Abandoned Princess

Abandoned Princess
Jalan-jalan di Ibukota


__ADS_3

Qiao Rong melirik kesana dan kemari, sama sekali tidak sempat memberi perhatian pada Shen Haofeng yang sedang berjalan di sampingnya.


Walaupun ia merasa terkejut dan ingin menolak, namun ia juga sangat ingin menjelajahi Ibukota. Qiao Rong tidak pernah menjelajahi Ibukota sama sekali. Tempat yang dikunjunginya sebatas Apotek Chi Yuan dan tempat Kompetisi Empat Musim di selenggarakan.


Keingintahuan Qiao Rong sangat besar. Apalagi melihat jalan-jalan dan toko-toko di Ibukota sangat berbeda dari kota dekat Desa Nanshan yang pernah ia kunjungi.


Qiao Rong melihat-lihat sekitar dengan penasaran. Seribu tahun sudah berlalu, manusia semakin makmur dalam perdagangan dan arsitektur. Walaupun sayang ilmu kultivasi malah mundur karena perang ratusan tahun.


Model-model pakaian baru, model aksesoris yang sedang tren, sampai makanan-makanan dan jajanan baru yang belum pernah ia coba sebelumnya. Untunglah ia sudah membawa banyak uang.


Qiao Rong kini sama sekali tidak bisa dikenali karena wajahnya yang tertutup cadar. Walaupun cadar itu agak transparan, akan susah mengenali wajahnya kalau tidak memperhatikan dengan detil dan saksama. Apalagi, rakyat biasa hanya pernah melihat wajahnya saat Kompetisi Empat Musim. Ia berharap tidak banyak yang mengenali wajahnya agar tidak menimbulkan keributan.


Qiao Rong melihat sebuah toko pakaian yang sangat bagus. Ia sangat tertarik untuk masuk ke dalam. Tanpa ragu, ia menarik tangan pria di sampingnya itu.


Shen Haofeng terkejut, tapi entah kenapa senang. Setidaknya walaupun Qiao Rong masih tetap agak cemberut hari ini, tapi tangan mereka bisa bersentuhan.


Di dalam toko, ada lumayan banyak orang yang melihat-lihat pakaian-pakaian. Begitu masuk, Qiao Rong tidak bisa berhenti menatap baju yang dipajang di tengah toko.


Baju itu berwarna putih, dengan dua kancing dan aksesoris-aksesoris jahitan yang membuatnya terlihat sangat elegan.


Salah satu pegawai disana langsung mendatangi Qiao Rong dan menyapanya dengan ramah.


"Ah mata anda sangat bagus sekali, nona. Ini adalah baju terbaik dari toko kami bulan ini. Namanya adalah 'Salju Pertama' yang dijual eksklusif untuk menyambut musim dingin yang akan tiba beberapa hari lagi." Si pegawai tersenyum dengan ramah.


Qiao Rong lalu memegang baju itu dan merasakan bahwa bahannya sangat lembut.


"Aku akan—"


"Aku akan membeli baju itu!" Belum selesai Qiao Rong berbicara, tiba-tiba seorang gadis entah darimana berteriak dari belakangnya.


Gadis itu berjalan ke arah Qiao Rong, "Aku akan membeli baju itu. Minggir." Alis Qiao Rong mengernyit mendengar hal itu.


Si pegawai melihat wajah gadis itu dan hanya bisa tertunduk dengan panik.


"Maaf, aku sudah memegangnya duluan." Qiao Rong menunjuk ke arah tangannya yang menyentuh baju itu.


"Aku tidak peduli. Berikan baju itu padaku. Aku akan bayar harganya dua kali lipat." Gadis itu tersenyum dengan sinis.


"Maka aku akan membayarnya tiga kali lipat." Qiao Rong tetap saja melawan gadis itu.


"Kau tidak tahu siapa aku?!" Gadis itu mulai meninggikan suaranya. Mendengar itu, darah Shen Haofeng serasa mendidih, siapa yang berani membentak calon tunangan Raja Bulan?


Seketika, semua orang yang ada di toko kesulitan bernapas, kecuali Qiao Rong. Bahkan gadis di depan Qiao Rong itu tidak bisa bergerak atau berkata-kata sama sekali.

__ADS_1


"Ug..ughh.." Gadis itu mencoba bernapas dan bergerak, tapi hasilnya nihil.


"Calon tunanganku bilang akan membelinya duluan. Pergi." Perlahan-lahan tubuh gadis itu terangkat sampai keluar toko sendirinya.


Akhirnya suasana di dalam toko pun kembali seperti semula. Qiao Rong memandang Shen Haofeng dengan takjub.


Seumur hidupnya, mungkin tidak ada yang pernah melindunginya seperti itu. Qiao Rong tentu tersentuh.


"A-akan segera saya bungkuskan nona." Pegawai tadi terburu-buru mengambil baju itu dari rak pajangan. Ia terlihat sangat ketakutan. Qiao Rong tertawa kecil.


"Kau tidak usah se-ekstrem itu tahu. Lihat, dia sampai ketakutan begitu." Ujar Qiao Rong sambil tertawa.


Shen Haofeng tidak peduli. Asal Qiao Rong bisa mendapatkan baju yang ia mau tanpa gangguan, mau seribu orang pun takut padanya, silahkan saja. Toh, dia juga sudah terbiasa dengan pandangan ketakutan dari orang lain yang ditujukan padanya.


Qiao Rong membelai tangan pria itu. Hal itu membuat darah pria di sampingnya itu berdesir.


"Terimakasih." Ucap Qiao Rong sambil tersenyum.


Shen Haofeng segera memalingkan wajahnya. Qiao Rong hanya lanjut tertawa melihat telinga merah pria itu.


Pegawai itu tergopoh-gopoh membawa bungkusan pakaian tadi. "Nona, yang tadi itu... putri Perdana Menteri. Saya sarankan nona bersembunyi dulu beberapa hari ini, kalau tidak takutnya ia akan mencari anda dan membuat masalah." Qiao Rong hanya tersenyum dan mengangguk. Ternyata karakter dari putri Perdana Menteri Huang sudah tersebar begitu luas di masyarakat.


Apakah gadis itu tidak malu?


Baju selesai dibungkus dan setelah membayar, mereka keluar dari toko.


*****


Qiao Rong menghela napas. Ia merasa sebentar lagi perutnya akan meledak. Niatnya hanya membeli beberapa makanan di jalanan, ia malah jadi makan siang bersama pria itu sampai kenyang.


Mereka baru saja menginjakkan kaki di luar restoran. Di luar terasa begitu ramai, sangat banyak kereta kuda berlalu-lalang. Sangat berbeda dari Desa Nanshan.


Mereka berjalan sampai ke sebuah gang kecil yang menjual bakpao.


Qiao Rong berencana untuk membeli beberapa roti untuk Chu Yue, Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping. Akhirnya ia memesan beberapa bakpao dengan berbagai macam isian. Ada isian kacang merah, kacang hijau, dan coklat.


Sebenarnya Qiao Rong sangat ingin membeli bakpao itu untuk dirinya juga, tapi perutnya sudah tidak kuat lagi.


Sambil menunggu, Shen Haofeng dan Qiao Rong duduk di salah satu kursi publik yang ada di gang kecil itu.


"Apakah kau senang hari ini?" Tanya Shen Haofeng.


Qiao Rong mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Melihat pemandangan itu rasanya hati Shen Haofeng terasa sangat hangat.


Cup!


Pria itu mengecup dahi Qiao Rong.


Wajah Qiao Rong segera memerah seperti kepiting. Ia menatap pria itu tidak percaya dengan wajah malunya.


"Jangan bilang Jiang Junwei mengajarimu lagi?" Qiao Rong bertanya dengan iseng.


Siapa sangka pemuda itu malah akan berpikir dulu baru menjawab?


"Emm.. tidak?" Jawab pria itu dengan polos.


Qiao Rong dapat segera tahu bahwa Shen Haofeng memang sangat tidak berbakat dalam berbohong. Ia mencubit lengan pria itu dengan keras. Tapi tampaknya sama sekali tidak berpengaruh. Bahkan Shen Haofeng sama sekali tidak mengaduh kesakitan.


Qiao Rong segera berdiri dan memukul-mukul dada bidang pria itu. Ia sengaja melapisi tangannya dengan qi agar pukulan itu terasa lebih sakit. Ia sudah sangat kesal.


Shen Haofeng hanya bisa bergerak-gerak untuk menghadang pukulan-pukulan Qiao Rong.


Namun sepertinya Qiao Rong terlalu sibuk memukuli pria itu sampai ia lupa kalau kursi itu tidak akan bisa menahan beban berat pria itu ditambah pukulan qi nya.


Brakkkk.


Sontak saat kursi terjatuh kebelakang, Qiao Rong ikut terdorong ke depan tepat ke arah pria itu akan jatuh pula.


Cup!


Kini bibir pria itu tidak lagi mengenai dahi Qiao Rong.


Lebih tepatnya, bibir mereka saling bertemu karena insiden itu.


Qiao Rong yang malu karena sudah menindih tubuh pria itu segera berdiri dan membereskan bajunya yang kotor.


Sementara Shen Haofeng kelihatannya masih belum sadar dan masih terpana. Ia tidak akan melupakan sensasi itu, tidak akan pernah.


Akhirnya pria itu berdiri dan menatap Qiao Rong lekat-lekat. Ia meraih tangan Qiao Rong dan meletakkan telapak tangan gadis itu di dadanya. Tepat diatas jantungnya yang sedang berdegup kencang.


"Kau harus bertanggung jawab." Shen Haofeng mengatakannya dengan enteng, seolah-olah Qiao Rong sudah memecahkan sebuah barang dan harus membelinya.


Melihat mata pria itu yang menggebu-gebu dan dan detak jantung yang dirasakan telapak tangannya, Qiao Rong hanya bisa menelan salivanya.


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2