
Qiao Rong berjalan pelan ke arah taman paviliun. Sesuai permintaan, Chu Yue telah menyiapkan jamuan teh krisan dan sebuah guqin di dalam sebuah gazebo.
Qiao Rong membungkuk hormat saat bertemu dengan Pangeran Qin. Ia cukup tampan, rambut panjangnya halus dan terlihat sangat lembut. Mereka mulai duduk dan menikmati jamuan teh krisan itu.
"Aku dengar kau mendapatkan hadiah dari Ayah, Adik." Pangeran Qin memulai pembicaraan. Nada suaranya memang sangat lembut. Qiao Rong sadar sekarang mengapa Chu Yue menyebutnya sangat berbeda dari adik dan ibunya.
"Ya, suatu kehormatan, Pangeran." Qiao Rong menjawab pelan. Matanya mencari-cari suatu hal yang ingin dia lihat, namun tidak menemukannya.
"Tidak usah formal begitu. Kita ini keluarga." Qiao Qin tersenyum dengan lembut. Bisa dibilang, karena perangainya yang lembut inilah Kaisar menjadikannya putra favorit kedua setelah Putra Mahkota.
"Baiklah, Kalau Kakak meminta." Qiao Rong membalas senyuman itu. Namun dia terlihat agak kecewa tidak menemukan hal yang ia cari dari tubuh Pangeran Qin.
"Maaf lancang, Kakak. Apakah Kakak memiliki tanda lahir bertitik tiga?" Qiao Rong terpaksa menanyakan hal itu sebelum menjalankan rencananya untuk memastikan.
"Ya.. bagaimana kau tahu?" Setelah Pangeran Qin menjawab, Qiao Rong segera tersenyum sinis. Tebakannya benar, ia tidak menyangka Selir Wu akan sangat kejam dengan menggunakan anak adopsinya sendiri.
"Apakah Kakak merasa sulit tidur saat malam, dan malah kebanyakan tidur di siang hari?" Qiao Rong lanjut bertanya tanpa menjawab pertanyaan Pangeran Qin. Alis Pangeran Qin mengernyit. Namun ia tidak bisa mengelak.
"Ya.." Untuk pertama kalinya sejak awal pembicaraan mereka, Pangeran Qin menjawab dengan lirih. Sepertinya masalah ini telah menggangunya untuk waktu yang lama.
"Maka ijinkan Adik membantu permasalahan Kakak." Qiao Rong berdiri dan menuju gazebo untuk memainkan guqinnya. Pangeran Qin kebingungan, tapi untuk seseorang yang dapat mengetahui permasalahannya dengan melihat saja.. Pangeran Qin tidak bodoh, ia tahu ada sesuatu dibalik putri yang suka menjadi bahan olokan rakyat itu.
Qiao Rong duduk di gazebo dan mulai memainkan nada demi nada. Chu Yue yang mendengarnya dari samping sangat kaget. Tidak disangka Qiao Rong bisa memainkan guqin begitu indah, padahal ia paling tidak berbakat di bidang musik. Namun apabila menghitung hal-hal tidak terduga yang telah Qiao Rong lakukan setelah hampir meninggal, Chu Yue merasa bisa menerimanya, terlebih lagi perubahannya menuju ke arah positif.
Setelah Qiao Rong selesai memainkan guqin, fokusnya kembali pada Pangeran Qin. Yang sekarang ini sedang memandanginya takjub. "Permainan Adik sangat hebat." Ujarnya.
__ADS_1
Namun tanpa disangka Qiao Rong tidak menjawab pujian itu, namun langsung menyuruh para pelayan untuk pergi dan berfokus pada tangan Pangeran Qin. "Apakah Kakak lihat gundukan kecil di telapak tangan Kakak itu?" Pangeran Qin yang tadinya tidak menyadarinya menjadi tercekat.
Ada suatu gundukan kecil di tangannya yang hidup. Seperti makhluk kecil yang ingin menerobos keluar. Ia mulai menyentuh gundukan kecil itu, dan seperti perkiraannya, gundukan kecil itu bergerak.
"A-Adik.. Ini..." Qiao Rong hanya tersenyum. Inilah persiapan yang ia lakukan untuk menyambut Pangeran Qin. Tentunya sambutan harus diikuti dengan niat baik. Tapi ia juga membutuhkan sekutu. Hari ini, ia tidak akan membiarkan Pangeran Qin pergi tanpa suatu kesepakatan.
"Ini adalah Cacing Gu. Namun jenis Cacing Gu ini, dengan insiden Cacing Gu kemarin dengan Putri Lan, tentu berbeda. Cacing Gu jenis ini lebih susah didapatkan, karena Cacing Gu ini digunakan untuk mengontrol pikiran seseorang. Nah, Kakak.. di seantero Istana ini... Siapa yang akan mendapatkan keuntungan dari keberadaan Kakak?" Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Qiao Rong kembali duduk diam sambil meminum teh krisan. Ajakan negosiasi telah selesai dilancarkan.
"Ini..." Pangeran Qin mulai gemetar. Tentu ia tidak bodoh. Malah dengan mudahnya ia dapat menebak siapa yang memasukkan Cacing Gu ini ke dalam tubuhnya. Selir Wu. Ibu angkatnya sendiri.
"Cacing Gu ini sudah sangat lama berada di dalam tubuh Kakak. Lihat saja ia sudah sebesar apa." Qiao Rong menambahkan api dengan sengaja kepada Pangeran Qin.
Pangeran Qin terlihat tidak bisa berkata-kata. Ia agak terguncang. Selama ini dia bisa mentolerir adik dan ibunya karena telah membesarkannya. Tapi mengendalikan pikirannya? Ini jelas sudah kelewatan.
"Apakah kau yakin bisa mengeluarkan Cacing Gu ini?" Pangeran Qin terlihat ragu. Namun sebenarnya ia melihat Qiao Rong dengan sangat putus asa. Qiao Rong hanya tersenyum.
"Mana berani Adik menunjukkannya, jika tidak bisa mengeluarkannya?" Qiao Rong menatap Pangeran Qin dalam-dalam. Pangeran Qin tahu artinya, kesepakatan pengobatan ini, jika ia terima maka musuh mereka akan menjadi sama. Pertanyaannya adalah, apakah ia akan tega memukul mundur ibu angkatnya yang telah membesarkannya sekian lama?
"Baiklah, Kakak mohon bimbingan Adik." Qiao Rong sudah tidak perlu menanyakannya lagi. Segera setelah Pangeran Qin selesai membungkuk, Qiao Rong mulai tersenyum ceria.
"Dengan senang hati, Kakak. Sebuah kehormatan." Qiao Rong membalas.
*****
Setelah berbincang lebih jauh mengenai metode pengobatan dan durasi, Qiao Rong dan Pangeran Qin sepakat untuk melakukan akupuntur di Paviliun Yun secara rahasia setiap Jumat malam. Sesi akupuntur itu akan berlangsung selama tiga jam, oleh karena itu memerlukan pasukan bayangan khusus Pangeran Qin untuk mewaspadai setiap dayang maupun kasim yang ada di Paviliun Yun.
__ADS_1
Pangeran Qin yang kelihatannya puas dengan kesepakatan mereka, akhirnya mengundurkan diri dan pergi. Qiao Rong segera masuk kembali ke kamarnya bersama Chu Yue. Ia merebahkan dirinya di atas ranjang. Hari ini, kejutannya membutuhkan banyak tenaga. Batinnya.
Chu Yue yang melihat Qiao Rong kelelahan segara pergi untuk menyiapkan air mandi.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Li Junyan yang tiba-tiba keluar dari ruang Kitab Yin Yang. Qiao Rong tertawa keras.
"Aku menebaknya. Hahaha!" Li Junyan hanya bisa mendesah panjang. Ia merasa sangat bodoh sudah memandangnya begitu pintar.
"Itu hal yang sangat sederhana kau tahu, berdasarkan apa yang aku ketahui tentang sifat Selir Wu, ia pasti mengadopsi Qiao Qin dengan suatu alasan. Hal yang paling logis adalah untuk mempromosikan kedudukan selirnya." Qiao Rong menjelaskan kepada Li Junyan dengan malas.
"Lalu?" Namun Li Junyan semakin penasaran dengan logika gadis itu.
"Pangeran Qin yang sifatnya sangat baik tentu tidak akan berguna. Dengan insiden Cacing Gu itu, aku menyadari bahwa Selir Wu lebih rumit dari yang sebenarnya. Cacing Gu itu berasal dari daerah Utara, maka hanya orang Utara yang bisa memeliharanya. Namun ia bukan orang Utara, maka tebakan yang paling tepat adalah bersekongkol dengan orang Utara." Qiao Rong mulai menantikan kembalinya Chu Yue.
"Kenapa kau bisa tahu banyak soal guqin itu?" Li Junyan bertanya dengan penasaran.
"Karena Ibu kandungku adalah orang Utara. Sejak kecil aku sudah dilatih untuk mengeluarkan Cacing Gu, nada-nada guqin yang memprovokasi Cacing Gu juga harus kupelajari." Dengan penjelasan Qiao Rong yang satu itu, maka Li Junyan akhirnya berhenti bertanya lebih jauh.
Membicarakan kembali Ibunya, Qiao Rong menjadi teringat kembali dendam-dendam lama yang sudah ia balaskan. Namun teriakan orangtuanya dalam kebakaran mengenaskan yang menewaskan mereka tidak akan pernah terlupa dari ingatannya.
Tiba-tiba Chu Yue datang untuk memberitahu bahwa air mandi sudah siap, yang langsung membuyarkan pikiran Qiao Rong. Li Junyan yang sedaritadi sudah kembali ke ruang Kitab Yin Yang sudah tidak bersuara lagi.
Qiao Rong butuh berendam di air panas untuk menenangkan pikirannya. Hari ini ia sangat lelah. Entah apalagi masalah yang menunggunya besok.
Qiao Rong hanya bisa berharap pengobatan Pangeran Qin berjalan lancar. Jika hal ini diketahui pihak lawan, tentunya celakalah ia. Qiao Rong memutuskan untuk berkultivasi setelah mandi, ia harus segera naik ke level Putri Lan. Dia harus menyiapkan rencana lainnya.
__ADS_1