Abandoned Princess

Abandoned Princess
Sulaman Jadi Masalah


__ADS_3

Dalam sekejap, pemandangan di Aula Istana sudah berubah menjadi pemandangan dapur istana.


Qiao Rong terkesiap. Yang bisa melakukan teleportasi seperti ini hanyalah para Master yang sudah mencapai tingkat kultivasi Surgawi... Itu artinya..


Qiao Rong menengadah dan melihat sebuah wajah familier yang berwajah masam.


Shen Haofeng.


"Eh..." Qiao Rong kebingungan. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana.


Sejujurnya, ia tidak menyangka pria itu akan masuk seenaknya ke dalam Aula Istana, dan menariknya dengan begitu cepat.


Bukankah ia hanya pamer kekuatan dengan Kaisar dan Liu Liwei?


Shen Haofeng menaruh kedua tangannya pada pundak Qiao Rong dan mendorong gadis itu dengan pelan hingga terduduk pada kursi terdekat. Lalu pria itu mengambil salah satu manisan dari nampan seorang dayang dan memberikannya pada Qiao Rong.


"Ini.." Qiao Rong jelas lebih kebingungan. Ia akan lebih bersyukur kalau-kalau pria di depannya itu diam saja.


"Suapi aku." Shen Haofeng berkata dengan singkat.


Qiao Rong tercengang. Ia masih tidak bisa berkutik sedikitpun.


"Bukankah kau menyuapi laki-laki itu juga? Mengapa tidak bisa menyuapi tunanganmu?" Tanya Shen Haofeng dengan wajah polosnya.


"B-baiklah..." Qiao Rong hanya bisa menurut dan perlahan menyuapi pria di depannya yang sekarang tersenyum seperti anak kecil.


Qiao Rong bingung harus senang atau kesal.


Bukankah pria ini hanya balas dendam? Ia hanya berharap dengan aksi mesranya dengan Liu Liwei, pria itu mendapatkan pukulan telak.


Sekarang Qiao Rong hanya bisa menahan rasa malu karena menjadi perhatian seluruh dayang yang ada di dapur istana. Apakah ia akan menjadi bahan olokan? Menyuapi dua pria sekaligus pada hari yang sama.


Tiba-tiba pria itu berdiri seketika setelah kelihatan berpikir sebentar. Dan segera bergegas entah kemana.


"Shen Haofeng?" Tanya Qiao Rong yang ditinggalkan dengan kebingungan.


"Aku permisi sebentar. Sepertinya ada sesuatu yang harus kupercepat." Ujar pria itu.


"Apa itu?" Tanya Qiao Rong lagi dengan penasaran.


"Pertunangan kita."


Qiao Rong hanya bisa mematung dikursinya.


*****


"Yang Mulia!" Chu Yue memanggil Qiao Rong yang ada di dalam kamar dengan bersemangat.

__ADS_1


"Ada apa, Chu—" Perkataan Qiao Rong terhenti ketika melihat benang, jarum, dan kain yang ada di dalam keranjang yang dibawa gadis itu.


"Waktunya anda menyulam!" Chu Yue menaruh keranjang itu di atas meja.


"Eh... Baiklah.." Qiao Rong mencoba tersenyum.


Sudah beberapa menit, Qiao Rong akhirnya mengambil kain itu dan memandangnya dengan kebingungan.


"Mengapa Yang Mulia belum mulai juga?" Tanya Chu Yue.


"Eh.. Itu.. Aku belum menemukan inspirasi untuk menyulam. Sepertinya butuh beberapa waktu sendiri.." Ujar Qiao Rong berbohong.


"Ah! Tentu saja! Baiklah, Yang Mulia, hamba akan ada di depan pintu kalau-kalau Yang Mulia membutuhkan apapun." Ujar Chu Yue, dan gadis itu pun langsung keluar dari kamar Qiao Rong.


Qiao Rong menghela napas dengan lega.


Li Junyan tiba-tiba muncul di depan Qiao Rong dan memandangi isi keranjang itu.


Bocah itu menghela napas. "Kau membutuhkan bantuanku lagi, bukan?" Tanya Li Junyan.


Qiao Rong mengangguk dengan lemas.


Ia merasa hobi menyulam yang dimiliki Qiao Rong yang asli sangat membebankan dirinya. Bagaimana tidak? Bahkan saat di Desa Nanshan ia harus rajin mencari alasan untuk menghindar dari ajakan menyulam Chu Yue.


Li Junyan mulai duduk dan menyulam.


"Apa yang kau lakukan?" Li Wenrou yang ikutan muncul secara tiba-tiba mulai membuka suara.


"Menyulam?" Li Wenrou kini ikut melihat Li Junyan yang sedang menyulam. Seperti menonton sebuah pertunjukkan.


Li Junyan hanya bisa mendesah karena merasa terbebani.


Beberapa jam kemudian, sulaman itu selesai.


"Lho, dimana Master?" Li Junyan kebingungan ketika Qiao Rong tidak ada dalam jangkauan pandangannya.


Li Wenrou dengan santai menunjuk ke arah kasur. Terlihat Qiao Rong yang sedang berkultivasi dengan tenang.


"Karena kau sedang menyulam, jadi tidak bisa masuk ke dalam Cincin Tapak Naga. Akhirnya Kakak hanya bisa berkultivasi disini." Jelas Li Wenrou.


Li Junyan hanya mengangguk. Sepertinya Qiao Rong juga sebentar lagi selesai. Akhirnya bocah itu hanya meletakkan hasil sulamannya di atas meja dan kembali bersama Li Wenrou ke dalam dimensi mereka masing-masing.


Qiao Rong akhirnya membuka mata dan berjalan ke arah meja. Melihat hasil sulaman Li Junyan, gadis itu tersenyum. "Kerja bagus." Ujarnya singkat.


Li Junyan menyulam sepasang bebek mandarin di tengah kolam. Sebenarnya sulaman bocah itu sangat indah, tapi Qiao Rong sebenarnya agak bingung kenapa bocah itu memilih bebek mandarin.


Qiao Rong berjalan ke depan pintu dan menyuruh Chu Yue untuk masuk.

__ADS_1


"Sudah selesai, Yang Mulia?" Tanya Chu Yue.


"Ya." Qiao Rong menyerahkan sulaman itu pada Chu Yue yang baru saja masuk.


Sekali lagi mata Chu Yue berbinar-binar, ia memang akan selalu bereaksi begitu ketika melihat sulaman-sulaman milik Qiao Rong.


"Wah, Yang Mulia.. Apakah ini melambangkan kesetiaan anda dengan Raja Bulan?" Chu Yue meledek Qiao Rong sambil tersenyum nakal.


"B-bicara apa kau.." Wajah Qiao Rong memerah. Ia sama sekali tidak berpikir sampai kesana. Apalagi, bukan dia yang menyulamnya.


"Tapi Yang Mulia jelas-jelas menyulam dua bebek mandarin di tengah kolam. Siapa yang tidak tahu bahwa bebek mandarin melambangkan kesetiaan?" Tanya Chu Yue.


Sebuah ide iseng terlintas di benak Chu Yue.


"Yang Mulia, apakah Raja Bulan akan membunuh hamba begitu hamba berbuat kesalahan?" Tanya Chu Yue lagi dengan wajah memelas.


"Hah! Coba saja kalau dia berani! Sampai mati pun aku tidak akan memaafkannya kalau sampai mencelakaimu." Ujar Qiao Rong dengan percaya diri. Mana boleh Shen Haofeng menyakiti Chu Yue hanya karena ia tunangannya?


Chu Yue tidak sempat berpikir panjang lagi.


"Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu?" Tanya Qiao Rong dengan penasaran.


"Ti-tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya permisi." Chu Yue dengan cepat kabur dari hadapan Qiao Rong.


*****


Shen Haofeng sedang menikmati angin sepoi-sepoi di sebuah paviliun yang disiapkan untuk tamu kerajaan. Paviliun itulah tempatnya tinggal untuk sementara di Kerajaan Wen.


Namun tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang dengan sembunyi-sembunyi. Shen Haofeng penasaran, siapa yang begitu berani menyusup ke dalam paviliunnya?


Ia mengecek dan menemukan orang itu hanya memiliki tingkat kultivasi yang rendah.


Shen Haofeng segera bangkit dari kursi tempatnya duduk tadi dan berjalan ke arah si penyusup.


Chu Yue sangat terkejut begitu melihat Shen Haofeng, tentu saja gadis itu tidak mengenalinya karena topeng yang pria itu pakai.


"Ma-maafkan kelancangan saya, Yang Mulia!" Chu Yue seketika langsung berlutut.


"Ada perlu apa?" Tanya Shen Haofeng dengan dingin.


"I-ini.." Akhirnya pandangan Shen Haofeng tertuju pada kain sulaman yang dipeluk oleh gadis itu dengan erat.


"Putri Rong baru saja selesai menyulam. Dan dia menyuruh saya untuk menghadiahinya pada Yang Mulia." Chu Yue tahu dirinya berbohong. Dan ia berharap mereka akan lebih akrab lagi, Chu Yue berharap agar Qiao Rong cepat-cepat bisa melupakan Shen Haofeng yang ia temui di Desa Nanshan.


Shen Haofeng dengan senang menerima kain sulaman itu.


"Dua bebek mandarin?" Pria itu tersenyum.

__ADS_1


Tapi lalu sentuhan tangannya itu merasakan suatu energi yang asing. Senyum pria itu memudar.


"Ini bukan sulaman Qiao Rong." Seketika raut wajah pria itu menjadi gelap.


__ADS_2