Abandoned Princess

Abandoned Princess
Shen Haofeng


__ADS_3

"Shen Haofeng!"


"Shen Haofeng!!"


"Shen Haofeng?"


Semenjak Qiao Rong pindah ke Desa Nanshan sebulan yang lalu, rutinitasnya tiap hari hanyalah berkultivasi atau menganggu Shen Haofeng dengan alasan untuk membeli buruannya.


Sakit kepala Shen Haofeng makin bertambah tiap harinya. Gadis itu selalu mengganggunya pagi, siang, dan malam. Pada pagi hari biasanya Qiao Rong akan merengek-rengek untuk ikut Shen Haofeng pergi ke gunung. Siang hari, Qiao Rong akan mengganggu Shen Haofeng di rumahnya yang sedang menguliti binatang buruan. Malam harinya, Qiao Rong akan selalu mengajak Shen Haofeng untuk makan malam bersama di rumahnya.


Tentu saja, tawaran dan keinginan Qiao Rong pada pagi dan malam hari langsung Shen Haofeng tolak tanpa mengedipkan mata.


Qiao Rong hanya akan tersenyum. Semakin Shen Haofeng menolak, Qiao Rong akan semakin merasa pemuda itu begitu menarik. Ia seperti bocah kecil yang baru saja mendapatkan sebuah mainan baru yang terus kabur dari hadapannya. Tentu saja bocah kecil itu tidak akan menolak mainan itu, dia akan terus mengejarnya.


Saat ini, Qiao Rong sedang berdiri di halaman rumah Shen Haofeng di tepi danau. Ia sedang sibuk melihat Shen Haofeng yang sedang menguliti seekor harimau tangkapannya.


"Wah! Harimau itu begitu besar, kau pasti sangat hebat bisa menangkapnya!" Shen Haofeng hanya terdiam, seperti biasa.


"Sepertinya kulitnya akan sangat bagus. Aku akan membeli sedikit kulit itu apakah kau setuju?" Shen Haofeng hanya mengangguk kecil, dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Walaupun begitu, Qiao Rong tetap merasa senang. Sebulan yang lalu, Shen Haofeng bahkan tidak akan merespon pertanyaannya saat sedang melakukan sesuatu.


Setelah puas dengan anggukan Shen Haofeng, Qiao Rong kembali ke rumahnya. Chu Yue sudah menunggu dengan raut cemas. "Yang Mulia, apakah tidak apa anda terus menerus pergi ke rumah pemuda itu? Kalau di desa gosip menyebar.." Kata Chu Yue dengan cemas. Tidak baik jika terdengar gosip bahwa seorang gadis pergi sendirian ke rumah pria yang tinggal sendirian, apalagi mereka seumuran.


Qiao Rong hanya tersenyum. "Tidak apa. Akan kulakukan apa yang aku mau." Jawabnya santai. Chu Yue hanya bisa menyimpan kekhawatiran itu di hatinya, dan mulai menyiapkan makan malam.


Ketika hari mulai gelap, Qiao Rong seperti biasanya akan pergi ke rumah Shen Haofeng. Ia akan menemukan Shen Haofeng seperti biasa sedang bersandar di kursinya. Menikmati teh sambil menunggu cahaya bulan keluar.


"Shen Haofeng!" Qiao Rong tersenyum lebar memanggilnya. Shen Haofeng hanya menengok sebentar, lalu menenggak cangkir tehnya lagi.


Qiao Rong menarik-narik lengan baju Shen Haofeng. "Ayo makan malam di rumahku hari ini, oke? Pasti akan sangat seru. Membayangkanmu yang diam saja saat makan dengan saudara-saudaraku saja aku sudah ingin tertawa." Mohon Qiao Rong dengan memelas.


Shen Haofeng baru saja menyadari sesuatu ketika Qiao Rong menyebut kata 'makan'. Ia lupa membeli beras karena terlalu sibuk menguliti harimau tangkapannya itu hari ini. Pada akhirnya, ia mengangguk dan berdiri.

__ADS_1


Qiao Rong tercengang seketika. Sudah sebulan ini ia mengajak Shen Haofeng setiap harinya untuk mendengar tolakan darinya. Dan dirinya terus merasa tertantang. Hari ini juga begitu, ia sangat mengharapkan tolakan Shen Haofeng. Namun, entah kenapa walaupun Shen Haofeng menerima ajakannya, secercah rasa senang timbul di hatinya.


"Apa lagi yang kau tunggu?" Shen Haofeng memandang ke arah tangan Qiao Rong yang masih memegangi lengan bajunya, namun masih belum beranjak. Qiao Rong pun segera tersadar, melepaskan genggamannya, dan pergi mengikuti Shen Haofeng dari belakang.


Chu Yue yang selalu menunggu Qiao Rong kembali dari rumah Shen Haofeng terkejut ketika melihat bahwa Qiao Rong benar-benar kembali bersama Shen Haofeng.


"Ya—, Kakak." Chu Yue hampir saja keceplosan, jika Qiao Rong tidak memelototinya. "Silahkan masuk." Lanjut Chu Yue kepada Shen Haofeng.


Shen Haofeng mengangguk.


Kedatangan mereka itu disusul oleh Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping yang datang dari rumah sebelah. Mereka sudah terbiasa makan bersama Qiao Rong, perlakuan Qiao Rong pada mereka juga layaknya saudara sendiri. Sepertinya rasa segan mereka sudah hilang sendiri setelah makan malam beberapa kali bersama.


Kini mereka berenam duduk bersama di meja makan bundar yang dipenuhi berbagai macam makanan enak buatan Chu Yue. Ada akar lotus goreng dengan saus spesial Chu Yue, ayam panggang yang Qiao Rong beli dari Shen Haofeng, Ikan asam manis yang ditangkap Duan Yi tadi siang, dan masih banyak lagi.


Shen Haofeng baru pertama kali itu makan dengan suasana yang begitu ramai. Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping memang sangat ribut ketika berbincang, apalagi kebersamaan mereka sebagai prajurit istana setiap harinya sudah membuat mereka seperti saudara kandung.


Qiao Rong dan Chu Yue juga berbincang dengan hangat. Sesekali, Qiao Rong akan melemparkan pandangan penasaran padanya dan tersenyum.


Shen Haofeng merasa sangat aneh. Kehangatan seperti ini, belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Dalam makan malam itu, ia juga baru menyadari betapa cantiknya Qiao Rong dengan tanda lahirnya yang sudah memudar sepenuhnya. Baru kali itu, ia memandang Qiao Rong dengan benar.


"Kau tersenyum." Kata Qiao Rong, diikuti dengan tawa manisnya.


"Tidak." Shen Haofeng menjawab singkat, kembali menyumpit satu akar lotus goreng dari piring.


"Ayo, makanlah lebih banyak, Kakak." Chu Yue menyumpitkan sepotong paha ayam ke piring Qiao Rong. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman harus memanggil Qiao Rong seperti itu, namun tentunya ia tidak memiliki pilihan lain.


*****


Shen Haofeng terus mempertahankan senyumannya sambil memandangi cahaya bulan di tepi danau.


Tiba-tiba sebuah bayangan hitam tiba dibelakangnya dalam keheningan.


"Yang Mulia, Raja Langit sudah mulai bergerak. Kita harus siap untuk memobilisasi pasukan." Kata pria yang berpakaian serba hitam dengan aksesori berbentuk bulan perak yang terpasang di kiri dadanya. Shen Haofeng mengangguk tanpa membalikkan badan.

__ADS_1


"Jiang Junwei. Teknik Bayangan Bulanmu memang sudah terlihat sempurna dari luar. Tapi kau masih membuat kesalahan di langkah pertama pendaratan. Aura qi mu terdeteksi sesaat." Shen Haofeng menyampaikan kritik itu dengan dingin.


Jiang Junwei, pria di belakangnya itu mengepalkan kedua tangannya di dada dan membungkuk. "Terimakasih atas pencerahan Yang Mulia."


Shen Haofeng menghela napas. Ia masih memikirkan makan malam yang baru ia alami. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ada wanita yang membuatnya memandangnya sepenuhnya.


Shen Haofeng akhirnya mengikuti Jiang Junwei dengan senyuman di wajahnya.


*****


"Shen Haofeng!" Qiao Rong sudah berteriak begitu lama dari tadi, namun Shen Haofeng tidak terlihat dimanapun di sekitar rumahnya.


Aneh. Apakah ia pergi ke gunung? Qiao Rong tidak bisa menahan pertanyaan itu dalam hatinya.


Qiao Rong memutuskan kembali ke rumah dan berkunjung kembali pada siang hari. Namun pada siang hari, tidak disangka ia malah menemukan jawaban yang sama.


Shen Haofeng seperti telah menghilang di telan bumi. Ia tidak ada di rumahnya dari pagi sampai malam. Hari ini, Qiao Rong bahkan sudah mengunjungi rumah Shen Haofeng lima kali. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan sedikitpun yang ia temukan.


Qiao Rong hanya bisa berbaring lemas di ranjangnya. Seharian ia tidak bisa berhenti memikirkan kemana perginya Shen Haofeng.


"Dasar tidak tahu terimakasih. Baru saja makan malam bersama, sudah kenyang malah menghilang." Qiao Rong bergumam kesal sendirian di kamarnya. Qiao Rong bahkan tidak pernah merasa sekesal ini pada kakak seperguruannya yang meminjam bukunya dan menghilang begitu saja.


Tiba-tiba terdengar suara Li Junyan. "Akui saja kau menyukainya."


Qiao Rong sontak langsung berdiri.


"Aku? Menyukainya?" Qiao Rong membeku sejenak sebelum akhirnya tertawa dengan kencang. "Ahahaha! Mana mungkin!" Qiao Rong lalu menjitak kepala Li Junyan dengan kencang.


Li Junyan mengaduh kesakitan.


"Lihat? Sebentar lagi kau akan merindukannya." Kata Li Junyan mengusap-usap kepalanya. "Bahkan tidak ada yang pernah memperlakukan roh penjaga Kitab Yin Yang sekasar ini." Gumam Li Junyan dengan suara sekecil mungkin.


"Apa yang kau bicarakan!" Qiao Rong sekali lagi menjitak kepalanya dengan kencang.

__ADS_1


"Tidak! Tidak ada!" Li Junyan kembali mengaduh kesakitan. Terkutuklah mulutnya karena sudah memancing jitakan kedua.


Qiao Rong sudah bertekad tidak akan membiarkan ucapan Li Junyan menjadi kenyataan. Dia tentu sangat percaya diri hal itu tidak akan terjadi.


__ADS_2