
"Entah kenapa firasatku mengatakan bahwa Profesor Yun terlibat dalam hal ini." Li Junyan yang sekarang ini sedang duduk di sebelah Li Wenrou mengungkapkan kecurigaannya.
Qiao Rong tidak langsung membalas.
Suasana kamar Qiao Rong saat ini sangat canggung. Li Wenrou yang kelihatan khawatir dan seperti ingin mengucapkan sesuatu, hanya bisa memainkan gaunnya dengan gugup.
"Walaupun kemungkinan besar dia pelakunya, tapi sebenarnya ada alasan apa?" Motif. Motif inilah yang membuat Qiao Rong tidak bisa mencurigai siapapun.
"Coba kalian pikirkan, apakah ada kemungkinan kalau orang itu menginginkan Lu Mingzhi tidak menang agar ia tidak mendapatkan hadiahnya?" Li Wenrou mencoba memberikan sebuah saran sambil menggaruk rambutnya.
"Bunga api keabadian? Tapi kenapa?" ujar Qiao Rong.
"Sia-sia saja. Alasannya tidak akan pernah kita ketahui kalau tidak menanyakan Lu Mingzhi mengenai alasannya ikut perlombaan ini secara langsung." Li Junyan menambahkan.
Qiao Rong dan Li Wenrou hanya bisa mengangguk disaat yang bersamaan.
"Singkirkan dulu semua itu, kita punya hadiah yang harus diambil, dan seseorang untuk disembuhkan." Kata-kata Qiao Rong menyudahi pembicaraan.
*****
Angin bertiup cukup kencang walaupun matahari bersinar dengan terik. Kumpulan murid yang berbaris rapi berada di titik mulai perlombaan kemarin. Namun, kali ini mereka berkumpul kembali untuk penyerahan hadiah bagi para pemenang.
Seluruh profesor akademi sudah berbaris rapi di depan barisan murid. Penyerahan hadiah kali ini akan dilakukan oleh Profesor Tang.
Profesor Tang berjalan perlahan ke depan, menghadap barisan murid yang rata-rata berwajah kecewa karena kalah perlombaan kemarin. Walaupun sebenarnya mereka tidak menaruh banyak harapan pada awalnya karena tahu bahwa Lu Mingzhi juga berpartisipasi.
Profesor Tang berdeham. "Juara ketiga dimenangkan oleh Tang Youwei, Hu Qin, dan Cai Gui!" Murid-murid yang namanya disebutkan itu maju ke depan untuk menerima hadiah dengan bangga. Pemenang ketiga hanya mendapatkan beberapa buku teknik dan sekantong koin emas.
Di sisi kiri barisan, Liu Liwei sudah tidak bisa menunggu gilirannya untuk maju. Begitu juga Ding Fanfan yang sudah tidak tahan lagi berdiri dan ingin cepat-cepat merayakan kemenangan.
__ADS_1
"Juara kedua dimenangkan oleh Lu Mingzhi!" Begitu Profesor Tang menyerukan nama pria itu, barisan murid menjadi penuh dengan bisik-bisik kecil. Namun mereka segera tutup mulut ketika Profesor Tang memelototi mereka dengan begitu intens.
Lu Mingzhi maju ke depan dengan wajah yang sangat masam. Bukan hanya masalah kehormatan mengenai 'Penerus Raja Matahari yang mendapatkan juara kedua di perlombaan Akademi Bulan Sabit', namun kali ini dia gagal memenuhi tujuan utamanya datang ke akademi ini.
Profesor Tang memberikan sekantong koin emas yang agak lebih besar dari pemenang sebelumnya kepada Lu Mingzhi, sekaligus beberapa buku teknik berharga dan pil yang sangat membantu untuk kuktivasi.
Tapi bagi Lu Mingzhi, hadiah yang kini ada di tangannya tidak berguna sama sekali untuknya. Hal yang paling ia inginkan, saat ini ada di tangan Profesor Yun untuk diberikan pada pemenang berikutnya.
Wajah masam Lu Mingzhi terus bertahan hingga ia berjalan kembali ke posisinya di barisan semula. Ia sempat melirik ke arah Profesor Yun, namun tatapan balasan dari Profesor Yun menandakan bahwa ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Lu Mingzhi hanya bisa meneguk salivanya dengan pahit.
Sementara itu, mata Qiao Rong sedari tadi hanya terpaku kepada sebuah kotak berukuran sedang yang sedang diserahkan oleh Profesor Yun kepada Profesor Tang.
"Juara pertama diraih oleh Ding Fanfan, Hua Rong, Liu Liwei, dan Zhen Mingran!"
Giliran tim mereka sudah tiba. Mereka berempat secara bersamaan maju ke depan menghadap Profesor Tang, berbaris secara horizontal.
Karena hadiah untuk juara pertama lumayan banyak, mereka masing-masing memegang satu jenis hadiah, terkecuali sekantong koin yang didapatkan masing-masing orang. Zhen Mingran memegang buku-buku teknik berharga, Ding Fanfan memegang beberapa botol pil, Liu Liwei memegang beberapa kertas mantra yang lumayan langka, dan Qiao Rong memegang kotak yang sedari tadi ia perhatikan.
Mereka pun kembali ke barisan.
*****
"Perayaan kemenangan ini, bisakah kalian pergi duluan? Aku sebisa mungkin akan menyusul." Qiao Rong merasa bersalah, namun ia benar-benar harus segera menyerahkan bunga api keabadian untuk Shen Haofeng.
Untungnya, anggota timnya setuju untuk memberikan bunga api keabadian itu kepada Qiao Rong. Lagipula, tidak ada dari mereka yang membutuhkannya. Mereka juga merasa bahwa Qiao Rong sudah berkontribusi besar pada taktik tim mereka sehingga mereka bisa menang.
Zhen Mingran segera menyadari rasa gugup yang muncul dibalik ekspresi tenang Qiao Rong.
__ADS_1
"Tentu saja Hua Rong! Tidak apa-apa!" Zhen Mingran buru-buru menyeret Ding Fanfan dan Liu Liwei yang baru saja ingin membuka mulut.
Qiao Rong hanya bisa melambaikan tangan kepada mereka dari belakang sambil tersenyum dengan canggung, memeluk kotak yang menyimpan bunga api keabadian di tangan kirinya.
Agar lebih aman, ia buru-buru memasukkan kotak itu ke dalam ruangan Kitab Yin Yang.
Dari Akademi Bulan Sabit ke Menara Bulan, membutuhkan waktu yang tidak sebentar oleh karena itu Qiao Rong langsung bersiap pergi agar tidak sampai saat matahari sudah terbenam dan hari sudah gelap.
Baru saja sampai di gerbang akademi, tangan Qiao Rong sudah ditarik dari belakang. Terkejut, Qiao Rong segera melayangkan satu tinju kepada orang dibelakangnya. Namun, tinju itu berhenti di tengah jalan setelah Qiao Rong melihat bahwa orang yang tadi menarik tangannya adalah Lu Mingzhi.
"Apa yang kau inginkan?" Qiao Rong merasa waspada terhadap pria itu.
"Bunga api keabadian. Aku mohon padamu, akan kubayar berapapun. Sebutkan saja, aku sangat membutuhkan bunga itu." Wajah Lu Mingzhi memelas, tidak pernah ia sangka setelah bertahun-tahun diperlakukan sebagai calon penerus Raja Matahari akan datang hari dimana ia harus memohon kepada orang lain.
Qiao Rong kini akhirnya menemukan potongan puzzle yang sudah terpasang dengan pas di tempatnya. Benar kata Li Wenrou, tujuan utama Lu Mingzhi adalah bunga api keabadian.
Tapi ia tidak bisa memberikannya begitu saja walaupun ia juga merasakan simpati melihat ekspresi menyedihkan pria di depannya itu. Shen Haofeng jauh lebih penting.
"Maafkan aku, tapi aku juga sangat membutuhkannya." Qiao Rong menatap pria itu selama beberapa detik, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke depan. Ia merasa sudah tidak memiliki kata-kata lagi untuk diucapkan kepada Lu Mingzhi.
"Kumohon! Kalau kau mau posisi penerus Raja Matahari, itu juga akan kuberikan padamu!" Ini adalah titik batas akhir dari penawaran Lu Mingzhi. Dengan mengatakan hal itu, sadar tidak sadar ia sudah menempatkan Ye Xiaoran dalam posisi yang lebih penting dari statusnya sebagai penerus Raja Matahari.
Perkataan itu membuat langkah Qiao Rong terhenti. Membuat Qiao Rong berpikir, apa yang begitu penting hingga pria di belakangnya rela mempertaruhkan statusnya.
Namun, Shen Haofeng jauh lebih penting baginya.
Qiao Rong meneruskan perjalanannya, tidak menoleh kembali ke belakang.
Lu Mingzhi hanya bisa menatap punggung wanita itu semakin jauh dari belakang. Melihat bahwa Qiao Rong tidak berniat untuk menerima tawarannya, mata Lu Mingzhi menjadi panas. Ia harus mendapatkan bunga api keabadian dengan cara apapun.
__ADS_1
Dan ia mulai berlari, melayangkan tinjunya ke arah Qiao Rong dengan sekuat tenaga.