( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Hanya Kamu


__ADS_3

Dimas mendekap tubuh Annisa, terasa isakan tangis Annisa yang sudah sedikit mereda dan tenang Dimas masih terus memeluk dengan mengusap punggung nya.


" Kamu akan Saya jadi kan wanita satu - satu nya, maaf untuk Cinta yang begitu besar kamu terhadap Saya, membuat kamu tersiksa karena Saya tak membalasnya namun meninggalkan beban hidup yang kamu tanggung sendiri." Ucap Dimas.


" Saya ingin dia tak ada di dalam perut." Ucap Annisa


" Ssstt.. jangan katakan itu lagi." Dimas mengecup pucuk kepala Annisa.


Hati Dimas sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Annisa, sehingga membuat sangat tak menginginkan anak yang di kandungnya.


" Jangan ulangi kata - kata itu lagi." Ucap Dimas kembali.


*****


Dimas membaringkan Annisa di atas tempat tidur, tatapan mata yang kosong dan terus meracau. Tak kuasa melihat apa yang terjadi pada Annisa Dimas menangis di depan Annisa dan terus mengucap kata yang di ulang - ulang.


" Maaf kan Saya Annisa, maaf kan kalau selama ini kamu seperti ini. Kamu menderita Karena Saya, maafkan Annisa."


Hiks... hiks... hiks...


" Abang janji, Abang akan tebus semua kesalahan ini semuanya, Abang mohon kamu jangan seperti ini sayang." Dimas mencium punggung tangan Annisa.


*****


" Dari mana kamu, setelah Resepsi baru pulang. Apa yang kalian sembunyikan dari Saya? " Tanya Siska saat Dimas pulang ke rumah nya.


" Siska maaf ini memang semuanya salah Saya. Tapi Saya minta maaf sama kamu, bila saya menyakiti hati seorang wanita selama ini hadir di hidup saya."


" Maksud kamu apa yank? " Tanya Siska dan Dimas menarik nafasnya dalam - dalam.


" Annisa hamil anak saya." Jawab Dimas.


"Apa..!!! " Ucap Siska


" Annisa hamil anak Saya, kami melakukannya saat kita belum menikah, dan karena sesuatu kami harus melakukan hubungan itu."


" Nggak mungkin, pasti kamu bohong. Kalau pun Annisa hamil, itu bukan anak kamu."


" Itu anak Saya, dan Saya yakin karena Annisa hanya melakukannya sama saya."

__ADS_1


" Terus kamu Mau apa tanggung jawab menikahi dia, jadi kan istri ke dua, maaf Saya nggak mau berbagi cinta."


" Kita cerai."


" Cerai, hanya demi wanita perusak hubungan kamu rela meninggal kan saya."


" Dia bukan wanita perusak hubungan, bersatunya kita karena kita di satukan. Saya memang dulu membencinya tapi sekarang Saya mencintai nya."


" Ini nggak adil Dimas, ini nggak adil Saya nggak rela." Ucap Siska dengan nada tinggi.


" Maaf kan Saya."


" Saya harus beri perhitungan sama Annisa." Ucap Siska langsung pergi meninggalkan Dimas dan Dimas segera menarik tangan Siska menghentikan langkah nya.


" Jangan sekali - kali kamu sentuh Annisa, kalau kamu sentuh dia berarti kamu berurusan dengan saya."


" Oh jadi sekarang benar - benar melindungi pelakor itu, bagus saya akan sebarkan berita ini bahwa Camat Patra seorang pelakor."


" Annisa Stres, dia butuh Dokter jiwa. Annisa mencoba gugurkan kandungan nya tapi berhasil di selamatkan. Dia seperti ini karena saya, ijinkan saya untuk menikahinya dan menebus kesalahan saya selama ini. Ijinkan saya untuk menemani nya saat hamil hingga anak kami tumbuh."


" Bajingan brengsek. " Ucap Siska sembari memukul dada Dimas.


" Maaf kan Saya."


" Jangan macam - macam kamu Siska."


*******


" Mamah kenapa menangis terus, ada Shakira menemani mamah. Kalau Mamah sedih kasihan adik bayi."


Annisa menatap Shakira, tangis nya kembali pecah, dan lalu menangkup kedua pipi Shakira.


" Bila kamu sudah besar nanti, carilah pria yang mencintai kamu jangan kamu cari pria yang tidak mencintai kamu untuk di jadikan pasangan hidup. Cukup Mamah Saja yang terluka karena Cinta , Mamah memang salah jatuh Cinta, tangis yang setiap malam kamu dengar adalah semua beban berat yang mamah kamu rasa kan. Mamah pura - pura kuat, namun hati ini rapuh. Jangan seperti Mamah yang hanya menjadi pemisah hubungan orang lain."


" Mamah bukan orang jahat." Ucap Shakira lalu memeluk tubuh Annisa.


Dimas bersandar di balik pintu saat apa yang dia dengar, hati nya sungguh sangat menyesal dan penuh dengan rasa bersalah.


*****

__ADS_1


" Makan dulu ya, biar calon dede bayinya sehat."


Annisa menggelengkan kepalanya, dan hanya memunggungi Dimas.


" Makan, kamu harus di isi perut nya. Kasihan anak kita."


" Siska sudah tahu Bang? " Tanya Annisa.


" Sudah, Abang minta ijin sama dia untuk menikahi kamu." Jawab Dimas.


" Sampai anak ini lahir Saja Bang, setelah itu Saya akan pergi selamanya, atau Abang tak hiraukan juga Saya tak apa karena dari dulu Saya sudah terbiasa menanggung nya sendiri."


" Kamu bilang apa, selamanya Saya tidak akan pernah menceraikan kamu."


" Kasihan Siska dia itu Cinta pertama Bang Dimas, bukan Saya."


" Kamu Cinta sejati walau bukan yang pertama."


" Seandainya anak ini tak ada, mungkin tidak seperti ini. Sekali orang ketiga, Saya tetap orang ketiga."


" Abang janji akan membuat kamu tersenyum kembali, Abang janji akan buat kamu seperti dulu lagi."


" Saya capek Bang, Saya capek, lebih baik tak bisa lahir kedunia, Saya tak ingin anak kedua terlahir seperti Shakira. Rasa nya kalau ingat, saat mengandung Shakira Saya tahan rasa pusing dan mual, Saya buat agar tak bisa terlihat kalau Saya sedang hamil. Sebuah penyiksaan diri, namun demi anak ini tetap lahir ke dunia karena bila Saya jujur saat itu Saya takut pasti yang ada penolakan dari Abang."


" Maaf kan Saya, maaf kan semua kesalahan Abang. Kamu Mau kan menikah sama Abang, kita kembali seperti dulu, kita sama - sama membesarkan Shakira dan calon anak kedua kita."


Annisa membalikkan tubuhnya dan menghadap Dimas yang duduk di Sisi tempat tidur.


" Apa Bang Dimas suatu saat nanti akan memilih hidup hingga menua nanti sama siapa?"


" Abang ingin menua bersama kamu sayang, Cinta Abang sama kamu dan Siska itu sangat berbeda, entah mungkin ini karma dulu yang pernah menolak Cinta kamu, sekarang Abang tidak ingin kehilangan kamu. Abang bilang sekali lagi kita menikah, walau pernikahan kita tak semewah atau tak seindah pernikahan yang menjadi impian semua orang." Ucap Dimas dengan memegang tangan Annisa.


" Abang janji akan jadi kan saya wanita satu - satu nya? "


" Abang janji, Abang ingin kamu yang mendampingi sisa hidup Abang. Jadi jangan pernah kamu sakiti lagi anak kita, dia layak lahir ke dunia ini, yang pantas di hukum adalah pria yang kini ada di depan Mata kamu."


" Saya bukan pelakor, Saya bukan orang ketiga."


" Iya kamu bukan pelakor, kamu bukan orang ketiga jadi jangan terus mulut kamu berucap seperti itu."

__ADS_1


Annisa tersenyum dan menatap Dimas dengan Mata yang berkaca - kaca.


" Jadi Annisa bukan orang ketiga, dan Annisa bukan pelakor." Annisa terus mengucapkan nya kembali secara berulang - ulang.


__ADS_2