Abandoned Princess

Abandoned Princess
Ratu Es


__ADS_3

Sudah genap dua minggu sejak Qiao Rong pertama kali menginjakkan kaki di Akademi Bulan Sabit.


Ia juga sudah lebih akrab dengan para profesor, yang mengetahui bahwa ia seharusnya ditempatkan di kelas satu. Walaupun begitu, tidak ada satu murid pun di kelasnya yang mengajaknya berbicara selain Liu Liwei dan Ding Fanfan yang sekadar lewat.


Qiao Rong juga sudah mengetahui dengan jelas hierarki di kelas itu. Di Akademi Bulan Sabit ini, walaupun gelar bangsawan tidak dipedulikan dan memiliki sedikit pengaruh saja di kalangan murid, kekuatan yang menjadi sebuah penentu.


Ratu di kelas itu adalah Zhen Mingran, murid perempuan yang sebaya dengan Qiao Rong. Sayangnya, kepribadiannya persis seperti Li Wenhua yang lebih mementingkan kekuatannya. Saking jarangnya ia berkomunikasi dengan murid lain, ia diberi julukan Ratu Es.


Sebaliknya dengan Qiao Rong, ia sama sekali tidak dihampiri siapa pun karena mereka mengira statusnya rendah. Apalagi, sama sekali belum ada kesempatan apa pun bagi Qiao Rong untuk menunjukkan kemampuannya.


Di kelas Profesor Tang saja, ia tidak menunjukkan roh pelindungnya. Tentu hal ini membuat murid-murid sekelasnya kebingungan. Apalagi, sikap Profesor Tang yang tidak mempermasalahkan hal itu.


Namun, justru dengan begitu Qiao Rong lebih lega. Bukankah lebih menyenangkan sendirian? Dibandingkan harus melihat wajah Liu Liwei yang makin lama makin membosankan itu.


Qiao Rong sangat sebal melihat wajah pria itu. Ia sudah mengembalikan token itu berkali-kali. Entah dengan menaruhnya di atas meja, memasukannya ke dalam baju pria itu, bahkan sampai menyusup ke dalam asrama pria.


Keesokan harinya, token itu akan berada di mejanya.


Qiao Rong mendengus kesal mengingat kejadian-kejadian itu beberapa hari lalu.


"Untuk penilaian kali ini, sebuah tugas akan diberikan kepada kalian." Profesor Luo tersenyum nakal.


Murid-murid lainnya sudah mulai ketakutan, namun beberapa lainnya juga ada yang kelihatan bersemangat.


"Tugas ini adalah sebuah tugas kelompok. Silahkan buat kelompok yang terdiri dari empat orang." Profesor Luo tetap tersenyum walaupun segera diterpa bisikan-bisikan dari murid-muridnya.


Qiao Rong segera melirik ke sekelilingnya. Sungguh suatu hal yang membuatnya sakit kepala. Bukankah baru saja ia merasa lega karena dirinya sendirian?


"Q-Hua Rong, aku akan membentuk tim bersamamu." Liu Liwei tersenyum ke arah Qiao Rong.


Qiao Rong mengernyitkan alisnya. 'Aku', sudah kedua kalinya Liu Liwei menggunakan bahasa tidak formal padanya. Namun melihat tingkat kultivasi Liu Liwei yang meningkat pesat sejak Kompetisi Empat Musim, Qiao Rong tidak ragu bahwa pria itu akan menjadi anggota kelompok yang tidak akan membebani dirinya.

__ADS_1


"Terserah."


Hanya butuh satu kata dari Qiao Rong untuk membuat senyum Liu Liwei terpampang tidak henti.


Sementara itu, di kursi samping Liu Liwei, Ding Fanfan mendengus kesal. "Aku ikut." Liu Liwei menatap teman di sampingnya itu dengan aneh. Kalau Ding Fanfan tidak menyukai Qiao Rong, untuk apa sekelompok dengannya?


"Kalau begitu kita kekurangan satu orang la—" Belum selesai Liu Liwei berbicara, sebuah sosok mendekati mejanya perlahan.


Liu Liwei segera menghadap ke depannya. Namun, orang di depannya itu sama sekali tidak sesuai ekspetasinya, Zhen Mingran-lah yang ada di hadapannya.


Liu Liwei menatap wanita itu dengan kebingungan karena Zhen Mingran malah diam beberapa detik, sama sekali tidak mengungkapkan alasannya menghampiri meja Liu Liwei.


"Saya ... ingin bergabung."


*****


"Zhen Mingran?!!" Chu Yue berteriak histeris saat mendengar nama yang baru saja dilontarkan Qiao Rong itu. Dan Qiao Rong yang duduk di sebelahnya dengan terburu-buru menutup mulutnya.


"Zhen Mingran?! Nona tidak tahu saja betapa nama itu sangat membuat kagum tapi juga menakutkan! Tapi Yang Mulia bagaimana bisa satu kelompok dengannya?" Mata Chu Yue berbinar-binar.


"Tidak tahu, dia sendiri yang menghampiri. Memangnya kenapa?" Qiao Rong tidak bisa lebih tidak peduli lagi. Menurutnya, wanita itu masih sangat jauh dari kata 'matang'. Tingkat kultivasinya yang diagung-agungkan murid-murid sekelas juga masih di bawah tingkat kultivasinya.


"Selain ketiga sekte, tentu ada sekte-sekte kecil lainnya yang mempunyai sedikit pengaruh. Namun kedudukan mereka masih dibawah Kaisar dan banyak dari sekte-sekte itu yang malah menjadi bawahan sekte utama. Namun Zhen Mingran, adalah pewaris selanjutnya dari Sekte Bunga Es." Qiao Rong mempertahankan ekspresi wajahnya selama Chu Yue bercerita.


"Namun yang mengerikan dari Sekte Bunga Es ini adalah ... mereka hanya menerima anggota sekte yang memiliki roh pelindung ber-elemen es. Kalau sampai ada tetua sekte atau anggota sekte yang memiliki anak yang tidak memenuhi persayaratan, anak itu akan diasingkan, bahkan dibunuh." Chu Yue melanjutkan ceritanya dengan ekspresi ngeri.


Qiao Rong yang sudah mendapat gambaran tentang Sekte Bunga Es hanya menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia sudah berhasil menebak apa yang membuat wanita itu sama sepertinya dahulu. Keinginan untuk bertahan hidup.


"Kalau tidak salah, sepertinya roh pelindung Zhen Mingran sama seperti miliki Putri Lan. Hanya saja, kontrolnya terhadap roh pelindungnya lebih kuat. Ia juga memiliki pengalaman bertarung yang banyak," lanjut Chu Yue.


"Begitu rupanya." Qiao Rong hanya tersenyum. Lalu kembali menimbang-nimbang kegunaan Zhen Mingran dalam timnya.

__ADS_1


Sementara itu, ia kembali harus dipusingkan oleh Ding Fanfan. Qiao Rong sama sekali belum tahu apa kemampuan pria yang satu itu. Seharian juga menatapnya dengan tatapan yang tidak mengenakkan.


Lagi-lagi, Qiao Rong hanya bisa menghela napas.


*****


Malam itu, Qiao Rong yang sedang tertidur lelap tiba-tiba terbangun karena rasa panas di dahinya yang disebabkan oleh tanda lahirnya.


Namun, kali ini rasa panas itu disertai oleh rasa sakit luar biasa yang membuat Qiao Rong berkeringat dingin dan ingin berteriak.


Melihat Chu Yue yang tertidur lelap di kasur sebelah, Qiao Rong memutuskan untuk menahan suaranya dengan qi. Kepala Qiao Rong dibuat berputar-putar karena rasa sakit itu.


Tenaga Qiao Rong lama-lama habis digunakan untuk menahan rasa sakit, sekaligus menahan agar teriakannya tidak keluar agar tidak membangunkan Chu Yue.


Perlahan-lahan, penglihatan Qiao Rong menjadi kabur, gelap, dan hitam.


Saat kembali membuka mata, Qiao Rong disambut oleh pemandangan sebuah padang di sekitarnya.


Apa ini? Mimpi? Batin Qiao Rong.


Qiao Rong mendengar sebuah suara dari arah depan. Cukup jauh dari tempatnya berdiri, ada sepasang pria dan wanita yang sedang menatap ke arah satu sama lain.


"Rong'er ..." Walaupun jauh, anehnya Qiao Rong bisa mendengar apa yang diucapkan pria itu kepada si wanita. Si wanita di depannya hanya tersenyum lembut. Pria itu lalu membelai lembut wajahnya dan mendekat untuk mengecup wanita itu.


Tepat sebelum bibir mereka bertemu, kepala Qiao Rong lagi-lagi di penuhi rasa sakit yang amat sangat.


"AAARRRRRGHHHH!" Namun kini, Qiao Rong bisa berteriak kesakitan dengan bebas.


Begitu Qiao Rong mengerjapkan matanya, keadaan sekelilingnya berubah drastis menjadi sebuah medan api. Padang indah yang tadi menyambutnya berganti menjadi sebuah lautan api.


Tidak ada lagi pria itu, hanya ada sesosok bayangan wanita yang menangis, berteriak, dan meminta tolong. Melihat wanita itu, hati Qiao Rong serasa dicabik-cabik, walaupun rasa sakit dan terbakar kembali memenuhi kepalannya, Qiao Rong tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Entah kenapa, setetes air mata jatuh ke pipi Qiao Rong.


__ADS_2