
"Kalau begitu, kelas hari ini cukup sampai disini." Profesor Luo mulai membereskan buku yang ada di mejanya.
"Jangan lupa untuk menyiapkan tugas kelompok yang sudah kita bahas minggu lalu. Kali ini kalian membutuhkan kerja sama dan kebersamaan yang besar, jadi kalau bisa pilih anggota yang akrab dengan kalian." Profesor Luo lalu tersenyum kepada seluruh murid seraya berjalan meninggalkan kelas.
Seluruh murid berdiri dan memberi hormat, termasuk Qiao Rong.
Dari kejauhan, Liu Liwei sudah melirik-lirik ke arah Qiao Rong sebelum akhirnya menghampiri wanita itu.
"Ada urusan apa?" Qiao Rong kini sangat tidak suka berbasa-basi lagi kepada pria itu. Sudah agak lama semenjak ia melupakan etika dan rasa hormatnya seperti di Kompetisi Empat Musim.
Baginya, Liu Liwei sudah bukanlah anak perdana menteri, melainkan hanya teman sekelasnya. Begitu juga Ding Fanfan, ataupun teman sekelas lainnya yang tidak akrab dengannya sama sekali.
"Anu, kau mau pergi bersama setelah kelas selesai hari ini?" Wajah Liu Liwei agak memerah.
"Aku—" Qiao Rong terlihat agak canggung. Namun saat ia akan menolak pria itu, sesosok figur bertubuh besar keluar mengintip dari punggung Liu Liwei.
"Mau kemana?" Siapalagi kalau bukan Ding Fanfan?
Liu Liwei kelihatan kesal. Ia bukan hanya kesal, ia ingin memukuli Ding Fanfan sampai bocah itu tidak bisa mengikutinya lagi.
"Aku ikut." Lagi-lagi, Ding Fanfan selalu mengekor mereka berdua.
"Kami—" Liu Liwei mencoba untuk berbicara, namun lagi-lagi dipotong oleh sebuah suara dari kejauhan.
"S-saya juga ikut." Kali ini Zhen Mingran.
Liu Liwei bisa-bisa kesal sampai mati.
"Nah kalau begitu kita sepakat? Lagipula Profesor bilang harus memupuk keakraban bukan? Anggap saja begitu. Hehe." Ding Fanfan tersenyum puas.
Qiao Rong hanya tersenyum. Dengan begini, ia tidak perlu repot-repot menolak ajakan Liu Liwei bukan?
*****
__ADS_1
Atau seharusnya begitu.
Mereka sudah berkeliling Kota Purnama dari siang hari sampai sore hari hanya untuk menemani Ding Fanfan mencari jajanan.
"Sana! Cari makananmu sendiri! Bagus kalau tersedak sampai mati!" Liu Liwei sudah tidak tahan lagi.
Sudah berjam-jam berjalan, mereka hanya menemukan sebuah kios tahu dan kios mi, yang semuanya habis diborong Ding Fanfan.
Siapa yang menyangka kalau bocah rakus itu bisa makan sampai 4 mangkuk?
Liu Liwei sangat kesal, rasanya ia ingin memukuli bocah itu sampai pingsan.
Sementara itu, Qiao Rong hanya tertawa dan sesekali melihat ke arah Zhen Mingran yang dari tadi tetap diam.
Kruyukkkk! Bunyi perut kelaparan terdengar begitu jelas di antara mereka.
"Pfft!" Ding Fanfan menahan tawanya dengan bersusah payah demi menelan tahu yang baru saja ia makan.
"Kau menertawakan apa, hah?! Salahmu kami tidak bisa makan juga! Aku akan kembali ke asrama!" Liu Liwei tampaknya sudah mencapai batas kesabarannya. Ia melipat kedua tangannya dan pergi ke arah yang berbeda.
Walaupun terus menahan tawa sedari tadi, Qiao Rong sudah menemukan sebuah fakta yang menarik.
Ia yang berdiri di samping Zhen Mingran dapat dengan mudah mengetahui bahwa suara kelaparan itu berasal dari wanita di sampingnya. Walaupun menahan malu, namun Zhen Mingran tetap tidak mengatakan apapun.
Namun saat Liu Liwei membelanya di depan Ding Fanfan yang tertawa, sebuah senyum terukir dengan sangat jelas di wajahnya.
*****
"Bagaimana Yang Mulia? Apakah perjalanan tim anda bagus?" Chu Yue melangkah mendekati Qiao Rong sambil membawa nampan yang ia ambil dari kantin.
"Tidak buruk." Qiao Rong tersenyum.
Qiao Rong mengambil sumpit dan mulai menyantap makanan yang baru saja ditaruh Chu Yue di atas meja.
__ADS_1
Makanan dari kantin sendiri cukup enak, juga dengan harga terjangkau. Hanya dengan beberapa koin perunggu mereka bisa memesan satu set makan siang penuh.
Ada beberapa menu yang disiapkan khusus setiap harinya. Kebetulan pada hari ini, Qiao Rong mendapatkan Ayam Kung Pao, Bubur Asparagus, dan sebuah bakpao besar.
Seperti biasa, Li Junyan kadang ikut mencicipi makanannya. Namun setelah Li Wenrou hadir, kini Qiao Rong merasa seperti memberi makan dua orang anak.
Walaupun sebenarnya mereka hanya makan untuk sekadar mencicipi dan melenyapkan rasa penasaran mereka.
Chu Yue biasanya keluar saat sore, setelah kelas selesai di siang hari. Sehingga Qiao Rong hanya ditemani dengan Li Junyan dan Li Wenrou, serta Huo Bing. Yang tentunya, hanya Huo Bing yang bisa dilihat dengan mata manusia normal. Hari ini, Chu Yue pergi tepat setelah memberi Qiao Rong jatah makanannya dari kantin.
"Kau lihat, kurasa Zhen Mingran itu benar-benar tergila-gila pada Liu Liwei," ujar Li Junyan sembari menelan sesendok bubur yang barusan masuk ke dalam mulutnya.
Li Wenrou hanya mengangguk-angguk, sibuk mencoba Ayam Kung Pao yang porsinya lumayan banyak. Qiao Rong merasa sangat senang melihat anak perempuan itu makan. Setiap merasakan kelezatan di setiap suapan, Li Wenrou akan tersenyum sangat lebar. Berbeda dengan Li Junyan yang raut wajahnya sama saja.
"Bahkan tidak usah kau katakan, aku juga sudah bisa merasakannya." Qiao Rong menimpali.
"Benar, kan? Tidak mungkin orang berbakat sepertinya malah memilih untuk masuk ke dalam kelompok dengan orang-orang biasa seperti Liu Liwei dan Ding Fanfan. Bahkan identitasmu saja rendahan, tapi dia masih mengambil risiko." Li Junyan menambahkan beberapa alasan lagi.
"Jika dipikir-pikir, apa yang membuatnya begitu suka pada lelaki macam itu? Bahkan aku menemukan bahwa lelaki macam Liu Liwei sangatlah menyebalkan." Qiao Rong menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil mengunyah.
"Itu karena dia suka padamu bodoh! Dari pada Shen Haofeng yang membosankan itu? Hanya bisa tersenyum saat melihatmu, bicara juga pada awalnya sama sekali tidak." Li Junyan menyerang Qiao Rong dengan kekuatan penuh.
"Ada apa denganmu hari ini? Aku merasa kau lebih sensitif hari ini Xiao Jun." Qiao Rong berhenti mengunyah dan menatap Li Junyan dengan penasaran.
"Perasaanmu saja!" Li Junyan langsung mengalihkan pandangannya dari Qiao Rong yang kini menatapnya dengan serius.
"Mereka itu tentu berbeda! Lihat Shen Haofeng, walaupun dia pendiam tapi dia sangat lucu untuk digoda. Tapi pria macam apa yang akan memberikan seorang wanita token keluarganya hanya setelah beberapa kali berbincang? Kubilang dia gila!" Qiao Rong memberikan argumen yang lebih pedas.
"Apakah kalian berdua bisa berhenti? Aku sedang makan." Li Wenrou menatap mereka berdua dari sisi tengah dengan pandangan yang menakutkan.
Li Junyan langsung menghindar dari tatapan maut itu dan kembali berpura-pura sibuk mencicipi makanan sedikit demi sedikit.
"T-tentu, silahkan makan sebanyak yang kau mau." Qiao Rong tidak punya pilihan lain selain membiarkan anak itu mengambil Ayam Kung Pao nya lebih banyak lagi.
__ADS_1
"Terimakasih Kakak! Wenrou sangat menyayangimu!" Li Wenrou menatap beberapa potong ayam yang ditambahkan ke dalam mangkuknya.
Memang, dibalik senyum yang paling indah kadang ada kepribadian yang sangat menakutkan.