
"Bagaimana?"
Di atas atap Paviliun Yun, sosok pria itu sudah menunggui Qiao Rong dibawah pemandangan malam bertabur bintang.
Qiao Rong ikut loncat ke atas atap menggunakan qinggong dan duduk tepat di sebelah pria itu.
"Cukup ... bagus." Hanya itu yang ada di pikiran Qiao Rong ketika mengingat bagaimana ia dan Lu Guang berbincang seharian. Mencoba menebus tahun-tahun dimana mereka terpisah.
Sayangnya, Ayah kandung yang baru ia ketahui identitasnya itu hanya bisa tinggal selama dua hari.
Shen Haofeng yang tahu mengenai hal itu sengaja sama sekali tidak menganggu waktu berkualitas bagi mereka dari kemarin.
Pria itu dengan lembut mengusap-usap kepala Qiao Rong. "Apa rencanamu setelah ini? Kakakmu sudah naik takhta, bahkan bertemu ayah kandung."
"Aku dengar Akademi Bulan Sabit adalah akademi terbaik untuk para kultivator?" Qiao Rong tersenyum nakal. Shen Haofeng pun tersenyum mendengar kata-kata gadis itu.
"Tentu saja nonaku pasti akan disambut dengan meriah begitu menyentuh Kota Bulan." Shen Haofeng membalas Qiao Rong dengan sepadan.
Qiao Rong hanya tertawa. "Dimana perangai dinginmu saat pertama kali bertemu denganku itu?"
"Sudah leleh." Jawab Shen Haofeng singkat sambil tersenyum lembut ke arah gadis itu.
Qiao Rong balas tersenyum.
"Rong'er ..." Tiba-tiba pria itu berkata dengan lirih.
"Hm?"
"Aku harus pergi." Senyum Shen Haofeng berubah menjadi pahit saat matanya memandang lurus ke arah wajah Qiao Rong.
"Aku tahu kau tidak akan bisa menemaniku lama-lama." Qiao Rong berpura-pura marah sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
Shen Haofeng hanya bisa meneruskan kembali senyum pahitnya itu. "Ada yang harus kuselidiki." Begitu memikirkan hal yang mengganjalnya itu, sebuah tatapan dingin tersirat dari mata pria itu. Namun wajah tersenyum nya kembali terlihat saat kembali menghadap gadis di sampingnya.
Barulah Qiao Rong tahu bahwa hal itu begitu serius.
"Jangan mati." Untuk pertama kalinya, Qiao Rong mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.
Pria itu mengangguk. Pria dihadapannya ini, orang paling kuat yang baru pernah ia lihat di kehidupan barunya. Pria yang begitu hebat dan percaya diri dengan seluruh perilaku dinginnya.
Namun baru saja, tatapan Shen Haofeng menceritakan padanya sedikit tentang bahaya yang akan dihadapi pria itu. Untuk pertama kalinya, Qiao Rong merasa takut. Bahaya seperti apa yang akan diselidikinya hingga membuatnya memiliki tatapan seperti itu?
__ADS_1
Qiao Rong selalu tidak paham akan tindakan dirinya sendiri. Ia hanya mendekati Shen Haofeng karena sikap dinginnya. Tapi lalu lama-kelamaan ia sadar bahwa pria itu menjadi penting dalam hidupnya.
"Tenang saja, aku tidak akan mati sebelum menikahimu." Shen Haofeng berbisik kepada Qiao Rong dengan pelan.
Qiao Rong hanya bisa memukul bahu pria itu dengan pelan dengan wajah yang memerah.
"Sebelum aku pergi, ada hal penting yang harus kita lakukan." Begitu kata-kata itu selesai, Qiao Rong menatap Shen Haofeng dengan penuh pertanyaan.
"Pertunangan kita."
Wajah Qiao Rong kembali memerah seperti tomat matang ketika mengingat pertunangan mereka yang tertunda.
"Kenapa kau tidak langsung menikahiku saja?" Qiao Rong dengan berani bertanya.
Tapi wajah Shen Haofeng berubah menjadi sangat pahit.
"Keluargaku. Aku akan mencari keluargaku sebelum menikah. Aku juga akan membawamu ke makam Ibuku. Dengan begitu aku harap ... Beliau bisa beristirahat dengan tenang." Qiao Rong pun teringat dengan cerita yang pernah Shen Haofeng ceritakan padanya.
"Shen Haofeng." Qiao Rong memanggil nama pria di sampingnya itu dengan lirih.
Shen Haofeng yang baru saja menoleh tidak tahu bahwa ia akan dikejutkan dengan tindakan Qiao Rong.
*****
Sementara itu di wilayah Sekte Langit ...
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Suara teriakan histeris seorang wanita yang berlinang air mata mengisi seluruh sudut ruangan.
"Nalan Mingyue, apa kau pikir aku tidak akan tahu bahwa kau menyulut pemberontakan di antara para tetua?" Sementara itu, suara berat seorang pria dengan nada mengejek juga terdengar. Pria itu dengan sengaja mentertawakan wanita yang tubuhnya diikat di depannya itu.
"Keluar! Keluar dari tubuhnya sekarang juga! Lepaskan Zhou Qingshan! Dimana Zhou Qingshan?!" Nalan Mingyue, wanita yang menangis dengan putus asa itu kini hanya bisa meratapi wajah orang yang dicintainya itu.
"Salahkan pria bodoh ini! Hahaha! Membuat harapan kepada iblis untuk menjadi lebih kuat. Sekarang aku sudah mengabulkan keinginannya bukan? Tubuh ini sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya." Pria itu tidak berhenti tertawa.
Zhou Qingshan, nama pemilik asli tubuh pria itu mengangkat dagu Nalan Mingyue dan perlahan menyentuh bibir wanita itu.
"Bukankah ia juga akan berterimakasih padaku dengan memuaskan wanita yang ia cintai?" Perasaan jijik memenuhi hati Nalan Mingyue.
Gritttt!
"Arghhh! Kau! Beraninya kau! Pengawal! Seret wanita ini ke dalam sel penjara!" Zhou Qingshan hanya bisa memandangi bekas gigitan di jarinya yang disebabkan oleh Nalan Mingyue, yang kini lenyap di bawa oleh para prajurit Sekte Langit.
__ADS_1
"Ck! Hanya wanita itu satu-satunya kelemahanku! Alam bawah sadar tubuh ini melarangku menyakitinya sama sekali! Sial!" Zhou Qingshan menggerutu melihat luka itu.
"Panggilkan Selir Lan!" Zhou Qingshan membalut bekas gigitan itu dengan sebuah kain.
"Tubuh manusia tidak berguna! Kalau saja tubuh dewaku tidak disegel oleh para kultivator kurang ajar itu!" Zhou Qingshan terus merutuki orang-orang dalam hatinya. Orang-orang terkutuk yang ia benci seribu tahun lalu.
Tok! Tok! Tok!
Qiao Lan berdiri di depan pintu ruangan monster itu. Monster yang menyelamatkannya, sekaligus memperbudak hidupnya. Tidak apa, pikir gadis malang itu. Ia bisa hidup jika mengikuti monster berwujud pria itu.
"Ah! Lan'er ku tersayang! Masuklah! Duduk disini." Qiao Lan hanya merasa jijik setiap kali ia melihat pria itu tertawa senang.
Hari ini, karena ia dipanggil khusus oleh Raja Langit, para dayang sudah membalut tubuhnya dengan pakaian tipis. Orang lain bisa melihat dengan jelas seluruh lekuk tubuhnya hanya dengan satu tolehan.
Tapi Qiao Lan tidak mempunyai pilihan lain. Tidak akan pernah.
"Ah! Aku punya kabar untukmu. Kabarnya di Kerajaan Wen sudah ada Kaisar baru!" Pria itu tersenyum licik.
"Apa?!" Wajah tidak berdaya Qiao Lan dipenuhi keputusasaan.
"Gelarnya adalah Kaisar Qin, bukannya ia adalah kakakmu? Ah kabarnya lagi, Selir Wu menusuk Kaisar hingga tewas di tempat bersama." Seketika wajah Qiao Lan menjadi pucat. Gadis itu ingin menangis.
Namun begitu airmata membasahi pipinya, Zhou Qingshan menatapnya dengan eskpresi dingin.
"Siapa yang mengijinkanmu menangis?" Kata-kata pria itu seperti hukum hidup dan mati bagi Qiao Lan.
"A-A ... Aku—" Suara Qiao Lan tercekat. Ia berusaha setengah mati menghentikan airmatanya yang terus mengalir.
Zhou Qingshan, pria iblis itu menatapnya dengan dingin. Lalu menarik Qiao Lan sehingga gadis itu kini berada di bawahnya.
Kretttt!
Dengan mudah pria itu merobek satu-satunya pakaian yang menyelimuti tubuh Qiao Lan.
Qiao Lan sangat ingin menangis setiap kali ia melihat ke dalam mata pria itu. Ia merasa setiap malam dimana ia dipanggil adalah sebuah kutukan hebat yang mengancam nyawanya.
Memuaskan pria terkutuk itu sudah lama menjadi kewajibannya semenjak hari pertama ia lolos dari kematiannya. Qiao Lan selalu ingin menangis. Meringis. Meminta tolong.
Tapi ia kembali mengingat bahwa semuanya itu percuma.
Ia hanya perlu memuaskan pria gila itu dengan tatapan kosong.
__ADS_1