Abandoned Princess

Abandoned Princess
Keluarga Xu (1)


__ADS_3

Qiao Rong membuka pintu kamar lebar-lebar. Di depan pintu, sudah ada Chu Yue yang menungguinya dari tadi pagi. Hari ini, Qiao Rong menyelesaikan kultivasi tertutupnya selama dua minggu. Kini, ia merasa sangat segar dan seluruh rasa sakit hilang dari tubuhnya. Ia sudah mencapai tingkat Bulan Menengah.


Qiao Rong makan dengan sangat lahap pagi itu. Menurut Qiao Rong, masakan Chu Yue memang lebih enak dari pada juru masak istana. Walaupun tinggal di desa dan tidak memiliki ranjang seempuk di istana, atau taman seindah di halaman Paviliun Yun, hal-hal ini tidak dirasakan oleh Qiao Rong karena kesibukannya menganggu Shen Haofeng.


Selama Qiao Rong berkultivasi, dan keluar dari kultivasi tertutupnya, selama itu jugalah Shen Haofeng menghilang. Namun, walaupun dari tadi ia penasaran apakah Shen Haofeng sudah kembali atau belum, ia terus menerus menahan keinginan untuk berkunjung ke rumah pemuda itu. Hal itu karena perkataan Li Junyan yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.


"Lihat? Sebentar lagi kau akan merindukannya." Qiao Rong bergidik kalau mengingatnya.


Ia buru-buru melahap semua makanannya. Chu Yue tercengang. Baru kali ini Qiao Rong makan terburu-buru seperti itu. Biasanya mereka akan makan sambil berbincang sedikit dan makan pelan-pelan.


"Yang Mulia, apakah ada yang salah dengan rasa makanan hari ini?" Chu Yue bertanya karena khawatir.


"A-Ah.. tidak. Sangat enak seperti biasa." Qiao Rong berkata dengan pelan. Chu Yue yang membaca ekspresi Qiao Rong tentu tambah khawatir. Suasana hati Qiao Rong saat ini sepertinya sangat buruk.


"Yang Mulia, kudengar kemarin ada seorang penduduk desa yang kembali—" Chu Yue belum menyelesaikan kata-katanya saat Qiao Rong membanting piringnya dan pergi terburu-buru keluar.


Chu Yue hanya bisa tercengang di kursinya.


*****


Qiao Rong berlari ke arah rumah Shen Haofeng di seberang rumahnya. Namun hasilnya nihil, masih tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Bahkan rumah itu tampak lebih terbengkalai dari dua minggu yang lalu.


Qiao Rong menghela napas. "Tentu saja, apa yang ku harapkan..." Gumamnya dengan lirih. Akhirnya, Qiao Rong memutuskan untuk kembali ke rumah dan bersiap-siap pergi ke Gunung Shan sambil berjalan dengan lemas.


Sesampainya ia di rumah, Chu Yue tidak berani berkata-kata lagi, ia hanya masuk ke kamarnya setelah membungkuk pada Qiao Rong. Ia juga tidak tahu mengenai niat Qiao Rong untuk pergi ke Gunung Shan. Kalau ia tahu, bisa-bisa sekarang ia sudah menghalangi Qiao Rong mati-matian.


Qiao Rong hanya mengambil sebuah keranjang anyaman dan belati kecil yang diberikan padanya oleh Gao Ping untuk melindungi diri. Lalu ia bersiap pergi.


Qiao Rong baru saja berjalan sedikit ke arah jalan setapak yang menuju ke Gunung Shan saat ia berpapasan dengan seorang pemuda yang kelihatannya beberapa tahun lebih tua darinya. Pemuda itu terpana melihat kecantikan Qiao Rong. Ia tidak menyangka akan bertemu berlian di tempat seperti Desa Nanshan. Pemuda itu langsung memegang tangan Qiao Rong secara tiba-tiba.

__ADS_1


Qiao Rong pun terkejut, ia langsung menepis tangan pemuda itu. Justru, sekarang Qiao Rong kebingungan karena ekspresi pemuda itu yang kelihatannya begitu kaget karena ia menepis tangannya.


"Xu Pingluo!" Seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang dan memeluk pemuda itu. "Anak nakal! Sudah menjadi orang terpelajar sekarang melupakan ibu?"


Qiao Rong ingin segera melupakan kejadian tadi. Ia segera bergegas pergi dari tempat kedua orang itu berdiri. Namun, saat ia belum pergi terlalu jauh, pemuda itu menunjuk-nunjuknya. "Ibu! Aku ingin dia menjadi selirku!" Qiao Rong menahan tawanya, dan terus berjalan.


Tidak disangka, wanita paruh baya itu malah akan mengatakan, "Baiklah. Sebentar lagi kau akan menjadi pejabat negara, siapa yang akan menolakmu?" Mendengar itu Qiao Rong tersedak dan terbatuk-batuk.


Pintar, tapi gila. Sayang sekali. Batin Qiao Rong.


Qiao Rong berpura-pura tidak mendengar apapun, dan lanjut berjalan menuju tujuannya. Karena ucapan wanita paruh baya tadi, ia bergidik ngeri dan hampir melupakan kerinduannya pada Shen Haofeng.


Sesampainya Qiao Rong di kaki gunung, ia langsung mencari herba-herba yang ia butuhkan untuk Ramuan Penempa Tubuh. Stok yang ia bawa sudah sangat menipis karena sudah hampir dua bulan. Untungnya, daun Fu dan akar tanaman Elais sangat mudah ditemukan di kaki gunung itu.


Daun Fu merupakan tanaman kecil berdaun satu seperti rumput dan memiliki akar yang sangat kecil, sehingga mudah sekali tercabut angin kencang. Qiao Rong hanya perlu mencarinya dari rerumputan yang ada.


Setelah keranjang itu penuh dengan kedua bahan herba tersebut, barulah Qiao Rong berani masuk lebih jauh ke dalam Gunung Shan. Ia sudah merasakan ada yang tidak beres dengan gunung itu sejak datang ke Desa Nanshan. Tapi ia sama sekali tidak tahu firasat apa itu.


Barulah saat ia mendekat lebih jauh ke arah sebuah pohon besar yang kelihatannya berusia sangat tua, ia mengetahui apa yang membuatnya merasa gunung itu tidak beres.


Ada seekor ular raksasa yang sedang tidur membelit dahan pohon itu. Setidaknya usianya seribu tahun. Qiao Rong sangat terkejut dengan penemuannya itu. Qiao Rong tentu saja, dengan tingkat kultivasinya sekarang, ia tidak bisa melawan ular itu. Pada akhirnya, ia berjalan pelan ke belakang dan segera meninggalkan tempat itu.


Qiao Rong tetap melanjutkan mencari herba-herba lainnya di tempat yang jauh dari ular tadi. Ia ingin melihat, herba-herba apalagi yang akan ia temukan di gunung itu. Ternyata ada cukup banyak herba langka yang bisa ia keringkan, siapatahu akan berguna suatu saat.


*****


Matahari hampir terbenam ketika ia hampir sampai di depan rumahnya. Namun, dari kejauhan ia malah terkejut karena melihat Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping, serta Chu Yue yang sedang berteriak pada orang-orang di depan mereka yang mengantarkan banyak sekali kotak merah.


Qiao Rong pun mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Tanyanya pada Chu Yue. Chu Yue terlihat sangat kesal.


"Keluarga Xu kami adalah keluarga terpelajar! Adikku yang sebentar lagi akan lulus ujian provinsi sudah menaruh hati padamu, nona. Suatu kehormatan bukan?" Lelaki di depannya tiba-tiba berbicara.


Qiao Rong tidak perlu menanyakan apa-apa lagi. Bahkan menebak pun sudah cukup. Tentu ini adalah hasil pekerjaan pemuda dan ibunya yang tadi ia temui di jalan.


"Bukan kehormatan! Ini jelas-jelas penghinaan!" Tiba-tiba Hu Fei membuka suara. Ia terlihat sangat marah. Mana bisa putri Kaisar menikah dengan seorang cendekiawan yang bahkan belum lulus ujian provinsi?


Tidak disangka, ucapan Hu Fei membuat lelaki itu marah. "Dasar tidak tahu di untung! Kalau bukan karena adikku yang menginginkan adik kalian, aku bahkan tidak akan datang!"


Tiba-tiba, Chu Yue menarik lengan Qiao Rong ke belakang , dan berbisik. "Yang Mulia, apa perlu kita keluarkan saja token anda? Tapi.. dengan begitu identitas anda akan terbongkar." Bisik Chu Yue pelan.


Qiao Rong hanya tersenyum. "Tidak perlu."


Lalu Qiao Rong menghadap ke arah lelaki itu dan berkata, "Maaf telah membuat tuan kecewa, tapi saya sudah mempunyai tunangan." Kata Qiao Rong dengan pelan.


Lelaki itu terkejut. "Tidak mungkin! Aku tidak percaya! Siapa tunanganmu?" Lelaki itu membentak Qiao Rong dengan keras.


Jika tidak sedang dilihat oleh warga desa lainnya dengan ramai, ia bersumpah pasti akan memukul laki-laki itu sekarang juga.


"Pemuda yang rumahnya di sebelah sana." Qiao Rong menunjuk rumah Shen Haofeng sambil tersenyum. Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping serta Chu Yue tercengang. Mereka kira tunangan yang dibahas oleh Qiao Rong adalah Su Xiao. Tentu saja para warga desa juga tidak percaya. Mereka baru pindah kesini kurang dari dua bulan yang lalu, dan acara pertunangan pun belum pernah mereka dengar. Namun melihat Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping, mereka tidak berani untuk berkata apapun di depan Qiao Rong. Hanya berani berbisik-bisik pelan satu dengan yang lainnya.


Lelaki itu tampak sangat marah, lalu pergi meninggalkan rumah mereka. Kotak-kotak merah itu masih tertinggal di depan rumah mereka.


"Duan Yi, Hu Fei, kembalikan kotak-kotak ini pada siapapun orang itu tadi. Tidak disangka, sepertinya di desa ini juga ada ular liar." Qiao Rong tersenyum mengejek.


Chu Yue tersenyum puas. Setidaknya, lelaki itu tidak akan kembali lagi dan membuat keributan di depan rumah mereka. Baru saja Chu Yue ingin mengatakan sesuatu...


"Chu Yue, jangan senang dulu. Mereka akan kembali lagi." Ucap Qiao Rong.

__ADS_1


__ADS_2