( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Melepas Mu


__ADS_3

🌼🌼 Mulai Alur naik turun, setiap Bab Author sudah punya rencana, tunggu kejutan - kejutan yang memainkan perasaan Reader's yang tidak suka bisa skip atau unfollow. 🌼🌼


" Tante bagaimana kondisi tante hari ini?" Tanya Siska saat menengok Ibu Riana bersama dengan Dimas.


" Kamu sudah lihat kan kondisi saya seperti apa." Jawab Ibu Riana yang sedang duduk di sofa sambil meminum teh hangat nya.


" Tante harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, kalau Tante berkenan saya ingin jadi Dokter pribadi Tante, apa lagi saya ini kan calon istri Dimas. Benar kan sayang." Ucap Siska dengan Pedenya di hadapan Ibu Riana dan Dimas.


" Bund, Siska kan Dokter alangkah baik nya sambil mendekatkan diri biar Siska yang jadi Dokter pribadi Bunda, dan setiap hari nanti kesini." Ucap Dimas.


" Bunda sudah cocok sama Dokter Romi, dia sejak dulu menjadi Dokter keluarga kami, lebih baik kamu jadi Dokter pribadi nya Dimas saja, kamu periksa barang kali ada masalah dalam diri Dimas dan kamu Siska bisa mempertimbangkan nya kembali."


****


" Bunda kamu kenapa sih nggak suka sama saya? " Tanya Siska kesal saat pulang dari Rumah Dinas Bupati.


" Maaf ya kalau Bunda seperti itu." Jawab Dimas.


" Pokoknya saya nggak mau tahu ya Kamu lamar saya dan nikahin saya."


" Surat Dudanya kan belum keluar."


" Terserah untuk itu, kalau bisa kita nikah sekarang jangan menunggu Surat dari pengadilan turun."


******


Annisa memutuskan untuk berlari pagi di sekitaran kebun teh, udara pegunungan yang sangat segar membuat lari paginya lebih semangat.


Saat berlari pagi Annisa berpapasan dengan Dimas yang sedang berjalan bersama Siska sambil saling bercanda.


" Eh itu kan Mantan istri." Ucap Siska saat melihat Annisa lari melewati Dimas.


" Annisa kok nggak menyapa? " Ucap Dimas dalam hatinya.


" Galih, kamu lihat kan Annisa tadi lari lewati kita? "


" Iya lihat terus kenapa? "


" Ya nggak apa - apa, nggak sopan nggak menyapa."


" Mungkin dia canggung kamu sudah tahu identitas dia."


*****


" Wah Ibu cantik ternyata sendirian duduk di sini? " Ucap Pak Bowo saat melihat Annisa duduk sendiri sambil menikmati para pemetik teh yang sedang memetik daun Teh.

__ADS_1


" Bapak sedang apa disini?" Tanya Annisa yang sudah mulai jengah melihat Pak Bowo.


Pak Bowo lalu duduk di bangku panjang yang menghadap ke kebun Teh, duduk lebih dekat tanpa jarak dan membuat Annisa segera menggeser duduk nya.


" Kamu tahu cantik, yang kamu lihat itu adalah kebun milik saya, kalau kamu jadi istri saya kebun itu bisa jadi milik kamu."


" Istri yang ke berapa Pak Bowo, istri muda?"


" Kalau kamu ingin jadi istri satu - satu nya bisa saya ceraikan mereka semua, asal harta gono gini adil."


" Eh Pak Bowo. " Sapa Siska saat melihat Annisa duduk dengan kepala Desa Patra.


" Bu Dokter, wah pas ya Mantan suami nya jalan sama Pacarnya, dan Mantan istri nya sedang duduk berduaan dengan calon suaminya."


Sontak membuat Annisa merasa jijik dan Dimas yang menatap geram, saat melihat cara duduk yang begitu sangat dekat.


" Pak Bowo bercanda nya bisa saja." Ucap Siska.


" Benar Bu Dokter, saya itu menyukai Ibu Camat, kebetulan ada Mantan suaminya jadi sekalian saya minta ijin sama Pak Babin."


" Bapak nggak sadar saingan nya Camat Baramulya lebih keren dia loh." Sindir Siska.


" Saya nggak takut."


Annisa yang mulai kesal beranjak pergi namun tangan nya di tahan oleh Pak Bowo.


Annisa berusaha melepaskan tangan Pak Bowo dari tangan nya, dan Dimas pun sudah mengepalkan kedua tangan nya.


" Bapak jangan kurang ajar ya saya bukan wanita rendahan, dan kamu Siska jangan merasa bangga kamu menang dalam hal ini, dan Kembali lagi sama Pak Bowo saya ini wanita pemilih dan maaf anda bukan selera saya, dan anda tahu saya adalah kekasih Arka Camat Baramulya. "


Annisa pun lalu berjalan meninggalkan Siska, Dimas dan Pak Bowo, rasa kesal membuat nya ingin berteriak dan Dimas sedikit tersenyum saat apa yang di lakukan Annisa, walau entah tiba - tiba ada rasa sakit yang di katakan Annisa.


******


" Ini yang kami selidiki." Ucap Pak Eko sambil menunjukkan salinan nota dan bukti bahan baku bangunan.


" Lari nya kemana ya Pak uangnya?" Tanya Annisa.


" Apa Ibu tidak tahu rumah singgah yang ada di dekat lereng pegunungan itu adalah rumah singgah tempat prostitusi."


" Apa hubungannya? "


" Aslinya itu adalah milik Pak Bowo di Sana juga tersedia tempat perjudian."


" Kenapa Polisi sini nggak bertindak?"

__ADS_1


" Nama nya bukan milik Pak Bowo yang menjadi sangat sulit, nama itu milik salah satu pejabat di daerah ini, sehingga permainan hukum di berlakukan."


" Kerja sama? "


" Iya."


" Siapa Pak, apa bapak tahu?"


" Mantan suami Ibu juga tahu."


" Kenapa dia diam saja? "


" Kebal hukum hingga Pak Bowo berani berlindung di bawah ketiak nya, dan uang yang kita bahas bagi dua Sama dia."


" Kita harus bertindak Pak."


" Pak Babin kita pernah bertindak, usaha pembunuhan pada Pak Babin pernah terjadi namun gagal, Pak Babin menghentikan penyelidikan semua karena ancaman akan meracuni warga sini, tanpa di hiraukan dengan menangkap anak buah nya hal itu terjadi, Dokter Siska yang menangani warga yang keracunan melalui sumber mata air satu - satu nya."


" Kenapa tidak laporan ke yang atas, dan bekerja sama?"


" Banyak cara meraka lakukan."


" Kita harus nggak boleh diam Pak, kita harus bergerak."


" Bahaya Bu, nyawa Ibu akan bahaya seperti Pak Babin."


" Saya pimpinan di kecamatan ini, kita harus bangkit lawan mereka, kalau Pihak berwajib tak sanggup biar saya yang bergerak. Kita jangan mau hidup di bawah pimpinan seperti itu, mereka adalah dalang di balik wayang yang mengerjakan semua nya."


******


Berbagai proses mediasi dan berbagai panggilan atasan atas pengajuan cerai Dimas dan Annisa pun telah di penuhi. Tanda tangan persetujuan perceraian yang di tanda tangani Bupati dan Pihak dari Kepolisian Pun telah di setujui. Begitu pun pengadilan Agama pun telah mengetuk palu, Annisa dan Dimas resmi bercerai.


Masing - masing telah memegang akta cerai, kini Annisa dan Dimas duduk bersama di sebuah taman Bungan.


" Saya menepati janji ini, sekarang kamu bebas tak ada ikatan, Kamu bisa segera menikah dengan Arka dan Saya dengan Siska."


" Terima kasih Bang, sudah membebaskan saya."


" Apa kita bisa menjadi Sahabat, mungkin saya akan menebus sikap saya dulu."


" Kita bisa jadi Sahabat Bang, kita bisa mulai dengan menjadi Sahabat."


" Terima kasih sudah mencintai saya dulu, maaf saya nggak bisa membalasnya."


" Sama - sama Bang, maaf kalau Saya mencintai Abang. Hal yang tak akan pernah Saya lupakan seumur hidup Bang, terima kasih untuk kisah satu malam itu."

__ADS_1


" Kisah yang mana, yang memadu kasih atau kata - kata Saya yang mengubah semua nya seketika."


__ADS_2