Abandoned Princess

Abandoned Princess
Cincin Tapak Naga


__ADS_3

Pagi hari yang cerah datang kembali. Qiao Rong memulai rutinitasnya seperti hari-hari sebelumnya. Mandi dengan menggunakan Ramuan Penempa Tubuh, sarapan bersama Li Junyan, dan berkultivasi.


Chu Yue yang kelihatannya rajin menggunakan Ramuan Penempa Tubuh mungkin terlihat lemah, namun sebenarnya kekuatannya hampir menyamai Putri Lan.


Setiap tiga hari, Qiao Rong akan terus menyelinap keluar dan membeli herba di Apotek Chi Yuan seperti biasa untuknya dan Chu Yue. Apoteker yang biasa membungkuskan herba untuknya sudah sangat akrab dengannya. Nama pria paruh baya itu Hu Jing. Dia sudah sangat hapal dengan pesanan Qiao Rong. Sehingga, ketika datang, Qiao Rong hanya tinggal mengambil dan membayar saja.


Tidak ada kabar mengenai Putri Lan, Qiao Rong curiga dia sedang menunggu saat yang tepat untuk menyiapkan jebakan lainnya. Pernikahan Qiao Rong dan Su Xiao kurang dari tiga bulan lagi. Tentunya Putri Lan akan melakukan cara apapun agar hal itu tidak terjadi.


Sudah empat hari berlalu sejak insiden cacing Gu. Qiao Rong sendiri membuat janji temu dengan Kepala Kasim Qi untuk memilih salah satu harta yang ada di Gudang Harta Kerajaan.


Lan Long sudah cukup lama tidak muncul, terakhir kali ia muncul tiga hari yang lalu. Entah karena apa, tapi Qiao Rong tidak merasa khawatir. Lan Long adalah Raja Naga Air tentunya memiliki banyak urusan di dimensi roh. Bila ada bahaya, Qiao Rong tinggal memanggilnya saja untuk muncul, karena roh terikat oleh perintah Master mereka.


Chu Yue mengambil secarik kertas yang dipegang oleh dayang lainnya.


"Yang Mulia, Pangeran Qin akan berkunjung sore ini." Chu Yue membacakan isi kertas itu.


Qiao Rong mengangguk.


Pertemuan ini, bisa menjadi pedang bermata dua. Qiao Rong bisa mengetahui secara langsung karakter Pangeran Qin. Namun bisa jadi Pangeran Qin adalah jebakan selanjutnya yang dibuat Putri Lan.


"Aku ingin coba bertaruh dengan Pangeran Qin." Qiao Rong berkata kepada Chu Yue. Chu Yue mengangguk. Melihat posisi matahari dari jendela, Qiao Rong segera beranjak dari kursinya.


"Ayo, Chu Yue. Ada harta karun yang harus kita pilih." Qiao Rong tersenyum lebar. Siapa yang tidak suka harta?


*****


Krekkkkk.

__ADS_1


Kepala Kasim Qi membuka pintu gudang harta kerajaan. Qiao Rong mematung melihat banyaknya emas dan harta lainnya yang sepertinya tidak berkesudahan. Gudang harta kerajaan sangatlah besar dan luas. Memang tidak salah bahwa Kerajaan Wen merupakan kerajaan paling kaya di seluruh Daratan Yuan.


Kepala Kasim Qi mempersilahkan Qiao Rong masuk. Mereka berdua berjalan sambil melihat-lihat rak yang berisi perhiasan, kain sutra, dan emas.


"Silahkan Yang Mulia. Lihatlah sekeliling dan panggil hamba ketika Yang Mulia menemukan sesuatu." Kepala Kasim Qi tiba-tiba berhenti dan berdiri di samping sebuah rak.


Qiao Rong mengangguk dan melanjutkan perjalanannya mengeksplor gudang harta kerajaan. Semakin jauh ia berjalan, sepertinya harta yang ada di sekelilingnya terlihat makin antik.


"Berhenti!" Li Junyan tiba-tiba keluar dari ruang Kitab Yin Yang. Li Junyan berjalan dan mendekat pada sebuah rak yang berada di samping kiri Qiao Rong.


"Ada apa?" Tanya Qiao Rong. Tapi Li Junyan sepertinya tidak menggubrisnya karena perhatiannya masih tertuju pada salah satu benda yang ada di rak tersebut.


"Kau harus pilih cincin ini." Tiba-tiba Li Junyan mengambil sebuah cincin giok dari rak itu.


"Mengapa harus cincin ini?" Qiao Rong tidak merasakan hal yang spesial dari cincin itu. Bahkan saat mengetesnya dengan qi saja tidak ada reaksi apapun.


"Putri, mohon maaf jika hamba lancang. Namun sepertinya cincin giok itu tidak terlalu berharga dibandingkan harta lainnya yang ada disini. Hanya umurnya saja yang membuatnya unik. Apakah Yang Mulia yakin?" Tanya Kepala Kasim Qi ketika melihat cincin giok yang dipilih Qiao Rong. Kepala Kasim Qi terlihat ragu, ia memikirkan reaksi Kaisar ketika mengetahui bahwa Putri Rong hanya memilih sebuah cincin giok tua.


"Ah, tidak apa. Yang ini pun sudah bagus." Qiao Rong menegaskan kepada Kepala Kasim Qi. Kepala Kasim Qi hanya bisa berdeham dan kembali mengantar Qiao Rong ke Paviliun Yun.


*****


Chu Yue ikut menatapi cincin giok itu.


"Yang Mulia, Kaisar jarang sekali menghadiahi anda. Sayang sekali hanya mengambil cincin giok tua." Chu Yue mengernyitkan alis. Biasanya ketika Qiao Rong dihadiahi sesuatu, ia akan selalu meminta perhiasan atau kain sutra.


"Chu Yue, kau hanya tidak tahu betapa berharganya cincin ini." Qiao Rong tersenyum tenang. "Cincin ini, bisa jadi barang paling berharga dari seluruh gudang harta kerajaan." Qiao Rong melanjutkan.

__ADS_1


Chu Yue masih merasa aneh dan ragu. Tapi karena Qiao Rong sudah berkata begitu tegas, ia pun tidak menanyakan hal itu lagi.


Lalu Qiao Rong meminta waktu sebentar untuk berkultivasi. Chu Yue yang sudah diberitahu bahwa putrinya itu bisa berkultivasi sangat senang. Pasti ketika orang-orang tahu tidak akan ada yang mengejeknya lagi.


Qiao Rong segera bersiap melakukan teknik kultivasinya. Teknik Surga dan Bumi, warisan Sekte Wuling. Teknik ini adalah teknik kultivasi paling cepat, namun rasa sakit yang dialami kultivator saat berkultivasi juga akan setimpal dengan kecepatan kultivasi yang diperolehnya.


Li Junyan selalu menggelengkan kepala saat Qiao Rong menggunakan teknik itu. Namun ia memang tidak bisa mempertanyakan hukum kerja keras dan hasil setimpalnya.


Qiao Rong segera mengambil posisi dan menghirup napas dalam-dalam. Dan mulailah ia berkultivasi. Chu Yue yang menjaga pintu diluar hanya tersenyum-senyum penuh kemenangan mengetahui Qiao Rong bisa berkultivasi.


Tiga jam kemudian, ketukan di pintu membuat kultivasi Qiao Rong terhenti. Chu Yue membuka pintu dengan khawatir.


"Yang Mulia? Bagaimana? Haruskah hamba panggilkan Guru Ji yang melatih Putera Mahkota untuk membantu anda?" Qiao Rong hanya tertawa lembut melihat Chu Yue yang begitu khawatir.


"Tenang saja, Chu Yue. Aku ini sudah tidak selemah dahulu. Kau bisa berhenti khawatir. Untuk sekarang ini, jangan beritahukan pada siapapun kalau aku bisa berkultivasi." Chu Yue merasa lega mendengar jawaban Qiao Rong. Putri yang selama ini tumbuh bersamanya, benarkah sudah sedewasa ini?


Qiao Rong mengelap keringat yang ada di dahinya, hasil kerja kerasnya menahan rasa sakit barusan. Chu Yue membantunya mengelap tubuhnya yang basah karena keringat.


Setelah membilas tubuh, Chu Yue dan dayang lainnya memakaikan gaun kuning dari kain sutra yang dahulu dihadiahkan Kaisar. Mereka merias wajah Qiao Rong dengan riasan-riasan yang berwarna cerah. Qiao Rong sepanjang prosesnya hanya bisa diam karena sejujurnya ia tidak pernah melakukan hal seperti itu. Seumur hidupnya diabdikan untuk berkultivasi, tidak punya waktu untuk merias diri.


Setelah selesai, Chu Yue memuji-muji kecantikan Qiao Rong yang terlihat sangat alami. Terlebih lagi dengan tanda lahir yang sudah mengecil dan mulai memudar. Chu Yue sangat ingin bertanya bagaimana tanda lahir itu dapat hilang, namun ia terlalu senang melihat wajah Qiao Rong. Putri cantik dan bisa berkultivasi, di masa depan, siapa yang masih berani bilang tidak akan ada yang mau menikahinya? Batin Chu Yue.


Segera setelah itu, pengawal di depan paviliun mulai meneriakkan kedatangan Pangeran Qin. Qiao Rong sudah menyiapkan diri untuk menghadapi pedang bermata dua itu.


"Chu Yue, antar Pangeran Qin, dan beri ia jamuan teh krisan. Ah.. dan siapkan sebuah guqin." Chu Yue awalnya ingin mengangguk, tapi lalu bingung karena Qiao Rong tidak berbakat dalam seni musik. Namun ia menelan pertanyaan itu dalam-dalam. Ia percaya pada Qiao Rong, dan segera pergi.


Qiao Rong tersenyum melihat kepergian Chu Yue. Menyambut Pangeran.. tidak mungkin tanpa persiapan bukan?

__ADS_1


__ADS_2