
Dimas terus menyeka air mata Annisa, saat melihat Annisa kembali tidur dengan nyenyak.
" Maaf kan saya Annisa, maaf kan saya yang belum bisa sampai sekarang mencintai kamu sampai kita saat ini bukan menjadi suami istri, bahkan kita sering bersama, rasa itu belum juga ada. Maaf kan saya, saya janji akan melepaskan kamu saat yang tepat nanti, saya akan mengeluarkan kamu dari kehidupan saya, dan saya akan lepaskan kamu untuk bebas bersama pilihan hati kamu."
******
Kembali ke Kisah masa lalu...
" Saya akan bawa pacar Saya, dan sekalian minta restu Sama Ayah dan Bunda." Ucap Dimas.
" Baik, bawa ke hadapan Bunda, lusa besok ayah kamu pulang." Ucap Ibu Riana.
Dimas pun melangkah keluar ruang kerja Bunda nya, tatapan sinis ke arah Annisa membuat Annisa tertunduk.
" Jangan masukan di hati segala ucapan Dimas, dia memang mulutnya pedas kalau bicara." Ucap Ibu Riana.
" Maaf kan Saya Bu. " Ucap Annisa.
" Kamu benar suka Sama Dimas? "
Annisa hanya diam dan menundukkan kepalanya sambil meremas ujung pakaian safari nya.
" Ibu sangat setuju kalau yang menjadi istri Dimas."
Annisa menggelengkan kepalanya dengan menatap wajah Ibu Riana.
" Saya hanya mengagumi anak Ibu, Saya tidak ada niat untuk memiliki, Saya bagaikan bumi dia bagaikan langit Saya hanya seorang Ajudan apalagi Saya anak panti asuhan."
" Ibu juga bukan orang dari keluarga berada, Ibu juga hanya anak dari seorang petani. Ibu tidak pernah memandang orang dari status, jujur Ibu sangat menyukai kamu."
******
" Iya pak Saya kesana sekarang. " Ucap Annisa menutup ponselnya.
Annisa lalu berjalan menuju ke arah Ibu Riana yang sedang mengobrol dengan Pak Ibrahim.
" Maaf Ibu Bapak Saya menggangu." Ucap Annisa.
" Ada apa Annisa? " Tanya Ibu Riana.
" Saya mohon ijin sebentar untuk bertemu dengan Ibu Panti, soalnya beliau sedang kritis." Jawab Annisa.
" Boleh, berapa hari? "
" Besok Saya kembali."
" Ya sudah hati - hati."
" Terima kasih bu."
Setelah Annisa pergi, Ibu Riana kembali berbincang dengan Pak Ibrahim.
" Ayah, Ibu suka Sama Annisa."
" Suka dalam hal apa? " Tanya Pak Ibrahim.
" Kalau Annisa itu jadi istri Dimas, apalagi Annisa itu menyukai Dimas." Jawab Ibu Riana.
" Dimas nya suka nggak Sama Annisa? "
" Nggak suka Ayah."
" Biarkan Dimas cari jodohnya sendiri."
" Tapi Bunda ingin nya Annisa."
__ADS_1
" Bunda, jangan suka memaksa hanya demi keinginan sepihak. Biar Dimas memilih untuk di jadikan pendamping hidupnya."
" Kita lihat nanti malam, bagaimana calon menantu kita."
******
" Yank, bagaimana penampilan saya? "
" Kamu cantik, yuk masuk."
Dimas menggandeng tangan seorang wanita cantik dengan menggunakan dress warna peach sebatas lutut dengan rambut di kuncir kuda dan tas bermerk.
" Assalamualaikum." Sapa Dimas.
" Walaikumsalam. " Balas Pak Ibrahim dan Ibu Riana.
Dimas dan kekasihnya mencium punggung tangan Pak Ibrahim dan Ibu Riana.
" Ayah Bunda kenalkan ini Siska pacar Dimas, dia seorang Dokter."
" Malam Om Tante, saya Siska." Ucap Siska.
" Selamat datang." Ucap Pak Ibrahim.
" Duduk dulu sayang." Ajak Ibu Riana.
" Kalian pacaran sudah berapa lama? " Tanya Pak Ibrahim
"kita pacaran 3 tahun ayah. " Jawab Dimas.
" Kamu kenapa baru sekarang kenalin Sama kita? " Tanya Pak Ibrahim.
" Saat itu saya belum siap Om. " Ucap Siska.
" Kenapa? " Tanya Ibu Riana.
" Kalau sekarang? " Tanya kembali Ibu Riana.
" Sekarang Saya serius tapi tidak untuk menikah karena Saya ingin melanjutkan kuliah kedokteran di luar negeri. " Jawab Siska.
" Loh, kamu kok baru bilang sekarang Yank? "
" Surprise...!!! Ucap Siska.
" Terus pernikahan kita? "Tanya Dimas.
" Pernikahan kita tunda dulu, karena Saya ingin melanjutkan kuliah di luar negeri." Jawab Siska.
" Kok gitu sih Yank, Saya pindah kemari niat mau menikahi kamu tapi kamu malah untuk melanjutkan kuliah, dan nggak bilang lagi."
" Ini impian Saya, dan ini bea siswa untuk Saya. Kesempatan emas Yank." Ucap Siska.
" Tolong tunggu 2 tahun saja." Ucap Siska kembali.
Pak Ibrahim dan Ibu Riana hanya menatap anak nya dan wanita bernama Siska.
" Ayah harap kalian selesaikan masalah kalian." Ucap Pak Ibrahim sambil beranjak meninggalkan Dimas dan Siska di ikuti oleh Ibu Riana yang mengekor suami nya.
" Kamu kenapa bilang sekarang? " Tanya Dimas.
" Sorry, please sebelum kita menikah setelah menikah Saya akan fokus Sama kamu. Hanya sekarang, ini impian Saya dapat bea siswa itu." Jawab Siska.
" Saya akan menunggu kamu."
" Thank you darling." Ucap Siska mengecup bibir Dimas.
__ADS_1
******
" Dimas, kamu yakin untuk pilihan kamu? " Tanya Pak Ibrahim.
" Yakin, Dimas akan tunggu Siska." Jawab Dimas.
" Bunda kenapa nggak cocok Sama Siska." Ucap Ibu Riana.
" Kenapa Bunda nggak suka Siska? " Tanya Dimas.
" Bunda merasa Siska terlalu bagaimana ya, merasa nggak cocok saja." Jawab Ibu Riana.
" Sama Ayah juga, Sama apa yang di katakan Bunda."
" Tapi saya sangat mencintai dia."
" Semoga yang terbaik. " Ucap Pak Ibrahim.
******
" Ayah bagaimana Dimas kita jodoh kan saja Sama Annisa bagaimana? " Ucap Ibu Riana.
" Apa tidak masalah? " Ucap Pak Ibrahim.
" Tenang saja nggak bakalan masalah, Pasti Dimas Mau.Bunda lebih sreg Sama Annisa."
" Ayah juga begitu Bund, kita coba nanti tanya ke Dimas nya."
****
" Apa nggak, Dimas nggak Mau." Ucap Dimas.
" Annisa baik menurut Ayah Sama Bunda." Ucap Ibu Riana.
" Siska juga baik, karena Bunda sama Ayah belum kenal sama Siska. "Ucap Dimas.
" Kamu coba kenalan dengan Annisa, Siska bilang tunggu dua tahun, apa kamu yakin dua tahun kamu menunggu kamu langsung bisa menikahi nya? " Ucap Ibu Riana.
" nggak bisa bund." Ucap Dimas.
" Coba dulu, apa kamu cocok Sama dia atau tidak."
" Kenapa sih Bund, harus perempuan itu? "
" Bunda suka dengan perilaku dia."
" Saya mencintai Siska. "
" Tapi Ayah lebih cocok ke Annisa, benar kata Bunda. " Ucap Pak Ibrahim.
*******
Aaawwww...
" Kamu rayu apa Bunda Sama Ayah hah... sehingga mereka ingin menjodohkan Saya Sama kamu? " Ucap Dimas dengan nada tinggi sambil mencengkram tangan Annisa.
" Sa - Saya nggak ra - rayu Pak Bupati dan Ibu Bupati. " Ucap Annisa.
" Jangan bohong kamu, Saya tahu kamu suka Sama Saya, dan kamu mengambil kesempatan ini untuk memiliki saya."
Annisa menghempaskan tangan Dimas yang mencengkram tangan nya, dengan mata yang berkaca - kaca Annisa menatap Dimas yang sedang emosi menggebu.
" Kenapa kamu begitu membenci saya, kenapa kamu begitu tak suka saya menyukai kamu. Memang saya menyukai kamu pada pandangan pertama, itu hak saya nggak ada undang - undang nya di larang menyukai anak seorang Bupati. Saya memang seorang Ajudan, tapi Saya masih punya harga diri. Kamu boleh menolak Saya tapi secara halus, dan kamu hargai itu perasaan Saya, jangan bersikap arogan seperti itu. Dan asal kamu ingat Bang, walau Saya orang kepercayaan Ibu Riana Saya tidak pernah meminta untuk di lancarkan segala urusan."
Annisa pergi meninggalkan Dimas yang masih berdiri mematung, dan menatap punggung Annisa hingga menghilang dari pandangan nya.
__ADS_1
" Apa Saya terlalu keras, hak Saya juga ini masalah privasi, suka Sama Saya malah rusuh pake mencuri dari belakang mengambil photo Saya. Siapa tahu di balik ini semua kamu jual photo saya, terus kamu pamer ke haluan di jejaring sosial. Lantas wartawan datang, saya Kan paling tidak suka di ekspos, apalagi masalah hati." Ucap Dimas .