
Qiao Rong mengerjap-ngerjapkan matanya. Senyumnya merekah ketika ia melihat pemandangan kamar yang familier di sekitarnya. Merasakan bahwa qi-nya juga sudah sangat meningkat dari keadaannya sebelum berkultivasi, ia merasa puas.
Dirinya sudah berhasil mencapai tingkat Matahari Menengah.
Qiao Rong kini sedang bersiap-siap untuk perlombaan yang akan diadakan satu jam lagi. Kemarin, para profesor sengaja mengumpulkan murid-murid kelas satu untuk menjelaskan aturan lomba.
Profesor Luo sudah siap, memegang sebuah gulungan terbuka di kedua tangannya dan mulai membacakan aturan perlombaan.
"Pertama, hargai nyawa sesama rekan dan musuh. Kedua, kejujuran harus diutamakan. Ketiga, perkelahian yang berujung kematian akan menyebabkan kedua pihak dikeluarkan dari akademi."
"Dan yang terpenting, pedang dan roh pelindung tidak boleh dipergunakan."
Profesor Luo menyerahkan gulungan itu kepada Profesor Tang yang berdiri di sebelahnya.
"Di dalam hutan sudah disediakan berbagai macam bendera dengan warna yang berbeda-beda. Para peserta dipersilahkan mengambil bendera dengan cara apapun. Setiap bendera sudah dimantrai, sentuhan pertama akan membuat bendera mengenali pemiliknya. Jadi sia-sia kalau ingin merebut bendera dari orang lain. Begitu menyentuh bendera, mantra akan aktif dan membuat tangan terasa terbakar apabila yang menyentuhnya bukanlah pemiliknya."
Profesor Tang lalu melanjutkan.
"Bendera biru, 2 poin dengan jumlah 3 bendera. Bendera merah, 3 poin dengan jumlah 2 bendera. Bendera Ungu, 4 poin dengan jumlah 1 bendera. Dan bendera oranye, 5 poin dengan jumlah 1 bendera."
"Perlombaan akan berakhir begitu matahari terbenam. Dan peserta yang terlambat setelah pukulan gong yang ketiga kalinya akan dieliminasi."
Gulungan itu akhirnya di tutup.
Profesor Luo lalu mengarahkan para murid yang berbaris ke arah hutan.
Sementara itu Profesor Tang mengecek para peserta satu demi satu untuk memastikan mereka tidak membawa senjata tersembunyi apapun. Mereka yang tertangkap membawa satupun akan langsung tereliminasi, mengingat mereka sudah menyalahi aturan kedua.
"Perlombaan dimulai!"
Begitu kalimat tersebut diucapkan oleh Profesor Tang, semua murid berlomba-lomba masuk ke arah hutan, tidak terkecuali Qiao Rong dan timnya.
__ADS_1
Ada total sembilan tim yang ikut berpartisipasi dalam perlombaan ini, dengan total tiga puluh tiga orang. Setiap empat orang berada di satu tim, kecuali Lu Mingzhi yang berpartisipasi sendirian sesuai ucapannya tempo hari. Namun karena pengecekan senjata tersebut, hanya delapan tim yang berhasil menjadi peserta resmi.
Di dalam hutan, Lu Mingzhi mengambil kepemimpinan dengan melaju paling depan, disusul dengan Qiao Rong dan timnya yang berada di belakang. Sementara tim lain sudah berpencar masing-masing ke arah kiri maupun kanan.
Tidak ada yang mau terlibat dengan tim yang berisi figur-figur kultivasi muda terkenal. Dan lebih tidak ada lagi yang mau terlibat dengan calon penerus Raja Matahari. Mereka hanya dapat berharap untuk mendapatkan bendera dengan keberuntungan.
Qiao Rong mendesah pelan. Ia sudah memperkirakan kalau Lu Mingzhi pasti akan mengambil bendera pertama yang mereka lihat. Siapa yang bisa mengalahkan kultivasinya yang tinggi itu? Semakin hebat kultivasinya, semakin cepat juga qinggongnya.
Setelah kurang lebih berada dua kilometer di dalam hutan dari tempat mereka memulai, akhirnya terlihat dua buah bendera biru di depan mereka. Masing-masing terletak di sebelah kiri dan sebelah kanan. Qiao Rong melirik ke depan, Lu Mingzhi sudah mencodongkan tubuhnya ke arah kiri. Menanggapi hal itu, Liu Liwei segera bertindak ke arah kanan.
Lu Mingzhi lebih dulu menyentuh bendera di sisi kiri, mengaktifkan mantra, dan memegangnya erat-erat sambil melanjutkan perjalanan. Sama sekali tidak memberikan perhatian kepada tim Qiao Rong.
Liu Liwei melakukan hal yang sama. Tim Qiao Rong kembali melaju ke depan, mengikuti Lu Mingzhi dengan awas. Ding Fanfan berdecak. Namun, memang inilah strategi tim mereka. Kalau ada satu orang yang berpeluang tinggi menjadi pemenang hari ini? Pastinya Lu Mingzhi. Oleh karena itu mereka akan memastikan bahwa Lu Mingzhi tidak akan mendapatkan bendera oranye dan bendera ungu.
Sebenarnya mendeteksi bendera-bendera yang sudah dimantrai itu cukup mudah bagi orang yang memiliki kultivasi tingkat Matahari ke atas. Oleh karena itu Qiao Rong segera menyuruh Ding Fanfan untuk berpisah ke arah tenggara.
Ding Fanfan kebingungan, namun ia tetap menuruti Qiao Rong dan berpisah dari tim.
Dan ia tahu kalau Lu Mingzhi pasti melakukan hal yang sama.
Bendera ungu dan oranye memiliki rute yang sama. Rute lurus yang sama, sehingga peserta yang mendapatkan bendera ungu akan berkemungkinan besar mendapatkan bendera oranye.
"Liwei, kita harus menghentikan Lu Mingzhi mengambil bendera ungu atau oranye. Saat ia akan menyentuh bendera ungu di depan, jalankan rencana." Qiao Rong mencoba berbisik di sebelah Liu Liwei sambil mengimbangi qinggongnya.
Liu Liwei mengangguk.
Qiao Rong sudah bisa mendeteksi bendera ungu dari kejauhan. Sekitar tiga kilometer di depan, sebuah bendera ungu kecil menancap di ujung sebuah ranting pohon yang tebal.
Qiao Rong menolehkan kepalanya ke belakang, melirik ke arah Zhen Mingran. Memberinya tanda untuk bersiap-siap.
Zhen Mingran balas mengangguk sambil mempertahankan ritme nafasnya yang hampir terengah-engah.
__ADS_1
Qiao Rong kembali fokus ke depan. Ia menghitung pelan dalam hati sambil merasakan angin yang berembus disekitarnya.
Tiga.
Dua.
Satu.
"Liwei!!!" Qiao Rong berteriak keras.
Di depan, Liu Liwei langsung melesat dengan cepat mendahului Lu Mingzhi yang tadi menoleh ke belakang karena terkejut oleh teriakan Qiao Rong.
Qiao Rong tersenyum melihat wajah Lu Mingzhi yang terkejut, karena teriakan Qiao Rong dan juga aksi Liu Liwei.
Ia sudah memperkirakan semua hal ini sebelumnya. Liu Liwei, pemuda itu cepat. Qiao Rong sudah memperhatikan kemampuannya sejak Kompetisi Empat Musim. Pada saat mereka mendiskusikan tentang kerja sama tim tempo hari, setiap orang memberitahukan kelebihan masing-masing.
Dan kelebihan Liu Liwei adalah teknik kakinya. Ia memiliki teknik yang dapat membuatnya memfokuskan dan meledakkan qi tepat di ujung kakinya.
Inilah kejutan yang sudah mereka buat untuk Lu Mingzhi. Hal yang dapat meningkatkan persentase tim mereka untuk menang.
Lu Mingzhi berdecak kesal. Liu Liwei memang mendahuluinya, namun tentunya hal itu hanya untuk jaminan bahwa Liu Liwei akan berada di belakang bendera ungu terlebih dahulu.
Sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk menahan Lu Mingzhi setidaknya satu atau dua menit sebelum Qiao Rong dan Zhen Mingran menyusul.
Liu Liwei memberanikan dirinya untuk menahan hantaman dari tinju Lu Mingzhi yang akan datang. Tinju pertama Lu Mingzhi berhasil ia tepis, namun tinju yang kedua mengenainya tepat di perut.
Liu Liwei segera terdorong kebelakang sedikit. Mengusahakan begitu keras agar ia bisa bertahan lebih lama lagi, setidaknya sampai Zhen Mingran masuk ke dalam jarak pandangannya.
Tinju ketiga, keempat, kelima ... ketika ia sudah tidak bisa menepisnya lagi, Liu Liwei sudah berhenti menghitung.
Tinju-tinju Lu Mingzhi sangat sakit. Terutama tinju terakhir yang mengenai wajah Liu Liwei.
__ADS_1
Setidaknya ia melihat Zhen Mingran dan Qiao Rong mendekat, tepat sebelum pandangannya kabur.