
Pagi itu, Qiao Rong sudah siap dengan pakaian rapi dan riasan sederhana.
Hari ini, ia akan pergi ke pasar di kota untuk membeli beras bersama Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping, sekaligus untuk makan di luar. Walaupun sudah diajak dan dibujuk begitu lama, namun Chu Yue tetap enggan pergi bersama dan bersikeras ingin menjaga rumah.
Duan Yi kemarin sudah meminjam kereta roda kecil yang akan diangkut sebuah lembu yang di miliki salah satu warga. Kereta itu awalnya dipakai untuk mengangkut hasil ladang ke kota, oleh karena itulah awalnya Duan Yi tidak memperbolehkan Qiao Rong ikut serta. Namun melihat betapa keras kepalanya Qiao Rong dan betapa besar keinginannya untuk ikut dari bulan lalu, akhirnya Duan Yi pun setuju. Namun Hu Fei, dan Gao Ping juga harus ikut serta untuk menjamin keselamatan Qiao Rong. Mereka percaya Putri Lan tidak akan berhenti sampai kejadian kemarin saja.
Mendengar suara berisik kereta yang datang, Qiao Rong pun tahu bahwa Duan Yi sudah siap untuk mengantar mereka. Ia segera keluar, namun betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa diatas kereta sederhana itu ada Shen Haofeng yang sedang duduk dengan tenang.
"Duan Yi.. dia?" Qiao Rong yang kebingungan segera meminta penjelasan pada Duan Yi.
"Ah.. dia.. kebetulan tadi pagi bertemu sebelum menjemput kereta, ketika saya bilang ingin membeli beras, tiba-tiba Shen Haofeng meminta untuk ikut karena beras di rumahnya juga habis." Duan Yi menjelaskan panjang lebar dengan panik karena melihat ekspresi Qiao Rong.
Qiao Rong menghela napas. Tidak apa, hanya membeli beras, hanya membeli beras. Ia meyakinkan dirinya sendiri. Ia hanya bisa berharap, hari ini Shen Haofeng tidak memancing emosinya lagi.
Qiao Rong segera naik dan duduk bersebrangan dengan Shen Haofeng, diikuti dengan Hu Fei dan Gao Ping yang menunggu di depan rumah sebelah mereka. Namun karena masih diliputi rasa kesal, sepanjang perjalanan mereka ke kota, Qiao Rong tidak pernah menatap ke arah Shen Haofeng satu kalipun.
Karena itulah, ia melewatkan senyuman Shen Haofeng yang ditujukan padanya. Shen Haofeng merasa sangat lucu, ia seperti melihat seekor kucing yang merajuk karena kemarin lupa diberi makan.
Sesampainya mereka di kota, Gao Ping bertugas untuk menjaga kereta bersama dengan lembu itu di depan pasar. Sementara Qiao Rong, Shen Haofeng, Duan Yi, dan Hu Fei masuk ke dalam.
Duan Yi segera berjalan ke arah pedagang beras langganannya semenjak mereka pindah ke Desa Nanshan.
"Bos.. seperti biasa." Duan Yi lalu menyerahkan satu koin perak untuk dua karung beras.
Pedagang beras itu melihat Shen Haofeng dan langsung menyiapkan satu karung beras tanpa bertanya lagi. Shen Haofeng lalu mengeluarkan 50 koin perunggu dari dompet kecilnya yang ia taruh di ikat pinggang, dan menyerahkannya pada pedagang itu.
"Eh.. mengapa kau bisa tahu dia akan membeli satu karung?" Tanya Hu Fei penasaran.
__ADS_1
"Ah, pemuda yang ini memang selalu kemari tanpa berbicara sedikit pun. Saat pertama kali melayaninya saja aku kebingungan karena dia hanya menunjuk satu karung beras. Namun sudah beberapa bulan, sudah terbiasa." Si pedagang itu menjelaskan sambil tertawa ramah. Hu Fei mengangguk-angguk.
"Yan— Kakak, dia bahkan tidak berbicara sedikitpun saat membeli sesuatu. Padahal kemarin ia berbicara beberapa patah kata padamu. Bukankah itu suatu perbedaan yang berharga?" Hu Fei membisikkan pikirannya pada Qiao Rong.
Wajah Qiao Rong segera memerah, ia langsung memukuli punggung Hu Fei. "Perbedaan apanya? Apakah dia bisu?" Jawab Qiao Rong dengan ketus bercampur malu.
*****
"Kita harus makan enak hari ini dan membawa pulang beberapa untuk Chu Yue dan Gao Ping." Kata Qiao Rong. Duan Yi dan Hu Fei mengangguk.
Mereka memutuskan akan makan di restoran yang sudah terkenal enak di Daerah Shijiao. Restoran Wanmei berada lumayan jauh dari pasar yang tadi mereka kunjungi jika berjalan kaki. Namun, Qiao Rong sangat penasaran mengenai rasa makanan disana hingga bisa menjadi restoran yang terkenal. Jalan yang mereka lalui sangat ramai, dipenuhi dengan penjual dan pembeli makanan.
Di tengah perjalanan, Duan Yi menemukan seseorang yang menjual tanghulu, sehingga tanpa ragu ia langsung membelinya. Tanghulu adalah sebuah manisan buah-buahan. Buah-buahan itu akan ditusukkan dan dicelupkan ke gula cair, yang kemudian akan dikeringkan. Duan Yi tidak bisa melupakannya karena ia sangat sering memakannya waktu kecil dahulu.
Ia segera membeli empat tusuk tanghulu dan membagi-bagikannya. Hu Fei tentunya menerimanya dengan senang, namun Shen Haofeng malah memandangi setusuk tanghulu yang kini berada di tangannya itu.
Shen Haofeng menggeleng.
Hu Fei tercengang. "Masa kecil seperti apa yang kau miliki? Kelihatannya kau tidak begitu sengsara atau miskin, makan tanghulu saja tidak pern—" Duan Yi segera menutup mulut Hu Fei dan menyeretnya ke belakang. Sementara Qiao Rong hanya terkekeh kecil sambil memakan tanghulu miliknya.
"Dasar tidak sopan!" Duan Yi memperingati Hu Fei. Setelah Hu Fei mengangguk-angguk, mereka lekas membalikkan badan untuk kembali berjalan bersama Shen Haofeng dan Qiao Rong. Namun siapa sangka orang yang mereka cari akan menghilang?
*****
Sementara Shen Haofeng masih melihat-lihat tanghulu miliknya, Qiao Rong malah teringat akan masa kecilnya.
Semasa hidupnya sebagai Li Wenhua, ia ingat hanya tiga kali ia makan tanghulu dalam hidupnya. Yang pertama ketika ia dan orangtuanya berjalan-jalan dan membeli tanghulu di tengah jalan seperti saat ini. Yang kedua, ketika ia sedang mengemis di tengah jalan, seorang nenek penjual tanghulu memberikan satu tusuk terakhir tanghulu untuknya karena merasa kasihan. Dan yang ketiga, ketika Ayah angkatnya membelikannya tanghulu di hari mereka bertemu.
__ADS_1
Tidak disangka, seribu tahun kemudian ia masih bisa mencicipi dan memakan tanghulu. Tanpa ia sadari, air matanya sudah jatuh menetes membasahi pipi kanannya.
Qiao Rong mengerjap-ngerjapkan mata dan berniat untuk mengusap air matanya sebelum Shen Haofeng dan yang lainnya menyadarinya. Namun, baru saja tangannya akan terangkat, ia bisa merasakan sebuah ibu jari yang mengusap pipinya.
Qiao Rong tentu terkejut, sontak ia memundurkan kepalanya beberapa sentimeter dari ibu jari itu.
"Jangan menangis." Ujar Shen Haofeng yang kembali menarik ibu jarinya.
Wajah Qiao Rong memerah. Ia segera menghadap ke belakang untuk memastikan Duan Yi dan Hu Fei tidak melihat kejadian itu. Namun, Duan Yi dan Hu Fei tidak ada dibelakang mereka.
*****
"Haiyah.. Kupikir kalian diculik atau dalam bahaya, untungnya hanya terpisah saja." Duan Yi mengela napas dengan lega. Lalu menyumpit sebuah paha ayam yang kemudian ia nikmati dengan lezat.
"Kupikir kalian sengaja memisahkan diri." Jawab Hu Fei, yang segera dijawab dengan jitakan Duan Yi.
"Berpikir apa kau! Kalau Yang Mulia benar-benar jatuh cinta dengan pemuda ini, mau dikemanakan muka Jenderal Su?" Bisik Duan Yi pada Hu Fei. Hu Fei hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan makan siangnya.
Qiao Rong hanya berpura-pura tidak mendengar omongan Hu Fei dan kembali menyantap bakpao kacang merah yang dipesannya. Saat ini mereka berada di Restoran Wanmei, yang merupakan tujuan mereka. Memang benar masakan Restoran Wanmei sangat enak. Qiao Rong bahkan memuji-mujinya lebih enak daripada masakan juru masak istana. Namun karena selama ini masakan Chu Yue sudah sangat sering ia makan, ia hanya sedikit tidak terbiasa.
Shen Haofeng hanya makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sesekali Qiao Rong akan meliriknya dan tertangkap basah oleh Shen Haofeng. Qiao Rong akan segera kembali berfokus pada makanannya dan berpura-pura tidak terjadi apapun.
Kini melihat Qiao Rong, Shen Haofeng malah jadi teringat seekor kucing yang dahulu dipeliharanya, memang kucing itu merajuk karena lupa diberi makan. Namun setelah ia beri makanan kesukaan kucing itu, kucing itu segera menempelinya kembali seolah-olah ia tidak pernah lupa untuk memberi makan kucing itu.
Shen Haofeng tersenyum kecil, namun senyuman itu tidak lolos dari pandangan Hu Fei. "Ah! Shen Haofeng tersenyum! Pemandangan yang begitu langka." Teriaknya dengan bersemangat. Hu Fei tentu tahu betapa rupawan wajah pemuda itu, bahkan ia harus mengakui bahwa Shen Haofeng lebih tampan dari Su Xiao.
Qiao Rong segera menatap Shen Haofeng, namun sepertinya terlambat karena raut wajah Shen Haofeng sudah kembali seperti semula. Datar dan kelihatan dingin. Qiao Rong diam-diam agak kecewa, namun makanan enak di Restoran Wanmei dapat membuatnya melupakan kekecewaan itu.
__ADS_1
Setelah membayar lima koin perak, mereka lalu membungkus beberapa makanan seperti ayam asam manis dan tahu mapo pedas. Dan akhirnya berjalan kembali ke depan pasar untuk bertemu dengan Gao Ping yang akan mengantar mereka pulang.