
Sosok Lan Long yang menerjang Badak Perak langsung membuat Zhang Guo berkeringat dingin.
Ia tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari roh pelindung macam apa yang dimiliki Qiao Rong. Bahkan sedari kecil ia masih ingat hal-hal yang sering diceritakan para tetua Keluarga Zhang mengenai empat roh pelindung legenda yang masing-masing menjaga empat daerah Raja Roh yang tertidur.
Naga Air penguasa daerah Timur, Harimau Putih penguasa daerah Barat, Burung Api penguasa daerah Selatan, dan Kura-kura Hitam penguasa daerah Utara,
Sayangnya, Zhang Guo juga termasuk kalangan umum orang yang hanya mengetahui bahwa roh pelindung didapatkan dengan keberuntungan, bukan pilihan roh sendiri.
Kini Zhang Guo bahkan tidak bisa menyalahkan keberentungan Qiao Rong. Seorang putri lemah yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang Kaisar karena ketidakmampuannya dibanding saudara-saudarinya. Namun malah orang seperti itu yang mendapatkan roh pelindung legendaris.
Zhang Guo sudah menyadari kekalahannya sekarang. Juga kekalahan cucunya, Rencana Keluarga Zhang untuk menguasai Kerajaan Wen selama bertahun-tahun hancur sudah tepat di depan matanya.
Namun Zhang Guo tidak ingin menyerah. Seseorang seperti Qiao Rong, yang kekuatannya sebesar itu pasti memiliki ambisi yang besar juga, Sekarang Zhang Guo akan mundur, namun ia akan kembali lagi setelah gadis itu meninggalkan Kerajaan Wen, barulah ia akan melancarkan kudeta pada siapapun yang menjadi Kaisar. Dengan kekuatan Keluarga Zhang, dan dirinya seorang, tentu semuanya tidak akan menjadi omongan belaka.
Dalam sekejap, Badak Perak milik Zhang Guo menghilang. Diikuti dengan kaburnya master dari roh pelindung itu. Lan Long menggeram kesal karena baru bisa menerjang Badak Perak itu sekali saja.
Qiao Rong tersenyum sinis.
"Lan Long, aku tidak mau mempunyai musuh lagi," ujar Qiao Rong.
"Baiklah, Master." Lan Long melesat dalam sekejap.
Beberapa menit kemudian, Lan Long kembali ke hadapan Qiao Rong dengan sebuah kepala yang langsung ia lempar ke tanah.
Qiao Rong tersenyum kecil, lalu berjalan ke depan dan mengelus-elus kepala naga itu.
Tidak menunggu lama lagi karena tugasnya telah selesai, Lan Long segera kembali mengecil dan menghilang kembali ke dalam telapak tangan Qiao Rong.
Sementara itu, Shen Haofeng yang dari tadi menonton pertarungan seru dari kejauhan itu hanya tersenyum kecil sambil menatap ke arah Qiao Rong dengan lembut. Lalu berjalan perlahan mendekati gadis itu.
Shen Haofeng memang sudah lama yakin ada yang istimewa dari gadis itu, tapi ia tidak menyangka bahwa calon tunangannya itu juga memiliki roh pelindung legendaris sepertinya. Shen Haofeng penasaran, rahasia apalagi yang gadis itu miliki? Namun memikirkan semua rasanya percuma, ia cukup puas hanya dengan mendampingi Qiao Rong.
Qiao Rong bukanlah kelemahan Shen Haofeng, bukan juga kelemahan Raja Bulan. Ia tahu gadis itu memiliki kekuatan yang tidak biasa. Wanitanya itu spesial, dan tugas Shen Haofeng hanyalah menemani dan mencintainya, serta melindungi Qiao Rong jika gadis itu membutuhkannya. Shen Haofeng akan memanjakan Qiao Rong sepuas hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba, Feng Huang mewujud dengan sendirinya. "Heh! Siapa sangka ternyata inilah manusia pilihanmu, naga tua!" ucap Feng Huang dengan nada mengejek.
Lan Long yang terprovokasi oleh omongan itu akhirnya juga mewujud dan membalas. "Siapa juga yang menyangka kau ternyata sudah memilih manusia perantara? Pantas saja Istana Api tidak gaduh beberapa tahun ini."
Feng Huang dan Lan Long melanjutkan pertengkaran mereka selama beberapa detik selanjutnya.
Namun menyadari bahwa roh pelindung Shen Haofeng juga tidak biasa, Qiao Rong dan Shen Haofeng hanya bisa tertawa melihat keduanya bertengkar dengan sengit saling mengejek.
"Sudah cukup." Dengan kata-kata dari Masternya, sontak Feng Huang bungkam. "Qiao Rong, kenalkan, ini Feng Huang, Burung Api penjaga Istana Api daerah Selatan dunia roh." Shen Haofeng mendekatkan telapak tangannya pada Qiao Rong.
Qiao Rong pun mendekatkan wajahnya untuk melihat Feng Huang dengan antusias. Entah kenapa ia merasa burung itu sangat imut, persis seperti pemiliknya.
Qiao Rong mencoba mengelus tubuh kecil Feng Huang. Bulu-bulu apinya terlihat indah, oleh karena itu Qiao Rong tertarik mengelusnya. Namun siapa sangka kalau ternyata tubuh burung itu tidak panas sama sekali?
Qiao Rong tersenyum.
"Senang bertemu denganmu," ujarnya dengan ramah.
Sebagai balasannya, burung itu hanya mengangguk dan membungkuk dengan elegan. Lalu ia dan Lan Long sama-sama kembali ke dunia roh.
Selama pertarungan tadi, seluruh kasim dan dayang yang ketakutan karena kekacauan yang terjadi hanya bisa bersembunyi di aula istana. Kini, mereka semua keluar dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu, Pangeran Qin berlari ke arah Qiao Rong dari kejauhan.
"A-adik, apa itu barusan? A-Ah! Hormat pada Yang Mulia Raja Bulan!" Wajah Pangeran Qin dipenuhi rasa penasaran, juga rasa khawatir. Ia cukup terkejut ketika melihat Raja Bulan mengikuti Qiao Rong dari belakang. Namun ketika ia mengingat fakta bahwa mereka berdua akan bertunangan, ia cepat-cepat menghilangkan rasa aneh itu.
"Bukankah sudah Adik janjikan kepada Kakak? Silahkan, sekarang takhta itu adalah milik Kakak sepenuhnya." Mendengar perkataan Qiao Rong, mata Pangeran Qin menjadi berbinar-binar.
Ia tidak menyangka akhirnya kesepakatan mereka berhasil dan selesai tanpa ada masalah apapun.
Keluarga Su berhasil disingkirkan, dan walaupun Pangeran Qin sedih dengan fakta bahwa Kaisar, Ayahnya, dan Selir Wu, Ibunya yang selama ini ia percayai wafat begitu saja, namun akhirnya ada kabar baik yang dibawakan Qiao Rong.
Memang itulah yang menjadi kesepakatan mereka saat Pangeran Qin memutuskan untuk bekerjasama dengan Qiao Rong untuk menghapuskan Keluarga Su dari Kerajaan Wen.
__ADS_1
Dan hari ini ia mendapatkan takhtanya.
*****
Kegaduhan di Istana memang sudah selesai, namun tidak begitu dengan kegaduhan yang ada dalam hati Selir Shu.
Pandangan Qiao Rong saat menebas kepala Putra Mahkota masih terlihat dengan jelas dalam pikirannya.
Selir Shu sekali lagi bergidik ngeri. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa anak yang selama ini ia didik dan ia sayangi ternyata punya sisi lain yang sama sekali tidak ia ketahui. Apakah ini salahnya? Atau salah Kaisar yang selalu mengabaikan anak itu sehingga sifat brutalnya meledak begitu saja? Selir Shu tidak habis pikir.
"Fang ... Apa yang harus kulakukan? Mirip siapa ia sebenarnya?" Selir Shu menggumam kecil.
Ia juga sudah menyadari dari pertarungan tadi, Kepala Keluarga Zhang datang dan bertarung dengan Qiao Rong. Itu sudah pasti. Pertanyaannya adalah siapa yang menang?
Selir Shu ingin berdoa sepenuh hati bahwa yang menang adalah putrinya, tapi untuk muncul dan melihat anak itu sekarang, ia merasa ketakutan.
Ia sudah tidak bisa lagi mengenali Qiao Rong yang lembut, yang pemalu, dan cengeng di pelukannya seperti dulu.
Kemana gerangan perginya putrinya yang manis itu? Selir Shu memang sangat senang saat Qiao Rong memberitahunya bahwa ia bisa berkultivasi. Itu adalah hal yang bagus, namun kapan anak itu menjadi sekuat ini?
Selir Shu berjalan meja rias di samping tempat tidurnya. Ia tidak bisa begini terus-terusan.
Selir Shu meraih sebuah cermin. Cermin yang selama ini tidak pernah ia gunakan selama belasan tahun lamanya.
Ia lalu melingkupi cermin itu dengan qi.
Perlahan, munculah sebuah wajah yang dari dulu ia puja. Wajah seorang pria yang cintanya tidak pernah bisa ia dapatkan.
"A-Aku ... Aku tidak bisa membesarkannya lagi. Aku tidak bisa menatap anak itu lagi!" Selir Shu terdengar sangat putus asa, dan airmata mulai bercucuran.
"Ia berhak mengetahui kebenarannya. Beritahu ia, anak itu sudah cukup besar untuk mulai menjalani hidupnya sendiri," lanjut Selir Shu.
Sosok yang ada di cermin itu terlihat terkejut dan bingung.
__ADS_1
"Beritahu ia ... Lu Guang."