
Kini Qiao Rong yakin sepenuhnya bahwa pelaku utama dibalik kemenangan timnya adalah Profesor Yun.
Orang yang tidak terlatih dengan cacing Gu seperti Jiang Junwei maupun Lu Mingzhi tentu tidak akan menyadari aroma cacing Gu yang khas, berasal tepat dari belakang pohon di tempat mereka hampir bertarung tadi.
Takutnya, identitas Profesor Yun tidak sesederhana yang kelihatan.
Namun Qiao Rong sendiri masih bingung, keuntungan apa yang ia dapatkan? Apa tujuan utamanya?
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kunci dari semua ini adalah bunga api keabadian. Namun kalau memang Profesor Yun berniat jahat, mungkin wanita itu akan memanfaatkan Lu Mingzhi yang dengan putus asanya membutuhkan bunga api keabadian.
Qiao Rong hanya selesai berpikir sampai disitu ketika ia dan Jiang Junwei tiba di depan susunan ilusi Menara Bulan.
"Hamba hanya mengantar nona sampai disini saja. Begitu nona sampai di lantai kedua belas, bisa langsung menemui Tabib Luo, tabib yang waktu itu mengobati nona di Desa Nanshan." Dalam hatinya, Jiang Junwei menghela napas lega karena Tabib Luo sudah kembali dari pengembaraannya dan meneruskan posisi nya lagi sebagai tabib utama Sekte Bulan.
Bagaimanapun juga, Tabib Luo merupakan salah satu orang kepercayaan Raja Bulan terdahulu. Hati Jiang Junwei tentu akan lebih tenang menyerahkan kondisi Shen Haofeng ke dalam tangan Tabib Luo dibandingkan tabib-tabib Sekte Bulan lainnya.
Qiao Rong mengangguk. Ia juga dapat mengerti kesibukan pria itu, terutama saat Shen Haofeng dalam kondisi yang tidak memungkinkan baginya untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai Raja Bulan.
Jiang Junwei mengepalkan kedua tangannya dan membungkukkan tubuhnya kepada Qiao Rong sebagai tanda penghormatan sebelum ia pergi.
Setelah pria itu tidak terlihat lagi, Qiao Rong menatap susunan ilusi di depannya dengan gugup. Terakhir kali ia berada di Menara Bulan, susunan ilusi inilah yang membuatnya sangat tertarik pada bangunan itu.
Waktu itu, Jiang Junwei hanya mengulurkan tangannya dan menarik Qiao Rong masuk melewati susunan ilusi hingga bisa sampai di bangunan Menara Bulan yang asli.
Namun kini tidak ada Jiang Junwei yang menemaninya. Seharusnya susunan ilusi ini sudah diatur sedemikian rupa untuk memperbolehkan orang melewati susunan itu berdasarkan sebuah daftar yang ada di inti ilusi. Karena Qiao Rong sudah pernah masuk sekali, pastilah Jiang Junwei sudah memasukkan dirinya pada daftar itu sebelumnya.
__ADS_1
Orang yang tidak ada dalam daftar tersebut dan mencoba masuk melewati ilusi akan tewas di tempat. Namun tidak akan ada bekas mayat di tanah, sebab mayat tersebut akan diserap oleh inti ilusi sebagai salah satu sumber energi untuk memelihara susunan ilusi.
Karena alasan inilah, Qiao Rong sangat tertarik dengan susunan ilusi tersebut.
"Sekte Bulan memang sungguh menakjubkan dan mengerikan disaat yang bersamaan." Li Junyan yang muncul tiba-tiba kini sudah tidak lagi membuat Qiao Rong terkejut. Dan ia sepenuhnya setuju dengan omongan bocah itu.
"Orang gila mana yang akan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk masuk ke dalam Menara Bulan? Mungkin itu sebabnya semua pelayan dan pekerja yang ada di dalam sangat setia," lanjut Li Junyan. Lagi-lagi Qiao Rong setuju dengan perkataannya. Mungkin hanya dengan susunan ilusi seperti ini, barulah kesetiaan seseorang terhadap sekte bisa terjamin.
Dan alasan ini pula yang membuat Yun Tao Fan harus rela menggunakan salah satu cacing Gu berharganya hanya untuk mendapatkan sebuah intel dari dalam Menara Bulan. Sebab, ia pasti tidak akan selamat kalau mencoba masuk ke dalam Menara Bulan dengan paksa.
Qiao Rong menyingkirkan pikirannya untuk sementara dan melangkah ke depan, melewati susunan ilusi dengan mudah.
Sebelum berjalan lebih lanjut ke arah pintu masuk utama Menara Bulan, Qiao Rong tidak lupa untuk memasang anting yang diberikan Shen Haofeng padanya.
Di pintu masuk utama Menara Bulan, Qiao Rong tidak menemukan satu pun penjaga. Sama seperti waktu ia datang tempo hari. Lagipula, siapa yang butuh penjaga di luar pintu kalau susunan ilusinya saja sama ketatnya seperti pengawasan sepuluh ribu penjaga sekaligus?
Qiao Rong mulai 'menutup mata' dari dunia luar. Ya, ia akan mencoba memasang wajah datar selama dalam perjalanan menuju lantai dua belas dengan banyaknya pelayan yang akan berhenti bekerja dan memberi hormat padanya di setiap lantai.
Dan untungnya ia berhasil melakukannya.
Qiao Rong menghela napas lega begitu menginjakkan kakinya di tangga terakhir. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian, baginya hal itu sangatlah melelahkan.
Para penjaga yang berjaga di depan kamar Shen Haofeng juga bereaksi sama seperti pelayan-pelayan di bawah. Mereka bahkan langsung membiarkannya masuk begitu saja.
Begitu Qiao Rong membuka pintu, seorang sosok pria berumur enam puluh tahunan dapat terlihat sedang berdiri di samping tempat tidur.
__ADS_1
Namun selain sesosok itu, pemandangan di kamar itu sama sekali belum berubah semenjak kali terakhir Qiao Rong datang. Shen Haofeng masih terbaring di atas tempat tidurnya, tidak berubah sama sekali.
Qiao Rong baru saja akan memberi hormat pada pria paruh baya yang ada di depannya, namun pria itu duluan yang memberi hormat padanya. Tidak enak hati, Qiao Rong memilih untuk membalas penghormatan itu.
"Nona tidak perlu begitu. Sebagai pemakai anting, status nona sama saja seperti Raja Bulan, tidak kurang dan tidak lebih," ujar Tabib Luo.
Akhirnya. Akhirnya Qiao Rong mengerti makna dibalik anting itu. Tidak heran semua orang yang ditemuinya di Menara Bulan memiliki reaksi yang agak berlebihan.
Qiao Rong mengangguk pelan, masih tidak bisa mempercayai bagaimana Shen Haofeng bisa memberikannya benda sepenting itu pada waktu mereka mengucapkan selamat tinggal kepada satu sama lain di Desa Nanshan.
"Jadi ... saya asumsikan bahwa nona berhasil mendapatkan bunga api keabadian?" Ucapan Tabib Luo memecahkan lamunan Qiao Rong.
"Ah! Tentu!" Qiao Rong buru-buru mengambil Bunga Api Keabadian itu dari dalam ruangan Kitab Yin Yang. Qiao Rong percaya bahwa Tabib Luo hanya akan menganggapnya memiliki sebuah cincin dimensi, yang sudah lazim dimiliki banyak kultivator kalangan atas, terutama yang berasal dari keluarga kerajaan.
Qiao Rong menyerahkan bunga api keabadian itu kepada Tabib Luo.
Tabib Luo tersenyum melihat bunga yang menyerupai bunga mawar di tangannya itu. Namun, bunga api keabadian tidak bisa dibilang sepenuhnya mirip seperti bunga mawar.
Bunga itu memiliki karakteristik khusus, yaitu api yang berkobar kecil di pangkal mahkotanya. Namun, tidak akan terasa panas jika dipegang.
Dan dengan bunga itu, Tabib Luo memulai pengobatannya.
Qiao Rong mengusulkan bahwa ia lebih baik menunggu di luar kamar. Walaupun Tabib Luo tidak keberatan, namun Qiao Rong memilih untuk menghormati resep rahasia milik Tabib Luo untuk membuat pil obat dari bunga itu.
Kini, Qiao Rong hanya bisa menunggu pria itu bangun dari tidurnya yang cukup panjang.
__ADS_1