Abandoned Princess

Abandoned Princess
Lu Mingzhi (1)


__ADS_3

12 tahun yang lalu..


"Mingzhi, beri hormat pada gurumu." Kata seorang pria paruh baya pada bocah kurus kering di sampingnya. Walaupun kelihatan kurang gizi, wajah anak itu sangat bersinar.


"Hormat kepada guru! Mohon terima hormat ini!" Bocah kecil itu langsung bersujud di hadapan pria di depannya, yang tersenyum melihatnya.


"Aku menemukan bocah ini di pinggir jalan, dia punya potensi besar, apalagi dalam teknik-teknik Sekte Matahari, konstitusi tubuhnya juga lumayan spesial." Lanjut pria paruh baya itu pada pria di depan Mingzhi.


"Baiklah." Pria itu mengangguk.


Mingzhi menatap gurunya itu dengan penuh harapan. Pria di hadapannya ini kelihatan berusia muda, berumur sekitar 20 tahunan.


"Hei Lu Guang, kau belum bisa melupakan wanita itu?" Tanya pria paruh baya itu dengan nada bercanda tiba-tiba.


Seketika raut wajah guru Mingzhi yang ternyata bernama Lu Guang menjadi gelap.


Lu Guang langsung meraih tangan anak itu dan memberikan dua koin emas pada pria tadi. Pria paruh baya itu hanya tersenyum dengan lebar.


"Pergi. Jangan pernah mengungkit hal itu lagi dihadapanku." Kata Lu Guang dengan dingin. Walaupun mereka adalah teman lama, sepertinya topik barusan adalah sebuah topik yang sangat terlarang untuk dibahas baginya.


Mingzhi menatap tangan lebar yang kini menggandeng tangannya.


Setelah pria paruh baya yang menemukannya di jalanan itu pergi, Lu Guang berjongkok dan menatap anak itu dengan lembut.


"Namamu Mingzhi, nama keluargaku adalah Lu, maka sekarang namamu Lu Mingzhi."


*****


"Lu Mingzhi! Ayunkan pedangmu lebih kuat lagi!"


"Lu Mingzhi! Teknik Sinar Ketujuh-mu kurang bagus! Sekali lagi!"


"Lu Mingzhi! Ayo cepat lari sampai kepuncak gunung!"


"Lu Mingzhi!"


"Lu Mingzhi!"


Sudah beberapa bulan semenjak Lu Mingzhi menapakkan kakinya di perguruan Sekte Matahari. Setiap hari, gurunya, Lu Guang melatihnya tanpa ampun. Lu Mingzhi hanya mengiyakan dan melaksanakan semua tugas semampunya.


Ia akan berlatih siang malam. Pada pagi hari, ia akan mendaki puncak Gunung Jiuyue, pada siang hari ia akan melatih teknik yang diajarkan gurunya, dan pada malam hari ia akan berkultivasi.

__ADS_1


Lucunya, beberapa bulan kemudian barulah ia sadar. Alasan mengapa anak-anak seperguruan lainnya selalu menatapnya dengan cemburu dan benci.. Karena Lu Guang adalah Raja Sekte Matahari.


Pernah suatu kali ia bertanya, "Guru, kata mereka kau melatihku menjadi penerus Sekte Matahari, benarkah itu?" Tanya Lu Mingzhi dengan polos.


"Tergantung kerja kerasmu." Lu Guang tersenyum kecil dan mengelus kepala anak didiknya itu dengan lembut.


Lu Mingzhi kecil tersenyum dengan senang. Ia berjanji akan lebih bekerja keras lagi ke depannya.


*****


Lalu munculah Ye Xiaoran.


"Kakak Zhi!" Gadis kecil berusia 9 tahun itu selalu mengekorinya dengan senyuman manisnya.


Lu Mingzhi remaja yang berusia 13 tahun hanya bisa menikmati senyuman gadis itu. Putri dari seorang tetua penting di Sekte Matahari, yang juga merupakan murid langsung dari Lu Guang, sama seperti dirinya.


"Xiaoran! Pelan-pelan! Ahahaha!" Kadang mereka selalu bermain dengan gembira di tepi danau Gunung Jiuyue.


"Kakak Zhi! Tangkap aku!"


Tanpa mereka sadari, sekelompok anak lain dari kejauhan melihat mereka dengan wajah tidak senang.


"Lihat, hanya karena mereka merupakan murid langsung.. Bahkan memiliki kesempatan bermain!" Salah satu anak menunjuk-nunjuk mereka.


"Salam untuk saudara seperguruan. Apakah kalian mau ikut bermain bersama kami?" Lu Mingzhi tersenyum seramah mungkin. Sudah tujuh tahun sejak ia bergabung dengan Sekte Matahari, namun teman pertama dan satu-satunya hanya Ye Xiaoran seorang. Ia berharap dapat membuat lebih banyak teman.


"Apakah kau bercanda? Kami mana punya waktu untuk bermain! Ha!" Seketika seluruh anak itu menertawakan Lu Mingzhi. Raut wajah Lu Mingzhi menjadi gelap. Ia sungguh kecewa. Akhirnya Lu Mingzhi hanya bisa berjalan kembali dengan lemas ke arah Ye Xiaoran.


Tepat setelah itu, sebuah teknik meluncur dari salah seorang anak. Yang langsung mengenai dada Lu Mingzhi. Lu Mingzhi malang yang tidak menyangka akan mendapat serangan dari saudara seperguruannya tidak sempat menghindar dan harus terlempar beberapa langkah kebelakang.


"Hahahaa! Lihat itu! Murid langsung katanya? Hahaha!" Salah satu anak sombong yang tadi di depan mulai memprovokasi anak lainnya.


Kini semuanya menertawakan dan meremehkan Lu Mingzhi.


Tiba-tiba Ye Xiaoran datang dan membantu Lu Mingzhi untuk berdiri.


"Apa yang kalian lakukan?!" Ye Xiao mencoba menggertak anak-anak itu.


Tanpa disangka anak-anak itu malah menertawakannya juga. "Siapa kau? Pelayan si murid yang dibangga-banggakan Raja Matahari itu? Hahaha." Mereka tidak pernah melihat Ye Xiaoran, yang tidak pernah keluar dari rumah karena fisiknya yang agak lemah. Setelah gadis itu sembuh, barulah ia menjadi murid langsung Raja Matahari.


Ye Xiaoran yang kesal langsung menarik lengan Lu Mingzhi untuk menyingkir dari sana.

__ADS_1


"Mau kabur? Teman-teman, ayo hajar mereka!" Salah satu anak sombong yang kelihatannya memimpin sekelompok anak itu tiba-tiba mulai menghadang Lu Mingzhi dan Ye Xiaoran.


Satu persatu dari mereka mulai menyerang dan mengepung kedua anak itu. Masing-masing menggunakan teknik Sekte Matahari.


Tidak mereka sangka, dengan mudah Lu Mingzhi menangkis teknik mereka dan menyerang balik. Membuat mereka terlempar hingga mengaduh kesakitan. Ada beberapa yang terluka dan mengeluarkan airmata.


Melihat kekuatan asli dari Lu Mingzhi, mereka tahu mereka tidak akan bisa mengalahkan anak itu. Akhirnya satu persatu pun lari ketakutan sambil memegangi bagian tubuh mereka yang terluka.


"Kakak Zhi! Kau tidak apa-apa?" Ye Xiaoran menatap Lu Mingzhi dengan khawatir.


Karena tubuhnya yang lemah, gadis itu hanya bisa menatap keluar jendela setiap harinya. Namun setelah Ayahnya mendapat obat untuk penyakit langka di tubuhnya, Lu Mingzhi adalah orang pertama yang menjadi temannya. Ye Xiaoran sudah menganggap Lu Mingzhi sebagai kakak kandungnya sendiri.


Lu Mingzhi menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Xiaoran. Aku tidak apa-apa." Lu Mingzhi mencoba tersenyum.


Padahal dada Lu Mingzhi terasa sangat sakit.


*****


"Yang Mulia! Coba lihat ini! Apa maksudnya ini? Bagaimana Lu Mingzhi bisa menyakiti murid-muridku sampai seperti ini?" Tetua Chu membawa segerombolan anak yang luka-luka kehadapan Lu Guang. Raut wajah Lu Guang sangat tidak bagus melihat kedatangan Tetua Chu.


"Mingzhi, jelaskan padaku!" Lu Guang menatap Lu Mingzhi yang kini hanya bisa menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba Ye Xiaoran muncul dengan Ayahnya, Tetua Ye yang merupakan salah satu tetua paling penting di Sekte Matahari. Semua tetua lainnya tahu bagaimana sayangnya Tetua Ye pada putri satu-satunya yang lahir di usia tua. Mereka semua juga tahu betapa senangnya Tetua Ye saat penyakit putrinya berhasil disembuhkan.


Tetua Chu sama sekali tidak menyangka Ye Xiaoran akan terlibat dalam masalah ini.


"Aku adalah saksi bahwa mereka menyerang Kakak Zhi lebih dahulu. Guru bisa mengecek luka pada dada Kakak Zhi. Dengan kultivasi Kakak Zhi, seharusnya dia bisa menghindar. Tapi mereka menyerangnya dengan tiba-tiba." Ye Xiaoran menatap anak-anak itu dengan kesal.


"I-itu tidak benar!" Salah satu anak menyangkal. Diikuti dengan anak-anak sahutan anak-anak yang lain. Anak itu menarik pelan pakaian Tetua Chu untuk memberi perlindungan. Tapi Tetua Chu mengabaikannya, ia tidak berani menyangkal perkataan Ye Xiaoran, tidak dengan adanya Tetua Ye.


Lu Guang segera menyentuh dada Lu Mingzhi perlahan. Beberapa detik kemudian, Lu Guang menatap ke arah Tetua Chu dengan marah.


"Mingzhi, perlihatkan dadamu pada mereka dengan jelas."


Lu Mingzhi perlahan mengangkat bajunya hingga dadanya terlihat dengan jelas.


Sebuah bekas tapak tangan terlihat dengan jelas. Wajah tetua Chu menjadi sangat pucat.


"Bukankah seharusnya aku yang meminta penjelasan? Mengapa ada Teknik Telapak Tujuh Sinar disini?" Lu Guang berkata dengan dingin dan menusuk.

__ADS_1


Tetua Chu hanya bisa merutuki para muridnya yang datang kepadanya dan mencari kesempatan untuk menjatuhkan Lu Mingzhi tanpa menceritakan seluruh kejadian sebenarnya.


"Saya minta maaf." Tetua Chu hanya bisa membungkuk dengan malu.


__ADS_2