ya terus Mau gimana, kamu Mau pulang yaudah Sana pulang." Ucap Dimas yang mencari keberadaan Annisa.


" Iiiishh tega banget Saya suruh pulang."


Tiba - tiba mati lampu, lalu dengan segera Dimas mengambil lilin dan meletakkan di atas meja.


Siska mendekati Dimas dan memeluk tubuh Dimas dari belakang.


" Siska jangan begini." Ucap Dimas sambil melepaskan tangan Siska yang melingkar di Perutnya.


" Kenapa sih, kamu sejak cerai sama Annisa kamu nggak pernah cium Saya, peluk atau kirim kata - kata romantis."


" Kamu ingin nya Saya masih bersama Annisa agar bisa romantis sama kamu."


" Ya nggak sayang, ya aneh Saya, terus banyak tanda tanya."


" Siska, kita pacaran biasa saja ya, jangan kayak ABG." Ucap Dimas berjalan menuju duduk ke arah sofa.


Siska lalu mendekati Dimas dan duduk di atas pangkuan Dimas.


" Yank, kamu tahu kan Saya manja, kamu tahu kan Saya suka duduk di pangku seperti ini sama kamu." Ucap Siska sambil membelai pipi Siska.


" Kamu turun duduk yang benar Saya nggak terjadi apa - apa sama kita disini, kamu tahu kita hanya berdua sekarang jangan terlalu dekat nanti ada yang lihat bagaimana."


" Siapa yang lihat?"


" Yang di atas."

__ADS_1


Siska lalu turun dari pangkuan Dimas dan beralih duduk di samping Dimas sambil memasang wajah sedikit kesal.


" Maaf ya sayang, kalau sekarang sikap Saya berbeda. " Ucap Dimas sambil memegang tangan Siska.


" Sebenarnya kamu mau hubungan kita serius nggak sih?"


" Serius, sangat serius tapi kita tidak bisa menjalankan hubungan kita tanpa restu."


" Saya akan dekati Bunda kamu dan Ayah kamu, membuktikan kalau Saya yang terbaik."


" Kita harus sama - sama memperjuangkan hubungan kita sama - sama." Ucap Dimas.


Dreeett... dreeett


Siska mengangkat ponsel nya lalu menjawab dengan serius, dan memasukan kembali ponsel nya di daka.


" Saya balik ke Puskesmas ada korban kecelakaan." Ucap Siska langsung bersiap - siap."


" Hujan deras." Ucap Dimas.


" Darurat, Saya pulang dulu ya." Ucap Siska mencium kedua pipi Dimas dan mengecup singkat bibir Dimas.


****


Dimas mencari Annisa namun tak ada, hingga Seluruh isi ruangan tak melihat Annisa. Namun mata nya tertuju pada Pintu belakang, dan tiba - tiba teringat saat Pintu belakang di kunci.


Dimas segera membuka Pintu tersebut dan saat Saat di buka Dimas mencari ke kanan dan ke Kiri namun tak ada. Dan saat melihat di balik sebuah pot besar yang ada di teras belakang rumah Annisa sedang duduk bersandar dengan tubuh menggigil.


" Annisa!! "


Annisa menoleh ke arah Dimas dengan tatapan marah, lalu beranjak bangun dan pergi masuk kedalam rumah.


" Abang nggak tahu kamu di kunci dari dalam."


Annisa tak menghiraukan Dimas, diri nya terus berjalan masuk ke dalam rumah.


" Kamu marah? " Tanya Dimas.


Annisa lalu berhenti melangkah dan membalikkan tubuh nya menghadap Dimas.


" Bagaimana nggak marah, Saya di kunci dari dalam hujan angin kedinginan kalian enak - enak an pacaran. " Jawab Annisa kesal


" Maaf, Abang juga tidak ngapa - ngapain sama Siska hanya duduk saja."


" Bilang duduk, enak saja duduk, memang nya Saya nggak tahu apa kalian ngapain di dalam."


" Memang nya tahu Saya ngapain sama Siska?"


" Iya Saya tahu Abang sedang apa sama Siska didalam."


" Kamu mengintip kita? "


" Gimana nggak mengintip Saya ingin masuk di kunci dari dalam, niat sembunyi di dalam karena hujan eh malah keburu dia jalan ke arah Pintu belakang."

__ADS_1


" Maaf dia nggak tahu kamu ada di luar."


__ADS_2