( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Tekanan Batin


__ADS_3

" Pergi.... pergi.... kamu pergi Bang.. hiks... hiks... biarkan Saya pergi jauh dari kamu Bang hiks.. hiks... " Annisa terus berteriak hingga Dimas mencengkram kedua tangan Annisa.


" Sadar kamu Annisa, sadar.. Saya tidak akan pernah meninggal kan kamu, dan anak kita harus hidup jangan kamu hilangkan nyawanya." Bentak Dimas.


Bagas, Dito, Meli dan Sisil pun masuk ke dalam kamar Rawat dan Bagas serta Dito langsung menjauhkan Dimas dari Annisa.


" Saya nggak mau anak ini hiks... hiks.. hiks.. " Ucap Annisa sambil menangis lalu Meli serta Sisil pun memeluk tubuh Annisa.


" Annisa Stres berat, selama ini dia tekanan batin. " Ucap Bagas.


" Saya harus bagaimana Bang, Saya ingin nikahi dia salah, saya mau tanggung jawab anak yang di kandung nya salah, Saya harus bagaimana?" Ucap Dimas menatap sedih ke arah Annisa.


" Sedikit - sedikit dia masih stres, jangan ganggu Annisa biar Meli sama mba Sisil tenangkan Annisa." Ucap Bagas.


Dimas pun lalu keluar bersama Bagas, sedang kan di dalam Annisa yang masih menangis di temani.


" Annisa kamu harus tenang, kamu sekarang tidak akan sendiri, Dimas akan selalu ada buat kamu, Shakira bahkan calon anak kamu. Dimas mencintai kalian." Ucap Meli.


" Benar apa yang di katakan Meli, pertahankan anak ini jangan kamu gugurkan." Ucap Sisil.


Hiks.. hiks.. hiks..


" Saya nggak mau anak ini, kenapa kalian menyelamatkannya." Ucap Annisa.


" Annisa, anak kamu tidak bersalah, Dimas, kamu dan kami semua akan membesarkan nya sama - sama." Ucap Dito.


" Nggak Saya nggak mau."


*****


Ibu Riana dan Pak Ibrahim bersama Shakira pun datang ke rumah sakit, mereka pun langsung masuk kedalam kamar rawat, dan hanya melihat Annisa yang tengah tertidur.


" Annisa tidur Ayah Bunda, setelah Dokter memberikan obat penenang." Ucap Sisil.


" Bagaimana kandungan nya? " Tanya Pak Ibrahim.


" Hampir kehilangan, Annisa mencoba menggugurkan nya.' Jawab Sisil.


" Astaghfirullah Annisa." Ucap Ibu Riana.


Hiks.. hiks... hiks...


" Mamah." Isak Shakira.


" Mamah hiks.. hiks... "


" Mamah sedang istirahat, Shakira sama Tante dulu ya." Ucap Meli sambil menggendong Shakira.


******


" Iiiisssss kemana sih kamu, jam segini belum pulang juga." Ucap Siska kesal.


" Kenapa? " Tanya Ibu Iren.


" Dimas ponsel nya nggak aktif, dan baru selesai acara dia langsung pergi bilang nya sama Ayah." Jawab Siska.

__ADS_1


" Pergi sama mertua kamu? "


" Iya, nggak tahu mereka kemana."


" Kayaknya Mamah lihat, kakak - kakak nya pergi duluan sebelum acara selesai sama Ajudan Ayah mertua kamu."


" Masa sih Mah, Siska jadi curiga."


" Coba deh kamu cek minta tolong salah satu Asisten rumah tangga di Rumah Dinas mertua kamu, mereka ada tidak."


*******


Dimas memasuki kamar rawat Annisa, hanya dia yang masih berada di rumah sakit untuk menemani Annisa. Deringan suara ponsel Siska tak ia hiraukan.


Dimas mengusap pelan perut Annisa yang masih rata, dan mencium perut nya.


" Yang sehat nak, yang kuat semoga kamu sama Mamah sehat semua." Ucap Dimas kembali mencium perut Annisa.


Annisa merasakan tubuh nya sedikit berat, dan matanya membuka perlahan, terlihat Dimas sedang mencium perut nya.


Annisa segera menyingkirkan Dimas, dan sangat begitu terkejut Saat Annisa mendorong tubuh Dimas ke lantai.


" Sayang."


" Pergi Bang."


" Abang nggak akan pergi, Abang akan temani kamu."


" Saya bukan istri Abang, Saya hanya pelakor."


" Sssstt kamu akan jadi istri Abang satu - satu nya, dan kamu bukan orang ketiga."


Dimas memeluk erat tubuh Annisa yang kembali meronta, Annisa terus menangis dan mencoba melepaskan dekapan Dimas.


" Jangan kamu hilangkan nyawanya, Abang mohon biarlah dia tumbuh di rahim kamu sayang."


Hiks... hiks.. hiks....


" Nggak Bang hiks... hiks.. "


******


" Terima kasih infonya." Ucap Siska mematikan sambungan teleponya.


" Bagaimana? " Tanya Ibu Iren.


" Pak Ibrahim dan keluarga nya pulang malam bersama Shakira, mereka bilang seperti ada sesuatu yang terjadi." Jawab Siska.


" Tapi kenapa kamu nggak tahu, apa mereka tidak menganggap kamu menantunya." Ucap Ibu Iren kesal


" Saya akan cari tahu Mah."


******


" Mamah." Shakira berlari saat dirinya datang bersama kakek dan Nenek nya.

__ADS_1


" Sayang." Ucap Annisa dengan wajah yang masih tampak pucat.


" Mamah sakit? " Tanya Shakira.


" Iya sayang Mamah sakit." Jawab Annisa.


" Permisi." Sapa seorang Perawat.


" Bu di USG lagi ya biar tahu perkembangan Janinnya."


" Janin apa Mah? " Tanya Shakira polos.


" Shakira Mau punya adik." Jawab Ibu Riana.


" Oh ya Shakira bakalan punya adik, tapi kan Mamah nggak menikah." Ucap polos Shakira hingga Perawat tersebut menatap kaget.


Dimas pun lalu datang, dan melihat ada seorang Perawat yang sedang membantu Annisa untuk duduk di atas kursi roda.


" Mau di bawa kemana suster?"


" USG pak."


" Saya dampingi dia."


*****


" Alhamdulilah kondisi nya baik - baik Saja,ini sangat luar biasa padahal usia baru 3 minggu cukup kuat. Tolong Istrinya jangan di buat stres Pak, Saya Saran kan juga untuk konsultasi ke Dokter jiwa juga untuk kondisi istri bapak."


" Baik Dok terima kasih." Ucap Dimas.


Annisa hanya diam dan hanya terdengar bisik - bisik dari kedua seorang suster yang membicarakan Annisa.


" Itu selingkuhan anak nya Pak Bupati, padahal kemarin yang lelaki nya itu baru Saja mengadakan Resepsi pernikahan." Ucap Suster tersebut.


" Kasihan istrinya nya ya, malah keluarga seperti nya mendukung nya." Ucap Suster satu nya.


" Saya bukan pelakor, Saya nggak ada niat jadi pelakor hiks... hiks... " Annisa kembali berbicara dengan di ulang - ulang, Dimas yang mendengarnya merasa sangat marah.


" Dokter, Saya ingin kedua suster ini di pecat dari rumah sakit ini. Tidak bisa menjaga kondisi pasien, Saya akan laporkan ke Direktur rumah sakit ini, kalau tidak tahu ceritanya jangan asal menuduh." Ucap Dimas emosi sambil memeluk tubuh Annisa.


" Maaf Pak Dimas, Saya akan tegur mereka kedua." Ucap Dokter kandungan yang menangani Annisa.


" Saya ingin mereka di pecat, dan bila sampai di luar sana bocor kabar ini dan wartawan ada di depan rumah sakit Saya akan tuntut kalian berdua."


" Maaf Pak, maaf jangan pecat kami berdua." Ucap Sister tersebut.


" Maaf kan Saya juga pak, Saya juga mohon jangan laporkan ke Direktur rumah sakit ini." Ucap suster satu nya lagi.


" Baik tapi Saya akan tetap laporkan ke Direktur rumah sakit ini." Ucap Dimas mendorong kursi roda Annisa.


*****


Dimas membawa Annisa ke tempat yang sepi yang masih terus menangis, Dimas memandang Annisa yang sangat tertekan seperti menanggung beban yang sangat berat.


" Sayang, apa kamu nggak kasihan sama calon anak kita."

__ADS_1


" Saya nggak mau dia di dalam sini." Ucap Annisa sambil menunjuk ke arah perut nya.


" Jangan hilangkan nyawanya sayang." Dimas memeluk tubuh Annisa yang masih terus mengulang ucapan nya.


__ADS_2