
"Kau melemah." Qiao Rong baru saja sampai di kamar asramanya dan berbaring sebentar ketika Li Junyan mengatakan hal itu.
"Apa maksudmu?" Kedua alis Qiao Rong mengernyit.
"Liu Liwei. Kau bisa saja langsung menolak pemberiannya saat itu juga. Lu Guang, Selir Shu, dan yang lain. Sifatmu melemah, Li Wenhua. Kau terlalu lembut." Li Junyan melanjutkan.
Qiao Rong pun menyadarinya.
Namun ia hanya diam, tidak membalas satu pun perkataan anak itu. Qiao Rong hanya mengelus dengan lembut bulu Huo Bing yang baru saja muncul dari ruangan cincin Tapak Naga.
Qiao Rong bahkan sudah tidak tahu lagi apakah kepribadian keras Li Wenhua masih tersisa dalam dirinya. Dirinya yang dulu itu tujuan setiap harinya hanyalah bertambah lebih kuat.
Setiap hari berkultivasi, namun pada akhirnya mati di tangan para tetua ketika mencuri Kitab Yin-Yang. Bagaimana pun juga, Qiao Rong merasa hidupnya sebagai Li Wenhua terlalu konyol.
Apa gunanya berkultivasi setiap hari kalau tetap tidak bisa melindungi siapa pun? Namun sebagai Qiao Rong, ia memiliki banyak orang yang berarti baginya.
Li Wenhua yang ada di dalam tubuh Qiao Rong menemukan kasih seorang Ibu, menemukan cinta seorang kekasih, dan juga memiliki banyak relasi dengan orang lain.
Ada Huo Bing, peliharaannya yang manis itu kini hampir tertidur di pangkuannya. Ada juga Li Wenrou yang datang saat ia pikir ia tidak akan memiliki satu anak lagi untuk di urus.
Semua ini tidak akan ia dapatkan jika tidak memasuki tubuh Qiao Rong.
Apakah ia mencuri yang seharusnya menjadi milik gadis itu?
Bagaimana kalau Qiao Rong yang asli tidak wafat hari itu? Akankah semua hal berharga yang Li Wenhua miliki menjadi milik Qiao Rong yang asli?
*****
Merasa lelah memikirkan hal itu, Qiao Rong malah tertidur di kasurnya dengan lelap. Dan baru di bangunkan oleh Chu Yue saat hari sudah mulai gelap.
Pelajaran yang ada di Akademi Bulan Sabit memang tidak berjadwal pasti. Selain jadwal pelajaran setiap harinya, seluruh jam per mata pelajaran sama sekali tidak memiliki aturan. Semuanya memang tergantung pada profesor yang mengajar.
Kalau memang pengajarannya di perlukan hingga malam hari, maka pelajaran itu benar-benar akan selesai pada malam hari.
Untungnya, Profesor Luo tidak begitu kejam seperti Profesor Zi yang pelajaran alkimianya membutuhkan banyak waktu. Tentunya hal tersebut dikarenakan waktu berbeda yang dibutuhkan tiap murid dalam membuat sebuah pil.
__ADS_1
Qiao Rong memakan makan malamnya seperti biasa dengan Chu Yue yang sibuk bercerita ini itu.
"Ah, Yang Mulia! Kemarin aku bertemu dengan seorang laki-laki baik hati! Dia memberiku bakpao terakhir yang ada di kedai." Chu Yue bercerita dengan semangat mengenai pertemuannya dengan pria aneh yang berjubah itu. Sayangnya, karena jubah itu, Chu Yue tidak bisa melihat wajah pria itu.
"Baguslah. Jangan lupa berterimakasih kalau bertemu dengannya lagi," ujar Qiao Rong sambil menyantap sepotong kecil daging ayam.
"Ah, hamba memang tidak melihat wajahnya. Tapi entah kenapa suaranya terdengar familier." Chu Yue berpikir keras.
Ia memang seperti pernah mendengar suara pria itu entah kapan dan dimana. Qiao Rong hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ternyata di dunia ini masih ada pria yang mau memberikan bakpao terakhirnya pada wanita yang tidak ia kenal. Batin Qiao Rong.
"Yang Mulia, bukankah Profesor Ji itu terlihat sangat aneh? Jujur saja, aku merinding karena dia terus menatap ke arahku selama pelajaran." Chu Yue mengalihkan topik pembicaraan.
"Mungkin memang begitu, memperhatikan murid baru." Qiao Rong mencari-cari alasan. Bagaimana pun juga, para profesor yang ada di Akademi Bulan Sabit dipilih secara pribadi oleh tunangannya. Qiao Rong tentu tidak berani berpikir negatif tentang mereka.
Berhasil dipilih oleh Shen Haofeng, berarti mereka memang memiliki kemampuan yang dapat membuktikan nilai mereka sebagai seorang profesor.
Memikirkan mengenai Shen Haofeng membuat Qiao Rong kembali merindukan pria itu. Sudah hampir genap sebulan dari kali terakhir mereka bertemu. Entah apa yang sedang dikerjakan Raja Bulan itu.
Rasa sakit ini berasal dari tanda lahir berbentuk bunga di dahinya. Sudah begitu lama sejak Qiao Rong membuka segel meridiannya, namun ia tetap tidak bisa mengetahui apa yang aneh dari tanda lahir itu.
Qiao Rong memegang dahinya. Kepalanya terasa sangat sakit, ada sensasi terbakar setiap detiknya yang makin menjadi-jadi.
Lalu setelah beberapa detik hilang begitu saja.
Qiao Rong mengerjap-ngerjapkan matanya kebingungan. Ada yang salah dengan tanda lahir itu, dan Qiao Rong tidak mengetahuinya.
*****
"Sudah ditemukan?"
Zhou Qingshan akhirnya tersenyum dengan tulus. Satu-satunya senyum lembut yang lolos dari bibirnya setelah ia mengambil alih tubuh Zhou Qingshan yang asli.
"Ya, Yang Mulia. Menurut kabar dari para pembunuh bayaran yang bekerja untuk Putri Lan, mereka disuruh menargetkan seorang wanita di Desa Nanshan. Yang kebetulan memiliki tanda lahir itu di dahinya." Seorang pria berbaju hitam menjelaskan panjang lebar kepada Zhou Qingshan.
__ADS_1
Pria itu kembali tersenyum dengan puas.
"Lalu? Bagaimana dengan identitasnya? Dimana ia sekarang?" ucap Zhou Qingshan dengan nada tidak sabar.
"M-masalahnya ... wanita itu sudah menghilang begitu lama dari Desa Nanshan. Identitasnya juga tidak dapat diketahui walaupun sudah menanyai seluruh desa." Pria berbaju hitam itu berkeringat dingin. Ia tahu pasti kabar yang seperti ini akan menyulut amarah tuannya.
Pranggggg!!!
Dan benar saja. Kali ini sebuah guci antik yang ada di ruangan Zhou Qingshan menjadi korbannya.
"Mohon Yang Mulia memberi kami lebih banyak waktu! Kami pasti akan menemukannya!" Pria berbaju hitam itu segera berlutut dan membungkukkan tubuhnya ke arah Zhou Qingshan.
Ia sudah bersiap-siap untuk semua serangan yang akan ia dapatkan, apabila mengingat amarah tuannya itu. Namun setelah beberapa detik menutup mata, ia hanya disambut oleh keheningan.
"Baiklah." Pria itu terkejut atas jawaban tuannya.
Ada apa dengan tuannya saat ini? Bisa-bisanya ia setuju begitu saja tanpa ada hukuman apa pun yang diberikan?
Pria berbaju hitam itu sulit percaya bahwa pria di depannya itu adalah tuannya. Namun ia hanya bisa bersyukur bahwa hidupnya masih diampuni satu hari lagi.
"Terimakasih, Yang Mulia." Pria itu lalu segera menghilang dari jangkauan mata.
Sementara itu, semenjak berita itu diterima oleh Zhou Qingshan bahwa orang yang dicarinya selama ini telah ditemukan, ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia selalu mengingat wanita yang dicarinya itu. Selalu tampak samar walaupun kepalanya dipenuhi banyak memori dari beribu-ribu tahun kehidupannya sebagai seorang dewa. Seorang wanita yang menari dengan indah di sebuah padang.
Dan ia yang menatapnya dari kejauhan dengan tatapan seolah terbius. Mereka selalu menyebutnya Raja Iblis, namun hanya wanita itu yang menyebut namanya dengan penuh kasih sayang.
Sayangnya, dia memang iblis.
"Dimana kau? Apakah hidupmu kali ini baik?" Zhou Qingshan bergumam.
Bungaku, bunga terindahku. Bagaimana rupamu? Samakah sifatmu? Zhou Qingshan membatin.
"Maaf. Maafkan aku."
__ADS_1
Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.