
Kaisar terlihat gugup. Sementara Kepala Kasim Qi hanya bisa menggumam khawatir sepanjang waktu.
Itu semua karena tamu terhormat yang mereka takuti sekaligus nantikan akan datang dalam hitungan menit.
Para menteri dan pejabat militer yang juga mengikuti jamuan tidak kalah gugupnya. Suasana ruang jamuan itu begitu canggung. Mereka hanya bisa melamun dan menghitung waktu yang terasa sangat lama detik demi detiknya.
Hingga akhirnya bunyi gendang yang dibunyikan diluar pun terdengar.
"Raja Bulan dari Sekte Bulan!" Dari depan gerbang aula istana, seorang kasim meneriakkan nama tamu.
Deg! Jantung Kaisar rasanya seperti terhenti. Untungnya Kepala Kasim Qi langsung berdeham dan membuat Kaisar tersadar untuk segera bersiap memberi hormat.
Seorang pria dengan satu ajudan yang mengikuti dibelakangnya, berpakaian serba hitam dengan bros bulan sabit perak yang tersemat di dada kanan.
Wajah pria itu tertutup oleh topeng hitam yang menutupi sebelah wajahnya. Hanya mulut dan mata sebelah kirinya yang dapat terlihat. Aura pria itu begitu misterius.
Sementara itu, rambut pria itu tergerai panjang ke belakang dengan warna hitam pekat dengan satu poni samping yang agak menutupi sebagian topengnya. Namun, bahkan dari kejauhan orang-orang yang hadir bisa melihat betapa berwibawanya pria itu.
Kaisar segera membungkuk. "Hormat pada Raja Bulan."
Kaisar menunggu pria itu untuk berbicara, namun setelah menunggu detik demi detik, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut pria itu. Kaisar agak tersinggung karena mengira Raja Bulan memang ingin mempermalukannya dengan membiarkannya membungkuk begitu lama.
Bahkan pria yang disebut-sebut Raja Bulan itu hanya memalingkan muka dan langsung berjalan ke arah salah satu meja yang kosong. Ajudan di belakangnya mengikutinya dengan pelan menemani tuannya itu duduk dengan berdiri di samping Raja Bulan.
Akhirnya pria yang merupakan ajudan itu membuka mulut. "Mohon Kaisar dan tuan-tuan sekalian jangan terlalu mementingkan formalitas. Tuanku memang orang yang terus terang dan tidak terlalu suka berbicara."
Mendengar perkataan ajudan itu, Kaisar dan para tamu undangan lainnya segera menghela napas dan kembali duduk.
Semenjak makanan dibagikan ke setiap meja, Kaisar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Raja Bulan.
Ia selalu terngiang-ngiang oleh pikirannya dari hari ia menerima surat kunjungan resmi itu. Apa tujuan sebenarnya Raja Bulan melakukan kunjungan resmi ke Kerajaan Wen?
Kepala Kasim Qi hanya menasehati Kaisar untuk tidak terlalu banyak berpikir dan menikmati makanan. Menurut Kepala Kasim Qi, nafsu makan Kaisar beberapa hari ini terganggu karena terlalu memikirkan masalah itu. Tentu kesehatan Kaisar tidak boleh sampai terganggu.
Musik mulai bermain dan para penari mulai menampilkan tarian yang sudah mereka siapkan. Para tamu undangan berkali-kali bertepuk tangan setiap kali pertunjukkan selesai.
Namun, Raja Bulan yang dari tadi hanya duduk bahkan tidak bergeming sedikitpun. Juga sama sekali tidak menoleh ke arah para penari yang tampil. Kaisar semakin khawatir. Sepertinya Raja Bulan bukanlah orang yang mudah dihadapi.
Saat jamuan akan berakhir, tiba-tiba Raja Bulan berdiri dan sedikit menggebrak mejanya hingga mengagetkan seluruh tamu undangan, juga Kaisar.
"Kurasa sudah begitu lama aku bersabar menunggu acara ini selesai. Mari berterus terang saja." Raja Bulan berjalan pelan ke depan Kaisar dan memerintahkan ajudan di belakangnya untuk pergi keluar untuk memberinya waktu sebentar.
__ADS_1
Pria itu hanya mengangguk dan menggunakan Bayangan Bulan untuk segera pergi tanpa terdeteksi siapapun.
Kaisar mulai takut, tapi Kepala Kasim Qi mengingatkannya agar tetap tegak dan tidak gemetaran. Bagaimanapun juga, orang di depannya ini memiliki kultivasi beberapa tingkat lebih tinggi darinya. Bagaimana ia tidak takut saat mata tajam itu seperti menusuk dan menembus dirinya?
"Tujuanku kemari..." Kaisar Qiao merasa waktu melambat. Bahkan ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Untuk melamar putri ke-7, Qiao Rong."
*****
"Aneh. Sangat-sangat aneh. Kenapa Kaisar tua itu melarangku ikut ke jamuan?" Qiao Rong kini sedang memutar otak di kamarnya bersama Li Junyan.
"Ya, aku setuju. Sepertinya kunjungan resmi ini tidak biasa. Antara Raja Bulan memang memiliki maksud tertentu atau Kaisar yang menyembunyikan sesuatu." Li Junyan kelihatan sakit pala dari semua usahanya untuk berpikir. Setelah ia mengetahui tamu yang akan datang berdasarkan rumor di istana, bahkan mereka lebih bingung lagi memikirkan tujuan pria itu.
Qiao Rong masih tidak mendapatkan jawaban atas pertanyannya.
Mengapa Kaisar begitu takut pada Raja Bulan? Apakah dia menyembunyikan sesuatu? Batin Qiao Rong.
"Lagipula, Raja Bulan itu orangnya seperti apa?" Qiao Rong bertanya dengan penasaran.
"Ah... Akan susah menjelaskannya. Bagaimana kalau kita menyelinap saja? Asal Master menyembunyikan qi pasti tidak akan terdeteksi." Ujar Li Junyan.
Qiao Rong berpikir bahwa itu adalah ide yang bagus. Ia juga sangat penasaran pada penerus baru Raja Bulan itu. Apa yang membuat pria itu begitu misterius? Bertopeng, tidak menyukai wanita, dan sebagainya. Sudah terlalu banyak hal yang diceritakan Li Junyan hingga membuatnya semakin penasaran untuk melihat pria itu dengan mata kepalanya sendiri.
Qiao Rong menyelinap ke samping gerbang dan tidak sengaja mendengar sebuah suara menggelegar dari dalam.
"Kau tidak menerimanya?" Setelah suara itu selesai terdengar, Qiao Rong menengok sedikit ke dalam aula istana.
Qiao Rong menemukan bahwa para tamu dan pejabat undangan sudah membeku ketakutan. Sementara Kaisar sendiri kelihatannya sudah gemetar karena qi yang dilepaskan oleh pria itu begitu pekat hingga tidak ada yang bisa bergerak.
Bahkan Qiao Rong yang berada di luar pun sedikit terpengaruh. Qiao Rong kini tahu, bahwa orang-orang di ketiga sekte itu menyandang gelar Raja bukan karena alasan sepele.
Namun, baru saja Qiao Rong ingin memuji betapa bagusnya rambut Raja Bulan, kata-kata berikutnya dari Kaisar membuatnya tercengang.
"Ka-kalau Yang Mulia memang ingin melamar Putri Rong, tentu saya tidak akan menolak. Na-namun hal ini harus dibicarakan sendiri dengan anak itu." Kaisar menjawab dengan terbata-bata.
Qiao Rong mematung seketika.
Raja Bulan datang kesini hanya untuk melamarnya? Melamarnya? Apa tidak salah?
Namun hal ini, memang dia yang harus memutuskan sendiri. Bahkan kalau pun Kaisar berkata harus menikahi Raja Bulan, ia tidak akan melakukannya.
__ADS_1
Karena satu Shen Haofeng sudah cukup.
Setelah berpikir panjang, Qiao Rong segera masuk ke dalam aula istana.
"Aku menolak!" Ia berteriak sekeras mungkin. Kaisar menghela napas dengan lega mendengar hal itu.
Wajah Raja Bulan bagai tersambar petir walaupun terhalang oleh topeng yang ia pakai. Namun beberapa detik kemudian, wajahnya kembali tenang.
"Sepertinya memang harus dibicarakan sendiri." Setelah berkata begitu, Raja Bulan berjalan dengan cepat ke arah Qiao Rong yang agak kebingungan. Pria itu tidak akan menyakitinya kan?
Dan detik berikutnya, tubuhnya sudah ada dalam pelukan Raja Bulan.
*****
"Lepaskan aku! Turunkan!" Qiao Rong meronta-ronta saat pria itu menggendongnya. Namun melihat itu, Raja Bulan hanya tersenyum padanya.
Akhirnya pria itu menurunkannya setelah mereka mencapai tempat yang sepi. Qiao Rong mendesah lega. Namun, perlahan pria itu maju ke depannya.
Qiao Rong segera mundur, langkah per langkah. Namun, sialnya pinggangnya malah menyentuh tembok dibelakangnya. Qiao Rong merasa seperti mengalami deja vu. Seperti pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Qiao Rong menatap pria itu dengan penasaran.
Raja Bulan tetap mendekatinya dan akhirnya membuka mulut. "Kau menolakku?" Nada yang dikeluarkan pria itu terdengar sedih tapi juga terdengar seperti iseng sesaat.
Qiao Rong mendorong pria itu karena merasa wajah mereka terlalu dekat. Lalu gadis itu membalikkan badannya memunggungi Raja Bulan.
"Hamba sudah punya orang yang disukai, mohon Yang Mulia mengerti." Qiao Rong berkata dengan tegas.
"Oh?" Mendengar tanggapan dari pria di belakangnya itu, Qiao Rong merasa kebingungan.
"Menurut saya, dia lebih tampan dari anda, dan mungkin kekuatan kalian hampir sama. Tapi dia juga lembut dan tegas pada saat yang sama." Qiao Rong tersenyum saat memikirkan Shen Haofeng.
"Tentu saja saya tidak akan memberitahu siapa dia, siapatahu anda akan—" Baru saja Qiao Rong akan melanjutkan perkataannya, sinar matahari membuatnya melihat suatu benda berkilauan yang sudah tidak asing baginya di telinga Raja Bulan.
Qiao Rong hanya bisa menutup mulutnya saking terkejutnya.
"Shen Haofeng?"
*****
Notes:
__ADS_1
Saya sudah gambar visual anting Shen Haofeng, maaf ya, nggak terlalu jago gambar. Ini sebisanya...