
"Siluman?!" Qiao Rong menaikkan nada suaranya akibat terkejut dengan pernyataan yang diberikan Jiang Junwei.
"Ya, hamba memastikan sendiri bahwa kedua musuh yang dilawan Yang Mulia adalah siluman. Yang satu sepertinya siluman serigala, dan yang satunya lagi siluman rubah." Jiang Junwei mengangguk dengan pasti sambil berbalik memandang ke arah kasur.
Qiao Rong memutar otak. Ia sendiri tidak memiliki pengalaman apa pun melawan siluman. Seribu tahun yang lalu, tidak ada siluman manapun dari Klan Iblis yang berani meninggalkan Dunia Bawah. Hal ini pasti berhubungan dengan ambisi Raja Iblis yang ingin menguasai ketiga dunia, Dunia Bawah, Dunia Atas, dan Dunia Roh.
"Hamba sendiri sudah mengirimkan kabar merpati pada Raja Matahari. Nona bisa tenang." Jiang Junwei menyadari sedikit rasa panik dari raut wajah Qiao Rong.
Qiao Rong mengangguk.
"Kau pasti memanggilku kesini bukan untuk memperlihatkan keadaan Shen Haofeng yang seperti ini bukan? Katakanlah, apa yang harus kulakukan agar ia bangun?" Qiao Rong menggenggam kedua tangannya erat-erat. Ia bisa melihat dengan sendirinya bahwa kondisi Shen Haofeng begitu buruk, tentunya tabib biasa tidak akan bisa menyembuhkan pria itu.
"Bunga api keabadian. Hamba memberikan Bunga api keabadian terakhir yang dimiliki Sekte Bulan kepada akademi. Hamba siap menerima hukuman ketika Yang Mulia bangun." Jiang Junwei menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
"Begitu ... Masalah bunga api keabadian itu, anggap saja selesai." Qiao Rong melirik ke arah pria yang terbaring lemas itu.
Melihat tatapan Qiao Rong, Jiang Junwei segera meninggalkan ruangan itu setelah memberi salam pada Qiao Rong.
"Nona bisa keluar masuk Menara Bulan kapan saja asalkan memakai anting yang diberikan Yang Mulia. Jiang Junwei undur diri," ujarnya sebelum menutup pintu dibelakang Qiao Rong setelah ucapannya itu dibalas oleh anggukan. Untung saja semenjak ia melepas anting itu sebelum mendaftar ke akademi, ia selalu membawa anting itu kemana-mana.
Qiao Rong mengalihkan pandangannya dari pintu kembali ke Shen Haofeng.
Qiao Rong mendekat ke arah kasur, perlahan-lahan jari-jarinya mendekat ke arah wajah tampan pemuda yang sedang terbaring itu. Qiao Rong menyentuh bulu mata pria itu perlahan sambil tersenyum. Jarinya kini berpindah ke dahi, hidung, lalu ke bibir.
Qiao Rong berbisik pelan sambil mempertahankan senyumannya, "Bunga api keabadian itu, aku pasti akan mendapatkannya untukmu."
__ADS_1
*****
Qiao Rong menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya sehebat apa anting yang Shen Haofeng berikan kepadanya? Ia kembali merasa konyol ketika mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu saat ia baru saja menuruni tangga setelah keluar dari ruangan Shen Haofeng.
Ketika tiba di lantai kesebelas, ia terkejut setengah mati ketika semua orang yang ada di lantai itu langsung berhenti melakukan pekerjaan mereka dan memberi hormat sambil menundukkan badan mereka. Pemandangan yang terus berlangsung sampai Qiao Rong tiba di lantai selanjutnya, dan selanjutnya itu membuatnya amat canggung. Hal itu membuat Qiao Rong langsung melepas kembali anting itu setelah keluar Menara Bulan.
Ingin sekali ia memberitahu pengalamannya itu pada Chu Yue yang sedang lahap menghabiskan makan malamnya, namun tentu saja ia tidak bisa. Keberadaan Menara Bulan sendiri adalah sebuah rahasia mutlak yang bahkan tidak bisa ia bagikan pada Chu Yue.
"Yang Mulia darimana saja siang ini? Setelah akademi selesai Tuan Liu dan Tuan Ding mencari-cari Nona seperti biasa." Chu Yue memulai pembicaraan setelah sesi makan malamnya itu selesai.
"Ah, ada keperluan. Aku akan meminta maaf kepada mereka besok," balasnya.
Chu Yue hanya mengangguk pelan.
Keesokan harinya, Qiao Rong secara khusus meminta izin untuk tidak menghadiri akademi selama seminggu. Setelah memperhitungkan dengan matang, ia memutuskan untuk melanjutkan kultivasinya untuk menembus tingkat Matahari Menengah. Kalau berjalan tanpa gangguan seperti yang Qiao Rong perkirakan, waktunya selesai berkultivasi adalah sehari tepat sebelum perlombaan dimulai.
*****
Sementara itu di kediaman Sekte Awan ...
Seorang pria berambut panjang dan berbadan kekar, diikuti seorang wanita berekor yang menutupi wajahnya dengan kipas mengetuk pintu kediaman Zhou Qingshan. Dengan penampilan yang begitu eksentrik, tidaklah sulit untuk mengenali bahwa kedua orang itu adalah siluman. Namun sudah hampir seluruh pikiran anggota Sekte Awan dikendalikan oleh Zhou Qingshan, tidak terkecuali para prajurit yang menjaga kediamannya, tidaklah sulit bagi kedua siluman itu untuk keluar masuk Sekte Awan.
Ya, kedua siluman itu adalah siluman yang tempo hari menyerang Shen Haofeng. Namun kali ini wajah keduanya agak gugup, berbeda jauh dengan rupa mereka saat dengan percaya diri menghadapi Raja Bulan.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya. Kedua siluman itu berjalan perlahan memasuki ruangan. Di dalam, sudah ada mata tajam Zhou Qingshan yang meneliti mereka berdua dari ujung kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Kali ini, kelihatannya berita buruk." Zhou Qingshan tiba-tiba berdiri dari kursinya, dan berjalan ke depan mendekati kedua siluman itu.
"Mi Ka, Ketua Klan Rubah Putih memberi hormat kepada Yang Mulia." Siluman wanita itu akhirnya melipat kipasnya, memperlihatkan wajahnya yang cantik dan penuh riasan, berlutut memberi hormat pada Zhou Qingshan.
"Mi Re, Ketua Klan Serigala memberi hormat kepada Yang Mulia." Pria di sebelahnya melakukan hal yang sama.
"Sayang sekali, padahal aku memiliki harapan yang besar pada kalian berdua, si kembar yang kelahirannya diiming-iming paling ajaib dan langka." Zhou Qingshan mulai berjalan ke belakang mereka berdua.
"Yang Mulia, Raja Bulan memakai semacam teknik yang—" Mi Re mencoba beralasan dengan pria di depannya itu. Ia dan Mi Ka juga tidak akan mengira bahwa Shen Haofeng memiliki Teknik Membelah Bulan.
"Anak kembar dari hubungan gelap siluman rubah dan siluman serigala, keturunan antar klan yang seumur hidupnya dipermalukan, Ibu kalian meninggal saat proses persalinan dan Ayah kalian dihukum mati karena dianggap menodai Ibu kalian yang merupakan keturunan langka Klan Rubah. Walaupun begitu, kalian berhasil menjadi ketua dari kedua klan. Kalian ... " Zhou Qingshan berbalik sejenak menghadap mereka berdua sebelum melanjutkan perkataannya.
"Mengecewakan."
Saat itu juga, luapan Qi yang melingkupi seluruh ruangan itu hampir mencekik Mi Ka dan Mi Re. Kedua kakak beradik kembar itu membenturkan kepala mereka ke lantai pada saat yang sama karena tekanan Qi yang begitu besar.
"Ck, ini semua terjadi pasti karena kalian merasa terlalu percaya diri melawan seorang manusia sehingga tidak menyelesaikan misi dengan cepat." Zhou Qingshan berdecak.
"U-ugh ... M-mohon Yan-g M-mulia tenang." Mi Ka, si adik menggunakan energi kehidupannya untuk berbicara.
Luapan Qi itu terhenti dan tekanan yang tadi mereka rasakan akhirnya hilang. Kedua siluman itu segera terbatuk, memegangi leher mereka dengan rasa panik. Mereka berdua tidak berani mengangkat kepala mereka untuk memandang Raja mereka.
Zhou Qingshan hanya tersenyum kecil.
"Bawakan aku kabar baik," ujarnya.
__ADS_1
Mi Ka dan Mi Re hanya bisa mengangguk.