
Pagi itu sangat cerah, Putri Lan yang sedang meminum tehnya dengan pelan sambil menikmati pemandangan Paviliun Rong sudah mendengar berita pulangnya Qiao Rong kemarin. Tentu dia kesal. Lagi-lagi dia gagal membunuh Qiao Rong dalam kesempatan yang begitu bagus. Putri Lan hanya bisa menelan amarahnya bulat-bulat.
Salah seorang dayang maju dan membisikkan sesuatu padanya.
"Apa? Kompetisi Empat Musim?" Sebuah senyum merekah di wajah Putri Lan. "Hahaha! Apakah dia sudah gila? Kalau begitu, tinggal tunggu saja ajalnya di tanganku! Hahaha!" Putri Lan tertawa dengan puas. Qiao Lan begitu bersusah payah berusaha untuk mencelakai Qiao Rong, sekarang gadis itu datang sendiri ke tangannya, bukankah ia harus memberinya sambutan dengan baik?
Qiao Lan memberi tanda pada para dayang dan bergegas pergi ke Paviliun Yun.
Di Paviliun Yun, Qiao Rong yang mendapat kabar dari Chu Yue bahwa Qiao Lan akan segera berkunjung hanya menampilkan senyum sinisnya. "Kalian dengar itu? Dia memberiku sambutan yang sangat baik. Tentu kita harus membalasnya dengan pertunjukkan yang sangat menakjubkan di kompetisi nanti."
"Master akan langsung memperlihatkan kami?" Tanya Lan Long.
"Tentu tidak. Semua orang harus tetap menganggap aku tidak memiliki roh pelindung. Kalian akan aku simpan sampai saat paling tepat." Kata Qiao Rong sambil tersenyum.
"Baiklah. Tapi aku masih agak asing melihatmu memakai anting yang hanya sebelah itu." Li Junyan dari kemarin hanya fokus pada anting yang diberikan oleh Shen Haofeng itu.
"Huh? Ada apa dengan anting ini? Ini token cinta tahu!" Qiao Rong tersenyum dengan bangga. Raut wajah Li Junyak menampilkan ekspresi jijik, yang hanya dibalas Qiao Rong, Lan Long, dan Bai Lao dengan tawa.
"Hanya saja, sepertinya aku pernah melihat anting itu entah dimana. Yang pasti, apapun yang dia berikan, itu bukan benda biasa." Li Junyan memandang anting yang tergantung di telinga Qiao Rong itu dengan tajam.
Qiao Rong menyentuh anting itu. Entahlah, dia percaya pasti Shen Haofeng tidak akan pernah memberinya benda yang berbahaya. Yang penting, dia sangat suka desain anting itu. Dengan bulan perak itu, rasanya sangat elegan dan berkelas. Qiao Rong tersenyum jika mengingat kembali ekspresi Shen Haofeng saat Qiao Rong mencium pipi pemuda itu tempo hari.
Tiba-tiba Chu Yue datang mengetuk dari arah pintu. Lan Long dan Bai Lao segera menghilang dari tapak tangan Qiao Rong. Li Junyan hanya diam karena ia bisa mengatur agar dirinya tidak terlihat.
"Yang Mulia, Putri Lan sudah tiba." Kata Chu Yue dengan singkat. Sekarang, Chu Yue sudah terbiasa dengan Qiao Rong. Ia percaya pasti Qiao Rong dapat menyelesaikan masalah apapun yang datang, termasuk Putri Lan. Oleh karena itulah, akhir-akhir ini kekhawatiran Chu Yue berkurang.
"Baiklah. Kita harus menyambutnya." Ucap Qiao Rong sembari berdiri dari tempat duduknya. Qiao Rong segera mengajak Chu Yue ke halaman Paviliun Yun, tempat yang selalu ia gunakan untuk menerima tamu.
Dari kejauhan ia sudah bisa melihat senyum sinis Qiao Lan yang mengejeknya. Mereka berdua pun duduk dan para dayang segera menyajikan teh di sebuah cangkir.
__ADS_1
"Kudengar, Adik berminat mengikuti Kompetisi Empat Musim?" Tanya Qiao Lan dengan terus terang.
"Ah, berita memang tersebar dengan cepat di istana." Jawab Qiao Rong sambil meniup dan meminum tehnya.
"Ahaha. Kalau begitu, Kakak tentu akan mengalah sedikit pada Adik." Putri Lan tersenyum mengejek, yang hanya Qiao Rong balas dengan senyuman.
"Ah, mungkin Kakak belum tahu. Aku telah mendapatkan berkah dewa, dan sudah mulai berkultivasi sekarang." Ucap Qiao Rong dengan tenang.
Qiao Lan hanya tersenyum. Gadis itu baru mulai berkultivasi dari Desa Nanshan rupanya. Mana mungkin bisa mengalahkan dia yang sudah berkultivasi bertahun-tahun sejak kecil.
Sayangnya, Putri Lan tidak mengetahui tentang teknik kultivasi Qiao Rong, apalagi Ramuan Penempa Tubuh, belum lagi banyaknya energi yang ada di Desa Nanshan. Tiga hal itu dapat menjadikan kultivasi Qiao Rong sepuluh kali lebih cepat dari orang biasa.
Qiao Rong sudah merasakan bahwa dirinya akan segera naik ke tingkat Bumi Akhir. Ia hanya perlu berkultivasi tertutup sebentar dan keluar sehari atau beberapa hari sebelum Kompetisi Empat Musim dimulai.
"Melihat respon Kakak yang tenang. Maka Adik tidak akan menjadi lawan yang mudah juga bagi Kakak. Silahkan Kakak mempersiapkan diri." Qiao Rong tersenyum dengan ramah.
Putri Lan merasa bahwa harga dirinya saat ini sedang diremehkan. Ia ingin menggebrak meja itu saat itu juga, namun ia menelan bulat-bulat amarahnya itu. Tidak boleh ada masalah sebelum Kompetisi Empat Musim, hal itu bisa mempengaruhi citra dirinya. Melihat Putri Lan yang berpura-pura tenang, Qiao Rong agak kecewa.
Qiao Rong hanya meminta para dayang untuk membereskan teh-teh itu. Sayang sekali padahal teh nya masih sangat banyak. Dengan itu, Qiao Rong kembali ke kamarnya.
"Li Junyan." Qiao Rong kembali memanggil Li Junyan saat sudah tiba di kamarnya. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.."
Qiao Rong segera membisikkan sesuatu pada bocah itu. Keuntungan terbesar dari memiliki Kitab Yin Yang, tentunya adalah memiliki Li Junyan yang bisa keluar tanpa terlihat oleh siapapun. Namun tentu hal ini hanya bisa ia lakukan selama beberapa jam, karena Li Junyan masih terikat erat dengan Kitab Yin Yang.
Mendengar keinginan Qiao Rong, Li Junyan mengangguk.
"Kalau begitu.. Chu Yue!" Qiao Rong memanggil Chu Yue yang segera masuk bersama beberapa dayang yang membawa nampan berisi sarapannya pagi itu.
Setelah para dayang pergi, Qiao Rong menyuruh Chu Yue untuk mendekat.
__ADS_1
"Chu Yue, aku akan segera melakukan kultivasi tertutup. Jangan biarkan seorang pun masuk. Mungkin akan selesai tepat sebelum Kompetisi Empat Musim." Mendengar hal itu, Chu Yue mengangguk. Walaupun ia tidak yakin Qiao Rong bisa memenangkan Kompetisi Empat Musim itu, namun ia percaya pada Qiao Rong. Nonanya itu tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya.
Setelah menginstruksikan beberapa hal lain pada Chu Yue, Qiao Rong memulai kultivasi tertutupnya.
*****
"Yang Mulia!" Jiang Junwei tergesa menemui Shen Haofeng yang berada di kamarnya. Sekarang ini, mereka sudah tidak berada di Desa Nanshan lagi. Shen Haofeng sudah berada di kediamannya sendiri.
Shen Haofeng yang sedang membaca buku itu menoleh pada Jiang Junwei dan memperbolehkannya berbicara.
"Mata-mata Raja Langit sudah sangat berani bahkan membunuh beberapa orang kita." Jiang Junwei melaporkan hal itu langsung pada Shen Haofeng.
Mendengar hal itu, Shen Haofeng langsung meletakkan bukunya.
"Oh? Sepertinya perlu aku sendiri yang turun tangan?" Melihat ekspresi Shen Haofeng sekarang, Jiang Junwei memiliki firasat buruk.
Jiang Junwei selalu merutuki Raja Langit yang baru. Dia selalu mencari gara-gara dengan Shen Haofeng. Padahal, Raja Langit yang lama begitu bijaksana, sayang sekali salah memilih penerus.
Namun, baru saja Jiang Junwei mau menjawab, perhatiannya teralihkan pada anting Shen Haofeng. Shen Haofeng tidak pernah memakai anting itu di Desa Nanshan. Namun, Jiang Junwei melihat hari ini bahwa anting itu hilang sebelah. Padahal anting itu sangat cocok dengan rambut hitam Shen Haofeng yang halus sepinggang, membuatnya tampak lebih elegan.
"Yang Mulia.. anting itu hilang sebelah? Bukankah anting itu sangat-sangat penting?" Jiang Junwei memberanikan diri untuk bertanya, namun malah dibalas oleh tatapan tajam dari Shen Haofeng.
"Eh.. Ah, biar kutebak, Yang Mulia memberikannya pada gadis itu?" Tebakan Jiang Junwei tepat sasaran. Shen Haofeng hanya membalas dengan anggukan kecil.
"Jiang Junwei." Shen Haofeng memanggil pria itu pelan.
"Ya!" Jiang Junwei menjawab dengan tegas.
"Jalankan perintah. Pasukan Bulan, tumpas barisan depan Pasukan Langit. Sepertinya aku sudah terlalu lembut padanya." Mendengar itu, Jiang Junwei bergidik. Lembut darimana? Dalam seminggu, Pasukan Bulan yang terdiri dari anggota baru dan diberi tugas khusus untuk menahan diri dapat langsung menembus pertahanan Pasukan Langit. Sekarang ingin menumpas barisan depan Pasukan Langit tanpa menahan diri sedikitpun. Bahkan Jiang Junwei percaya diri mereka dapat melaksanakannya dalam tiga hari. Padahal Shen Haofeng lembut pada Raja Langit karena sama-sama Raja yang baru dinobatkan. Tapi Raja Langit sepertinya orang yang tidak tahu batasan.
__ADS_1
"Baik!" Jiang Junwei mengepalkan kedua tangan di dada dan membungkuk. Lalu ia segera menghilang dengan Bayangan Bulan.
Shen Haofeng melanjutkan membaca bukunya.