Abandoned Princess

Abandoned Princess
Berubah Pikiran


__ADS_3

"Ya?" Pria dibalik topeng itu ternyata adalah Shen Haofeng. Walaupun tidak mengenali wajahnya karena tertutup topeng, tentu Qiao Rong tidak akan melewatkan suara pria itu.


Qiao Rong justru kebingungan. Bagaimana bisa Shen Haofeng adalah Raja Bulan yang kejam dan bengis? Qiao Rong memandangi pria itu lekat-lekat. Suaranya memang suara Shen Haofeng, auranya juga Shen Haofeng, apalagi anting itu.


"Kenapa kau kesini?" Tanya Qiao Rong.


"Aku sudah bilang akan datang bukan?" Mendengar jawaban pria itu, wajah Qiao Rong memerah.


Raja Bulan hanya tersenyum. Lalu terkejut karena tiba-tiba Qiao Rong berjinjit, mendekatkan wajah, lalu melepas topeng yang ada di wajahnya.


Namun begitu Qiao Rong melepas topeng itu, ia seketika membeku.


Setelah sudah lama tidak melihat wajah Shen Haofeng, entah kenapa ia merasa seperti tersihir. Matanya yang indah, hidungnya yang mancung, dan alisnya yang tebal. Bahkan kini pria itu terlihat lebih cantik daripada wanita.


Shen Haofeng tidak segera menyadarkan gadis itu dari lamunannya akibat memandangi wajahnya. Namun ia membiarkan Qiao Rong untuk memandangi wajahnya lebih lama.


"Kau bilang aku tunanganmu?" Tanya Shen Haofeng.


Kata-kata itulah yang menyadarkan Qiao Rong. Seketika gadis itu jadi tersipu dan salah tingkah. Ia langsung membalikkan badan lagi.


"Si-siapa bilang? Aku berubah pikiran." Gadis itu mencoba menjawab dengan ketus, namun malah terdengar imut.


Shen Haofeng tertawa pelan, namun mendengar tawa pria itu, telinga Qiao Rong memerah. Sudah berapa lama ia tidak melihat pria itu tersenyum?


"Kalau begitu, akan kucoba mengubah pikiranmu lagi." Mendengar itu, Qiao Rong mengerjap-ngerjapkan matanya. Tidak ada salahnya jual mahal sedikit bukan?


Namun respon selanjutnya sama sekali tidak ia duga. Shen Haofeng malah menarik tangannya dan memeluk pinggang gadis itu dengan satu tangan lainnya. Kini mereka saling berhadapan, jantung Qiao Rong terdengar tidak karuan.


Sebenarnya, Qiao Rong juga bingung apa yang membuat jantungnya bisa seperti itu. Rasanya ia sudah biasa saat kakak-kakak seperguruannya memeluknya atau merangkulnya saat memenangkan kompetisi. Namun sama sekali tidak pernah merasa jantungnya berdebar begitu cepat.


"Apakah kau berdebar-debar?" Tanya Shen Haofeng.


"Ah?" Qiao Rong segera sadar dari kenikmatan momen sementara itu.


"Jiang Junwei bilang semua wanita akan berdebar jika aku melakukan ini." Wajah Shen Haofeng terlihat sangat polos.


Qiao Rong seketika merasa kesal dan sangat ingin meninju pria di depannya itu. Pada akhirnya, Qiao Rong hanya mendorong Shen Haofeng dan berjalan kembali ke Paviliun Yun dengan wajah kesal.


Di belakang, Shen Haofeng yang kebingungan karena respon gadis itu masih melongo.


"Apa salahku?"

__ADS_1


*****


"Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!" Qiao Rong merutuki bantal yang sedang ia pegang dengan kesal.


Tiap kali ia melihat bantal itu, seketika pikirannya akan membayangkan Shen Haofeng dan wajah polosnya.


Pria itu tetap saja tidak peka dan hanya bisa meniru apa yang orang lain bilang padanya. Padahal, hanya sedikit lagi, mungkin hati Qiao Rong akan luluh.


Li Junyan yang melihat perilaku Qiao Rong dari samping hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. Beginilah, bahkan jenius yang jatuh cinta pun bisa bertindak bodoh. Misalnya saja gadis di depannya yang sedang memukuli bantal.


Apa salah bantal itu? Li Junyan malah merasa kasihan.


"Li Junyan! Kau kan juga laki-laki! Coba katakan padaku kenapa dia begitu bodoh?!" Qiao Rong menatap bocah itu dengan tajam.


"Eh... Salahmu memilih pria yang begitu sulit dan bodoh, apa hubungannya dengaku? Mana kutahu." Li Junyan mendengus dan kembali memakan camilan yang ada di atas meja.


Akhirnya aksi Qiao Rong itu berhenti ketika terdengar suara ketukan dari arah pintu. Qiao Rong menyuruh orang itu masuk, dan munculah Chu Yue seperti yang sudah diperkirakan.


Chu Yue terlihat senang dan seperti punya kabar menggembirakan.


"Yang Mulia! Tadi hamba baru saja mendengar dari dayang-dayang yang melayani jamuan. Katanya anda menolak lamaran Raja Bulan?!" Chu Yue terlihat girang.


Qiao Rong hanya mengangguk lemah. Chu Yue pikir, tentunya Qiao Rong tidak senang karena sudah menyukai Shen Haofeng. Wajar saja kalau Qiao Rong menolak.


Sekali lagi, Qiao Rong hanya mengangguk lemah.


"Tapi.. apakah anda pernah bertemu dengan Raja Bulan? Bagaimana bisa dia melamar anda begitu saja?" Mendengar perkataan Chu Yue, bahkan Li Junyan hanya bisa menepuk dahinya frustasi.


Qiao Rong tiba-tiba berjalan ke arah gadis itu dan mendorong bahunya dengan pelan agar berjalan ke arah pintu.


"Kau pikirkan baik-baik saja, ya. Sekarang aku akan beristirahat." Qiao Rong tersenyum pada gadis itu.


Brakkk.


Pintu segera tertutup. Chu Yue yang masih melongo melihat pintu merasa kebingungan.


"Sepertinya memang tidak ingin cerita padaku." Chu Yue menghela napas. Akhirnya gadis itu pergi ke arah kumpulan dayang lain yang ada di Paviliun Yun.


*****


"Bagaimana? Apakah aku salah?" Shen Haofeng kelihatan gugup.

__ADS_1


"Yang Mulia.." Mendengar hal yang diceritakan oleh Shen Haofeng, ingin rasanya Jiang Junwei memukul tuannya itu. "Tentu fakta bahwa aku yang memberitahumu tidak boleh diberitahukan!" Jiang Junwei kelihatan frustasi dan kesal.


"Tapi aku hanya jujur..?" Shen Haofeng mengeluarkan raut wajah kebingungannya.


"Wanita tidak suka kalau pria hanya menjiplak apa yang pria lain lakukan." Jiang Junwei langsung berterus terang. Shen Haofeng hanya mengangguk-angguk.


"Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanya Shen Haofeng dengan penasaran.


*****


"Hoaaammm.." Matahari sudah mulai terbit, akhirnya Qiao Rong turun dari ranjangnya.


"Chu Yue!" Begitu dipanggil, Chu Yue yang dari tadi memang sudah menunggu Qiao Rong bangun segera masuk ke dalam kamar.


"Yang Mulia." Chu Yue membungkuk sebentar, lalu mengangguk saat Qiao Rong menyuruhnya untuk bersiap seperti biasa. Gadis itu langsung pergi keluar dan mempersiapkan air mandi dan makanan dengan beberapa dayang lainnya.


Sesaat setelah Chu Yue pergi, tiba-tiba ada suara ketukan pintu lainnya. Qiao Rong tentu kebingungan. Apakah mempersiapkan air mandi begitu cepat?


Begitu ia mempersilahkan orang yang di depan untuk masuk, pintu terbuka. Dan yang berdiri di depan pintu adalah Shen Haofeng.


Pria itu masih memakai topeng, dengan senyuman yang sama, hanya saja dengan pakaian berbeda. Hari ini pakaian biru tuanya membuatnya kelihatan lebih elegan.


Qiao Rong terkejut melihat pria itu pagi-pagi sekali. Qiao Rong segera panik karena ia sama sekali belum bersiap-siap ataupun bersih-bersih. Qiao Rong juga masih teringat kejadian kemarin.


Oleh karena itu, gadis itu segera berlari ke arah pintu dengan cepat dan menutup pintu dengan paksa.


Brakkkk.


Qiao Rong bahkan menahan pintu itu dengan qi nya agar tidak bisa dibuka dengan paksa dari luar. Namun detik demi detik berlalu, masih belum ada respon apa-apa dari balik pintu.


"Hari ini, aku hanya ingin meminta maaf karena sudah melakukan kesalahan kemarin." Nada Shen Haofeng terdengar begitu tulus. Qiao Rong agak tersentuh mendengarnya.


"Hal-hal seperti ini, aku belum mengalaminya sebelumnya. Jadi tidak tahu harus seperti apa. Kuharap kau bisa memakluminya." Lanjut pria dibalik pintu itu.


Hati Qiao Rong melembut mendengar kata-kata pria itu. Diingat-ingat lagi, Raja Bulan memang dikenal tidak suka wanita. Wajar saja kalau hal-hal percintaan tidak diketahuinya.


Perlahan-lahan, Qiao Rong menarik kembali qi-nya. Tenaga tangannya untuk menahan pintu juga berkurang.


Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk langsung menghadapi pria itu saja.


Pintu dibuka, dan terlihatlah wajah Shen Haofeng yang langsung senang karena melihatnya.

__ADS_1


"Apa urusanmu datang pagi-pagi begini? Apakah Raja Bulan tidak tahu bahwa datang seperti ini sangat tidak pantas?" Qiao Rong mencoba agar nada bicaranya terdengar sedikit ketus. Tapi lagi-lagi Shen Haofeng malah menemukan kalau nadanya itu sangat lucu.


"Bagaimana kalau berjalan-jalan denganku?" Tanya Shen Haofeng.


__ADS_2