( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Sebuah Perbedaan Yang Jelas


__ADS_3

Dengan seribu rayuan maut yang di keluarkan Dimas untuk Shakira, akhirnya gadis kecil itu berhenti merajuk. Hadiah yang di berikan dari Papah nya berupa rumah miniatur Barbie dengan satu set boneka Barbie membuat Shakira tersenyum lebar.


" Shakira suka? " Tanya Dimas.


" Suka Papah, makasih." Jawab Shakira.


" Sama - sama sayang." Ucap Dimas sambil membelai rambut Shakira.


Tidak dengan Annisa yang merasa sangat kesal dengan Dimas dan memilih duduk memisah sambil memakan manisan pala.


Dimas yang tahu istrinya masih marah, mencoba mendekati dan duduk di samping Annisa.


" Mah maaf in Papah ya." Ucap Dimas sambil meraih pinggang Annisa.


" Jujur Bang, Saya itu cemburu sama Siska. Istri Mana yang nggak panas lihat suami sendiri sedang memadu kasih dengan madu nya. Apalagi melihat nya kalian tampak polos."


" Sudah ya jangan di ingat, dan jangan di bayangkan." Dimas mengusap punggung Annisa.


" Abang malam ini kan saat nya sama Siska, lebih baik Abang Pulang sekarang."


" Kamu mengusir Abang? "


" Ini kan jadwal nya Abang sama Siska."


" Jujur sama Abang, kamu berpikir kalau Abang ini tubuh yang di gilir bagaikan piala bergilir kebanggaan kedua istri Abang benar kan yang ada di otak kamu pasti seperti itu."


Annisa hanya diam dan terus memakan manisan pala nya. Sedangkan Dimas masih menatap wajah Annisa yang masih di tekuk nya.


" Apa Abang Mau di gilir seperti ini, jujur Abang tidak ingin seperti ini. Abang hanya ingin di miliki satu wanita sampai mata ini menutup selama nya. Kamu tahu, jujur dalam hati ini Abang ingin hanya kamu yang memiliki nya, tapi semuanya nggak mungkin karena Abang yang salah dan mulai, jadi Abang harus tanggung resikonya. Dalam keadaan seperti ini Abang juga tidak mungkin menceraikan Siska karena ada anak yang di kandung nya adalah darah daging Saya, dan kamu tak mungkin Abang ceraikan walau kamu yang kedua kamu adalah satu - satu nya di hati."


" Tapi Suatu saat Annisa ingin jadi satu - satu nya Bang, Suatu saat Abang juga harus memilih Annisa atau Siska."


" Janji Abang kamu wanita terakhir hingga mata ini menutup."


******

__ADS_1


Annisa datang di sebuah rapat ibu - ibu PKK se kecamatan Patra,disana juga hadir Siska sebagai Dokter Desa yang menjadi contoh sebagai Dokter muda terbaik.


" Ibu - ibu, Saya bangga kepada kalian semua atas kreasi dan ke aktif an Ibu - Ibu semua untuk memajukan Desa kalian masing - masing. Saya sebagai Camat Patra sangat bangga, jadi terus lah berkarya dan terus mendukung pembangunan Desa. Karena siapa lagi kalau bukan warga nya yang saling bergotong royong demi kemajuan Desa kita di kecamatan Patra. "


Setelah selesai Annisa berbicara panjang lebar, kini Annisa duduk di samping Siska kembali.


" Gimana kemarin photo nya bagus kan? " Ledek Siska.


Annisa tersenyum memandang sinis ke arah Siska, lalu meremas paha Siska.


" Kenapa suami kita lebih betah sama Saya ya, oh Saya tahu ternyata goyangan Saya lebih mantap katanya, kamu ngerasa nggak sih kalau suami kita ini kalau sama kamu, pernah nggak tertawa bahagia atau gimana, nggak pernah kan malah setiap ingin bercinta malah kamu yang minta, dan di galeri ponselnya kamu yang simpan sendiri, berarti suami kita ini lebih nyaman sama saya." Annisa malah tersenyum sambil mengencangkan remasan nya.


Sedangkan Siska hanya menatap nya dengan kesal dan menahan sakit di paha nya.


" Kamu tahu Siska, kata suami kita itu bilang ******* Saya lebih menggairahkan dari pada kamu, dan kamu tahu setiap dia Pulang ke rumah Saya dia selalu minta dan minta dan kamu Mau lihat tidak tanda yang dia beri sudah hilang ada lagi, dan lagi."


Annisa sedikit membuka kerudungnya dan memperlihatkan di lehernya sebuah tanda kepemilikan yang di buat oleh Dimas.


Siska semakin geram, dan lebih memilih beranjak dari kursi nya dan meninggalkan Annisa.


" Apa kamu pikir mengirimkan photo seperti itu pada Saya membuat saya membenci suami kita, tidak akan pernah ada kata kalah Saya akan bertahan dan salah satu akan mundur, Saya berharap kamu akan mundur pelan - pelan." Ucap Annisa dalam hati.


******


Aaaarrrgghh


Braaaak


Praaaang


" Siska...!!! " Ucap Ibu Iren saat melihat Siska membanting semua barang yang ada di meja riasnya.


" Kamu apa - apa an ini? "


" Kurang ajar Annisa..!! " Ucap geram Siska.

__ADS_1


" Kenapa dengan wanita itu? " Tanya Ibu Iren kesal.


" Ternyata dia mulai melawan Saya, dia sudah memancing kemarahan saya." Jawab Siska.


" Apa perlu bantuan mamah? "


" Saya ingin dia tak lagi ada di kehidupan Dimas mah, Saya ingin jadi wanita satu - satunya."


" Kamu benar harus cepat membereskan wanita itu mamah harap dia tak berani lagi bermain dengan kita."


" Dari awal dia memang perusak, dan dia sudah mengambil semuanya." Ucap Siska pelan.


******


Dimas pun mempertemukan Annisa dan Siska bersamaan, dan melihat kedua nya hanya diam tak bergeming.


" Saya sengaja mendatangkan kalian berdua, dan kalian tahu kan Saya hari ini gajian biasanya Saya nggak pertemukan kalian jadi biar kalian tahu Saya kasih uang belanja ke kalian berapa. Ini semua gaji Saya, kalian tahu kan totalnya." Dimas meletakan beberapa lembar uang kertas merah di atas meja.


" Gaji Saya ini untuk kalian berdua Saya bagi 50 persenan Annisa 50 persen Siska 50 persen, disini Saya nggak pegang uang sama sekali,dan Saya berlaku adil pada kalian. "


Dimas menyerahkan uang itu pada Siska dan Annisa, dan mereka berdua pun menerima dan menghitungnya.


" Yank, gaji segini mana cukup untuk satu bulan, belum buat cek ke Dokter, vitamin dan perawatan tubuh, dan untuk gaji pembantu sama makan." Protes Siska.


" Kamu atur uang segitu, Saya berharap kamu bisa mengaturnya dan kalau ada yang tidak penting lebih baik tidak di Jalan kan. Dan kamu juga memiliki gaji sama seperti Annisa pasti cukup lah kalau kamu bisa mengaturnya."


" Bang, kenapa kamu kasih ke kita 50 persenan sedang kan kamu tidak memegang uang satu peser pun? " Tanya Annisa.


" Karena keringat hasil kerja keras Abang milik seorang istri, Abang seorang pria jadi jangan khawatir."


Annisa meletakan uang tersebut di atas meja membuat Siska menatap keheranan begitu pun dengan Dimas.


" Ambillah Bang uang untuk pegangan Abang, berapa pun yang akan Abang ambil. Tak akan tega melihat suaminya tak pegang uang."


" Masya Allah Annisa, kamu memang berbeda dari Siska, saat seperti ini kamu masih ingat suami kamu, sedangkan Siska hanya mementingkan diri sendiri." Ucap Dimas dalam hati nya.

__ADS_1


" Ambil Bang, Annisa nggak Mau di luar sana Abang hanya gigit jari tak memilik uang, isilah dompet Abang, kalau pun Abang kurang kita bisa berbagi, Gaji Annisa juga adalah milik Abang, milik anak - anak kita makan sama - sama."


__ADS_2