
Buuughhh
" Annisa..!! " Teriak Dimas langsung berlari ke arah Annisa yang pingsan.
" Mau kemana kamu jangan lari..!! " Ucap Tio dengan mengarahkan pistol nya ke anak Buah Pak Bowo, dan langsung memborgolnya.
" Tolong kemari, ada penjahat yang kami tangkap." Ucap Tio kembali mengabari Polsek setempat.
" Annisa bangung." Ucap Dimas saat memangku tubuh Annisa.
Dimas melihat darah yang ada telapak tangan nya, dan terlihat luka tembak yang ada di lengan kanan Annisa.
" Dia tertembak." Ucap Tio.
" Rahasiakan ini, penangkapan anak buah nya jangan sampai tercium mereka, hingga Saya menembak mati salah satu anak buah nya. Annisa dalam bahaya bila sampai ini bocor, kita harus bekerja sama untuk membersihkan kejadian hari ini. "
" Baik, kami akan selesaikan."
" Saya akan bawa dia dengan mobilnya, biar Saya tangani Annisa sendiri." Ucap Dimas.
Setelah beberapa menit, Para Anggota pun datang dengan langsung meringkus, dan membereskan anak buah Pak Bowo yang tewas, serta menghilangkan jejak kejadian yang terjadi.
" Kejadian sekarang, satu orang sebagai kartu As untuk Kepolisian. Kita diam, tapi ada rencana di balik ini semua ingat jangan sampai bocor." Ucap Tio.
" Siap laksanakan." Ucap Seluruh Anggota.
*****
Aawwww..
Annisa sadar saat setelah pingsan, dan masih merasakan sakit di lengan yang terkena tembakan.
" Bang Dimas!! "
" Abang akan keluar kan peluru kamu yang bersarang di lengan kamu." Ucap Dimas sambil menyiapkan alat -alat.
" Jangan gila Bang, Mau Saya mati."
" Kamu Mau Siska yang menangani kamu atau Rumah sakit, akan menjadi pertanyaan, nyawa kamu dalam bahaya, kalau Saya dan Pihak Kepolisian tidak segera membersihkan apa yang terjadi hari ini."
" Kalian lambat, kalian takut sama mereka."
" Kalau bicara di jaga."
" Bukti nya, keadilan nggak ada, hukum di permainkan."
" Kita tidak bodoh, diam nya kita keselamatan untuk orang banyak, diamnya kita karena ada strategi yang di susun karena mereka pintar. Tapi kami juga berterima kasih sama kamu, satu tertangkapnya anak buah nya, kartu As kami punya."
" Lalu jarum suntik itu untuk apa? " Tanya Annisa.
" Saya akan menyuntik kamu untuk menghilangkan rasa sakit." Jawab Dimas.
" Apakah di jamin aman? "
" Apakah wajah Saya terlihat meragukan?" Ucap Dimas sambil mengarahkan jarum suntik ke tubuh Annisa.
"Sebaiknya kamu lepas kemeja kamu." Ucap Dimas sebelum menyuntik.
__ADS_1
" Sakit."
"Saya gunting."
Dimas pun menggunting lengan panjang Annisa, dan lalu mulai menyuntikkan obat ke dalam tubuh Annisa.
Tangan Annisa tiba - tiba meremas paha Dimas saat jarum suntik itu menancap di kulitnya.
" Saya akan ambil peluru nya, kamu bisa meremas apa yang ada di sekitar kamu."
" Saya nggak Mau mati sekarang Bang."
" Kamu nggak percaya sama Saya, ini darurat kalau ada apa - apa Saya tanggung jawab."
Annisa memejamkan mata nya saat pisau kecil beraksi dan sebuah pinset mengambil peluru yang ada di lengan kanan Annisa.
Tangan Annisa meremas Sisi tempat tidur, saat Dimas sedang mengatasi luka tembak nya.
" Luka nya akan terasa saat obat bius nya hilang, Saya akan suntikan antibiotik nya agar tidak terjadi infeksi." Ucap Dimas.
Annisa pun lega telah melewati masa menegangkan, dan menatap ke arah Dimas yang sedang membersihkan tangan nya yang terkena darah Annisa.
" Terima kasih Bang."
" Sama - sama, untuk beberapa hari kamu disini dulu, kabari anak buah kamu kalau Camat Patra sedang keluar kota, dan juga Arka.
*****
" Kamu kenapa nggak bilang?" Tanya Arka.
" Iya, kamu jaga diri." Ucap Arka.
" Iya Bang, maaf mendadak kasih tahu nya."
Setelah menerima telepon dari Annisa, Arka pun meletakkan ponsel nya di atas nakas, lalu Arka beranjak bangun meninggalkan kamarnya.
*****
Dimas memutuskan untuk mengawasi kondisi Annisa, Pihak Kepolisian pun sedang mengorek informasi dari anak buah Pak Bowo.
Terlihat Annisa sedang tertidur pulas saat setelah di suntik kan obat. Dimas duduk di Sisi tempat tidur dan merapikan selimut yang menutupi tubuh nya.
Dimas menatap wajah Annisa , wajah yang alami tanpa make up. Seutas senyuman di wajah Dimas saat sedang menatap wajah Annisa.
" Bisa di hitung Saya menatap wajah kamu yang sangat begitu dekat." Ucap Dimas dalam hati yang masih menatap wajah Annisa.
" Saya lelaki bodoh yang telah menyiakan kamu begitu saja, maaf kan semua kesalahan Saya, maaf kan. " Ucap Dimas kembali sambil mengusap wajah Annisa.
" Maaf kan Saya Bang, maaf kan Saya Ayah Bunda." Annisa kembali mengigau di depan Dimas.
" Kenapa kamu mengigau seperti itu, masalah apa lagi yang membuat kamu masih terasa berat, bukan nya Saya sudah melepaskan kamu."
*******
" Shakira makan dulu sayang, Papah bawakan kamu chiken katsu." Ucap Arka sambil menyuapi Shakira.
" Enak Pah." Ucap Shakira sambil makan dari suapan Arka.
__ADS_1
" Pah, Mamah kemana? "
" Mamah nggak bilang sama Shakira?"
" Nggak."
" Mamah nggak pulang sayang, mamah ada keperluan ke luar kota, mungkin mamah lupa jadi minta Papah yang kasih tahu sama Shakira."
" Oh..!! "
" Shakira makan lagi ya sayang."
******
" Susah nggak makan nya? " Tanya Dimas saat makan bersama dengan Annisa.
" Bisa kok bang dengan tangan kiri." Jawab Annisa.
" Kalau susah biar Abang suapin."
" Nggak usah Bang."
" Ya sudah, nanti setiap hari Abang ganti perban kamu, ada kaos dan clana milik Abang kamu bisa pake."
" Makasih, Bang kok tumben biasanya Saya sekarang nyebutnya Abang? "
" Akh.. hem.. masalah ya? " Ucap Dimas sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
" Nggak juga sih tapi aneh dengarnya."
****
Annisa memakai kaos lengan pendek milik Dimas, rambut nya yang berantakan membuat nya susah untuk menyisir rambut nya, mencoba dengan tangan satu menyisir dan ingin mengikat rambut panjang nya namun susah karena tangan kana nya yang masih sakit.
" Biar Saya bantu." Ucap Dimas mengambil alih sisir yang berada di tangan Dimas.
" Nggak Bang, nggak usah." Ucap Annisa sambil menghindar.
" Kamu ingin di kuncir kan, biar Abang bantu."
Dimas mendekati Annisa dan menyisir rambut nya yang panjang, kedua kali nya diri nya menyentuh rambut Annisa setelah malam itu. Ada rasa getaran saat Dimas menyisir rambut Annisa, apalagi saat melihat leher jenjang Annisa yang putih jiwa kelelakian nya meronta.
" Sudah." Ucap Dimas yang langsung pergi meninggalkan Annisa.
" Makasih Bang."
******
Dreeett... dreeett...
Ponsel Annisa terus berbunyi, namun tak juga di angkatnya saat itu Dimas melewati nakas yang di atas nya terdapat ponsel milik Annisa.
Dimas yang tanpa sengaja melihat nama Arka yang memanggilnya, namun saat panggilan terhenti Dimas melihat tampilan wallpaper ponsel photo seorang gadis kecil sambil tersenyum yang di peluk oleh Annisa.
" Siapa dia, anak nya Arka?" Ucap Dimas pelan sambil berpikir.
" Arka kan bukan Duda." Ucap Dimas kembali.
__ADS_1