
Dimas pun memarkir Mobil nya di rumah Dinas Bupati, saat masih di dalam mobil Dimas mencari charger ponsel yang biasa Annisa bawa di Mobil nya. Saat sedang mencari - cari, di laci dasboard tangan Dimas tak sengaja memegang sesuatu benda, dan Dimas pun mengambilnya karena penasaran.
Mata nya membulat saat melihat alat tes kehamilan yang sedikit sudah pudar, namun tetap masih sedikit terlihat, dan Dimas yang penasaran mencari sesuatu kembali.
Namun tangan nya meraih secarik kertas kembali, dan terlihat tanggal serta tahun nya. Dada Dimas tiba - tiba sesak dengan apa yang dia lihat saat ini.
" Selama ini kamu menyembunyikan ini semua dari Saya Annisa."
*******
" Katanya Abang hari ini ada kedatangan tamu yang dari mahasiswa luar negeri, yang akan magang di Kantor Desa kecamatan sana?"
" Abang mundurkan nanti malam saja."
" Bang Arka, kapan Abang akan ke panti lagi?"
" Insya Allah weekend besok bagaimana? " Ucap Arka Camat muda yang menjabat jadi Camat di kecamatan Baramulya.
" Meraka rindu Abang, mereka selalu tanyain Abang."
" Kalau yang di depan Abang rindu tidak?" Tanya Arka sambil memainkan alisnya.
" Rindu lah Bang." Jawab Annisa sambil tersenyum.
*****
Aaaawww
" Sakit Ali. " Ucap Annisa kesal saat akan menuju rumah Dinas Bupati Ali menarik tangan Annisa.
" Kamu punya hubungan apa sama camat muda dari Baramulya? " Tanya Ali dengan nada yang tinggi.
" Hanya teman, dia kakak angkatan saat Saya pendidikan dulu." Jawab Annisa.
" Kamu jangan bohong, Saya tahu kalian pegangan tangan bahkan kamu tersenyum ke arah nya. Jangan bikin masalah kamu, dan kalau Dimas tahu dia bakalan marah melihat istri nya selingkuh. Jangan sampai itu terjadi, dan awak media tahu lantas kalian jadi viral." Ucap Ali.
" Mendingan kamu diam saja deh, kamu nggak tahu masalah sebenarnya. Kalau kamu ingin lapor ke Dimas silahkan, dia mungkin nggak bakalan respon."
Annisa pergi meninggal kan Ali yang masih berdiri mematung menatap punggung Annisa yang kian menjauh.
*******
" Pulang." Ucap Dimas pelan saat Annisa mencium punggung tangan nya di depan Ibu Riana dan Pak Ibrahim.
Annisa tersenyum ke arah Pak Ibrahim dan Ibu Riana, saat tatapan mata Dimas yang menatap tajam ke arah nya.
" Ayah Bunda, kami pamit dulu karena Saya masih ada yang harus di kerja kan, begitu juga sama Abang." Ucap Annisa.
" Baru sebentar kok sudah mau pulang saja." Ucap Ibu Riana kecewa.
" Maaf ya Bund."
" Kita kan sering kesini, jadi Bunda jangan sedih bisa video call. " Ucap Dimas.
__ADS_1
" Yasudah kalian hati - hati di jalan." Ucap Pak Ibrahim.
" Kami pamit dulu." Ucap Dimas.
" Assalamualaikum." Ucap Dimas dan Annisa.
" Walaikumsalam. " Balas Pak Ibrahim dan Ibu Riana.
" Ayah, mereka sangat bahagia. Bunda jadi senang melihat nya." Ucap Ibu Riana sambil menatap ke pergi an anak dan menantu nya.
" Tapi sayang, sampai sekarang mereka belum memiliki anak." Ucap Pak Ibrahim.
******
" Loh Bang ini bukannya menuju rumah kita?" Tanya Annisa saat Mobil nya memasuki sebuah komplek perumahan.
Dimas hanya diam hingga sampai pada sebuah rumah yang kosong namum terawat karena setiap hari ada yang membersihkannya.
Annisa berjalan mengekor di belakang Dimas, hingga mereka pun masuk kedalam rumah yang tampak besar dan minimalis.
" Ini apa? " Tunjuk Dimas saat menunjukkan sebuah tespek dan surat keterangan dari sebuah rumah sakit.
Annisa terkejut saat Dimas menemukan barang yang selama ini dia sembunyikan rapat - rapat.
" Abang kok bisa menemukan itu? " Tanya Annisa gugup.
" Mana anak Saya? "
" Anak? "
" Kamu peduli dengan apa yang kamu lihat. Sungguh saat itu adalah ke tidak relaan saya saat kamu menyetubuhi Saya secara paksa, suami macam apa saat malam itu. Setelah melewati malam panjang bersama, dan saat itu kamu bersikap manis hanya saat menikmati tubuh Saya, walau awalnya kamu lakukan secara kasar."
" Saya tanya kan Mana anak Saya? " Tanya Dimas.
" Tidak ada." Jawab Annisa.
" Kamu jangan bohongi Saya."
" Buat apa tanya anak, saat itu juga Abang nggak peduli perasaan Saya, dengan enteng mengucapkan kata cerai."
" Sekali lagi Mana anak saya? "
" Maaf anak kita sudah tiada." Ucap Annisa.
" Jangan bohong."
" Saya keguguran saat usia 2 minggu, saat itu Saya stres berat memikirkan anak yang Saya kandung, karena saat itu Bang Dimas sudah menceraikan Saya, dan Abang tidak mencintai Saya. Saat itu Saya bingung akan mengatakan apa, karena Saya sudah sangat membenci Abang, hingga sekarang pun sama."
" Maaf kan Saya, maaf tentang kejadian saat itu." Ucap Dimas penuh penyesalan.
" Hancur Bang, hiks... hiks.... hancur hidup Saya. Kalau bukan karena kedua orang tua Bang Dimas Saya sudah pergi jauh, namun apa Saya terikat dengan pernikahan ini dan membuat saya sulit untuk melangkah pasti."
" Semua nya ini karena Abang yang emosi tinggi. " Ucap Annisa kembali.
__ADS_1
" Seharunya saat itu kamu cerita sama Saya, dan Saya pun akan bertanggung jawab."
" Terlambat Bang, semuanya terlambat." Ucap Annisa.
" Sekarang hanya kita berfikir bagaimana cara bilang pada meraka kalau kita ini pura -pura bahagia." Ucap Annisa kembali.
*******
" Ya Allah karena ulah Saya, semua nya seperti ini." Ucap Dimas sambil memandang tespek dan surat keterangan dari rumah sakit tersebut.
" Maaf kan papah nak, maaf kan gara - gara Papah kamu tak bisa merasa kan indahnya dunia. "
*******
" Jangan berebut ya...!!! " Teriak Annisa saat membagikan Snack pada anak - anak panti.
" Saya senang bisa melihat mereka tertawa, tersenyum seolah di balik semua nya itu tanpa beban." Ucap Arka.
" Benar Bang, saat saya kecil dulu merasakan itu semua, hanya kebersamaan yang membuat Saya melupakan untuk segalanya. "
Arka menarik pinggang Annisa hingga mendekatkan pada tubuh Arka yang di peluknya.
" Saat ini apa yang kamu rasa kan? "
" Bahagia, hanya saat seperti ini Saya bisa tersenyum, tertawa dan nyaman."
Annisa memeluk erat tubuh Arka, begitu pun juga Arka membalas memeluk tubuh Annisa wanita yang sangat dia cintai.
*******
" Jadi mereka hidup secara terpisah? "
Seseorang mengikuti apa yang menjadi kegiatan Annisa dan Dimas, pasangan yang tampak bahagia hanya sebatas sebuah topeng yang mereka pakai.
" Nggak menyangka, kalian tega berbohong selama ini."
*****
" Makasih Bang. "Ucap Annisa saat membuka safe belt nya.
" Sama - sama. " Ucap Arka.
" Annisa. "
" Ya Bang? "
" Sampai kapan, Abang akan menunggu kamu?"
" Sabar ya Bang, Annisa juga ingin cepat keluar dari masalah ini."
" Apa Abang, harus menemui Dimas, untuk segera memprosesnya."
" Saya juga bisa Bang, tapi entah saat kita sama - sama siap , ada saja yang membuat kita ragu dan takut."
__ADS_1
" Kamu tahu, jujur Abang ingin katakan sandiwara kalian membuat Abang sangat cemburu, apalagi kebersamaan kalian yang pura - pura bahagia dan romantis di depan Pak Ibrahim dan Ibu Riana."