Abandoned Princess

Abandoned Princess
Kepala Keluarga Zhang


__ADS_3

Pemandangan berdarah itu membuat beberapa selir yang masih tersisa di Aula Istana pingsan seketika menyusul Permaisuri.


Para dayang pun begitu, akhirnya para kasim lah yang mengerjakan tugas untuk membawa para wanita yang pingsan satu-persatu. Para prajurit tidak ada yang berani maju sama sekali. Tingkat kultivasi Putra Mahkota saja dilalui dengan begitu mudah oleh Qiao Rong, bagaimana dengan mereka?


Tidak sedikit prajurit yang gemetar di tempat karena takut nyawanya terancam karena mengikuti Putra Mahkota, sekarang mereka semua ada di bawah belas kasihan Qiao Rong.


Selir Shu terlihat masih mengatur napasnya disamping tubuhnya yang masih gemetaran.


"Rong'er, kau telah membuat kesalahan." Selir Shu tetap memaksakan dirinya untuk bicara walaupun giginya masih bergemeretak.


Sudah lama sekali Selir Shu tidak menyaksikan pemandangan berdarah seperti ini. Dirinya yang dulu mungkin terbiasa, dirinya sekarang sudah menyerah berkultivasi lagi selama belasan tahun.


"Aku tidak akan membuat kesalahan, Ibu. Lagipula rumor menyedihkan apa itu? Bagaimana mungkin aku bukan anak Kaisar?" Dalam hatinya Qiao Rong tertawa. Ia sangat yakin karena diri Qiao Rong yang asli bodohnya sama persis seperti Kaisar.


"Tapi ... Kau ... Ah sudahlah, anakku, kau boleh saja memprovokasi Permaisuri dan Putra Mahkota. Namun dengan tindakan seperti ini, Ibu takut Kepala Keluarga Zhang sendiri yang akan turun tangan ..." Selir Shu mencoba untuk berbicara dengan nada khawatir.


Ia sendiri yakin, namun di sisi lain juga tidak yakin kalau tingkat kultivasi Qiao Rong bisa mengalahkan Zhang Guo, Kepala Keluarga Zhang. Alias kakek dari Putra Mahkota dari keluarga Ibu.


Tapi tingkat kultivasi Zhang Guo hanya mencapai Tingkat Bulan Menengah sebagai kultivator paling kuat di Kerajaan Wen. Bukankah sekarang waktunya Qiao Rong mengambil julukan itu darinya?


Qiao Rong hanya tersenyum dan memberikan senyuman menenangkan pada Selir Shu, lalu mendekat dan membantu Selir Shu untuk berdiri.


Kepala dayang yang dari tadi hanya bisa menonton dengan muka pucat akhirnya sekarang berlari tergopoh-gopoh dan menggantikan Qiao Rong untuk memapah Selir Shu kembali ke paviliunnya.


Qiao Rong merasa sangat bersemangat. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa pertarungannya dengan Zhang Guo nantinya. Itupun kalau benar pria tua itu yang akan melawannya secara langsung.


Qiao Rong tidak sabar menantikan saat-saat itu.


*****


"Tuan. Ada kabar dari Istana." Di ruang utama Kediaman Jiang, sesosok bayangan hitam muncul dari atap-atap dan berlutut menghadap punggung seseorang yang kekar.


Ya, seseorang itu tak lain adalah Zhang Guo. Tubuh kekarnya dilapisi oleh kain sutra dengan kualitas yang paling bagus. Namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan rambut hitamnya yang kini sudah dimunculi berbagai warna putih yang menandakan umurnya.


Zhang Guo menoleh ke arah sosok bayangan hitam itu dengan wajah penasaran.


"Apakah mereka setuju untuk memahkotai cucuku lebih cepat?" Tanyanya tidak sabar.


Sosok orang yang dibalut pakaian serba hitam itu hanya bisa menunduk. Dirinya merasa sangat sial sebagai orang yang akan menyampaikan kabar buruk ini pada tuannya. Tapi mau bagaimana lagi?


"Cucu anda, Putra Mahkota, sudah wafat. Permaisuri saat ini masih tidak sadarkan diri karena kondisinya yang histeris."

__ADS_1


Brakkkkkk!


Sebuah tinju menghantam meja yang berada tepat di depan Zhang Guo. Meja yang memisahkan keberadaan Zhang Guo dengan orang berbaju hitam itu.


Sosok itu mulai gemetar.


Dan benar saja, kepala berikutnya yang melayang setelah Putra Mahkota adalah kepala dari sosok orang yang terbalut pakaian hitam tadi. Pelakunya tak lain adalah Zhang Guo.


"Siapa yang berani membunuh cucuku?!!!!" Zhang Guo kini dipenuhi amarah.


Ia tidak mengirim putri kesayangannya ke Istana sebagai seorang Permaisuri, semata-mata untuk status belaka.


Mana tega ia melihat putri kesayangannya harus berbagi suami dengan selir-selir lain? Namun semua ini adalah keharusan.


Untuk menempatkan cucunya kelak sebagai Kaisar selanjutnya. Zhang Guo tidak menyangka bahwa hari bahagia ini akan datang secepat ini.


Dan sekarang ia mendengar bahwa cucunya telah wafat.


Zhang Guo sudah tidak memiliki kemampuan untuk berpikir lagi.


Dirinya melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Istana.


*****


"Tentu saja." Qiao Rong tersenyum.


"Kalau begitu aku bisa tenang." Shen Haofeng hanya bisa membalas senyuman itu sekarang.


Namun ia bersumpah, kalau gadisnya itu terluka sedikit saja, ia akan memenggal orang-orang dari Kediaman Zhang satu-persatu.


"Siapa yang membunuh cucuku???!!!!!" Sebuah teriakan hebat membuat telinga mereka berdua pengang.


Qiao Rong memegangi tangan Shen Haofeng yang berada di atas tangannya itu, "Sudah waktunya kau menontonku, bukan?" Lalu ia melepaskan kedua tangannya dan berjalan santai ke arah teriakan itu berasal.


Qiao Rong memberi hormat Zhang Guo begitu mereka bertemu.


"Apakah anda adalah Kepala Keluarga Zhang?" Qiao Rong menatap pria tua itu dengan sopan.


Pria tua itu terlihat muram dan marah.


"Siapa yang membunuh cucuku?" Zhang Guo bertanya sekali lagi.

__ADS_1


"Aku." Dan Qiao Rong melesat.


Pria tua itu kelihatan terkejut. Namun tetap menyerang balik dengan cepat. Pertempuran Zhang Guo dan Qiao Rong memang membuat seisi istana gaduh.


"Bocah tengik! Siapa kau?" Zhang Guo mulai kewalahan dengan serangan Qiao Rong. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang lebih muda dari cucunya akan mencapai tingkat kultivasi setinggi ini. Bahkan lebih tinggi daripada dirinya.


"Namaku Qiao Rong." Qiao Rong melancarkan tiap serangan dengan akurasi tinggi. Walaupun saat ini mereka hanya bertarung dengan kepalan tangan.


Zhang Guo tidak habis pikir. Mana mungkin putri lemah yang tidak memiliki roh pelindung itu adalah orang yang sama seperti yang sedang dilawannya?


"Apakah kekuatanmu sekarang hasil dari bantuan Raja Bulan?" Zhang Guo tersenyum sinis.


"Tentu saja tidak." Qiao Rong berkata dengan percaya diri.


"Hah! Siapa yang bisa mempercayai hal seperti itu?" Zhang Guo kini semakin terdesak.


Akhirnya ia mundur dan berhenti.


"Lawanlah! Badak Perak!!!" Seperti yang sudah Qiao Rong duga, Zhang Guo memanggil roh pelindungnya. Siapa yang menduga bahwa itu adalah seekor Badak Perak?


"Hmph, roh rendahan lainnya." Qiao Rong dapat mendengar komentar Lan Long samar-samar.


Qiao Rong tersenyum.


"Bukankah ini waktu yang tepat untuk kemunculan pertamamu?" Qiao Rong menatap Badak Perak itu dengan penasaran. Qiao Rong bisa saja melawannya, namun tidak akan bisa menembus kulit keras itu. Apalagi ia tidak menggunakan cambuknya.


"Lan Long!"


Satu seruan dan seekor Naga Air muncul dari telapak tangan Qiao Rong. Namun kali ini, Lan Long menggunakan wujud aslinya. Ukurannya kini berpuluh-puluh kali lipat lebih besar dari wujudnya yang biasa ia tampilkan pada Qiao Rong.


Qiao Rong sendiri terperangah. Ia tidak menyangka Lan Long akan sebesar itu.


Di sisi lain, wajah Zhang Guo menjadi pucat.


Siapa yang bisa mengira putri yang selama ini dikabarkan tidak memiliki roh pelindung ternyata memiliki roh pelindung dari legenda?


Sekarang kalau Qiao Rong bilang ia tidak mendapat bantuan dari Raja Bulan, pria tua itu akan percaya sepenuhnya padanya.


Napas Lan Long menggebu-gebu sudah ratusan tahun sejak terakhir ia mewujud di bumi, adrenalinnya sangat terpacu.


Dan tubuh panjangnya melesat ke arah si Badak Perak dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2