
Lu Guang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia tidak bisa percaya pada wanita itu. Bagaimana pun juga, Shu Li Wei sudah mengambil anaknya begitu saja, dan menolak untuk membiarkannya menggendong putrinya itu barang sekali saja semenjak Ibu anak itu meninggal dunia.
Sekarang, saat sudah tidak bisa membesarkan anak itu lagi, apakah semudah itu ia akan mengembalikan putri satu-satunya itu?
Lu Guang tidak habis pikir, namun ia hanya bisa menyalahkan masa lalunya yang penuh kepahitan.
"Mingzhi, aku ada urusan. Jadilah wakilku sementara," ucapnya pada pemuda di depannya itu.
"Baik, Guru." Pemuda itu balas mengepalkan kedua tangannya dan membungkukkan badan.
Dan Lu Guang menghilang.
*****
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." Qiao Rong sudah menebak siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
Perlahan, sosok Chu Yue muncul dari balik pintu. Ia berjalan dengan sangat pelan, dan melirik ke sekeliling sebelum akhirnya membiarkan dirinya meledak dengan antusiasme di depan Qiao Rong.
"Yang Mulia!!!!!!!!! Bagaimana bisa anda mengalahkan Kepala Keluarga Zhang? Hamba tahu bahwa kultivasi anda hebat, namun bukankah ini berarti anda menjadi yang terhebat di Kerajaan Wen, bahkan tanpa harus memiliki Roh Pelindung?" Mata berbinar-binarnya membuat mata Qiao Rong menjadi silau.
Qiao Rong hanya tersenyum dengan santai. "Darimana kau mendengarnya?"
"Tidak mungkin suara pertarungan sebesar itu tidak ada yang mendengarnya! Padahal hamba ingin sekali melihat Yang Mulia dari dekat, tapi sudah lebih dulu ditarik begitu saja oleh Kepala Dayang. Coba saja Yang Mulia tahu kalau seluruh dayang dan kasim sudah ketakutan dan berkumpul semua di dalam aula istana!" Chu Yue memayunkan bibirnya.
"Mengapa tidak ada yang menyangka bahwa yang bertarung adalah Raja Bulan?" tanya Qiao Rong.
"Karena Raja Bulan lah yang pertama kali menyuruh kami bersembunyi di aula istana, Yang Mulia." Mendengar jawaban Chu Yue, Qiao Rong tersenyum mengingat pria itu.
"Sekarang aku tahu, bukan? Pantas saja istana menjadi sangat sepi." Mereka berdua lanjut tertawa bersama.
__ADS_1
Sebenarnya, Qiao Rong tidak perlu merasa khawatir. Ia dan Shen Haofeng dengan mudah bisa merasakan keberadaan setiap orang yang ada di Istana hanya dengan menggunakan qi. Saat ia melawan Zhang Guo, tentu ia tidak akan membiarkan seorang pun, kecuali tunangannya itu untuk melihat Lan Long. Dan satu-satunya saksi mata lainnya sudah tewas.
Tiba-tiba Chu Yue menghela napas.
"Tapi, Yang Mulia ... Saya rasa anda lebih baik mengunjungi Selir Shu, ia tidak terlihat terlalu baik saat bersembunyi bersama kami dan selir lainnya di aula istana. Wajahnya terus menerus pucat dan ketakutan." Qiao Rong merasa hal itu wajar saja dalam hatinya. Toh, bukankah Selir Shu mengetahui putrinya sedang bertarung dengan pria yang tingkat kultivasinya tertinggi di Kerajaan Wen.
Tapi tentu mengunjungi Ibunya dan menenangkannya bukanlah suatu hal yang akan merugikan Qiao Rong.
"Baiklah. Ayo."
*****
"Yang Mulia, Putri Rong datang mengunjungi anda." Kepala dayang menundukkan kepalanya selagi berbicara kepada Selir Shu.
Selir Shu hanya mengangguk pelan.
Inilah saatnya. Saat yang tidak pernah bisa ia hadapi sejak 16 tahun yang lalu.
Selir Shu berjalan pelan di dampingi oleh kepala dayangnya. Di halaman paviliun, Qiao Rong terlihat senang begitu melihat Ibunya itu berjalan dan tersenyum ke arahnya.
Walaupun ia sudah memakai riasan tebal dan mencoba tersenyum seperti biasa, namun Selir Shu tidak bisa menutupi raut pucat di wajahnya.
"Apakah Ibu baik-baik saja?" Begitu Qiao Rong berkata demikian, Selir Shu tahu bahwa ia sudah tidak bisa dan tidak boleh menyembunyikan apa-apa lagi.
"Kapan ... Kapan tepatnya kau menjadi sekuat itu?" Selir Shu mencoba menatap putrinya itu dengan tegas, namun ia tidak bisa melupakan ketakutan yang ia rasakan.
"Aku ... Juga tidak tahu. Rasanya semua amarah keluar begitu saja ketika melihat Putra Mahkota dan Permaisuri dengan seenaknya mengatakan hal-hal seperti itu kepada Ibu." Qiao Rong tersenyum pahit. Ia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Shen Haofeng mengenai asal kekuatannya. Begitu juga dengan Ibunya.
Qiao Rong hanya bisa diam-diam melirik kedua bocah yang sedang bermain di sampingnya. Semenjak ada Li Wenrou, Li Junyan menjadi lebih pendiam dan lebih sibuk menemani anak perempuan itu bermain.
Selir Shu berbisik kepada kepala dayang sebentar. Lalu seluruh dayang dan kasim yang ada di halaman paviliun segera menyingkir. Hanya ada kedua Ibu dan anak itu yang duduk dengan serius.
"Tapi itu benar." Selir Shu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa?" Suara Qiao Rong tercekat seketika.
Rasanya seperti baru saja menerima serangan kejutan. Apa yang dimaksud oleh Selir Shu? Qiao Rong bertanya-tanya.
Namun setelah beradaptasi dengan tubuh ini dan lingkungan sekitarnya begitu lama, Qiao Rong tidak bisa tidak merasa sangat terkejut. Apakah ia benar bukan anak Kaisar?
"Kau ... Bukanlah putri Kaisar." Entah kenapa Qiao Rong malah merasa lega saat Selir Shu mengatakan hal itu. Ia tidak rela jika ia benar adalah putri dari Kaisar yang tidak adil dan tidak bermoral itu.
"Tapi kau juga bukan putriku."
Sesaat setelah Selir Shu melanjutkan kata-katanya, dada Qiao Rong terasa sesak karena terkejut. Ia tidak bisa bernapas seketika.
"Lalu aku ..." Kepala Qiao Rong kini berputar-putar.
Di samping Qiao Rong, Li Wenrou dan Li Junyan yang tadi bermain kini juga memasang mimik wajah terkejut.
Siapa yang menyangka wanita yang selama ini membesarkannya dan menyayanginya sepenuh hati ternyata bukan Ibunya?
"Ibumu adalah teman baikku." Perlahan air mata Selir Shu mulai turun membasahi pipinya. Mengingat hal-hal dan tragedi yang terjadi di waktu lampau, dan yang sudah ia pendam selama 16 tahun, suara Selir Shu mulai tercekat.
Selir Shu menyeka airmatanya dengan anggun. Sama seperti wanita-wanita lainnya dari keluarga terhormat.
"Ibu, Ibu kandungmu, Ayahmu, dan Kaisar Qiao, kami adalah teman baik yang melakukan perjalanan bersama untuk memburu monster." Selir Shu mempertegas nadanya sambil menatap Qiao Rong.
"Ayahmu dan Ibumu jatuh cinta. Begitu sederhana, tapi status dan tanggung jawab mereka pada akhirnya memisahkan mereka."
"Ayahmu berusaha keras untuk bersama dengan Ibumu, tapi pada akhirnya ia gagal. Dan yang terjadi hanyalah tragedi yang memilukan," lanjut Selir Shu.
Perasaan terkejut yang tadi Qiao Rong rasakan perlahan mulai menghilang, digantikan oleh rasa penasaran.
Walaupun begitu, Qiao Rong akan tetap membutuhkan waktu untuk menerima semua kebenaran yang baru ia terima hari ini.
"Tapi kau tidak perlu khawatir." Selir Shu memegang tangan Qiao Rong erat-erat. "Kau tetaplah putriku, dan kau juga merupakan buah cinta dari Ibumu dan Ayahmu, mereka bahkan mengorbankan segalanya hanya untuk kelahiranmu. Bahkan nyawa ..." Saat mendengar kata terakhir dari Selir Shu, Qiao Rong hanya bisa menggigit bibirnya.
__ADS_1
Nyawa? Apakah itu berarti ...
"Lagipula, semuanya akan dijelaskan oleh Ayahmu nanti. Ayahmu sedang dalam perjalanan kemari. Ibu tahu bahwa semua ini sangat sulit untuk diterima begitu saja. Kembalilah, tenangkan dirimu dan persiapkan diri untuk menemui Ayah kandungmu." Selir Shu hanya bisa tersenyum pahit.