( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Akan Terus Terikat


__ADS_3

Dibantu 2 orang POL PP Annisa di bawa masuk kedalam kamar nya, Bi Asih pun mengoleskan minyak kayu putih di bagian leher dan di dekatkan di hidungnya.


" Mamah kenapa Bi? " Tanya Shakira saat melihat Annisa masih berbaring di atas tempat tidur.


" Mamah pingsan mungkin capek?" Jawab Bi Asih.


" Bi apa kita panggil Dokter Siska Saja untuk memeriksa Ibu Camat? " Ucap Amir.


" Hush ngaco Pak Amir ini, masa Dokter Siska yang memeriksa kondisi Ibu Camat." Ucap Bi Asih.


" Oh iya Saya lupa, apa bawa ke rumah sakit Saja? "


Annisa membuka matanya terasa masih sangat pusing dan merasakan perut yang di aduk - aduk. Annisa pun lalu segera bangun dan berlari menuju kamar mandi.


" Ibu..!! "


Hoek.. hoek... hoek...


Annisa memuntahkan semua isi perut nya, hingga tak tersisa. Annisa ambruk kembali hingga kening nya dia tempelkan di dinding bak.


" Ibu kita ke rumah sakit ya." Ucap Bi Asih memegang kedua pundak Annisa.


" Nggak usah Bi, Saya nggak apa - apa tolong buatkan teh manis hangat saja."


" Baik Bu, Saya bantu ke kamar ya bu."


Bi Asih pun memapah Annisa ke dalam kamar nya, dan Amir serta murad POL PP yang sedang piket masih tetap berada di dalam rumah Dinas .


" Ibu kalau ingin ke rumah sakit biar kami antar." Ucap Murad.


" Nggak usah, Saya nggak apa - apa." Ucap Annisa.


" Shakira pijit mamah ya." Ucap Shakira menaiki atas tempat tidur.


" Makasih sayang." Ucap Annisa.


Shakira pun memijat kedua kaki Annisa, tangan mungil itu dengan lincah memijat.


******


Dimas mengebulkan asap rokok di belakang teras rumah nya sambil memandang kolam ikan kecil. Siska berjalan ke arah Dimas yang hanya mengenakan pakaian tidur tipis yang memperlihatkan lekuk tubuh nya.


" Tuh kan merokok lagi." Ucap Siska mengambil rokok yang ada di tangan Dimas.


" Sayang masih panjang." Ucap Dimas mencoba merebut rokok tersebut.


" Hilangkan hobby merokok nya, Saya nggak suka." Ucap Siska memeluk Dimas yang bertelanjang dada hanya mengenakan celana panjang.


" Makasih." Ucap Siska.


" Makasih untuk? " Tanya Dimas.


" Makasih untuk yang tadi." Jawab Siska.


" Kita mulai dari awal lagi ya,mulai sekarang kita harus benar - benar membina rumah tangga. " Ucap Dimas.


******


Annisa memandang kalender di ponsel nya, sambil mengingat - ingat terakhir dirinya datang bulan.


" Nggak mungkin, nggak mungkin Saya hamil." Ucap Annisa sambil mengelus perut nya yang rata.


Annisa dengan segera mengambil tas nya pergi keluar dari kamar nya.


" Ibu mau kemana, Ibu masih sakit." Ucap Bi Asih.


" Saya keluar dulu Bi, Shakira mana? "


" Shakira sedang main sama POL PP di dalam Aula sedang karaoke an."


" Kalau tanya bilang Saja saya keluar sebentar."

__ADS_1


" Baik Bu."


******


" Ali kamu tolong suruh bawahan kamu sebarkan undangan ini ke seluruh instansi." Ucap Pak Ibrahim.


" Siap Pak."


" Dan jangan lupa kamu bilang kembali untuk keamanan karena tamu kita banyak orang penting terutama Pak Gurbernur akan datang."


" Apa Annisa akan datang Ayah? " Tanya Ibu Riana.


" Bunda ini jangan terlalu berharap Annisa datang, mungkin Shakira saja kita jemput."


" Anak itu akhir nya menikah sama pacarnya yang dulu." Ucap Dito.


" Itu pilihannya." Ucap Pak Ibrahim.


" Selama jadi istri nya belum ada hal aneh - aneh kan?"


" Hal aneh nya masalah Annisa dan Shakira, dia marah karena adik kamu itu ternyata mencintai Annisa." Ucap Ibu Riana.


" Dimas kamu itu, kena karma juga." Ucap Dito.


******


Annisa memegang testpack yang dia beli di Apotek, diam berdiri di dalam kamar mandi menatap testpack yang akan dia pakai.


" Kalau Saya hamil lagi bagaimana, apa yang harus Saya lalukan dengan anak ini. Saya pasti di cap orang ketiga, bagaimana ini." Ucap Annisa cemas.


Dengan hati yang takut, Annisa pun mengecek nya, dengan mata yang terpejam alat tersebut dia celupkan di air seninya. Dengan jantung berdegup kencang Annisa memegang Dada nya, matanya masih tetap terpejam saat alat tersebut dia ambil.


" Ya Allah jantung ini sangat kencang sekali degup nya, Bismillah." Ucap Annisa dengan perlahan membuka matanya.


Annisa mengintip sedikit, dan melihat testpack tersebut menunjukkan dua garis merah. Annisa terduduk lemas di lantai kamar mandi.


Hiks... hiks.. hiks...


Annisa menangis di dalam kamar mandi, sambil memukul - pukul perut nya


******


" Undangan dari siapa Asep? " Tanya Bi Asih.


" Anak Pak Bupati menikah." Jawab Asep tukang kebun kantor kecamatan.


" Mantan suami Ibu, siapa yang antar? "


" Pak MP Ahmad."


Annisa berjalan mendekat ke arah Bi Asih, dan mengambil undangan tersebut.


" Kalau Ibu nggak sanggup baca biar Saya buang."


" Nggak apa - apa Bi, Saya sudah biasa."


" Bu apa Ibu masih sakit, wajah Ibu pucat."


" Nggak apa - apa, Saya capek saja." Annisa pun memasuki kamar nya.


Di dalam kamar, Annisa menatap dirinya di cermin wajah yang pucat, terlihat jelas di wajahnya.


" Kenapa kita tak bisa jauh."


******


Sebuah mobil berhenti tepat di parkiran kantor kecamatan. Terlihat seorang pria yang masih mengenakan seragam Tentara dan seorang wanita di samping nya memakai seragam persit.


" Bang ini rumah Dinas Annisa? " TanyaSisil istri Dito.


" Iya, yuk kita masuk." Jawab Dito.

__ADS_1


Saat akan mengetuk pintu, pintu pun terbuka dan terlihat Shakira menatap kedua tamu tersebut.


" Om sama Tante cari siapa? " Tanya Shakira.


Dito dan Sisil menatap Shakira dan mereka saling pandang.


" Bang wajahnya benar - benar mirip Dimas." Ucap Sisil.


" Benar - benar kena karma dia." Ucap Dito.


" Mamah ada sayang? " Tanya Dito.


" Mamah ada di kamar sedang sakit." Jawab Shakira.


" Om sama Tante boleh masuk? " Tanya Dito.


" Masuk Om Tante." Jawab Shakira sambil menyuruh Dito dan Sisil masuk.


" Sayang namanya siapa? " Tanya Sisil.


" Shakira Tante." Jawab Shakira.


" Shakira tahu nggak kami siapa? "


Shakira menggelengkan kepala nya saat Sisil bertanya pada nya.


" Nama Tante Sisil dan ini Om Dito, kami berdua kakak nya Papah Dimas. Om Dito ini kakak nya Papah lihat wajahnya mirip kan? "


Annisa menatap ke arah Dito yang sedang menatap nya, dan mereka saling melempar senyuman.


Pintu kamar pun terbuka, terlihat Annisa yang berjalan lesu dan tatapannya langsung ke arah Dito dan Sisil.


" Mba sama Abang kok nggak kasih kabar mau kesini? " Tanya Annisa.


" Kami nggak sengaja kesini karena kami habis Ada kegiatan jadi mampir sekalian." Jawab Dito.


" Iya Annisa, kami lama nggak bertemu sama kamu setelah kalian cerai." Ucap Sisil.


" Maaf Bang, Mba kalau Saya sudah tidak ikut acara kumpul keluarga. Sekarang kan ada Siska gantinya."


" Nggak tahu ya kenapa, kami itu sreg nya sama kamu. Bahkan Dimas belum pernah ajak Siska di pertemuan keluarga."


" Siska sibuk mungkin mba."


" Alah dasar Dimas nya Saja mungkin itu."


" Bang Dito dinas disini? " Tanya Annisa.


" Abang Dinas di Baramulya sekarang." Jawab Dito.


" Dekat Bang."


" Iya sekarang dekat Annisa, nggak jauh kayak dulu."


" Kamu lagi sakit? " Tanya Sisil.


" Iya Mba Saya sakit." Jawab Annisa.


" Mba periksa ya, walau mba Bidan mba tahu obat untuk sakit apa dan keluhannya."


" Nggak mba terima kasih."


" Mba periksa kamu ya." Ucap Sisil.


" Bang di Mobil ada tas tolong ambil nya." Pinta Sisil pada Dito.


" Ok Abang ambil dulu ya."


Annisa pun berbaring di atas tempat tidur, Sisil pun memeriksa Annisa, mata Sisil menatap ke arah Dito. Hanya Annisa yang masih tampak biasa Saja.


" Annisa..!! " Ucap Sisil

__ADS_1


" Kenapa mba, mau bilang Saya hamil..!! " Ucap Annisa.


__ADS_2