Abandoned Princess

Abandoned Princess
Lu Mingzhi (2)


__ADS_3

"Kakak!" Ye Xiaoran terlihat tersenyum dengan cerah dari kejauhan, rambutnya yang sudah ditata dengan rapi berpadu dengan pakaian berwarna pink yang sangat cocok dengan rambut perak miliknya.


Lu Mingzhi tersenyum membalas anak itu.


Sekarang, Lu Mingzhi yang berumur enam belas tahun, dan Ye Xiaoran yang berumur dua belas tahun, mereka berniat untuk pergi ke festival di Kota Ming.


Semenjak kejadian dengan para murid Tetua Chu, hubungan keduanya menjadi dekat dan tak terpisahkan. Masing-masing bahkan sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung.


Sementara mengenai nasib murid-murid Tetua Chu... Siapa yang tahu? Mereka segera dikeluarkan dari sekte dengan meridian yang hancur. Sementara Tetua Chu dicap sebagai Tetua yang buruk dalam mendidik moral anak didiknya sehingga ia tidak diperbolehkan menerima murid lagi seumur hidupnya.


Ye Xiaoran berjalan dengan riang sambil meloncat-loncat kecil. Di sebelahnya, Lu Mingzhi sudah siap membantunya naik ke atas kereta kuda yang sudah disiapkan dari istal.


Kota Ming memang berjarak tidak jauh dari Gunung Jiuyue, tempat Sekte Matahari berdiri. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam, oleh karena itu Ye Xiaoran dan Lu Mingzhi masih mendapatkan waktu sisa untuk berlatih di pagi hari sebelum berangkat.


Sepanjang jalan, Ye Xiaoran dengan antusias melirik kesana kemari. Tentu sangat wajar, apabila mengingat bahwa Ayahya akhirnya memperbolehkannya pergi melihat kota setelah beberapa tahun penyakitnya sembuh.


"Kakak, lihat!" Lu Mingzhi hanya tertawa dan menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak itu. Ye Xiaoran bahkan menjadi sangat terpesona hanya dengan melihat seekor musang.


Mereka sampai ketika matahari sudah berada di puncaknya. Kota Ming yang termasuk pada wilayah Kerajaan Yuan, tidak sepadat Ibukota Kerajaan Wen. Walaupun begitu, pada waktu itu Kota Ming dipenuhi turis dari kerajaan-kerajaan lainnya yang ingin mengikuti festival.


Festival di Kota Ming itu bernama Festival Bulan Jatuh. Berkaitan dengan mitos yang ada di daerah setempat, dimana seorang pemburu gagah menembak jatuh Bulan untuk menemui wanita yang ia cintai, yang berada di Bulan karena sebuah kutukan.


Ye Xiaoran sudah mendengar mitos itu berkali-kali, sebagai seorang anak perempuan yang sudah memasuki usia pubertas, ia sangat tertarik untuk mengunjungi festival itu karena cerita romantis dibaliknya.


"Kakak Zhi! Lihat! Ayo kita beli itu!" Lu Mingzhi hanya bisa meladeni permintaan adik kecilnya itu, yang baru melihat banyaknya penjual di kota.


Mereka membeli tanghulu, aksesoris rambut, gelang, dan beberapa pasang sepatu untuk Ye Xiaoran.


Anak itu dengan senang memeluk lengan Lu Mingzhi sambil berjalan.


"Ini pasti adalah hari yang paling bahagia untukku!" Ye Xiaoran tersenyum seperti biasanya.


"Baiklah kalau begitu! Kita beli hal-hal lainnya!" Balas Lu Mingzhi dengan bersemangat.

__ADS_1


Mereka berjalan dengan riang hingga menemukan sebuah panggung arena di tengah kota. Banyak orang berkerumun untuk melihat pertarungan yang terjadi di atas arena. Mereka semua bersorak ketika salah satu pria yang bertanding menang.


Di samping arena, ada rak khusus berisi hadiah yang akan diberikan kepada pemenang. Ada banyak barang berharga seperti ginseng yang sudah berumur lima ratus tahun, Pil Naga Emas untuk menambah kultivasi, juga Pil Pembangkit untuk memperbaiki meridian yang hancur.


Ye Xiaoran dengan senang menunjuk Pil Naga Emas yang terpajang, pemenang bisa memilih apapun yang mereka inginkan di rak itu.


"Kakak! Bagaimana jika kita menghadiahi guru Pil Naga Emas?" Ye Xiaoran terlihat begitu antusias. Lu Mingzhi segera mengangguk, ia juga merasa bahwa itu ide yang bagus.


Namun, baru saja Lu Mingzhi ingin berbicara pada wasit yang berada di samping arena, Ye Xiaoran tiba-tiba meloncat masuk ke dalam panggung arena itu. Lu Mingzhi tentu terkejut.


"Wah! Nona kecil pemberani yang satu ini kelihatan berapi-api sekali!" Ujar wasit sembari segera bersiap-siap.


"Adakah yang mau menantangnya?" Tanya si wasit ke seluruh penjuru kerumunan.


Tiba-tiba seorang pemuda dengan topeng dan jubah yang terlihat mahal maju dengan perlahan dari arah kerumunan.


Lu Mingzhi mengernyitkan alisnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pria itu.


"Tidak apa-apa, Kak. Hanya ingin mengetes kemampuanku." Gadis kecil itu tersenyum ke arah Lu Mingzhi.


Tapi ternyata harapannya itu tidak terkabul.


"Xiaoran! Turun sekarang juga!" Teriak Lu Mingzhi dengan panik saat pemuda itu mulai menginjakkan kakinya di atas panggung arena.


Ye Xiaoran mengabaikan teriakan Lu Mingzhi dan segera memberi hormat kepada lawannya itu. Lagipula, seluruh panggung sudah diliputi oleh tembok transparan yang terbuat dari batu qi. Namun sepertinya karena dibuat untuk festival kecil di Kota Ming saja, batu qi ini tidak terlalu berharga karena kualitasnya tidak sebagus batu-batu qi lainnya.


Setelah terlapis oleh tembok transparan, tidak ada seorang pun yang bisa memasuki arena. Kecuali orang yang ada di dalam keluar dengan sendirinya. Oleh karena itulah Lu Mingzhi khawatir pada keselamatan Ye Xiaoran.


Perasaan Lu Mingzhi terbukti benar. Alasan Lu Mingzhi menyuruh Ye Xiaoran untuk segera turun, tak lain karena Lu Mingzhi akhirnya melihat kekuatan sesungguhnya pemuda itu tepat setelah sepasang kaki pemuda itu mendarat di atas panggung.


Ye Xiaoran tidak akan pernah menang dari pemuda itu. Bahkan Lu Mingzhi pun tidak bisa. Kultivasi pemuda itu sudah jauh melampaui mereka berdua, bahkan walaupun Lu Mingzhi dan pemuda itu kelihatan seumuran.


Lu Mingzhi berdecak dan mengepalkan tangannya dengan erat. Ia sangat khawatir.

__ADS_1


Aba-aba wasit terdengar, dan kedua belah pihak melesat dengan cepat ke arah masing-masing.


Satu pukulan.


Satu pukulan yang dibutuhkan pemuda itu untuk membuat Ye Xiaoran terkapar hingga muntah darah tak berdaya di lantai panggung.


Lu Mingzhi merasa sangat tidak berdaya. Detik berikutnya ia langsung melompat ke atas panggung.


Lu Mingzhi memeluk tubuh Ye Xiaoran dengan erat, darah mengotori pakaiannya. Nafas gadis itu sangat lemah. Lu Mingzhi menggeram ke arah si pemuda misterius itu.


Tiba-tiba, entah darimana seorang Kakek muncul di sebelah pemuda itu. Kakek itu berjalan perlahan ke arah Lu Mingzhi, lalu mengecek nadi Ye Xiaoran.


Kakek itu menggelengkan kepala.


"Kau ini! Hanya kusuruh memenangkan Pil Naga Emas itu kenapa bisa seperti ini?!" Kakek itu kelihatan kesal dan memukuli pemuda tadi dengan pelan. Lalu ia berbalik ke arah Lu Mingzhi.


"Haiyah! Anak muda! Aku minta maaf atas kelakuan muridku ini! Katakan! Kenapa kau bisa membuat anak perempuan ini jadi seperti itu?" Tanya Kakek itu pada si pemuda.


"Dia kelihatan kuat. Aku khawatir. Jadi menggunakan kekuatan penuh." Kata pemuda itu dengan singkat.


Si Kakek menggelengkan kepalanya, lalu dengan cepat memasukkan sebuah pil kecil ke dalam mulut Ye Xiaoran. Lu Mingzhi hanya bisa terkejut karena matanya tidak bisa menandingi kecepatan Kakek itu.


"Ini adalah permintaan maafku. Dia akan terjamin tetap hidup dengan pil itu. Tapi kau harus tetap menyembuhkan luka dalamnya. Sisanya, tergantung anak ini kapan dia akan bangun."


Lu Mingzhi belum berkata apa-apa, namun Kakek itu sudah menghilang dengan pemuda misterius itu.


Ia hanya bisa menyiapkan hati menghadapi Tetua Ye. Reaksi Tetua Ye.. Ia yakin akan sangat memilukan. Namun ia akan bertanggung jawab sepenuhnya, karena dialah yang hari ini menemani Ye Xiaoran ke Kota Ming.


Lu Mingzhi bangkit dengan menggendong tubuh Ye Xiaoran.


Hanya satu hal dalam pikirannya saat ini, ia pasti akan membalas kejadian hari ini pada pemuda misterius itu. Namun ia akan meringankan pembalasan itu sedikit karena Kakek itu tadi sudah memberikan permintaan maafnya dengan pil tadi.


Hanya satu hal yang Lu Mingzhi lihat pada mereka.

__ADS_1


Bros Bulan Sabit.


__ADS_2