
" Baru dua kali kita kesini Ayah, mereka mengundang kita." Ucap Ibu Riana sambil menikmati hidangan makan malam bersama.
" Ayah jujur rindu seperti ini, hanya kalian yang jarang luangkan waktu untuk kami main, tidak seperti Bagas dan Dito." Ucap Pak Ibrahim.
" Maaf Ayah Bunda, sekarang kan kami luangkan waktu untuk kalian di sela - sela kesibukan." Ucap Dimas.
" Kalian kapan kasih cucu untuk kita? " Tanya Ibu Riana.
" Kami ingin nya secepatnya, tapi belum di percaya Bund." Jawab Annisa.
" Kalian periksa lah ke Dokter kandungan langganan Bunda, cek kesuburan kalian berdua." Ucap Ibu Riana.
" Benar kata Bunda, kalian cek kesuburan kalian." Ucap Pak Ibrahim.
" Sebenarnya kita sama - sama subur tapi belum di kasih." Ucap Dimas.
" Jadi kalian pernah cek ke Dokter kandungan?" Tanya Pak Ibrahim.
" Iya Ayah, tapi belum di kasih." Jawab Dimas.
" Yasudah, yang penting kalian tetap bersama sampai Maut memisahkan kalian." Ucap Ibu Riana.
****
Annisa membersihkan piring bekas makan malam bersama, dan Dimas yang mencuci piring.
" Kamu dengar Bunda bilang apa, sampai Maut memisahkan kita." Ucap Dimas.
" Sampai Maut memisahkan kita dengan sandiwara. " Ucap Annisa.
" Kita mungkin akan menunda."
" Sampai kapan? " Tanya Annisa.
" Nggak tahu." Jawab Dimas.
" Saya akan yang maju ke pengadilan Agama."
" Apa kamu sangat mencintai Arka?"
" Apa Bang Dimas juga mencintai Siska?"
" Kamu sudah tahu kan jawaban nya, kalau saya sangat mencintai Siska."
" Jawaban Saya juga begitu."
" Kata Ali, kamu tertawa lepas sama Arka, Sedang kan tawa kamu saat bersama Saya, adalah tawa sandiwara."
" Sandiwara kita ini sudah mendarah daging." Ucap Annisa.
" Apa sampai saat ini kamu masih benci sama Saya? "
" Iya."
********
" Tanda tangan apa ini Pak? " Tanya Annisa sambil membaca sebuah proposal.
" Untuk ijin meminta sumbangan ke warga untuk pembangunan saluran irigrasi." Jawab Pak Bowo.
" Kalau dana bantuan itu di alokasi kan di pembangunan sarana untuk warga ya, gedung olah raga saja."
" Saya minta tanda tangan Ibu, untuk meminta sumbangan warga untuk pembangunan saluran irigrasi kita kerjakan secara gotong royong."
" Kenapa nggak buat proposal ke Bupati untuk bantuan pembuatan saluran itu, kita nggak usah minta ke warga, kita mengajukan ini, nanti pemerintah daerah yang menanggulangi."
" Baik Bu boleh, nanti Saya buat proposal nya."
" Siapkan saja, nanti Saya tanda tangan."
" Hmmm.. Bu, kenapa Ibu menghindari saya?" Tanya Pak Bowo, laku Annisa melirik ke arah Pak Eko.
" Menghindari bagaimana ya pak, soalnya Saya sibuk."
" Tidak tinggal di rumah Dinas lagi."
" Karena saya punya rumah sendiri, ada kala nya Saya ingin menetap di rumah sendiri."
__ADS_1
" Hmm.. Pak Bowo kalau sudah selesai mari, Saya bimbing untuk syarat apa saja, pengajuan ke Bupati tentang proposal itu." Ucap Pak Eko yang mengalihkan topik pembicaraan.
" Baiklah terima kasih waktu nya." Ucap Pak Bowo lalu pergi meninggal kan ruangan Annisa.
******
" Bang, nanti malam ada Razia di tempat biasa warung remang - remang."
" Siap, kita arahkan Tim kobra untuk melakukan Razia di tempat - tempat seperti itu." Ucap Dimas.
" Bang, ada satu target kita harus menyamar untuk menjadi pengguna jasa prostitusi online."
" Mana data nya? " Tanya Dimas.
Seto pun memberikan data akun yang di duga melakukan transaksi prostitusi Online.Dimas pun lalu membaca data tersebut.
" Kita nanti rapat kan untuk masalah kasus yang satu ini. Dan sampai kan pada yang lain khusus Tim Kobra untuk beroperasi nanti malam."
****
Annisa pun menonton televisi sambil memakan cemilan snack , namun pandangan nya teralih pada Galih dengan pakaian preman.
" Bang malam ini kan jadwal Patroli?"
" Iya kenapa? "
" Kok pake nya pakaian preman."
" Mau melakukan Razia, dengan menyamar sebagai pengunjung." Ucap Dimas.
" Pengunjung? "
" Iya, untuk memancing tersangka masuk dalam perangkap."
" Bawa kunci sendiri, biar pulang langsung masuk nggak bangunin saya." Ucap Annisa.
" Iya." Ucap Dimas.
******
Sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di rumah gaya minimalis, tampak seorang pria keluar dari mobilnya menyambut wanita cantik yang sudah rapih menghampiri pria yang menjemputnya.
" Siap dong." Jawab Annisa.
***
" Kamu yakin jam segini masih buka?" Tanya Arka.
" Masih, ini kan masih pukul 9 malam." Jawab Annisa.
Arka pun memutari kota, dan Annisa pun sesekali menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu untuk di beli. "
" Bang itu yang toko cokelat nya." Tunjuk Annisa.
Mobil pun akhirnya berhenti tepat di sebuah toko aneka cokelat, dengan antusias Annisa keluar memasuki toko tersebut.
" Mau beli yang Mana sih? " Tanya Arka.
" Stok cokelat di rumah habis, Saya ingin permen cokelat, cake cokelat, sama aneka cokelat ini." Jawab Annisa.
" Mba tolong bungkus ini ya." Ucap Arka.
Setelah memasuki mobil, Annisa memakan beberapa cokelat tersebut.
" Malam - malam begini makan cokelat gemuk loh. "
" Kalau Saya gemuk, Abang nggak cinta lagi ya."
" Iya sudah nggak cantik."
" Ih... Abang nyebelin..!!! "
" Awwww... sakit Yank, sakit... ampun..!!! "
Annisa terus mencubit pinggang Arka, hingga jalan mobil tidak beraturan.
" Yank, stop Yank bahaya ini Mobil nya."
__ADS_1
" Nggak, Abang harus bilang gendut itu menarik." Ucap Annisa yang masih terus mencubit Arka.
" Iya.. iya ampun, kamu gendut tetap cantik kok.. ampun Yank.. "
Ciiittttt
Mobil Arka tiba - tiba berhenti, dan yang membuat kaget sebuah Mobil Polisi yang berhenti di depan nya.
" Bang, Polisi ada apa? " Tanya Annisa terkejut.
" Nggak tahu, kita turun." Jawab Arka.
" Selamat malam." Sapa seorang Polisi tersebut.
" Malam Mas. " Balas Arka.
" Maaf bisa tunjuk kan surat - surat nya, begitu juga dengan Mba nya." Ucap Polisi tersebut.
Annisa dan Arka menunjukkan identitas meraka pada Polisi yang memeriksa nya.
" Maaf, kami hentikan karena Mobil jalan nya tidak stabil seperti nya ada masalah? " Tanya salah satu Polisi satu nya.
" Maaf Pak, tadi kami sedang bercanda." Jawab Arka.
" Kalian ASN? "
" Benar." Ucap Arka.
Saat satu Mobil Patroli berhenti lagi, pandangan mata Annisa menangkap sosok Dimas yang keluar dari Mobil tersebut.
" Gawat, bisa ngomel - ngomel." Ucap Annisa dalam hati.
Ternyata benar, tatapan mata Dimas mengarah pada Annisa dan juga Arka.
" Lah.. ini kan Ibu Camat sama Pak Camat juga." Ucap Salah satu Polisi yang datang bersama Dimas.
" Meraka Camat? "
" Iya, yang ini Camat saya. Camat Baramulya." Ucap Polisi tersebut yang bernama Tio.
" Mata Arka pun menatap ke arah Dimas dengan tatapan yang tak suka, begitu pun juga dengan Dimas.
" Tolong cek siapa tahu meraka mabok, soalnya Mobil jalan nya oleng." Ucap Dimas.
" Bang, Camat nggak mungkin mabok. " Ucap Tio.
" Siapa tahu kalau mode di luar Dinas mereka peminum atau pemakai kita nggak memandang siapa yang akan kita periksa."
" Maaf kami bukan yang seperti Pak Polisi bilang." Ucap Arka.
" Tapi dari gerak gerik kalian mencuriga kan." Ucap Dimas.
" Kami hanya sedang bercanda, silahkan bisa mendengar ucapan dari kamera dashboard." Ucap Arka.
" Baik kami periksa, dan kalian harus di periksa juga." Ucap Dimas yang menuju Mobil Arka.
" Nyebelin banget tahu. " Annisa hanya menatap kesal ke arah Dimas yang menurutnya terlalu berlebihan.
***
" Bagaimana Pak, anda percaya kan? " Ucap Arka tersenyum penuh kemenangan.
" Saya hanya peringatkan lagi, saat berkendara jangan seperti tadi karena membahayakan pengendara lain." Ucap Dimas.
" Saya minta maaf , lain kali tidak akan Saya ulangi." Ucap Arka.
*******
" Tadi malam kalian dari mana?"
" Toko cokelat. "
" Malam - malam ke toko Cokelat."
" Abang nggak akan peka terhadap kebiasaan atau kesukaan Saya, hanya tahu sekilas."
" Kalau ada yang tahu kalian jalan berdua, dan besok pagi photo kalian muncul di surat kabar maupun TV daerah bagaimana kalau Bupati kita tahu."
__ADS_1
" Persetan Bang sama ini semua, biar waktu yang jawab. Kalau mereka tahu yasudah, memang kita tak pernah saling mencintai, memang kita nggak bahagia. Saya nggak mau ambil pusing, atau takut. Saya capek terus terang, dengan menjalani hidup penuh kebohongan menjadi Saya harus membatasi ruang gerak."
" Tolong untuk saat ini kita masih memerankan tokoh yang pura - pura bahagia." Ucap Dimas.