
Beberapa hari ini Kaisar Qiao akhirnya bisa makan dengan tenang dan tidur dengan nyenyak. Itu semua karena penolakan Qiao Rong terhadap lamaran Raja Bulan. Bahkan dalam hati, Kepala Kasim Qi sangat berterimakasih pada Qiao Rong.
Kaisar dapat menghela napas dengan lega akhir-akhir ini.
Dengan tidak adanya pertunangan antara Qiao Rong dan Raja Bulan, ia bisa meyakinkan pria itu bahwa ia sama sekali tidak berpindah pihak.
Atau seharusnya begitu.
*****
"Ayahanda, hari ini putri menemui Ayahanda untuk mendiskusikan pertunangan putri dengan Raja Bulan." Qiao Rong membungkukkan badannya perlahan ke arah Kaisar Qiao.
Ekspresi Kaisar saat ini sangat jelek. Ia bagai tersambar petir di siang bolong. Baru kemarin ia bisa tidur dan makan tanpa kekhawatiran, sekarang Qiao Rong berkata begitu wajahnya bagaikan ditampar.
Qiao Rong merasa aneh melihat wajah terkejut dan kecewa Kaisar. Bukannya seharusnya senang karena putrinya menjadi istri dari salah satu Raja ketiga sekte besar?
Hal itu cukup membuat kecurigaan Qiao Rong makin besar. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan Kaisar.
Namun sebaliknya, melihat ekspresi Kaisar, Shen Haofeng langsung mengeluarkan aura tak mengenakkan yang membuat Kaisar Qiao tidak bisa menolak.
"B-baiklah.." Kaisar memaksakan senyumannya.
"Kalau begitu acara pertunangannya akan diadakan tiga minggu lagi." Shen Haofeng berkata dengan singkat dan langsung menggandeng tangan Qiao Rong keluar dari aula istana.
Kaisar kini hanya bisa tercengang sambil terkejut setengah mati. Kini posisinya serba salah. Kalau ia tidak menyetujui pertunangan yang diajukan Raja Bulan, ia akan membuat musuh yang paling tidak diinginkan. Sementara, kalau setuju pun mungkin bisa-bisa lehernya diincar oleh pria itu.
Kaisar serba bingung.
Yang pasti, ia sangat tidak puas dengan perlakuan Raja Bulan hari ini. Bukankah tanggal yang bagus dan kapan acara pertunangan akan dilaksanakan adalah hak milik ayah? Dengan seenaknya dia tidak memandang Kaisar sedikitpun sebagai Ayah Mertua.
Kaisar mendecak kesal.
"Sial."
Kepala Kasim Qi hanya bisa menunduk dan menunjukkan wajah yang amat sangat khawatir.
Kaisar akhirnya undur diri dari aula istana dan kembali ke kamar tidurnya.
*****
Prangggg!
Pria berjubah hitam itu melempar batu tinta kesayangan Kaisar sampai pecah berkeping-keping.
__ADS_1
"Haaaaa!" Kaisar Qiao hanya bisa berdiri sambil memegangi dahinya dengan frustasi di tempat. Walaupun hatinya terasa hancur saat melihat batu tinta kesayangannya itu, namun ia tidak berani berkutik.
Pria berjubah hitam itu kelihatan kesal.
"Kaisar seharusnya sudah jelas bukan? Kau berada di pihak mana?" Pria itu berjalan pelan ke arah Kaisar. Sementara Kaisar Qiao hanya bisa gemetaran.
"Saya berada di pihak anda tentunya! Saya bersumpah! Saya hanya tidak tahu bagaimana Putri Rong bisa bersama dengan Raja Bulan!" Kaisar berkeringan dingin. Ia merasa bisa mati kapan saja di tangan pria itu.
Kaisar saat ini tentunya hanya bisa merutuki Qiao Rong. Ia hanya memiliki tiga putra dan dua putri yang tersisa dari sekian banyak anaknya.
Satu putra sebagai Putra Mahkota, satu putra yang menjadi citra keluarga kerajaan, dan satu putra tidak berguna yang sakit-sakitan.
Satu putri penuh kemampuan tapi manja, yang sekarang sudah dianggap mati oleh rakyat. Dan satu putri lagi awalnya dihujat dan dihina.
Sekarang satu putrinya sudah ia serahkan pada pria berjubah hitam itu, harapannya otomatis bertumpu pada Qiao Rong. Siapa sangka gadis itu malah mendatangkan bencana seperti ini padanya?
Padahal dengan menyerahkan Qiao Lan pada pria itu, Kaisar kira kali ini Qiao Rong bisa menggantikan peran Qiao Lan dan menjadi putri yang membanggakan. Dengan kemampuannya menggunakan cambuk, seharusnya tidak ada masalah jika dia tidak bisa menggunakan pedang ataupun roh pelindung.
Sekarang, anak itu malah mendatangkan bencana padanya seperti ini. Bagaimana bisa ia tidak marah? Namun melihat Qiao Rong menerima perlindungan Raja Bulan.. Kaisar bisa berbuat apa?
"Oh begitu?" Pria itu menyentuh jari-jari Kaisar dan memegang jari kelingkingnya.
Kreekkk!
Airmata mulai jatuh ke pipi Kaisar. Sementara pria di depannya itu hanya tertawa.
Pria itu lalu berputar, tubuhnya mengeluarkan asap hitam. Asap hitam itu seolah-olah menyatu dan menyelubungi tubuhnya, dalam sekejap tubuhnya hilang. Kemudian hanya terlihat asap hitam yang tersebar dan menghilang.
Pria itu meninggalkan Kaisar yang tersungkur di lantai. Tepat setelah pria itu menghilang, Kepala Kasim Qi dan sejumlah prajurit istana masuk ke dalam kamar Kaisar.
"Yang Mulia!!!" Kepala Kasim Qi langsung berlari menuju Kaisar Qiao. Melihat Kaisar memegangi jari kelingkingnya dengan kuat, Kepala Kasim Qi hanya bisa melihat jari kelingking itu dengan ngeri.
"Panggilkan tabib istana!!!" Kepala Kasim Qi berteriak. Kaisar jatuh pingsan ke arah Kepala Kasim Qi.
Salah seorang prajurit bergegas keluar dan menyampaikan kabar secara berantai. Sementara yang lainnya membantu Kepala Kasim Qi membaringkan tubuh Kaisar ke atas ranjang.
Beberapa saat setelah Kaisar dibaringkan di atas ranjang, tabib istana datang membawa sekotak obat dan jarum akupuntur.
Tabib itu memeriksa nadi Kaisar dan juga kondisi jari kelingking yang tadi patah.
"Bagaimana?" Tanya Kepala Kasim Qi yang saat ini sedang berdiri di samping ranjang.
Tabib itu hanya menggeleng.
__ADS_1
"Kaisar pingsan karena syok berat, juga sakit yang luar biasa. Entah bagaimana, tapi metode mematahkan tulang ini sangat brutal, dimulai dari otot sampai ke tulang. Tidak akan bisa diperbaiki." Mendengar penjelasan tabib, Kepala Kasim Qi hanya bisa memijat-mijat dahinya.
Tentu saja berita ini tidak boleh sampai terdengar oleh tamu mereka. Siapapun yang menyakiti Kaisar, dapat dianggap sebagai ancaman besar. Namun melihat kemungkinan yang ada, siapalagi orang berkekuatan besar selain Raja Bulan?
Kepala Kasim Qi menepis jauh-jauh pandangan itu. Raja Bulan baru saja tadi pagi mendatangi Kaisar untuk melamar Qiao Rong. Mana mungkin dia menyakiti Kaisar sekarang?
Walaupun ia sama sekali tidak memberi muka pada Kaisar, setidaknya Raja Bulan tidak memiliki alasan bagus untuk melakukan hal sekejam itu pada Kaisar.
Setelah tabib istana meresepkan obat dan pergi, seluruh prajurit yang hadir sudah disuruh untuk tutup mulut oleh Kepala Kasim Qi. Ia takut, orang yang melakukan hal sekejam itu yang mengetahuinya hanya Kaisar sendiri.
Sementara itu, ia hanya bisa menunggu sampai Kaisar bangun.
*****
Di sisi lain istana, terlihat pria berjubah hitam itu sedang berdiri di sebelah seorang wanita.
Siapa lagi kalau bukan Qiao Lan?
Wanita itu kini kelihatan lebih tirus, dibalut dengan pakaian merah yang lebih menonjolkan sisi dewasanya. Riasannya berubah total. Qiao Lan yang sekarang sudah berbeda dari Putri Lan yang dahulu. Ia sudah bukan lagi seorang putri.
"Apakah Yang Mulia harus menyakiti Ayahanda sebegitu parah?" Qiao Lan merasa kasihan pada Ayahnya yang sudah memanjakannya dari kecil. Mungkin Ibunya sendiri tidak sesayang itu padanya.
Di mata Ibunya, Qiao Lan hanyalah sebuah alat, dan dia tahu itu. Ia juga tahu bahwa Kaisar Qiao sengaja menyelamatkannya dari hukuman mati. Sebagai gantinya, berarti Kaisar sudah memihak pada pria di sampingnya itu.
Pria itu terlihat tenang, namun matanya berapi-api mendengar perkataan Qiao Lan.
"Selir Lan, apakah kau mempertanyakan perbuatanku?" Seketika asap hitam mengelilingi leher Qiao Lan.
Wanita itu terlihat terjerat oleh asap hitam itu hingga kesulitan bernapas. Lima detik kemudian akhirnya asap hitam itu menghilang. Digantikan oleh Qiao Lan yang jatuh terbatuk-batuk.
"S-saya tidak berani Ya-yang Mulia.." Qiao Lan berusaha berbicara sembari terengah-engah.
Pria itu tersenyum dengan licik dan nakal. Ia berjalan pelan ke belakang Qiao Lan. Kedua tangan pria itu memeluk pinggang Qiao Lan dengan mesra.
"Itu baru selirku yang pintar dan manis." Pria itu membisikkan kata demi kata itu di telinga Qiao Lan. Bulu kuduk Qiao Lan berdiri mendengarnya.
Ia selalu mengharapkan kasih sayang dari orang lain. Pujian, pujaan, namun ia tidak pernah merasa didominasi seperti ini. Suaminya, atau lebih tepat dipanggil tuannya sekarang ini, pria itu mendominasi tubuhnya, mentalnya, seluruh dirinya seolah-olah sudah dikendalikan oleh pria itu.
Qiao Lan sudah seperti boneka seutuhnya, yang tidak bisa berkehendak sendiri dan selalu diancam oleh kematian. Namun pria itu selalu membisikkan kata-kata menenangkan yang membuatnya merinding. Kata-kata romantis yang sekaligus terdengar menjijikan bagi Qiao Lan.
Qiao Lan tidak bisa apa-apa. Setidaknya pria itu yang telah menariknya dari keputusasaannya. Ia belum boleh mati sebelum balas dendam pada kakak dan adik terkutuknya itu. Belum.
Tubuh mereka berputar bersama, asap hitam kembali menyelubungi. Dan mereka pun menghilang.
__ADS_1