( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Untuk Mu Selalu Ada


__ADS_3

Annisa berjalan menuju Dapur untuk membuat susu untuk diri nya, dengan jalan perlahan Annisa membuat nya sendiri.


" Mamah."


" Sayang, Mau bikin susu nggak nanti Mamah bikinin."


" Mamah kenapa mamah bisa tersenyum dan setegar itu? "


" Kamu bicara apa sih nak."


" Shakira bukan anak kecil biasa Mah, Shakira tahu mamah sangat tersiksa. " Ucap Shakira menunduk.


" Sayang, mamah bahagia kok. Kenapa Mamah selalu bahagia, karena ada kamu dan calon dedek bayi."


" Kita dari dulu hidup berdua, apa selama nya kita akan terus hidup berdua dan Papah akan pergi meninggalkan kita? "


" Sayang kenapa kamu berpikir jauh sekali nak, Papah nggak akan kemana - mana selamanya Papah itu tetap Papah kamu. Papah itu sayang sama kita, Suatu saat kamu akan mengerti sayang." Ucap Annisa sambil mengusap pucuk kepala Shakira.


" Bang anak kita memiliki pemikiran layaknya orang dewasa, kita memang sebagai orang tua salah anak sekecil dia harus menyaksikan apa yang terjadi di antara kita." Ucap Annisa sambil mengaduk susu nya.


*******


" Yank kamu kenapa sih 2 hari nggak Pulang kamu sudah melanggar perjanjian." Protes Siska saat Dimas baru Pulang Dinas.


" Maaf kemarin melayat ke Almarhum Arka dan terus Annisa sakit." Ucap Dimas.


" Alah alasan saja, bilang saja ingin menguasai kamu."


" Sebagai gantinya Saya 2 hari disini."


" Memang harus itu." Ucap Siska dengan angkuhnya.


" Kandungan anak kita bagaimana, belum cek ke Dokter lagi kan? " Tanya Dimas.


" Belum." Jawab Siska.


" Besok kita cek ya." Ucap Dimas sambil mengusap perut Siska.


*****


" Halo Bang bisa kita ketemu? " Tanya Annisa dari ponselnya.


" Nanti kalau Abang Pulang saja ya, sekarang waktu nya sama Siska." Jawab Dimas dari seberang.


" Ya sudah kalau begitu."


" Maaf ya."


" Ya Bang nggak apa - apa."


Annisa pun menutup panggilan ponsel nya lalu tersenyum kecut sambil meraba perut nya yang sudah sedikit menonjol.


" Benar kata kamu sayang, Mamah di depan orang bagai wanita yang sangat tegar namun hati Mamah rapuh."


******

__ADS_1


" Kenapa muka kamu? " Tanya Tio saat memasuki ruangan Dimas.


" Annisa minta ketemu hari ini kan waktu nya sama Siska." Jawab Dimas.


" Ribet ya punya bini 2."


" Sebenarnya Saya lebih berat ke Annisa ketimbang Siska, dan saat mereka hamil seperti nya Saya tuh lebih dekat dengan kehamilan Annisa ketimbang Siska. Nggak tahu kenapa seperti ikatan bathin kuat nya sama Annisa."


" Mungkin karena perasaan kamu saja Kali, sudah lah jangan di pikirin."


" Ya mungkin orang melihat Saya enak memiliki istri dua, sama - sama Abdi Negara tapi ternyata rumit ya karena ulah Saya sendiri."


" Karma itu pasti berlaku, dari sini kamu bisa ambil perlajaran hidup nya. "


" Iya saat ini Saya sedang bimbang untuk suatu saat Saya harus ambil keputusan."


" Benar keputusan itu ada di tangan kamu, dan ingat perasaan kamu itu lebih berat kemana itu keputusan nya."


******


" kandungan nya bagus Pak, jangan lupa konsumsi vitamin nya." Ucap Dokter kandungan tersebut.


" Terima kasih Dok. " Ucap Dimas.


" Satu untuk Dokter Siska, jangan capek banyak istirahat."


" Terima kasih Saya akan ikuti apa yang di sarankan Dokter."


Siska dan Dimas pun keluar dari ruang poli Kandungan dan lanjut berjalan menuju ke Apotek.


" Yank, bukan nya itu Annisa kenapa dia keluar dari Poli Kejiwaan buka Poli kandungan? " Tanya Siska heran.


" Astaghfirullah kenapa Saya jadi lupa, Annisa pun harus rutin check up ke dua Dokter." Ucap Dimas dalam hati nya.


" Jangan - jangan istri muda kamu gangguan jiwa ya? "


Dimas tidak memperdulikan Siska dan terus berjalan ke arah Apotek.


Annisa pun duduk saat itu Siska dengan sengaja duduk di samping Annisa, dan Annisa menoleh ke arah nya.


" kamu sakit jiwa ya? " Ledek Siska.


Annisa hanya menatap tajam dan lalu melirik ke arah Dimas dan Dimas lebih memilih duduk di kursi paling seberang .


" Mau Saya sakit jiwa Mau Saya sakit parah itu bukan urusan kamu."


Siska tersenyum sinis sambil mengusap perutnya yang sudah tampak sedikit terlihat.


" Kamu tahu saat seperti ini suami kita malah mengantar istri pertama nya check up ke Dokter kandungan, kamu juga seharusnya di dampingi suami apa boleh buat suami kita malah ke istri tua."


Dimas pun menghampiri kedua istrinya, dan lebih memilih duduk di tengah - tengah memisah kan antara kedua istrinya.


" Ini rumah sakit, jadi tolong jangan berdebat."


" Istri tua kamu Bang yang mulai, Saya hanya diam Mau dia berkata apa." Ucap Annisa.

__ADS_1


" Entah kenapa kalau ketemu sama kamu bawaan nya itu kesal saya." Ucap Siska.


" Stop kalian stop." Ucap Dimas kesal.


******


Dimas setelah dari rumah sakit segera kembali dan menuju ke rumah diri nya dan Annisa, saat itu Annisa sedang akan meminum obat.


" Sayang."


" Abang kok Pulang kesini? " Tanya Annisa.


" Apa Abang nggak boleh Pulang kesini?" Tanya Dimas kembali.


" Boleh Bang, tapi ini jadwalnya sama Siska." Jawab Annisa.


Dimas memeluk tubuh Annisa, Dimas memeluk erat tubuh istri nya.


" Abang kenapa? " Tanya Annisa sambil membalas pelukan Dimas.


" Maaf kan Abang, sumpah Abang lupa jadwal kontrol kamu." Jawab Dimas.


" Nggak apa - apa Bang, Annisa juga paham."


" Lain kali kalau suami kamu lupa kasih tahu sayang, kamu juga sekarang perlu penangan ekstra demi keduanya."


" Bang kalau Suatu saat nanti Annisa gila bagaimana? "


" Kata siapa kamu gila, kamu nggak gila jangan pernah dengar kata Siska."


" Annisa kan punya riwayat gangguan jiwa, apa Abang mau punya istri gila apa Abang nggak akan malu?"


" Nggak Sayang Abang nggak akan malu, kamu bisa seperti ini karena lelaki brengsek di depan kamu sampai sekarang belum pernah bisa membahagiakan kamu. Abang minta kamu jangan pikir kan yang macam - macam, pikirkan tentang anak - anak kita, pikirkan kamu itu bahagia, Abang disini berusaha membantu kamu untuk sembuh."


" Apa Annisa akan seperti ini terus Bang? "


Hiks.. hiks... hiks...


" Abang janji akan memilih kamu sayang, hati Abang sudah memilih."


" Tapi Annisa bisa saja kambuh seperti dulu hiks.. hiks.. hiks.. "


" Abang akan tetap bersama kamu."


" Janji ya Bang, jangan tinggalin Annisa di saat Annisa merasa sendiri."


Dimas kembali memeluk Annisa, di ciumnya kening Annisa dengan mata Dimas yang sudah berkaca - kaca.


" Abang mencintai kamu." Ucap Dimas.


" Yank kamu di telepon ingin bicara penting katanya? " Tanya Dimas sambil melepaskan pelukannya.


" Bang Shakira itu sudah bisa menilai, kita sebagai orang tua salah, anak sekecil dia harus melihat apa yang terjadi pada kita. Saya takut Shakira memiliki rasa trauma."


" Maaf kan Abang ya, hingga anak kita terbawa - bawa."

__ADS_1


__ADS_2