
Jiang Junwei berjalan dengan pelan di belakang Shen Haofeng. Kini mereka berdua sudah dibalut dengan pakaian dan jubah hitam elegan, ditambah dengan topeng yang Shen Haofeng pakai, mereka berdua tidak bisa lebih misterius lagi.
Kini mereka sedang berada di sebuah istana pertemuan megah, yang sering disebut dengan Istana Huiyi.
Istana Huiyi dibangun dengan arsitektur megah, dikelilingi dengan hutan bambu. Bahkan meja dan kursinya dilapisi oleh emas mewah.
Inilah istana yang digunakan ketiga sekte besar untuk setiap pertemuan darurat. Dengan bangunan luas yang keseluruhan paviliunnya cukup untuk menampung dua ratus orang. Dibangun oleh para pendahulu ketiga sekte besar.
Shen Haofeng mempercepat langkahnya. Ia sudah sangat dekat dengan aula utama yang dipenuhi meja-meja dan kursi-kursi pertemuan.
Untungnya, ia mendapatkan pemandangan yang ia harapkan.
Raja Matahari, beserta seluruh tetua-tetua Sekte Matahari sudah duduk dengan rapi dan tenang di aula utama. Shen Haofeng menghela napas lega.
"Aku butuh semuanya keluar, kecuali Raja Matahari." Aura Shen Haofeng menyelimuti seluruh aula utama, perlahan ruangan besar itu mulai menjadi gelap seperti dibayangi kegelapan.
Para tetua Sekte Matahari langsung berbisik tak senang, mereka mulai ribut satu persatu.
"Apa yang kau maksud? Sekte Matahari sama sekali berbeda dengan Sekte Bulan yang tidak memandang tetua." Celetuk seorang pria yang duduk di meja belakang.
"Cukup." Satu kata dari Raja Matahari yang kini sedang duduk dan menatap Shen Haofeng dengan pandangan agak tidak senang langsung membungkam semua suara yang ada.
"Xiao Zhi, kau harus lebih sopan, ingat posisimu." Lanjut Raja Matahari.
"Bukankah aku hanya berbicara mengikuti cara bicaranya?" Pria yang disebut itu berbicara dengan sinis, ia melihat Shen Haofeng dengan tatapan tidak suka.
Shen Haofeng tidak punya waktu dan memang tidak berniat menanggapi perkataan pria itu. Ia dan pria itu berada di posisi yang berbeda, dan seharusnya pria itu sadar.
Raja Matahari memberi Lu Mingzhi, anak didiknya sekaligus calon Raja Matahari berikutnya tatapan terakhir. Akhirnya pria itu tersenyum dan diam.
Sebagai calon Raja selanjutnya, hal itu menjadikan Shen Haofeng semacam senior bagi Lu Mingzhi. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa Shen Haofeng memang layak segera menjadi Raja Sekte Bulan sesaat setelah Raja Bulan sebelumnya meninggal dunia. Padahal, mereka seumuran. Hal ini menambah rasa tidak suka Lu Mingzhi pada Shen Haofeng.
"Aku percaya kau mengadakan pertemuan dadakan ini dengan alasan yang sangat penting. Tapi benar apa kata Xiao Zhi, kami Sekte Matahari tidak sama dengan Sekte Bulan." Raja Matahari berkata pada Shen Haofeng sambil tersenyum.
__ADS_1
Shen Haofeng hanya bisa menghela napas.
"Terserah kau saja."
Lalu ia mulai berjalan ke tengah-tengah mereka.
"Hari ini, aku menemukan 'Asap Kegilaan Hitam'."
Segera setelah kata-kata itu meluncur dari bibir Shen Haofeng, terdengar banyaknya suara terkesiap dan bisik-bisik di seluruh ruangan itu.
"Omong kosong! Raja Iblis sudah tidak terlihat semenjak seribu tahun yang lalu!" Salah satu tetua berteriak dari meja depan.
"Betul! Semua orang melihat tubuhnya terbakar pada waktu itu!" Ada satu suara satu lagi menyahut dari belakang. Satu-persatu dari para tetua itu berkoar-koar tidak setuju.
Tiba-tiba sebuah jarum yang ditopang bayangan hitam melesat ke arah leher para tetua yang tadi berbicara. Mereka sangat terkejut hingga melangkah ke belakang beberapa langkah.
Siapa lagi yang bisa melakukan hal itu kecuali Raja Bulan?
"Cukup!" Lagi-lagi Raja Matahari membuat mereka semua terdiam. "Apakah kau punya buktinya?" Lanjut Raja Matahari sambil memandang Shen Haofeng dengan penasaran.
Pria itu dengan sigap mengambil sebuah botol kaca kecil dari dalam pakaiannya. Barulah ia mengantarkan botol kaca kecil itu pada Shen Haofeng dengan hati-hati.
Shen Haofeng lalu mengangkat botol itu agar semua orang yang berada di situ bisa melihatnya. Lalu ia membuka tutup botol itu perlahan.
Seketika, asap hitam yang keluar dari botol kaca itu membuat semua orang terkejut dan terkesiap. Ada beberapa dari mereka yang melongo. Bahkan Raja Matahari melihat hal itu dengan tidak percaya.
Lu Mingzhi juga terkejut melihat asap hitam yang keluar dari botol itu.
Beberapa detik kemudian aula utama kembali dipenuhi keributan. Ada beberapa tetua yang panik, ada juga yang langsung berdiskusi sendiri.
"Diam!!!!!" Shen Haofeng tidak bisa menahan emosinya ketika mendengar keributan itu. Ia paling benci keributan.
Para tetua itu segera tutup mulut.
__ADS_1
"Ini adalah buktinya. Lagipula, walaupun pendahulu kita melihat sendiri tubuhnya dibakar, apakah mereka melihat dan menyatakan esensi murninya telah hancur? Kalian semua tahu selama esensi murni itu tidak hancur, Raja Iblis bisa kembali dan merasuki siapa saja setelah kekuatannya pulih." Shen Haofeng menjelaskan pemikirannya dengan panjang lebar.
"Masalah ini, kita harus benar-benar memikirkannya baik-baik dan mempersiapkan untuk yang terburuk. Darimana kau mendapatkan itu?" Ujar Raja Matahari.
Shen Haofeng terdiam. Kalau ia memberitahukan bahwa Istana Kerajaan Wen adalah tempat ia mendapatkan asap hitam itu.. akan timbul masalah yang tidak diinginkan bagi Qiao Rong yang merupakan anggota keluarga kerajaan.
"Benar juga.. Kudengar Raja Bulan pergi ke Kerajaan Wen untuk kunjungan khusus, kira-kira ada hal penting apa? Jangan-jangan benar-benar mendapatkan asap ini disana?" Ucap salah satu tetua.
Sial. Shen Haofeng berdecak. Kali ini, ia sudah tidak bisa lagi melindungi Kerajaan Wen.
"Aku datang untuk melamar." Shen Haofeng menjawab dengan tenang.
Seketika seluruh aula dipenuhi wajah tidak percaya. "Apakah kau bercanda? Kau boleh melindungi keluarga kerajaan kami mengerti. Mungkin mereka tidak terlibat sama sekali. Tapi mereka juga harus tetap diperiksa. Benar-benar tidak usah sampai beralasan seperti itu. Hahaha." Kata Lu Mingzhi sambil tertawa.
Tetapi lain halnya dengan Raja Matahari. Ia terlihat terkejut. Pikirannya seperti sedang berada di tempat lain saat ini. "Siapa yang kau lamar?" Justru malah pertanyaan seperti itu yang ia lontarkan.
Lu Mingzhi merasa aneh, tapi siapa yang bisa menebak pikiran Raja Matahari? Bahkan Raja Bulan pun misterius dan tidak sopan seperti itu menurutnya.
"Putri Rong." Jawab Shen Haofeng dengan singkat.
Mendengar hal itu, Raja Matahari seperti tersambar petir di siang bolong. Wajahnya tercengang, seperti memperlihatkan rasa kecewa.
"Apakah kau memaksanya? Apakah Kaisar memaksanya?" Mendengar pertanyaan lebih lanjut dari Raja Matahari, Shen Haofeng merasa lebih aneh lagi.
"Apa hubungannya denganmu?" Shen Haofeng menjawab dengan kesal. Toh pernikahannya tidak ada hubungannya dengan orang tua itu.
"Jawab!" Lu Mingzhi memicingkan mata pada Raja Matahari. Ia tidak pernah mendengar gurunya sepanik itu seumur hidupnya. Entah ada apa yang salah dengan hari ini.
"Tidak. Apa kau puas? Hari ini aku sudah memberitahu apa yang seharusnya kuberitahu. Sisanya, silahkan kalian diskusikan dan beritahu aku jawabannya." Shen Haofeng lalu membalikkan badan dan berjalan begitu saja dengan elegan.
Raja Matahari masih kelihatan tercengang, sementara para tetua tidak memperhatikan Shen Haofeng sama sekali karena sibuk mendiskusikan tentang informasi yang mereka dapat hari ini.
Hanya Lu Mingzhi yang masih tertegun dengan kepergian pria itu. Ia tidak menyangka Raja Bulan bersungguh-sungguh melamar seorang wanita. Padahal, kejadian di antara mereka dahulu membuatnya benci pada pria itu.
__ADS_1
Lu Mingzhi penasaran. Wanita seperti apa yang dapat menangkap hati Raja Bulan?