
Dimas menuju rumah sakit, saat mendapatkan telepon dari Panitia Ujian Dinas. Dimas menelusuri lorong rumah sakit, menuju kamar rawat Annisa yang telah di beritahukan oleh Panitia Ujian Dinas.
Ceklek
Dimas membuka pintu, saat itu Annisa di temani oleh dua orang wanita, terlihat Panitia Ujian Dinas memakai seragam hitam putih dengan id card yang menempel di bajunya.
" Bapak suami Ibu Annisa? " Tanya salah satu wanita yang menemani Annisa.
" Iya bu." Jawab Dimas.
" Pak Ibu sedang hamil." Ucap nya.
" Alhamdulillah, makasih bu informasinya." Ucap Dimas.
" Sama - sama pak berhubung Bapak sudah sampai kami permisi, soalnya tadi Ibu Annisa yang meminta kami untuk kemari." Ucap Panitia satu nya lagi.
" Sekali lagi terima kasih, maaf merepotkan." Ucap Dimas.
Kedua wanita tersebut pun meninggal kan Annisa dan Dimas, terlihat Annisa tengah tertidur pulas. Seutas senyuman terlihat di wajah Dimas dengan mengusap perut Annisa lantas mencium nya.
Annisa merasakan sebuah Usapan, dan saat bangun terlihat Dimas tengah menatap nya sambil mengusap perut Annisa.
" Bang." Ucap Annisa pelan.
" Iya sayang, gimana masih pusing? "
Annisa menggelengkan kepala nya, dan tersenyum ke arah Dimas.
" Calon anak kita telah hair kembali."
" Alhamdulillah sayang, Abang senang dengar nya. Shakira pasti senang lihat mamah nya hamil lagi."
" Nanti kita kasih kejutan."
" Iya sayang, dan jangan capek - capek ya."
******
Shakira menyambut Annisa dan Dimas yang pulang bersama, setelah selesai Ujian Dinas Annisa meminta pada Panitia untuk ikut pulang bersama dengan suami nya. Karena melihat kondisi Annisa yang sedang mengidam akhirnya Panitia mengijinkan.
" Sayang, Kangen ya sama Mamah." Sapa Annisa pada Shakira.
" Kangen Mamah, disini itu nggak enak Mah berantem terus sama Bang Lucky." Ucap Shakira mengadu.
" Memang nya Bang Lucky nakal?" Tanya Annisa.
" Nakal Mah." Jawab Shakira.
Annisa tersenyum lalu mencium kedua pipi Shakira, dan Shakira minta gendong sama Annisa.
" Eits." Ucap Dimas saat tahu Annisa akan menggendong Shakira.
" Jangan gendong, nanti takut kenapa - napa adik calon adik bayinya." Ucap Dimas.
" Apa pah, calon adik bayi?" Ucap Shakira.
" Iya kamu akan jadi kakak sayang." Ucap Dimas.
" Yeesss.. Mamah hamil, Nenek kakek...!!! " Teriak Shakira langsung berlari menuju ke Kakek Nenek nya.
Annisa dan Dimas hanya tersenyum saat melihat tingkah Shakira yang sangat senang.
__ADS_1
" Lihat tingkah anak kita Mah." Ucap Dimas.
Ibu Riana dan Pak Ibrahim pun berjalan mendekati Annisa dan Dimas yang sedang duduk di sofa. Ibu Riana langsung memeluk menantunya.
" Selamat sayang, kata Shakira kamu sedang hamil."
" Alhamdulillah Bunda, kemarin saat Ujian Dinas sempat masuk rumah sakit." Ucap Annisa.
" Jaga kondisi kamu, sekarang kan masih rawan." Ucap Ibu Riana.
" Benar Annisa, jangan ambil resiko apalagi pekerjaan kamu itu menguras pikiran dan tenaga." Ucap Pak Ibrahim.
" Baik Ayah, Bunda terima kasih." Ucap Annisa.
******
" Bi Ibu kan sedang hamil, tolong kalau istri Saya kerja berat Bibi tegur dia." Ucap Dimas.
" Ba - baik Pak,kalau Ibu butuh sesuatu di saat Bapak nggak ada bisa minta tolong sama Saya dan Suami saya."
" Baik Bi makasih ya."
" Sama - Sama Bu, permisi." Ucap nya langsung meninggal majikannya.
" Bang jangan lebay dong, Annisa kuat nggak akan kenapa - napa."
" Mulai ya kalau di bilang sama suami, usia kandungan kamu masih rawan, Abang nggak ingin kamu dan calon anak kita kenapa - napa."
" Makasih sayang, suami siaga."
" Sama - sama Bumil tersayang."
******
" Bang." Annisa menggoyang tubuh Dimas kembali namun kerena tidur yang pulas Dimas tak kunjung bangun.
" Ih... abang."
Dimas pun membuka matanya, saat merasakan tidur nya merasakan terganggu.
" Kenapa Mah? Tanya Dimas dengan suara khas orang bangun tidur.
" Bang lapar. "
Mata Dimas terbuka lebar dan melihat jam di dinding menunjukkan pukul 2 pagi."
" Mau makan apa? " Tanya Dimas.
" Bubur Ayam, tapi Abang yang bikin." Jawab Annisa.
" Besok lagi aja ya sekarang masih malam." Ucap Dimas.
" Nggak akh Annisa Mau nya sekarang."Ucap Annisa.
Dimas pun bangun, dan menuruti keinginan istri nya berjalan menuju ke arah dapur.
Dimas pun membuat bubur Ayam sesuai request istrinya, dengan bahan seadanya dan masih menyimpan daging Ayam di kulkas.
Annisa yang duduk di depan meja makan sambil memandang suami nya yang tengah berkutat di dapur.
Setelah sekian lama menunggu Bubur Ayam ala buatan Chef Dimas pun jadi dengan tampilan yang sangat cantik.
__ADS_1
" Cobain Yank."
Annisa pun mencoba sedikit bubur Ayam bikinan suami nya, dan setelah mencoba rasa nya pas, Annisa pun melahap bubur buatan Dimas.
" Enak yank?"
" Enak Bang."
*****
Annisa membolak balikan tubuhnya di depan cermin, dengan sesekali memegang pantat dan bagian dadanya.
" Kenapa Mah?" Tanya Dimas yang langsung memeluk tubuh Annisa dari belakang.
" Pah hamil sekarang tubuh Mamah berisi banget deh, lihat pantat sama dada jadi sempit beda saat hamil Shakira." Jawab Annisa.
" Hamil sekarang kan beda sayang, sekarang kan Mamah bahagia."
" Berati waktu hamil Shakira nggak Bahagia ya Pah Mamah tuh."
Dimas memeluk erat tubuh Annisa dari belakang, dan mencium tengkuk leher nya.
" Maaf ya waktu hamil Shakira kamu ngidam dan melahirkan tanpa Abang."
" Abang nggak salah, Annisa yang salah menyembunyikan kehamilan Annisa."
" Semuanya kan tetap Abang yang salah, maaf kan Abang."
" Sudah akh maaf terus dari tadi kayak orang lebaran saja." Ucap Annisa sambil tersenyum.
*****
" Pak Sekmat tolong Bapak saja yang temui Pak Sekda benar - benar Saya nggak kuat pak pusing sama mual." Ucap Annisa.
" Ya sudah Bu nggak apa - apa kalau Ibu tidak bisa menyambut beli, biar Saya yang akan menerima beliau disini." Ucap Pak Sekmat Arif.
" Minta maaf banget ya pak, benar - benar hamil sekarang nggak bisa apa - apa Saya nya." Ucap Annisa sambil memegang kepala nya.
" Ibu ijin saja istirahat, atau perlu Saya panggilan Bi Ijah."
" Nggak usah Pak, nanti Saya pulang sendiri saja. Mungkin di buat tidur akan hilang."
*****
Dimas pun terpaksa ijin saat tahu istri nya hanya terbaring di atas tempat tidur, dan hanya ingin Dimas menemani nya.
" Yank, pindah ke rumah Bunda saja ya, kamu cuti dan Shakira pindah sekolah di Sana. Kalau kayak gini terus Abang nggak Dinas yank."
" Annisa ingin Abang yang temani Annisa, hamil sekarang pingin dekat sama Abang."
" Iya tapi kan Abang juga punya kewajiban, nggak mungkin nemanin kamu terus. Ke rumah Bunda ya atau ke rumah kita atau rumah Abang?"
Annisa pun bangun, dan menatap tajam ke arah Dimas.
" Jual Bang rumah Abang itu, Annisa nggak mau rumah Abang masih di tempati. Rumah itu mengingat Abang sama Siska." Ucap Annisa yang tiba - tiba kesal.
" Jangan di jual, itu tabungan Abang pertama kali bisa beli rumah."
" Nggak pokoknya jual, kalau nggak di turuti mau anak kita ileran."
" Jual rumah juga nggak kaya jual kacang Yank, aneh tiba - tiba suruh jual rumah milik suami kamu. Itu rumah kalau Abang lagi marahan sama kamu pulang nya kesana, dari pada ke selingkuhan mau Abang pulang kesana."
__ADS_1
" Abang....!!! "