Abandoned Princess

Abandoned Princess
Dalam Perjalanan


__ADS_3

Kaisar Qiao kini sedang mondar-mandir dengan gelisah di dalam aula istana.


Sementara Kepala Kasim Qi yang melihatnya dari samping hanya bisa menghela napas.


"Untuk apa? Untuk apa ada kunjungan resmi seperti ini?" Kaisar Qiao mulai memijat-mijat dahinya.


"Anu.. Yang Mulia.. bisa saja dia datang untuk memberi selamat untuk pernikahan Putri Lan tanpa tahu kejadian selanjutnya?" Kepala Kasim Qi menebak.


"Apa kau bercanda? Bahkan seluruh rakyat tahu kalau ia sudah di eksekusi. Bagaimana orang seperti dia tidak tahu?" Kaisar merasa tambah sakit kepala setelah mendengar tebakan dari Kepala Kasim Qi.


Kepala Kasim Qi bingung harus menjawab apalagi. Ia ingin meringankan beban Kaisar Qiao, tapi sepertinya ia lebih baik tutup mulut saja daripada membuat Kaisar marah.


"Apa jangan-jangan karena pria itu?" Kaisar terhenti seketika saat memikirkan kemungkinan itu.


*****


Qiao Rong keluar dari kamarnya dan melihat bahwa daun-daun pepohonan sudah hampir gugur seluruhnya. Sebentar lagi musim dingin, ia tidak sabar menantikan salju pertama yang akan turun setelah melewati waktu seribu tahun begitu saja.


"Chu Yue, mengapa mereka kembali sibuk lagi? Memangnya akan ada perayaan lagi?" Tanya Qiao Rong setelah melihat begitu banyak dayang berlarian saat berjalan di halaman Paviliun Yun.


"Ah, Yang Mulia belum dengar kabarnya?" Chu Yue menatap Qiao Rong dengan bingung.


Melihat tatapan Chu Yue, Qiao Rong justru tambah bingung. Ia memang lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkultivasi akhir-akhir ini, jadi wajar saja baru sekarang keluar untuk menghirup udara segar.


"Kaisar akan menyiapkan jamuan yang sangat megah, bahkan lebih megah lagi daripada jamuan pernikahan Putri Lan. Kabarnya akan ada kunjungan resmi dari salah satu dari ketiga sekte besar. Tapi masih tidak diketahui siapa tamu terhormat itu." Chu Yue menjelaskan dengan sepengetahuannya.


Qiao Rong hanya mengangguk-angguk.


Setelah merasa telah berkeliling cukup lama. Qiao Rong akhirnya kembali ke kamar dan berencana untuk beristirahat. Chu Yue segera pergi keluar dan menyiapkan air mandi dengan para dayang lainnya.


"Bukankah kalau dipikir-pikir sangat aneh?" Tiba-tiba Li Junyan muncul dengan pose berpikirnya.


"Astaga.. Kau mengagetkanku saja!" Qiao Rong menjitak dahi Li Junyan dengan pelan. Qiao Rong memang tidak bisa menyangkal bahwa jantungnya akan selalu meloncat kalau bocah itu muncul secara tiba-tiba. Namun demi menjaga citranya, ia tidak pernah komplen atas hal itu.

__ADS_1


Namun, sudah cukup. Kini mereka sudah sangat dekat, ia sudah tidak tahan dengan kemunculan tiba-tiba bocah itu.


"Baiklah-baiklah. Aku akan mengirim sinyal padamu kalau akan muncul." Bocah itu mengusap-usap dahinya yang terkena jitakan Qiao Rong. Selain menghitung uang, merencanakan siasat balas dendam, Masternya itu juga hobi menjitak orang lain.


Tidak, kurang tepat. Menjitaknya adalah kata yang lebih tepat. Karena sejak ia mengenal Qiao Rong, gadis itu tidak pernah menjitak siapapun kecuali dia.


"Jadi, apa yang aneh?" Tanya Qiao Rong kembali pada topik yang tadi dibahas bocah kecil itu.


"Ada beberapa hal yang lupa kuberitahu padamu. Mengenai situasi ketiga sekte sekarang.. Memang agak kacau." Wajah bocah itu tiba-tiba terlihat gelisah.


Qiao Rong sebenarnya ingin sekali tertawa kalau melihat wajah berpikir Li Junyan. Entah kenapa kesannya bocah itu seperti sudah dewasa sekali, kalau hanya melihat wajahnya saja pasti semua orang akan tertipu.


"Kacau? Bukankah mereka menjaga kedamaian?" Qiao Rong bertanya balik.


"Begini.. penerus baru Sekte Bulan dan Sekte Langit sama sekali tidak beres. Pertama, para tetua Sekte Bulan sangat berbeda dari kedua sekte lainnya. Di Sekte Bulan, para tetua hanyalah berperan sebagai penasehat sampingan. Sementara di Sekte Langit dan Sekte Matahari, tetua memiliki pengaruh pendapat yang sangat besar dalam keputusan pemimpin sekte." Li Junyan menjelaskan.


"Tapi, karena para tetua di Sekte Bulan banyak yang kini mementingkan harga diri, banyak yang memutuskan untuk memanipulasi pemimpin sekte selanjutnya. Tanpa mereka sangka, penerus baru ini sama sekali tidak bisa diremehkan. Raja Bulan yang baru terus menerus memakai topeng, selalu menghindar dari wanita, bahkan berani mengancam mereka terang-terangan. Kabarnya ia kejam dan bengis, tapi juga adil di saat yang sama." Lanjut Li Junyan.


"Lalu apa masalahnya dengan Raja Langit yang baru?" Qiao Rong mencoba untuk menyimak.


"Perang?" Qiao Rong jadi makin tidak mengerti. Mengapa orang yang menjadi pemimpin salah satu sekte penjaga kedamaian malah ingin mencetuskan perang?


"Tidak ada yang tahu alasannya. Ia sudah mengalami banyak kekalahan, entah kenapa para tetua tetap diam. Pasukannya juga tidak berhenti maju." Mendengar perkataan Li Junyan itu barulah Qiao Rong merasa sangat aneh.


Bukankah tindakan Raja Langit itu seperti.. mengecoh? Semua orang fokus terhadap pasukannya yang maju, tapi tidak ada yang tahu tujuannya. Batin Qiao Rong.


Melihat Qiao Rong tenggelam dalam pikirannya, Li Junyan tersenyum.


"Dan sekarang.. tibalah masalah yang aneh. Sudah puluhan tahun sejak terakhir kunjungan resmi dilakukan. Kira-kira siapa dan untuk apa?" Li Junyan memasang nada misterius. Lama-kelamaan, Qiao Rong juga menjadi penasaran.


"Tunggu. Itu masalah Kaisar, bukan masalahku." Mendengar Qiao Rong berkata begitu, Li Junyan menjadi agak kecewa. Namun, tidak campur masalah orang lain yang tidak ia pedulikan memang adalah sifat Qiao Rong.


Suara ketukan terdengar di pintu kamar, lalu munculah Chu Yue untuk memberitahu Qiao Rong bahwa persiapan mandinya sudah siap.

__ADS_1


*****


"Tidak bisakah kita berkuda atau menggunakan qinggong saja?" Shen Haofeng mendengus kesal sambil melihat ke arah jendela kereta kuda yang sedang ia kendarai.


"Saya tahu Yang Mulia pasti tidak sabar. Tapi ini adalah kunjungan resmi, kita tidak boleh terlihat tidak sopan." Jiang Junwei yang kini duduk di seberang Shen Haofeng mencoba untuk menenangkan tuannya itu.


Sepanjang jalan, Shen Haofeng hanya melihat-lihat pemandangan luar dengan penasaran. Ia penasaran bagaimana kehidupan anak kecil yang tinggal di kota. Apakah mereka bisa bermain dengan bebas? Punya banyak teman? Jajan dengan puas?


Shen Haofeng terus-menerus berspekulasi setiap ia melihat anak kecil yang ada di jalan.


Hingga akhirnya, suatu benda menarik perhatiannya. Pria itu segera menyelubungi kereta itu dengan qi nya. Dari luar, terdengar suara kuda yang memekik karena terkejut, kereta itu juga segera berhenti.


Jiang Junwei tahu bahwa itu adalah akibat perbuatan tuannya. Oleh karena itu, ia hanya diam dan akan mengganti rugi sedikit sang kusir atas kuda-kudanya yang ketakutan.


Shen Haofeng tidak membuang waktu lagi dan segera turun dari kereta kuda itu. Perhatiannya tertuju pada salah satu pedagang yang tengah menjajakan aksesoris rambut wanita di tengah jalan.


Shen Haofeng segera mendekati pria itu. Daritadi, matanya tidak bisa lepas dari salah satu tusuk rambut yang tergeletak disana.


Tusuk rambut itu terbuat dari perak. Di ujungnya, ada motif Burung Phoenix dengan untaian bulatan-bulatan perak dari bawah burung itu.


Si penjual tentu merasa senang karena ada pembeli yang melihat-lihat barang jualannya. Namun wajah senangnya itu seketika menghilang karena perbuatan Shen Haofeng.


Shen Haofeng mengambil tusuk rambut itu dan meninggalkan satu koin emas di atas meja tempat si penjual menjajakan dagangannya.


Shen Haofeng segera pergi meninggalkan si penjual di belakangnya yang tercengang dan segera mengigit koin emas itu untuk memastikan keasliannya.


Sembari berjalan ke arah kereta kuda, Shen Haofeng tidak bisa memikirkan betapa cantiknya Qiao Rong saat memakai tusuk rambut ini.


Walaupun hanya terbuat dari perak, Shen Haofeng merasa harga tusuk rambut itu memang pantas untuk satu koin emas.


Dilihat dari sisi manapun, tusuk rambut itu akan sangat cocok untuk menghiasi rambut gadis itu.


Sementara di dalam kereta kuda, Jiang Junwei yang sudah duduk rapi setelah membayar ganti rugi kepada kusir hanya bisa menghela napas memandangi tuannya yang tersenyum sepanjang jalan hanya karena membeli satu tusuk rambut. Di mata Jiang Junwei, tusuk rambut itu hanyalah tusuk rambut perak biasa yang dibeli dari jalanan. Tentu kalah dengan tusuk rambut emas yang dijual di toko-toko aksesoris rambut besar.

__ADS_1


Padahal, kalau pria itu mengetahui harga yang Shen Haofeng bayar untuk tusuk rambut itu..


Mungkin ia akan terkena serangan jantung.


__ADS_2