
Shen Haofeng baru saja menuntun Qiao Rong dengan lembut ke gerbang Paviliun Yun. Namun tepat pada saat ia akan mengucapkan selamat tinggal pada gadis itu, ia merasakan sebuah aura yang familier.
Qiao Rong merasa bingung saat Shen Haofeng memeluknya secara tiba-tiba, lalu pria itu memakaikan jubahnya padanya, untuk menghindari dinginnya suhu musim dingin. Detik berikutnya, pria itu sudah menghilang dari hadapannya. Qiao Rong sangat kebingungan, namun apapun itu pria itu pasti memiliki alasannya sendiri.
Qiao Rong hanya bisa menghela napas dan masuk ke Paviliun Yun, disambut oleh Chu Yue yang kegirangan. Sepertinya gadis itu sudah mendengar apa yang terjadi di istana hari itu.
"Yang Mulia! Jadi kau memutuskan memilih Raja Bulan daripada pria di Desa Nanshan itu??" Qiao Rong menepuk dahinya saat Chu Yue kembali membahas persoalan itu.
Melihat respon Qiao Rong, Chu Yue merasa kebingungan. Apakah dia salah berbicara?
Qiao Rong sudah tidak peduli pada pemikiran gadis itu. Ia akhirnya hanya masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan kultivasinya yang sudah tertunda beberapa hari.
*****
Shen Haofeng baru saja tiba di sisi lain istana. Ia melihat sebuah hal yang terlihat asing, tapi juga familier. Ia pernah merasakan hal itu, tapi tidak pernah melihatnya langsung.
Asap hitam.
Seperti seseorang baru saja melakukan teknik teleportasi dari lokasi itu. Asap hitam.
Shen Haofeng memutar otaknya dengan keras. Asap hitam mengingatkannya pada apa?
Teknik terlarang dari sekte iblis yang sudah lama punah karena perang seribu tahun. Asap khas miliki raja para iblis. Asap Kegilaan Hitam. Asap yang disebabkan oleh kegilaan Raja Iblis saat kehilangan Permaisurinya di tangan para kultivator tiga sekte.
"Jiang Junwei!" Shen Haofeng berteriak. Kali ini nadanya sangat berbeda dari biasanya. Nada stabil dan datarnya sudah terganti oleh nada panik.
"Ya!" Sosok pria segera muncul dari belakang Shen Haofeng. Jiang Junwei menatap Shen Haofeng dengan penasaran. Ada gerangan apa tuannya itu terlihat begitu khawatir?
"Siapkan pengantar pesan, Raja Matahari, rapat besar dua sekte!" Shen Haofeng seperti orang yang sedang dikejar-kejar. Ia terburu-buru, tidak sabaran. Karena kalau apa yang dilihatnya hari ini benar, maka riwayat ketiga sekte besar saat ini sedang terancam.
*****
Qiao Rong kini sedang fokus dan berkonsentrasi berkultivasi, namun baru saja ia merasa akan naik tingkat, sebuah cahaya berpendar dari cincin yang tersemat di jari manisnya.
Cincin Tapak Naga itu kelihatannya bereaksi terhadap aliran qi nya yang akan naik tingkat. Entah kenapa, Qiao Rong juga tidak tahu.
"Ini dia.. ini dia saatnya.." Tiba-tiba muncul suara Li Junyan. Qiao Rong kebingungan.
Tiba-tiba jari manisnya itu terasa sangat panas dan berat. Semakin berat dan semakin panas.
__ADS_1
"Li Junyan? Ada apa ini?!" Qiao Rong agak panik, tapi tetap berusaha mempertahankan kestabilan mentalnya.
"Cepat! Alirkan qi mu dengan benar di sekitar cincin itu! Selubungi cincin itu seluruhnya, perhatikan selalu aliran darahmu, jangan sampai tidak bisa mengalir dengan lancar!" Li Junyan mengeluarkan instruksi demi instruksi yang langsung Qiao Rong lakukan dengan hati-hati.
Ia merasa tenaganya dikuras oleh cincin itu, disaat yang sama juga dibakar dan dihisap. Qiao Rong sudah berkeringat sangat parah sekarang. Seluruh tubuhnya terasa kebas, ia bisa merasakan aliran darahnya tertahan.
"Jangan sampai aliran darah tidak lancar! Ayo, kau pasti bisa!" Mendengar Li Junyan, Qiao Rong kembali berfokus pada kondisi tubuhnya, juga berusaha sekuat tenaga mengalirkan setiap qi yang ada dalam tubuhnya untuk menyelubungi cincin itu.
Tiba-tiba Cincin Tapak Naga mengeluarkan cahaya yang sangat aneh dan lebih menyilaukan dari pada pendar cahaya yang sebelumnya. Kali ini cahaya tersebut memaksa Qiao Rong untuk menutup matanya dan tidak bisa melihat keadaan cincin itu.
Sekitar beberapa saat kemudian, akhirnya kondisi itu berakhir. Qiao Rong yang kini sudah kehabisan napas akhirnya bisa terkulai tak berdaya di atas ranjang.
Napas Qiao Rong mulai tidak stabil, perlahan padangannya menjadi buram.
"Master! Jangan sampai tidur! Buka matamu!" Teriak Li Junyan berkali-kali.
Hal terakhir yang Qiao Rong dengar adalah teriakan samar-samar Li Junyan.
*****
"Yang Mulia... anda sudah sadar?" Setelah beberapa jam menbakar kemenyan yang diresepkan tabib istana, akhirnya Kaisar siuman.
"Aku percaya kau sudah menangani hal ini dengan baik." Ucap Kaisar pada Kepala Kasim Qi. Walaupun suaranya terdengar jelas, namun suaranya masih sangat lemah.
Kepala Kasim Qi hanya mengangguk, lalu membantu Kaisar duduk. Jari kelingking Kaisar sudah diperban dan diberikan kayu penyangga.
"Bagaimana dengan Raja Bulan?" Tanya Kaisar.
"Yang Mulia bisa tenang, Raja Bulan sudah pergi karena akan ada rapat darurat." Jawab Kepala Kasim Qi dengan nada menenangkan.
"Qi Hu.." Panggil Kaisar lirih.
"Ya, Yang Mulia?" Jawab Kepala Kasim Qi sambil menyuruh beberapa dayang untuk mengambilkan obat dengan isyarat tangan.
"Tidak ada yang boleh menemuiku saat ini, setidaknya hingga keadaanku agak pulih. Tidak ada yang boleh tahu, bahkan Permaisuri." Kaisar mencoba berbicara setegas mungkin. Namun kondisinya saat ini sepertinya tidak memungkinkannya.
Kepala Kasim Qi menggangguk kecil, lalu menyuapi Kaisar obat yang sudah dibawa oleh salah satu dayang istana.
"Aku tidak akan hadir dalam pertemuan harian seperti biasa, perintahkan Perdana Menteri Huang dan Sekretaris Chen untuk mengirimkan dokumen-dokumen kerajaan ke ruang belajarku setiap harinya. Bilang pada semuanya bahwa aku sedang kurang sehat." Ujar Kaisar lagi.
__ADS_1
"Ya, Yang Mulia." Lagi-lagi Kepala Kasim Qi hanya bisa mengangguk. Walaupun ia penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya, namun apa boleh buat, ia takut menyinggung Kaisar, atau mencampuri urusan Kaisar.
Kepala Kasim Qi segera keluar untuk menyampaikan pesannya itu pada kasim lainnya, yang akan segera menyampaikan pesan itu ke kediaman Perdana Menteri dan Sekretaris Chen.
"Ingat, jangan biarkan siapapun menemuiku, bahkan Permaisuri." Ucap Kaisar dengan tegas setelah Kepala Kasim Qi masuk kembali ke kamar Kaisar dengan terburu-buru.
"Saya mengerti, Yang Mulia." Jawab Kepala Kasim Qi.
*****
Selir Shu segera berlari dengan cepat ketika mendengar kabar yang barusan dibisikkan oleh kepala dayangnya.
Putri Rong akan segera bertunangan.
Selir Shu tidak bisa mempercayai hal itu. Satu-satunya hal yang ia khawatirkan adalah bahwa Kaisar akan mengorbankan putrinya itu demi kepentingan perkawinan politik.
Ia sama sekali tidak menyangka putrinya bisa menarik perhatian Raja Bulan. Selir Shu juga bisa paham mengapa Kaisar bisa menyetujui pertunangan itu. Tentu untuk kepentingan kerajaan. Dengan begitu Raja Bulan akan terhubung dengan Kerajaan Wen.
Selir Shu mempercepat langkahnya, ia sudah tak sempat berpikir untuk menyiapkan tandu untuk pergi ke Paviliun Yun. Lagipula paviliun miliknya dan Paviliun Yun tidak berjarak begitu jauh.
Begitu Selir Shu sampai di gerbang Paviliun Yun, ia malah melihat Chu Yue yang sedang mondar-mandir dengan cemas di depan kamar Qiao Rong.
Selir Shu tentu segera berlari dengan tergopoh-gopoh ke arah Chu Yue.
"Y-Yang Mulia!" Chu Yue yang terkejut melihat kedatangan Selir Shu langsung membungkuk untuk memberi hormat.
"Dimana Qiao Rong?" Tanya Selir Shu dengan tidak sabar.
"Ya-Yang Mulia.. Dia.. Sedang berkultivasi, namun sampai sekarang belum.." Chu Yue bingung harus berkata apa. Ia juga bingung harus masuk untuk memastikan keadaan Qiao Rong, atau tunggu diluar karena takut mengacaukan konsentrasi nonanya.
"Sejak kapan dia berkultivasi?" Tanya Selir Shu dengan cemas.
"Sejak tadi siang.. ta-tapi Yang Mulia selalu berpesan kalau akan berkultivasi tertutup." Jawab Chu Yue dengan cemas.
Selir Shu tidak berpikir lagi dan langsung membuka pintu kamar Qiao Rong begitu saja.
"Yang Mulia!!" Teriak Chu Yue dengan histeris ketika melihat tubuh Qiao Rong yang terkapar tak sadarkan diri di atas ranjang.
Melihat tubuh putrinya yang tak berdaya itu hati Selir Shu merasa hancur.
__ADS_1
"Qiao Rong!!!" Teriak Selir Shu. Dan tangisannya pun pecah.