Abandoned Princess

Abandoned Princess
Uluran Tangan Pria itu


__ADS_3

Putri Lan kini masih saja meringkuk dan menundukkan kepalanya di sel penjara. Besok pagi, nyawanya akan segera melayang. Ia mencoba menahan napas selama mungkin untuk menghindari bau amis darah yang melekat pada dinding penjara karena siksaan-siksaan kejam kepada para kriminal.


Tapi selama apapun ia menahan napas, bau amis darah itu tetap leluasa memasuki indra penciumnya. Seolah-olah sudah melekat dengan dirinya dari dulu.


Putri Lan jadi teringat, saudari-saudarinya yang ia bunuh satu persatu sesuai instruksi ibunya. Menanam jebakan pada siapapun yang menghalangi jalannya.


Putri Lan merasakan rasa benci yang amat dalam pada dirinya sendiri. Mengapa ia harus mengalami hal mengerikan seperti ini? Apakah dirinya dan Su Xiao memang tidak diijinkan oleh langit untuk bisa bersama?


Air mata Qiao Lan sudah kering rasanya dari kemarin. Ia sudah lelah.


Perlahan, wanita itu mulai menjulurkan kedua lengannya sembari kedua telapak tangannya memcapai lehernya. Ia memegangi lehernya erat-erat.


Lebih erat dan lebih erat lagi. Hingga sekujur tubuhnya gemetaran, ia takut, tapi juga menginginkan kematian. Untuk apa mati di tangan orang lain? Ia tidak akan membiarkan orang lain mengambil hidupnya begitu saja. Siapa mereka? Apakah mereka berhak?


Putri Lan menjadi semakin yakin. Kini cadangan oksigen yang berada di paru-paru Putri Lan semakin menipis. Matanya mulai menatap langit-langit untuk terakhir kalinya.


Namun, baru saja ia ingin menyalurkan qi yang kuat ke tangannya agar bisa langsung mati tanpa merasakan rasa sakit, suatu suara mengejutkannya.


"Begitu saja? Kukira kau akan lebih keras kepala dan memiliki banyak tekad. Agak mengecewakan." Suara seorang pria terdengar dari samping tubuhnya.


Putri Lan menengok ke seluruh ruangan. Perlahan, cengkeraman tangannya pada lehernya mulai melonggar.


Tiba-tiba dari sebelahnya muncul seorang pria entah darimana. Pria itu membuatnya terkejut karena langsung mencengkram erat lehernya disaat kewaspadaannya turun.


"Ugh! Ugh..!" Tubuh Putri Lan mulai terangkat dari lantai sel yang hanya berupa tanah. Mata Putri Lan membelalak memandangi wajah pria itu. Tampan, tapi kejam.. brutal, dan semua hal jahat yang tidak bisa ia jelaskan.


"Apa kau mau hidup?! Katakan dengan jelas!" Pria itu membentaknya dengan keras. Anehnya, semua penjaga yang ada di dalam maupun di dalam penjara seperti tidak bisa mendengar teriakan pria itu. Sama sekali tidak ada kumpulan prajurit istana penjaga penjara yamg langsung menyerbu selnya seperti yang Putri Lan pikirkan.


"Ak-u.. In-ing-in.. Hii-du-p..." Putri Lan melontarkan kata-kata itu dengan napas terakhirnya. Tepat sebelum ia kira akan kehabisan napas dan mati, pria itu melepaskan cengkeramannya. Tubuh Qiao Lan pun langsung terjatuh ke tanah.


Wanita itu terbatuk-batuk sambil menghirup dalam-dalam setiap oksigen yang bisa ia hirup. Lalu, ia kembali teringat pada pria itu.


Pria asing itu tidak pernah ia lihat sebelumnya, tidak mengenalnya, juga tidak pernah merasa pernah berpapasan dengannya. Namun pria itu hanya memandanginya dengan senyuman sinis.

__ADS_1


"Ikutlah aku. Sekali kau menerima tangan ini, kau harus meninggalkan semuanya. Suamimu, ayahmu, ibumu, identitasmu. Semuanya. Kau akan terlahir kembali." Pria itu tersenyum padanya. Sedikit senyuman mengejek dan sedikit senyuman nakal.


Melihat pria itu menjulurkan tangannya padanya, Putri Lan sempat bimbang sesaat. Apakah ia akan menerimanya?


Mampukah ia meninggalkan semuanya hanya agar tetap hidup?


Tapi, ia kembali teringat sesuatu.


Qiao Lan takut akan kematian. Ia tidak boleh mati, setidaknya tidak sekarang. Bersama ayahnya atau ibunya, semua tidak akan ada yang datang menyelamatkannya. Hanya bersama pria ini.. Ya, hanya bersama pria ini ia bisa lolos dari jalan buntu yang saat ini sedang ia hadapi.


Dan Putri Lan menerima uluran tangan itu.


"Selamat datang, selirku." Pria itu tersenyum, dan sebuah kabut hitam misterius menyelubungi mereka berdua.


*****


"Apakah kau tidak akan menghadiri eksekusi itu?" Li Junyan bertanya dengan penasaran pada gadis yang kini berada di depannya, hanya duduk menghitung uang yang baru pagi ini diantarkan.


Tumpukan cek-cek sebanyak beberapa puluh perak yang tadinya rapi kini menjadi agak berantakan setelah Qiao Rong mengkalkulasi total uang itu.


Li Junyan hanya bisa menghela napas, bukankah kata-kata itu terlalu kejam? Padahal hari ini sudah Qiao Rong tunggu begitu lama.


"Maksudku, kau kan bisa mengejeknya tepat sebelum ia mati." Li Junyan mulai berargumen.


"Ibunya dan ayahnya saja tidak repot-repot, mengapa aku harus?" Namun Qiao Rong tetap menjawab dengan cuek. Akhirnya Li Junyan yang malas berdebat pun masuk kembali ke dalam ruangan Kitab Yin Yang.


Seantero istana sudah tahu betapa berdukanya Kaisar dan Selir Wu yang bahkan tidak sanggup menghadiri eksekusi putri mereka sendiri. Namun, tetap saja hukum berlaku bagi setiap orang, tidak terkecuali keluarga kerajaan. Apa kata rakyat nanti jika Kaisar berusaha menyelamatkan putrinya?


Qiao Rong tahu ia sudah menyudutkan kedua orang itu sampai ke sudut yang berakhir dengan jalan buntu. Dan ia puas karenanya. Namun, tetap saja perhitungannya dengan Kaisar dan Putra Mahkota belum selesai.


Kini satu bagian masalah telah selesai, dan ia akan melanjutkan menyelesaikan masalah yang lainnya. Perlahan-lahan.


Beberapa hari ini, Qiao Rong mempelajari beberapa resep pil mudah dan sederhana karena hampir mati kebosanan. Namun, sejujurnya ia tidak akan mempelajari resep-resep itu dan mempraktekannya kalau tahu bahwa Li Junyan akan memarahinya dan komplen panjang lebar.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Chu Yue mengetuk pintu kamar. Qiao Rong pun segera menyuruh gadis itu untuk masuk.


Chu Yue kelihatan senang melihat semua cek-cek itu bertumpuk walaupun berantakan. Sepertinya modal investasi yang Qiao Rong lakukan sudah sepenuhnya balik modal dalam sebulan. Bukankah itu suatu hal yang amat luar biasa?


Padahal, Qiao Rong hanya memanfaatkan keinginan wanita-wanita kaya yang ingin tetap berwajah muda.


"Kau lihat Chu Yue, dalam sebulan kita mendapatkan delapan ratus koin perak. Di Desa Nanshan, kita bisa mendapatkan seribu enam ratus karung beras dan memberi makan seluruh desa berbulan-bulan atau mungkin setahun lebih." Qiao Rong mengandai-andai.


Chu Yue hanya tertawa mendengar pemikiran nonanya itu. Tentu ia tahu bahwa Qiao Rong sangat rindu pada desa itu, apalagi pria yang dia temui disana.


Tetapi, sejujurnya ada satu hal yang terus menerus menganggu pikiran gadis itu setelah Kompetisi Empat Musim berakhir. Oleh karena itu, sekarang ia memberanikan diri untuk membicarakan topik ini dengan Qiao Rong.


"Yang Mulia.." Chu Yue memanggil Qiao Rong dengan pelan.


"Ya?" Qiao Rong kini menatap wajah gadis itu kebingungan.


"Sekarang karena anda sudah tidak mempunyai tunangan, bukankah Kaisar akan segera memilihkan seseorang lagi untuk anda?" Tanya Chu Yue dengan raut wajah khawatir.


Qiao Rong hanya tersenyum.


"Mari kita coba lihat apakah dia bisa. Aku percaya sebentar lagi dia akan datang." Qiao Rong menjawab dengan misterius dan kembali ke pekerjaannya sebelumnya, meninggalkan Chu Yue yang kebingungan.


*****


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Shen Haofeng tanpa menoleh pada Jiang Junwei yang ada di belakangnya.


"Ya, Yang Mulia, tapi para tetua masih tidak setuju kau mengadakan kunjungan resmi seperti ini." Jiang Junwei menjawab dengan nada khawatir.


"Oh? Sepertinya mereka terlalu lupa akan posisi tetua karena kematian kakekku?" Mendengar balasan Shen Haofeng, Jiang Junwei hanya bisa berdeham dengan canggung.


"Katakan pada mereka, yang sudah tidak tahan, silahkan bergabung saja dengan Sekte Langit atau Sekte Matahari, dan siap-siap untuk diburu." Shen Haofeng berkata dengan dingin dan bernada tajam.


Sesaat, seluruh ruangan itu menjadi pekat dengan aura qi yang sangat besar. Jiang Junwei agak kesulitan bernapas, untungnya kondisi itu tidak bertahan lama.

__ADS_1


Jiang Junwei tentunya segera pergi untuk memberitahukan ancaman itu kepada para tetua.


"Sebentar lagi.. hanya sebentar lagi.." Shen Haofeng menatap keluar jendela ruangan itu dengan senyuman.


__ADS_2