Abandoned Princess

Abandoned Princess
Desa Nanshan (1)


__ADS_3

Qiao Rong memerintahkan para dayang untuk hanya mengemas baju-baju sederhana dan beberapa makanan kering yang dibutuhkan. Ia juga telah menyampaikan secara khusus kepada Kepala Kasim Qi, yang ditugaskan Kaisar mengurus perjalanan Qiao Rong, untuk hanya membawa tiga prajurit dari Paviliun Yun.


Kepala Kasim Qi awalnya menolak, namun mendengar alasan Qiao Rong yang ingin menyamar dan membaur dengan rakyat biasa, akhirnya ia pun menyetujui hal tersebut. Walaupun ada kemungkinan akan diserang bandit dan kehilangan nyawa, mungkin Kaisar malah akan senang karena bisa mengatakan bahwa Qiao Rong meninggal karena kecelakaan. Bagaimanapun juga, Qiao Rong sudah lama diketahui sebagai aib keluarga kerajaan.


Qiao Rong saat itu sedang memilih tiga prajurit istana dari Paviliun Yun. Ia sudah mantap dengan pilihannya, Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping. Ketiga pria itu terlihat kekar, baik, dan tentunya, tidak memiliki hubungan apapun dengan Putri Lan. Untuk dayang, tentunya Chu Yue sudah sangat cukup untuk Qiao Rong.


Qiao Rong baru saja selesai menunjuk ketiga pria itu saat Selir Shu yang berlari sambil tersengal-sengal tiba di hadapannya.


"Ib—" Qiao Rong belum menyelesaikan kata-katanya saat Selir Shu memegang bahu Qiao Rong dengan kedua tangannya erat-erat. Qiao Rong terlihat kebingungan. Selir Shu terlihat sangat berantakan, seperti orang yang baru saja berlari. Qiao Rong melayangkan pandangan pada Kepala Dayang Selir Shu dibelakangnya, namun Kepala Dayang itu terkihat canggung dan napasnya juga tersengal-sengal.


"Nak! Apa kamu yakin akan pergi? Kamu bahkan belum pernah menginjakkan kaki diluar istana seumur hidupmu!" Selir Shu terlihat sangat khawatir. Bahkan kedua matanya terlihat berkaca-kaca sekarang.


Qiao Rong akhirnya mengerti. Setelah kehilangan sosok Ibu begitu lama, Li Wenhua baru kali ini terharu karena Selir Shu. Kasih sayang Ibu yang tidak lagi ia dapatkan setelah Ibunya meninggal kini ia dapatkan setelah berada dalam tubuh Qiao Rong.


Mata Qiao Rong ikut berkaca-kaca. Namun ia menahan air mata itu dengan segenap hatinya, dan memegang tangan Selir Shu.


"Ibu tenang saja. Aku hanya mencari pengalaman dan membaur dengan rakyat." Air mata Selir Shu mulai tumpah. Seluruh dayang mulai menyingkir dari area kedua orang itu berdiri.


"Tapi.. Nak! Mereka akan menjahatimu! Hik.. Hik.. Itu semua karena Ibu yang kurang mampu melindungimu!" Selir Shu mulai teringat kembali peristiwa dimana anaknya dicaci dan dibuli hanya karena roh pelindungnya belum muncul. Ia pernah bersumpah akan mengadukan anak-anak pejabat itu pada Kaisar. Namun tanggapan Kaisar malah lebih buruk dari yang ia harapkan, bahkan sampai bersikap dingin padanya.


Qiao Rong tersenyum lembut.


"Ibu.. kejadian yang dahulu, sudah tidak perlu dipermasalahkan. Aku sudah dewasa sekarang." Qiao Rong lalu memeluk Selir Shu dan membisikkan sesuatu. "Lihat apa yang akan terjadi pada mereka kalau tahu aku bisa berkultivasi."


Seketika tubuh Selir Shu membeku. Putrinya bisa berkultivasi?

__ADS_1


Ia memandang Qiao Rong tidak percaya, namun senyuman Qiao Rong tidak pernah terhenti dari wajahnya. Selir Shu merasa sangat senang hingga ia merasa bisa berlari beberapa kilometer lagi.


Baru saja saat ia ingin memanggil para dayang, Qiao Rong segera menahannya dan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. "Tapi bu, aku punya banyak musuh yang harus kulawan. Tidak bolehkan memamerkan kelebihan?" Lanjut Qiao Rong.


Selir Shu menjadi paham. Putrinya ingin merahasiakan hal itu lebih lama, mungkin ia telah memiliki rencananya sendiri. Selir Shu sangat terharu, ia merasa Putrinya yang baru saja berada di gendongannya dalam sehari menjadi remaja dewasa yang akan mengambil langkah besar.


Selir Shu pun mundur dan membereskan dirinya sebentar. Qiao Rong memanggil kembali para dayang untuk melanjutkan persiapan mereka. Selir Shu lalu memeluk Qiao Rong dengan erat.


"Ibu akan merindukanmu, Nak." Kata Selir Shu dengan lembut.


"Aku akan segera kembali, Bu." Jawab Qiao Rong. Dengan itu, Selir Shu pun akhirnya pergi dengan dayang-dayangnya.


Qiao Rong menghela napas. Namun senyuman cerahnya tidak berhenti sampai mereka selesai mempersiapkan perjalanan.


*****


Mereka berangkat saat Matahari mulai tinggi di langit. Qiao Rong hanya bisa berharap, tidak akan ada bandit yang akan menyergap mereka di tengah jalan. Untungnya doa nya itu terkabulkan.


Mereka sampai di dekat Desa Nanshan keesokan paginya. Makan dan tidur di dalam kereta kuda sangatlah tidak nyaman. Itu adalah salah satu pengalaman tidak menyenangkan yang baru Qiao Rong alami. Ia lebih suka menggunakan teknik qinggong, bahkan mungkin ia akan lebih cepat sampai.


Kusir kereta kuda itu membangunkan Qiao Rong dan Chu Yue yang berada di dalam kereta kuda. Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping yang berkuda di sekeliling kereta kuda juga berhenti. Mereka telah sampai di Desa Nanshan.


Sesuai dengan keinginan Qiao Rong sebelum pergi, ia ingin kereta kuda itu berhenti di dekat Desa Nanshan. Ia tidak ingin terlalu menarik perhatian, hal itu bisa membahayakan penyamarannya. Sebelum sampai, Qiao Rong memang sudah menyampaikan Chu Yue dan tiga prajurit lainnya untuk bersandiwara bersamanya. Mereka hanya bisa mengangguk lemas dan menelan bulat-bulat perasaan tidak enak mereka pada Qiao Rong, bagaimanapun, Qiao Rong adalah seorang Putri Kaisar.


Setelah berjalan sedikit, Qiao Rong berpapasan dengan seorang pemuda yang kelihatannya baru saja ingin pergi ke ladang. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Qiao Rong langsung menghadang pemuda itu dan menanyakan rumah Kepala Desa.

__ADS_1


Pemuda itu hanya mengangguk dan menunjuk sebuah rumah bata yang tidak jauh dari sana. Qiao Rong berterimakasih dan segera melanjutkan perjalanannya bersama yang lainnya.


Tok! Tok! Tok!


Qiao Rong mengetuk pintu rumah Kepala Desa. Setelah beberapa lama, seorang pria lanjut usia pun keluar. Pria itu terlihat bingung, walaupun berpakaian sederhana, namun aura elegan Qiao Rong yang masih agak menonjol menimbulkan kecurigaan.


"Saya Kepala Desa Nanshan, ada perlu apa kalian anak muda kemari?" Kepala Desa Zhu memutuskan untuk menelan bulat-bulat kecurigaannya setelah melihat tiga pria di belakang dua gadis itu. Mereka terlihat cukup berbahaya.


"Maaf menggangu Anda. Kami berlima adalah yatim piatu bersaudara yang datang jauh-jauh dari Utara. Bisnis kami baru saja bangkrut dan sekarang membutuhkan tempat tinggal sederhana. Apakah ada rumah yang disewakan di Desa ini?" Qiao Rong membungkuk dan mengutarakan maksud kedatangannya.


Kepala Desa Zhu berpikir sebentar, lalu menganggukan kepalanya. "Ya, ada. Namun hanya ada dua rumah yang disewakan. Masing-masing memiliki dua kamar, apakah tidak apa-apa?"


Qiao Rong tersenyum senang dan segera mengangguk.


Kepala Desa Zhu segera mengantar mereka ke jalan desa yang lebih kecil. Dari kejauhan, mereka bisa melihat dua rumah kecil bersebelahan yang berada di seberang danau.


Di tepi danau itu, Qiao Rong bisa melihat sebuah rumah kecil seperti rumah yang akan mereka sewa. Entah kenapa ia sangat penasaran terhadap rumah itu. Kepala Desa Zhu menyadari pandangan Qiao Rong yang sedaritadi memandang rumah di tepi danau itu.


"Ah! Itu rumah tetangga kalian, Shen Haofeng. Ia juga yatim piatu yang baru pindah kesini sebulan yang lalu." Kepala Desa Zhu menjelaskan.


Qiao Rong sedikit curiga dengan pemilik rumah itu. Namun, bagaimanapun mereka bertetangga, cepat atau lambat juga akan bertemu. Qiao Rong akhirnya melupakan rasa penasarannya dan masuk ke rumah yang di akan disewanya.


Setelah melihat-lihat, Qiao Rong memutuskan bahwa ia cukup puas dengan rumah itu. Barulah ia membicarakan harga dengan Kepala Desa Zhu.


Ternyata rumah-rumah itu milik anak Kepala Desa Zhu yang sudah lama merantau dan tidak kunjung kembali karena sudah memiliki keluarga sendiri. Mereka sepakat dengan harga dua koin perak.

__ADS_1


Qiao Rong lega saat mendengar telepati dari Li Junyan bahwa sistem mata uang sekarang masih sama dengan sistem mata uang seribu tahun yang lalu. Seribu koin perunggu sama dengan satu koin perak. Seribu koin perak sama dengan satu koin emas.


Tanpa basa-basi, ia langsung membayar uang sewa rumah itu selama dua bulan di muka kepada Kepala Desa Zhu. Kepala Desa Zhu kembali meragukan identitas mereka, apalagi ketiga saudara itu terlihat tidak terlalu akrab dengan saudari mereka. Namun melihat dua koin perak ditangannya, ia sudah merasa sangat senang. Sepertinya ia dan istrinya bisa makan banyak daging hari ini.


__ADS_2