
Kaisar Qiao menyesap teh hangatnya dengan pelan.
"Beraroma harum dan warnanya cantik, jenis teh baru apa ini, Qi Hu?" Tanya Kaisar dengan antusias sambil memutar cangkir tehnya dengan pelan.
"Teh Longjing, Yang Mulia." Kepala Kasim Qi menjawab sambil membungkuk.
"Nama yang bagus." Kaisar Qiao mencoba tersenyum. Mata Kaisar berpaling ke arah jari kelingking tangan kirinya yang masih terbungkus perban.
"Yang Mulia, sampai kapan anda tidak memperbolehkan Permaisuri mengadakan kunjungan?" Kepala Kasim Qi lagi-lagi bertanya dengan khawatir.
"Tidak dalam waktu dekat." Jawaban singkat dari Kaisar hanya dapat membuat Kepala Kasim Qi mengangguk.
"Ugh!" Kaisar Qiao mengerang kesakitan. Walaupun lukanya sudah diperban, namun rasa sakit dari setiap ototnya yang terhubung ke jari kelingkingnya masih terasa.
"Qi Hu, panggilkan Selir Wu. Aku tidak bisa begini terus, harus menggagalkan pertunangan itu," ucap Kaisar dengan nada serius. Kepala Kasim Qi lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan meneruskan perintah Kaisar kepada seorang dayang.
*****
"Wu Yan ..." Kaisar Qiao menatap wanita paruh baya di depannya. Walaupun sudah berumur, namun Selir Wu di dalam matanya masih merupakan seorang gadis muda yang dulu ia cintai.
"Ya, Yang Mulia?" Selir Wu menjawab dengan elegan sambil menyicipi teh Longjing yang disediakan dayang.
"Mengenai masalah pertunangan Qiao Rong.. Aku pikir kau adalah orang yang paling tepat untuk hal ini. Setelah apa yang telah dia lakukan pada putri kita." Mendengar ucapan Kaisar, Selir Wu bersusah payah mencoba menahan senyumnya.
Putri kita.
Betapa konyolnya kata-kata itu?
"Yang Mulia bisa tenang. Hamba juga sudah berpikir begitu. Tapi hamba membutuhkan bantuan Yang Mulia," balas Selir Wu.
"Bantuan apapun akan kuberikan." Kaisar menatapnya dengan lembut.
"Yang Mulia ... Saya ingin berbicara tentang—Lan'er" Selir Wu berusaha semaksimal mungkin untuk membuat tangannya terlihat gemetar, lalu memalingkan tatapannya pada Kepala Kasim Qi.
Kaisar yang mengerti maksud Selir Wu langsung memberikan mengangkat tangannya yang tidak cedera, sementara tangannya yang terluka sudah sejak tadi ia tutup dengan sehelai kain.
Kepala Kasim Qi dan seluruh dayang langsung undur diri meninggalkan mereka di ruangan.
"Apa yang ingin kau katakan tentang Lan'er?" Kaisar menjawab Selir Wu dengan wajah khawatir.
"Yang Mulia ... pasti ingin membalaskan kematian Lan'er kan? Maka tidak usah khawatir. Sekarang juga saya akan bertindak." Selir Wu tiba-tiba tersenyum.
Sesaat setelah kebingungan melihat perubahan raut wajah Selir Wu, wajah Kaisar berubah menjadi pucat.
Dan ia terjatuh sambil memegangi dadanya. Kaisar mencoba menghirup sebanyak mungkin oksigen yang ia bisa, namun hal itu sia-sia. Dadanya sangat sesak sampai ia mau mati saja rasanya.
__ADS_1
"W-u ... Y-yan ... Kau-u ... Ugh!"
"Mengapa saya melakukan ini? Kenapa saya tega melakukan ini pada Yang Mulia?" Selir Wu tertawa dengan puas. Pandangan menyedihkan di depannya ini sudah ia impikan selama lebih dari dua puluh tahun lamanya.
"Apakah Yang Mulia pernah membayangkan perasaan saya saat Keluarga Wu dieksekusi mati dan tunangan saya dibunuh untuk alasan yang telah direkayasa hanya karena anda tertarik kepada saya? Tertarik pada wajah saya yang sangat mirip dengan wanita terkutuk itu?!"
"Anda bahkan tidak tahu penindasan apa yang saya terima sebagai seorang selir yang keluarganya mati dieksekusi." Selir Wu kini tidak dapat lagi menahan amarahnya. Di wajahnya sudah tak ada lagi akal sehat, hanya kegilaan yang terpendam bertahun-tahun lamanya.
"Ta-pi ... Ak-uu ...—" Kaisar lagi-lagi berjuang keras untuk berbicara dengan tatapan ngeri saat memandang wanita di depannya. Ia sudah mengenal wanita itu lebih dari dua puluh tahun lamanya. Entah berapa malam yang sudah mereka lewati bersama.
Tapi Kaisar sama sekali tidak mengenali Selir Wu yang kini melepaskan semua kegilaannya di depan matanya.
"Mencintai saya? Hahaha!" Lagi-lagi Selir Wu tertawa dengan keras. "Anda tidak mencintai saya, anda mencintai wajah saya. Setiap kali menghabiskan malam dengan saya, anda hanya membayangkan perempuan sial itu!" Selir Wu membentak Kaisar yang terkapar tidak berdaya, Kaisar sudah tidak lagi memegangi dadanya yang sakit.
"Yang Mulia kini bisa tenang, pertunangan Qiao Rong dan Raja Bulan, apakah masih akan berlangsung apabila Kaisar Kerajaan Wen wafat?" lanjut Selir Wu dengan senyum sinis yang tergambar di wajahnya.
Mata Kaisar kini berkaca-kaca.
"Lan-Lan'er ..." Kaisar menggunakan sisa-sisa napasnya dengan usaha keras.
"Ckckck! Bahkan sampai akhir pun anda masih memikirkan anak haram itu? Apakah Yang Mulia pikir saya sudi mengandung anak dari Yang Mulia?" Perkataan Selir Wu seperti tusukan pedang di hati Kaisar Qiao.
Ia tidak menyangka sudah mengorbankan segalanya untuk seorang putri yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
Bahkan sekarang jari kelingkingnya ... dan nyawanya.
"Tentu saya tidak akan pernah puas jika tidak membunuh anda dengan tangan saya sendiri," ujar Selir Wu.
Jleb!
Darah merah segar mengalir dari balik tubuh Kaisar. Darah itu juga kini merembes dari pakaiannya tepat di dada yang kini dihiasi belati yang ditancapkan oleh Selir Wu barusan.
Air mata Kaisar Qiao mengalir turun ke arah pipinya sebelum akhirnya ia menutup mata untuk yang terakhir kalinya.
Dengan penuh penyesalan.
Selir Wu kini dengan tenang mengelap tangannya yang sempat terciprat oleh darah Kaisar dan membuang kain lap itu dengan jijik setelah ia selesai.
"Fanfan."
Dari atap-atap ruangan sebuah bayangan dengan cekatan bergerak dan kini berdiri di hadapan Selir Wu.
"Ya, Yang Mulia," ujar wanita berpakaian serba hitam itu.
"Inilah akhirnya." Selir Wu tersenyum dengan kedamaian di hatinya.
__ADS_1
Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya.
"Apakah Yang Mulia senang? Tidak ada orang yang bisa menahan serangan dari lima jenis Cacing Gu sekaligus."
Tepat setelah wanita itu berbicara, lima cacing mungil keluar dari kulit lengan Kaisar. Dengan warna dan bentuk yang bervariasi, semua cacing itu kembali menyusup ke dalam tangan wanita itu.
"Kerja bagus menaruh Cacing Gu itu dalam tehnya," ucap Selir Wu, memuji wanita itu dengan bangga.
"Itu bukan apa-apa, Yang Mulia," balas wanita itu dengan hormat.
"Fanfan ..." Sekali lagi Selir Wu dengan lirih memanggil nama panggilan yang ia berikan untuk wanita di depannya itu.
"Kini semuanya sudah berakhir ..." Selir Wu menepuk pelan bahu wanita itu. "Kuberikan kau ... kebebasan," lanjutnya.
Wanita itu tersenyum.
"Terimakasih, Yang Mulia," jawabnya pelan.
"Sekarang ka—"
Jleb!
Belum sempat Selir Wu menyelesaikan kata-kata perpisahannya kepada wanita yang selama ini ia anggap teman setelah menyelamatkan nyawa wanita itu beberapa tahun yang lalu, namun sebuah belati yang sama seperti yang ia gunakan pada Kaisar Qiao kini menancap di dadanya.
Pikiran Selir Wu rasanya dipenuhi kebingungan dan rasa kecewa.
"Fanfan, kau—" Selir Wu mencoba berbicara dengan suara tercekat.
"Anda yang bilang sendiri, Yang Mulia. Anda memberikan saya kebebasan. Maka tugas saya pada anda telah selesai. Saya hanya menjalankan tugas dari tuan saya yang sebelumnya." Wanita itu tersenyum. Ia tersenyum seolah-olah Selir Wu yang kini sedang sekarat dihadapannya bukan seseorang yang ia kenal.
Mata Selir Wu dipenuhi ketidakpercayaan.
"Bukankah anda bilang, asal Kaisar wafat di tangan anda maka anda bisa mati dengan tenang?" Wanita itu melanjutkan dengan nada dan senyuman, serta tatapan yang sama di wajahnya.
"Apakah anda sungguh percaya bahwa anda menyelamatkan nyawa saya pada hari itu? Atau ... anda tidak pernah sadar bahwa semuanya adalah sebuah kesengajaan?" Wanita itu kini tertawa mengejek.
"Apakah suatu kebetulan bahwa saya diselamatkan oleh anda, dan bersedia melayani anda seumur hidup saya?"
Semakin wanita itu berbicara, semakin horror pula tatapan yang tergambar jelas di wajah Selir Wu.
Namun Selir Wu hanya bisa tersenyum untuk yang terakhir kalinya.
Ia sudah membunuh Kaisar.
Dengan tangannya sendiri. Itu tidak akan mengubah fakta bahwa ia sudah berhasil membalaskan kematian keluarganya dan pria yang ia cintai.
__ADS_1
Selir Wu dapat menutup matanya dengan bahagia.