Abandoned Princess

Abandoned Princess
Masa Lalu (3)


__ADS_3

Jiang Junwei menatap Shen Haofeng dengan ngeri.


Pemuda enam belas tahun itu tidak berkutik sama sekali di hadapan peti mati Yu Rong sejak lima jam yang lalu.


Tatapannya kosong seperti mayat hidup.


Jiang Junwei sudah berusaha berbicara dengannya, juga menepuk-nepuk bahunya. Namun pemuda itu tidak bergerak sedikitpun.


Sementara itu, peti mati yang berisi jasad Yu Rong kini sedang ditaruh di bawah sinar bulan paling terang seperti tradisi Sekte Bulan. Esok harinya barulah peti mati itu akan dihanyutkan di laut dengan harapan agar jiwa pemimpin itu akhirnya dapat bebas dari segala beban dan tanggung jawab.


Jiang Junwei hanya bisa menghela napas. Kini anak yang ia awasi tumbuh dan kembangnya itu akan segera menerima beban berat menjadi Raja Bulan. Dan tanggung jawab itu bahkan baru diketahui oleh Shen Haofeng setelah kakek yang disayanginya meninggal dunia.


Terkejut. Marah. Kecewa. Terbeban. Tertekan.


Jiang Junwei sudah hidup bersama dengan Shen Haofeng selama itu sehingga bisa langsung melihat emosi yang ada di balik kedua mata bertatapan kosong itu.


*****


Satu hari sebelumnya..


Jiang Yunli membawa tubuh tidak berdaya Yu Rong secepat mungkin ke kediaman Raja Bulan. Sekte Bulan berbeda dengan sekte lain yang hidup berdampingan dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.


Alih-alih seperti itu, Sekte Bulan memiliki wilayah tersendiri di seberang Kerajaan Han. Kota Purnama, itulah bagaimana wilayah ini disebut. Luasnya lebih kecil dari sebuah kerajaan, namun lebih besar dari pada Ibukota kerajaan-kerajaan lainnya.


Jiang Yunli secepat mungkin menggendong tubuh Yu Rong dan menggunakan qinggong untuk sampai di Kota Purnama. Ia bahkan tidak bisa makan dan minum selama empat hari empat malam.


Kalau saja ia tidak menggendong tubuh Yu Rong, pasti ia sudah akan sampai di Kota Purnama lebih cepat.


Sementara itu Shen Haofeng yang masih shock, terlebih dahulu ditemani oleh Jiang Junwei sebelum akhirnya pergi menyusul.


Dan akhirnya Shen Haofeng tiba di Kota Purnama. Namun ia tidak dapat menyempatkan diri untuk memandangi pemandangan baru ini sejenak.


Shen Haofeng dan Jiang Junwei bergegas ke arah Menara Bulan dan langsung masuk tanpa halangan. Semua warga di kota tentu tahu Keluarga Jiang. Tidak ada yang dapat menghalangi mereka begitu Jiang Junwei menunjukkan wajahnya.


Shen Haofeng tiba dengan napas yang tersengal-sengal. Sementara Jiang Junwei langsung menerobos pintu ke lantai teratas untuk mengecek keadaan.


Seorang tabib keluar perlahan dari kamar yang berada di lantai paling atas Menara Bulan. Dan ia tidak kelihatan terkejut mendapati dua orang pria yang terlihat berantakan dan kelelahan


"Tabib Luo, bagaiman—" Jiang Junwei dengan segera bertanya.


Namun, hanya mendapatkan jawaban seperti yang sudah ia perkirakan.


Tabib Luo menggelengkan kepala dan membungkuk dengan sedih.

__ADS_1


Jiang Junwei hanya bisa membuang wajahnya ke samping dan menutup matanya erat-erat. Ia tidak bisa melihat ekspresi Shen Haofeng saat ini. Ia tidak berani.


Barulah setelah Tabib Luo mengundurkan diri, Jiang Junwei menatap ke arah Shen Haofeng dengan serius.


Ia berlutut dan membungkukkan kepalanya hingga menyentuh lantai.


"Salam hamba kepada Raja Bulan!"


*****


"Apakah anda mengerti yang sudah saya jelaskan dari tadi, Yang Mulia?" Tanya Jiang Junwei dengan nada khawatir.


Namun Shen Haofeng belum juga merespon.


Sudah satu jam berlalu sejak ia menjelaskan mengenai struktur Sekte Bulan dan tugas pemuda itu sekarang. Bagaimana ia harus mengendalikan situasi dan para tetua, dan hal-hal lainnya yang berkaitan penting dengan posisi Raja Bulan.


Namun Shen Haofeng belum berubah dari posisi duduknya semenjak ia masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh Jiang Junwei.


Jiang Junwei sangat ingin melimpahkan beban ini kepada Ayahnya. Namun sangat disayangkan bahwa Ayahnya langsung pingsan begitu sampai mengantar tubuh Yu Rong ke lantai teratas Menara Bulan.


Sudah kesekian kalinya Jiang Junwei menghela napas dengan gelisah.


Ia tahu bahwa tanggung jawab ini sangat besar bagi Shen Haofeng yang tidak pernah keluar dari gua tempat ia dibesarkan. Seorang bocah yang sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Sekte Bulan dan tujuan ia hidup selama ini.


"Dimana.. Kakek?" Walaupun terdengar lirih, namun Jiang Junwei tidak pernah merasa selega itu dalam hidupnya.


"Yang Mulia seharusnya sedang mengikuti tradisi Sekte Bulan, akan saya tunjukkan jalannya." Namun Jiang Junwei tidak tahu bahwa pemuda itu akan memandangi peti mati kakeknya untuk lima jam kedepan.


*****


"Percuma anda seperti ini, Yang Mulia." Tabib Luo tersenyum menatap punggung Shen Haofeng yang terdiam menatap peti mati Yu Rong.


Akhirnya setelah lima jam, ada yang menyelamatkan Jiang Junwei dari penderitaan batinnya menunggu Shen Haofeng tersadar.


Jiang Junwei menghela napas dengan lega.


"Bukankah anda sudah dengar alasan Kakek anda membesarkan anda di gua? Terisolasi dari seluruh masalah kehidupan agar anda berkultivasi, menjadi kuat, dan akhirnya bisa memimpin Sekte Bulan. Apakah yang anda lakukan sekarang membuatnya bangga?" Tabib Luo mempertahankan senyumannya.


"Ke..na..pa..? Kenapa.. pergi?" Suara lirih akhirnya terdengar dari mulut pemuda itu.


Tabib Luo menghela napas.


"Apakah anda pernah bertanya-tanya berapa umur Kakek anda? Dibalik wajah keriputnya yang terlihat muda.. Ia sudah mengkonsumsi tiga buah legendaris untuk memperpanjang masa hidupnya. Hanya untuk anda." Tabib Luo perlahan mendekat ke arah Shen Haofeng.

__ADS_1


"Kakek anda sudah berumur seratus lima puluh dua tahun. Disamping umur panjangnya sebagai salah satu kultivator terkuat di dunia, ia menghabiskan sisa hidupnya untuk membesarkan anda untuk menjadi penerusnya." Lanjut Tabib Luo sembari menepuk-nepuk bahu Shen Haofeng.


"Hargailah usahanya. Jangan sia-siakan itu."


Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Tabib Luo pergi dengan senyuman damai di wajahnya.


Jiang Junwei masih menunggu beberapa menit hingga akhirnya Shen Haofeng berbicara.


"Ambilkan topeng."


Jiang Junwei mengangguk dan segera menyerahkan sebuah topeng kepada Shen Haofeng.


"Ayo. Bereskan tetua-tetua itu." Matanya yang berbalik menatap Jiang Junwei terasa tidak nyata. Baru beberapa menit lalu Jiang Junwei menatap mata kosong yang sangat dalam seperti lubang tanpa ujung. Walaupun berada di balik topeng, Jiang Junwei dapat melihat wajah penuh amarah pemuda itu.


Dan sekarang, mata pemuda itu sangat menakutkan. Jiang Junwei hanya bisa bergidik melihat mata berapi-api yang mengerikan itu.


*****


Hanya butuh setahun.


Satu tahun bagi Shen Haofeng untuk menjadi Raja Bulan yang diakui oleh para tetua dan segera melaksanakan proses penobatannya.


Hanya dalam setahun ia menjadi Raja Bulan yang ditakuti dan dihormati semua orang.


Itu semua karena ia membunuh semua orang yang menghalangi jalannya.


Tetua-tetua yang menentangnya menjadi Raja Bulan.. mungkin sudah menjadi mayat yang jasadnya tidak utuh dan dibuang ke dalam Hutan Kegelapan.


Akademi Bulan Sabit, akademi yang paling utama di Sekte Bulan bahkan menghasilkan lulusan-lulusan dengan kekuatan yang lebih menakjubkan dari tahun-tahun sebelumnya.


Hal ini membuat mulut seluruh tetua yang sebelumnya menentang Shen Haofeng menjadi bungkam. Pemuda itu seakan menutup mulut mereka dengan paksa. Ia menekan mereka dan mendorong mereka ke sudut tanpa ada celah untuk melarikan diri.


Semua orang takut padanya.


Jiang Junwei hanya bisa mengikuti Shen Haofeng seperti biasa. Melindunginya dalam bayangan, dan mengerjakan seluruh perintah Shen Haofeng diam-diam. Itulah tugas Keluarga Jiang.


Sementara Jiang Yunli akhirnya pensiun dan menikmati hidupnya di kediaman Jiang bersama Nyonya Fu dan anak perempuannya.


Hingga akhirnya terjadilah peristiwa yang sangat disayangkan itu.


Racun Titik Beku itu bersarang di tubuh Shen Haofeng. Dan ia tahu ia harus mencari tempat yang kaya dengan qi untuk memperlambat efek kerja Racun Titik Beku.


"Tidak, tempat kaya qi saja tidak akan bertahan lama, Yang Mulia. Anda harus pergi mencari buah kunlun." Tabib Luo berkeringat dingin setelah memastikan racun yang ada di dalam tubuh tuannya sekarang.

__ADS_1


Desa Nanshan.


__ADS_2