Abandoned Princess

Abandoned Princess
Kompetisi Empat Musim (1)


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Qiao Rong akhirnya membuka matanya dan merasakan energi yang baru menyelimuti tubuhnya. Ia sudah berhasil naik ke tingkat Bumi Akhir.


"Selamat!" Ucap Li Junyan.


Para roh pelindung juga mengatakan hal yang sama. Qiao Rong tersenyum. Dengan ini dia bisa dapat langsung memulai balas dendamnya pada orang-orang yang menyakiti Qiao Rong yang asli sebelumnya.


Qiao Rong keluar dari kamar dan memanggil Chu Yue. Chu Yue yang tergesa-gesa pergi karena panggilan Qiao Rong pun tiba dengan napas tersengal-sengal.


"Chu Yue, hari ini..?" Tanya Qiao Rong.


"Sehari sebelum Kompetisi Empat Musim, Yang Mulia." Mendengar hal itu, Qiao Rong tersenyum. Perkiraannya akurat, dan ia akan segera menggali lubang yang besar untuk pasangan dari neraka itu.


Tunggu saja.


*****


Kompetisi Empat Musim adalah kompetisi yang diadakan setahun sekali pada pertengahan musim gugur. Sudah empat bulan sejak Qiao Rong beradaptasi dengan tubuhnya, yang berarti dia tiba di dunia ini saat musim panas.


Kompetisi Empat Musim akan diadakan di Ibukota dengan panggung yang sangat besar dan ditonton oleh masyarakat kota maupun pendatang dari desa.


Para peserta harus mengambil undian berupa nomor. Lalu mereka akan melawan peserta lain dengan nomor yang sama. Sementara untuk senjata yang dipakai, semuanya sudah disiapkan oleh Kaisar. Tentunya karena Putri Lan adalah peserta reguler dari kompetisi ini, maka sponsornya pun adalah Keluarga Kerajaan.


Pertandingan ini akan berlangsung selama satu hari, dari pagi sampai sore, dengan sistem satu lawan satu. Dimana para peserta akan berduel sampai menemukan pemenang yang berhasil mengatasi semua duel.


Saat ini, Qiao Rong sedang bersiap-siap untuk pergi ke Ibukota. Chu Yue sudah menyiapkan kereta kuda untuknya. Begitu kereta kuda yang disiapkan sudah siap, Qiao Rong segera berangkat sendirian.

__ADS_1


Sesampainya di tempat kompetisi, Qiao Rong segera berjalan ke arah sebuah meja kecil dengan tulisan 'Pendaftaran Peserta' di atasnya. Pria yang ada di meja pendaftaran itu segera terpana melihat Qiao Rong.


Wajah Qiao Rong memang sudah cantik, dulu hanya tertutup tanda lahirnya. Namun kini, tanda lahirnya itu malah membuat penampilannya makin menarik. Belum lagi aura elegan yang memancar karena kepercayaan dirinya. Apalagi karena kultivasi yang membuat bentuk tubuhnya menjadi ideal dan raut wajahnya semakin segar. Bahkan laki-laki manapun bisa langsung bilang kalau ia lebih cantik daripada Qiao Lan.


"Siapa namamu?" Pria itu segera tersadar dan kembali berfokus pada pekerjaannya sekarang.


"Qiao Rong." Kata Qiao Rong sambil tersenyum.


Melihat senyuman itu, bahkan pria itu tidak sempat berpikir lagi dan hanya menuliskan namanya dengan setengah sadar. Lalu, pria itu memberikan kertas tanda peserta padanya dan membiarkannya masuk ke bangunan tempat kompetisi akan dilangsungkan.


Bangunan yang sangat besar itu berbentuk bundar. Juga diisi dengan seluruh kursi kayu sederhana di setiap tingkatnya. Qiao Rong memperkirakan bahwa bangunan itu memiliki 5 tingkat ketinggian, masing-masing tingkatan kursi tersambung dengan tingkatan atasnya. Sementara di tengah-tengah bangunan sudah ada panggung berbentuk lingkaran yang besarnya menyamai lingkar atap bangunan itu.


Qiao Rong memang harus mengakui, walaupun kultivasi seribu tahun ini sudah tertinggal jauh, namun dalam bidang arsitektur sama sekali tidak. Ia tidak akan bisa membayangkan bangunan seperti ini ada seribu tahun yang lalu.


Li Junyan yang berada di sampingnya juga jadi bersemangat melihatnya. Apalagi sudah banyak orang yang duduk di kursi untuk menonton. Bahkan Qiao Rong melihat bahwa Kaisar sudah hadir dengan menduduki kursi emas yang khusus disiapkan untuknya dan Permaisuri serta Putra Mahkota di samping kanan dan kirinya.


Ruang tunggu itu sudah dipadati dengan peserta yang siap bertarung. Qiao Rong memperkirakan setidaknya ada lima puluh orang di ruang tunggu itu, termasuk Qiao Lan, yang saat ini sedang dikelilingi para penggemar prianya.


"Yang Mulia! Senyum anda bagaikan sang dewi sendiri yang menurunkan hujan berkah bagi kami!" Salah satu peserta yang berada di sampingnya bahkan mengatakan sesuatu yang begitu berlebihan. Qiao Rong hanya tertawa melihatnya, begitu juga Li Junyan, yang saat ini tentu tidak bisa dilihat oleh siapapun kecuali Qiao Rong.


Melihat Qiao Rong, Putri Lan tertawa mengejek. Namun, dengan memandang Qiao Rong, justru para peserta yang mengaguminya malah terpana akan kecantikan Qiao Rong dan berbalik mengerubungi gadis itu. Melihat itu, tentu amarah Qiao Lan tidak bisa dibendung lagi. Walaupun dia harus mengakui bahwa Qiao Rong kelihatan sangat cantik dan lebih cantik darinya sekarang, dia tidak mau menerima kekalahan ini begitu saja.


"Oh, begitu cepatnya kalian berganti tuan? Baiklah!" Qiao Lan berjalan ke arah Qiao Rong sambil mendorong beberapa peserta pria yang menghalangi jalannya. "Perkenalkan, saudaraku, Putri ke tujuh kita yang terkenal. Qiao Rong." Begitu Putri Lan menyebut namanya, para pria itu langsung mundur.


"Ah.. tentu kami tidak akan pernah mengkhianati anda Yang Mulia. Kecantikan anda tidak ada apa-apanya dibanding kultivasi anda." Ucap pria yang sama, yang mengeluarkan kata-kata dramatis tadi.


Putri Lan tentu puas mendengarnya.

__ADS_1


Heh, seberapa cantiknya kau, tidak akan ada gunanya kalau kau tidak memiliki roh pelindung. Batin Putri Lan.


Qiao Rong tentu dapat melihat senyuman mengejek Qiao Lan yang dilontarkan berkali-kali padanya selama berada di ruang tunggu itu. Namun, daripada memikirkan orang yang sebentar lagi akan kalah, Qiao Rong lebih fokus dalam memilih senjata yang sudah didistribusikan di ruang tunggu.


Ada sangat banyak senjata yang dibagikan, dan tentunya berasal dari Istana. Pedang, belati, kapak, tombak, bahkan cambuk pun ada. Para peserta langsung memilih senjatanya masing-masing, sesuai dengan keahlian ataupun teknik yang dipelajari. Apalagi mata mereka yang begitu berbinar-binar melihat kualitas senjata dari Istana. Bagi masyarakat di Ibukota, hanya para bangsawan dan pejabat yang bisa membeli senjata dengan kualitas tinggi di rumah lelang.


"Bagaimana dengan tombak? Di ruangan Kitab Yin Yang ada banyak sekali teknik mengenai tombak mudah yang bisa kau pelajari selagi menunggu." Li Junyan memberi saran sembari menunjuk salah satu tombak dengan kualitas yang menurutnya paling bagus..


Tapi Qiao Rong menggelengkan kepalanya. Ia sudah menemukan benda yang paling sering ia gunakan sewaktu masih menjadi Li Wenhua. Kini ia memegang sebuah cambuk panjang di tangannya. Memegang cambuk itu, rasanya kembali memegang teman lama. Ia juga sudah mempunyai sangat banyak teknik cambuk dan pengalaman bertarung dengan cambuk yang bisa ia gunakan kali ini.


Li Junyan hanya menghela napas. "Pilihlah apa yang menurutmu paling cocok." Lalu ia kembali menghilang ke ruangan Kitab Yin Yang.


Qiao Rong menggenggam cambuk itu dengan erat dan menunggu gilirannya mengambil nomor.


Setelah nomor dibagikan seluruhnya, para peserta segera bersiap-siap untuk yang terakhir kalinya. Namun, Qiao Rong hanya duduk dengan tenang sambil mengayunkan cambuknya untuk membawa kembali kenangan lama.


Dari belakang, tiba-tiba Putri Lan muncul. "Yo, pertama kali memakai cambuk? Melihat Adik sangat berusaha kali ini, aku menjadi sedikit terharu." Qiao Lan sudah salah besar mengira Qiao Rong mengayun-ayunkan cambuk itu untuk berlatih karena baru pertama kali memakainya. Namun sebenarnya perkiraan itu tidak salah, karena sebelumnya Qiao Rong yang asli memang tidak pernah memegang cambuk.


"Terimakasih atas perhatiannya, Kakak." Qiao Rong membalas dengan senyum dan kembali melanjutkan aktivitasnya ke kedua sisi tembok.


Qiao Lan akhirnya berjalan pergi dan berusaha memperkirakan lawannya di ronde yang akan datang.


Namun, jika seseorang melihat aktivitas Qiao Rong kali ini dengan baik-baik, mereka tentu dapat melihat bahwa Qiao Rong sebenarnya sudah sangat ahli dalam mengayunkan cambuk. Ia mengayunkan cambuk itu ke kanan dan ke kiri sehingga mengenai dua sisi tembok. Setiap cambukan, mengenai titik yang sama seperti sebelumnya, bahkan tidak bergerak satu sentimeter pun. Setelah beberapa puluh detik bahkan cambukan itu sudah mengikis lapisan tembok.


Sayangnya, karena masih terbayang-bayang dengan tidak adanya roh pelindung, sama sekali tidak ada yang berani mendekati Qiao Rong. Bahkan mereka menghindarinya dan hanya melihatnya dari kejauhan karena wajah cantiknya.


Setelah bernostalgia kembali dengan cambuk, Qiao Rong tersenyum. Ia sudah siap.

__ADS_1


__ADS_2