
Shakira dengan mengenakan seragam sekolah nya tampak senang dimana hari pertama diri nya sekolah, Annisa mengantar nya ke sekolah yang berada tepat di depan kantor kecamatan.
" Halo... namanya siapa? " Tanya Ibu Guru.
" Shakira Annisa Dimas Ibrahim, panggil nya Shakira." Jawab Shakira.
" Cantik nya." Ucap Ibu Guru.
" Saya titip anak Saya sekolah di sini."
" Baik Bu Camat, terima kasih sudah mensekolahkan putrinya disini."
" Sama - sama Bu." Ucap Annisa.
" Sayang belajar yang benar ya jangan nakal." Annisa mengecup kening Shakira, lalu Shakira mencium punggung tangan Annisa.
" Shakira sekolah dulu mamah."
******
Annisa pun memasuki ruang kerja nya, dan mentanda tangani berkas - berkas yang sudah menumpuk di atas meja.
Annisa membaca satu persatu berkas yang akan di tanda tangani, dan setelah selesai di baca diri nya mentanda - tangani berkas tersebut.
Tok... Tok... Tok..
" Masuk."
" Maaf Bu ada tamu." Ucap salah satu Anggota SATPOL PP.
" Suruh masuk saja." Ucap Annisa.
" Baik Bu."
Tamu tersebut lalu mengetuk pintu, dan Annisa pun terperanjat kaget saat melihat tamu yang kini berada di depan nya.
" Apa kabar Bu Camat? "
" Kamu Surya, Ya Allah pangling benar. Alhamdulilah sehat masuk, silahkan duduk Surya."
" Saya nggak menyangka kamu di tugaskan disini, Saya juga kaget saat tahu kamu jadi Camat Pamasah."
" Kamu tugas di Mana? "
" Saya menjabat sebagai Camat di Kecamatan Anjun, sudah satu tahun."
" Setelah kita lulus sama kamu lost contact , eh tahu - tahu nya kita di pertemukan disini."
" Saya turut berduka cita atas kabar Bang Arka."
" Minta doa nya."
" Saya kaget saat mendengar dia korupsi terakhir dia meninggal dunia, apa kalian sudah menikah? "
" kami hampir tapi tidak jadi, Saya kini Istri dari anak Bupati dimana Saya tugas dulu. Awal nya Saya sebagai Ajudan ibu nya, panjang ceritanya." Ucap Annisa.
" Jodoh maut nggak ada yang tahu." Ucap Surya.
" Benar, kita juga nggak menyangka."
__ADS_1
" Sebenarnya tujuan Saya ini ada sesuatu yang ingin Saya katakan." Ucap Surya.
" Apa itu Surya? " Tanya Annisa.
" Saya melakukan hal yang patal, dan kalau Saya katakan mungkin kamu kaget. " Jawab Surya.
" Kamu Mau curhat? "
" Bukan sekedar curhat, ini ada hubungan nya dengan kamu dan kasus kamu itu sebagian ada yang tahu."
" Cepat juga ya sudah menyebar." Ucap Annisa tersenyum kecut.
" Ya sebagian juga ada yang bergunjing kamu tak di pecat karena kamu menantu Bupati."
" Mereka semua bicara seperti itu tapi keputusan ini bukan keputusan sepihak tapi bersama untuk di berikan kesempatan lagi. Pak Gurbernur juga tahu, tapi real nggak ada unsur. politik." Ucap Annisa.
" Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Saya penasaran."
" Ehm... begini sebenarnya.."
*****
Annisa masih memikirkan apa yang di katakan Surya, antara percaya dan tidak percaya. Annisa berjalan bolak balik sambil menggigit kuku nya.
" Surya nggak pernah berbohong tapi kok bisa."
" Assalamualaikum."
" Walaikumsalam." Annisa pun lalu mencium punggung tangan Dimas.
" Shakira hari ini mulai sekolah ya? " Tanya Dimas.
" Ehm.. Pah. " Annisa membuka kancing seragam satu persatu.
" kenapa hem kayak nya jadi kayak gini." Ucap Dimas sambil membelai pipi nya.
Annisa mengalungkan kedua tangan nya di leher Dimas, dan mendekat kan bibir nya.
" Mulai sekarang tinggalah bersama."
Dimas menaikan satu alisnya dan menatap kedua Mata Annisa.
" Kenapa, Mau di manja terus ya hem..? "
" Seharusnya Abang tinggal sama Saya, mulai sekarang tinggal lebih lama, untuk saat ini selama nya Abang milik saya."
" Dari dulu juga Abang milik kamu, dan Abang juga mencintai kamu, tunggu lah sampai Siska melahirkan setelah itu kita daftarkan pernikahan kita." Ucap Dimas menarik pinggang Annisa hingga kini tubuh mereka saling menempel.
Annisa melepaskan pelukan Dimas, dan lebih memilih masuk ke kamar nya dan mengambil kaos ganti untuk suaminya.
" Apa harus menunggu melahirkan, itu masih lama." Ucap Annisa memasang wajah kecewa nya.
" Sayang Siska sedang hamil nggak mungkin Abang cerai kan, dan asal kamu ingat setelah Abang cerai kan Siska anak nya tanggung jawab Abang, jadi kamu harus menerima anak nya."
" Saya nggak akan menerima anak yang di kandung Siska, selama nya Saya tidak akan menerimanya. "
" Kamu nggak ingin menerima anak Abang, dia juga masih saudaranya Shakira, adik Shakira."
" Karena anak yang di kandung Siska adalah penghalang hingga rumah tangga kita hancur."
__ADS_1
" Kenapa sekarang kamu tiba - tiba bicara seperti itu? "
" Abang Mau tahu? "
" Iya kenapa? "
" Anak yang di kandung nya bukan anak Abang, tapi anak pria lain karena Cinta satu malam."
Dimas tersenyum lalu tertawa terbahak - bahak, dan memegang kedua bahu Annisa.
" Sayang, sudah jangan ngomong nya yang nggak - nggak yang jelas hati Abang hanya sama kamu, wanita satu - satunya." Dimas mencium kening Annisa.
" Abang nggak percaya, seharusnya seorang Ayah juga memiliki ikatan bathin yang di rasakan dengan calon anak nya, apa Abang merasakan Perbedaan calon anak yang di kandung Annisa dan Siska." Ucap Annisa lalu mengarahkan tangan Dimas ke arah perutnya.
" Abang pasti memiliki getaran yang berbeda, dan yang jelas ikatan bathin itu sangat erat sekali." Ucap Annisa kembali.
Dimas terdiam dan menatap kedua bola mata Annisa, dan senyuman Dimas terukir di wajahnya.
" Ikatan bathin ini sangat jelas dimana Abang merasakan nya, karena kamu adalah wanita yang paling abang sayangi." Ucap Dimas.
" Saya akan perjuangan kan Cinta selama ini tak pernah bersatu secara utuh, mulai sekarang Saya akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya dan anak - anak." Ucap Annisa.
" Kamu nggak usah capek - capek merebut nya karena suami kamu datang sendiri lebih memilih Cinta sejati nya bukan Cinta pertama nya. "
*******
" Bu Dokter maaf ada pasien." Ucap Perawat Puskesmas.
" Aduh ini kan sudah tutup saat nya makan siang, tunggu setelah makan siang bisa? " Ucap Siska.
" Maaf Bu pasien ini memohon untuk di tangani sekarang, karena dia hanya ingin ibu yang menangani saya sudah katakan setelah jam istirahat saja tapi dia ingin sekarang. "
" Ya sudah suruh masuk, Pasien nya perempuan atau laki - laki? "
" Laki - laki Bu."
" Suruh dia masuk."
Siska pun mempersiapkan kembali alat medis nya yang setelah di rapikan.
" Selamat siang Bu Dokter."
" Selamat siang." Balas Siska sambil memunggunginya.
Siska pun lalu berbalik badan dan saat berbalik diri nya menjatuhkan stetoskop nya.
Praak
" Kamu...??? "
" Apa kabar? "
Mata Siska membulat lebar dan nafas nya seakan tercekak di lehernya.
" Kamu kenapa bisa tahu saya disini? "
" Hal yang mudah untuk saya, saya mencari kamu kemana - Mana, sungguh kamu pintar menghilang kan jejak. "
" Katakan Mau kamu apa, saya sudah bilang jangan mencari saya."
__ADS_1