Abandoned Princess

Abandoned Princess
Rahasia Selir Wu


__ADS_3

Qiao Rong membuka matanya perlahan. Orang yang pertama kali ia lihat adalah Selir Shu yang kini sedang menatapnya secara langsung dengan gelisah. Dilanjutkan dengan pemandangan kamarnya seperti biasa.


"I-ibu?" Qiao Rong mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya terasa sangat sakit dan aliran qi di tubuhnya lemah.


"Rong'er, Rong'er, kau bisa melihatku?" Selir Shu meraih kedua tangan Qiao Rong dan menggenggamnya erat-erat.


Mendengar hal itu, Qiao Rong memberikan sebuah anggukan kecil.


Qiao Rong baru saja ingin mencoba untuk bangkit, namun seluruh badannya terasa sakit dan pegal. Selir Shu yang tadinya ingin membantu putrinya itu dengan sigap langsung membantu Qiao Rong perlahan saat percobaan untuk bangkit itu gagal.


"Pelan-pelan saja, tubuhmu masih lemah." Ujar Selir Shu.


Qiao Rong dapat melihat mata Selir Shu yang bengkak. Dalam hatinya, Qiao Rong merasa sangat beruntung pada kehidupan kali ini.


Seorang dayang menghampiri Selir Shu dengan sebuah nampan yang berisi sebuah mangkuk. Mangkuk itu diisi penuh oleh cairan encer berwarna merah kecoklatan.


Selir Shu meraih mangkuk itu dari nampan dan mulai mengaduk obat itu dengan sendok.


Akhirnya Chu Yue yang membantu Qiao Rong untuk duduk di ranjang.


Selir Shu menyendokkan sedikit obat dan menyuapi Qiao Rong perlahan.


Setelah obat itu habis oleh Qiao Rong, barulah Selir Shu menanyai putrinya itu tentang penyebab ia tak sadarkan diri.


"Rong'er, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai pingsan seperti itu? Tabib istana bahkan juga tidak tahu apa yang terjadi padamu." Wajah khawatir Selir Shu muncul kembali.


"Aku juga tidak tahu..." Qiao Rong mengernyitkan alisnya. Ia harus bertanya pada bocah itu, Li Junyan, tapi entah kenapa Qiao Rong tidak bisa merasakan energi dari Kitab Yin Yang sekarang ini.


Melihat ekspresi Qiao Rong, Selir Shu hanya bisa menghela napas dan menyuruh gadis itu istirahat lebih banyak.


"Apakah kau dipaksa Kaisar untuk menikahi Raja Bulan?" Tanya Selir Shu tanpa basa-basi pada Qiao Rong setelah beberapa saat.


Mendengar pertanyaan seperti itu, Qiao Rong hanya tersenyum.


"Tidak Ibu, Raja Bulan itu orangnya tidak seperti di rumor-rumor. Dia tidak kejam, hanya tidak tahu cara menyayangi seseorang." Membicarakan pria itu, Qiao Rong jadi penasaran apa yang dilakukan Shen Haofeng sekarang.


"Kalau begitu.. Ibu bisa tenang." Selir Shu menghela napas. Namun pembicaraan mereka belum selesai ketika Chu Yue tiba-tiba memberitahu Qiao Rong, "Yang Mulia.. tapi Raja Bulan telah pergi..." Ujar gadis itu tiba-tiba.


"Ah?" Qiao Rong mengernyitkan alis untuk yang kedua kalinya.


"Ada kabar dari ajudan Raja Bulan bahwa ia pergi untuk urusan sekte dengan terburu-buru." Qiao Rong merasa agak kecewa. Mereka baru saja menghabiskan waktu beberapa hari sejak kedatangan pria itu ke Kerajaan Wen. Kini sudah harus pergi karena tanggung jawab, mau bagaimana lagi?

__ADS_1


Qiao Rong hanya bisa mendesah. Melihat wajah kecewa Qiao Rong, barulah Selir Shu yakin bahwa pertunangan mereka sama sekali tidak ada campur tangan dari Kaisar.


Selir Shu meraih tangan Qiao Rong, "Tidak apa-apa, ia pasti akan cepat kembali." Ujar Selir Shu sambil tersenyum.


Qiao Rong hanya mengangguk.


*****


"Tidak boleh masuk katamu?" Permaisuri kini sedang mondar-mandir dengan gelisah di depan pintu kamar Kaisar. Begitu mendengar kabar bahwa Raja Bulan akan bertunangan dengan Putri Rong, Permaisuri langsung bergegas menemui Kaisar.


Namun begitu sampai di depan pintu kamar Kaisar ia malah tidak diperbolehkan masuk dan dihadang oleh Kepala Kasim Qi. Permaisuri tentu sangat kesal. Ada gerangan apa Kaisar tidak mau menenuinya?


"Maaf Yang Mulia, Kaisar bukannya tidak mau menemui anda, tapi ia sedang merasa kurang sehat." Jelas Kepala Kasim Qi. Kepala Kasim Qi tetap mencoba tersenyum walaupun sebenarnya ia sudah lelah berurusan dengan Permaisuri dari satu jam yang lalu.


"Aku tidak percaya! Kalau bukan Kaisar sendiri yang berbicara aku tidak akan percaya!" Permaisuri membentak Kepala Kasim Qi dengan kasar.


Kepala Kasim Qi hanya bisa menahan rasa kesal dan menghela napas.


Permaisuri rasanya sangat gelisah setengah mati. Selama ratusan tahun sama sekali belum pernah ada Raja dari ketiga sekte besar yang memiliki istri dari kalangan keluarga kerajaan.


Memang benar Raja dari ketiga sekte tidak bisa ikut campur masalah kerajaan, namun bukankah tidak ada aturan bahwa istri mereka tidak bisa menjadi Kaisar?


Bukankah ia akan dapat mengalahkan putranya dengan mudah? Permaisuri tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Walaupun ia tahu pasti Kaisar akan menolak permintaannya itu mentah-mentah, tetapi Permaisuri tetap ingin mencoba. Ia ingin mengubah pemikiran Kaisar. Tapi siapa yang tahu kalau ingin menemui Kaisar saja akan sesulit ini?


Permaisuri menggerutu kesal.


Tepat sebelum ia mulai membentaki Kepala Kasim Qi lagi, sebuah suara yang sangat familier dengan keras membentaknya terdengar dari dalam kamar.


"Siapa yang begitu lancang?!!!" Seketika, Permaisuri dan seluruh dayang, serta Kepala Kasim Qi yang ada di situ mendengar suara itu, langsung menunduk ketakutan.


Permaisuri mengepalkan kedua tangannya. Qiao Rong, gadis itu, sudah sejak lama ia tahu bahwa suatu saat nanti gadis itu akan membawa hal sial baginya.


*****


"Pingsan?" Selir Wu terdengar cukup terkejut setelah menerima berita itu dari kepala dayangnya. Siapa sangka Putri Rong yang begitu arogan akhir-akhir ini jatuh pingsan begitu saja dalam kamarnya? Bukankah sungguh aneh?


Selir Wu menyesap tehnya pelan.


Walaupun Qiao Lan hanyalah sebuah alat dimatanya, namun anak itu tetaplah putrinya. Sayang sekali Qiao Lan tidak terlahir sebagai seorang laki-laki. Sehingga Selir Wu harus bersusah payah mengurus Pangeran Qin juga.


Sekarang alatnya itu sudah tiada, ia tentu harus tetap memikirkan cara lain untuk mendapatkan tahta kerajaan.

__ADS_1


Namun yang membuat Selir Wu kesal adalah kenyataan bahwa yang mendorong putrinya menghadap kematian, tak lain adalah Pangeran Qin, anak yang ia rawat sendiri.


Selir Wu pikir Cacing Gu itu akan membuat Pangeran Qin semakin penurut, siapa sangka ia malah menjadi anak pembangkang?


Selir Wu sangat menyayangkan hal itu.


Seumur hidupnya, Selir Wu hanya menginginkan satu hal terwujud. Alasan ia berada disisi Kaisar selama puluhan tahun.


Sekarang Pangeran Qin, salah satu alatnya juga sudah hilang, dan masuk ke daftar orang yang harus ia singkirkan.


"Fanfan." Selir Wu memanggil nama seseorang.


Dari balik lemari, keluarlah seorang wanita paruh baya yang langsung membungkuk hormat padanya.


"Ya, Yang Mulia." Wanita itu memakai baju serba hitam, dengan sebuah cadar yang membuat wajahnya mustahil terlihat.


"Ada berapa banyak Cacing Gu yang tersisa?" Tanya Selir Wu.


"Hamba sudah mengumpulkan beberapa Cacing Gu baru dari Utara. Totalnya ada lima, dua masih berkembang dan harus diberi makan dengan teratur." Jawab si wanita paruh baya yang tadi dipanggil 'Fanfan'.


Selir Wu menghela napas.


"Kau sudah mengikutiku begitu lama.. Setelah pembalasan dendam ini selesai, aku berjanji akan menghadiahimu kebebasan." Ucap Selir Wu dengan lembut.


Wanita paruh baya itu hanya mengangguk.


"Kebahagiaan Yang Mulia adalah kebahagiaan hamba juga. Apabila Yang Mulia senang, maka saya pun juga begitu. Saya akan selalu berada disisi Yang Mulia."


Mendengar jawaban wanita itu, Selir Wu tersenyum puas. Lalu wanita itu kembali menghilang dari hadapan Selir Wu.


Sudah bertahun-tahun rasanya, ia menahan rasa jijik setiap kali harus melayani Kaisar. Menahan rasa mual ketika pria terkutuk itu menyentuh tubuhnya dengan jari-jarinya yang menjijikan.


Selir Wu tidak akan pernah, tidak akan pernah sanggup mengandung anak dari laki-laki itu.


Namun siapa sangka ia malah mengandung? Ia bahkan tidak bisa menahan rasa jijiknya pada anak yang ada dirahimnya. Ia menggugurkannya. Itu bukan anaknya, itu anak Kaisar.


Oleh karena itu, Selir Wu juga membunuh tabib yang memeriksa kehamilannya. Ia menyewa seorang pria dari rumah bordil, dan sebagai gantinya, pria itu menerima kehormatan untuk menjadi Ayah dari putri yang mereka sebut-sebut Putri Kaisar yang terhebat. Putri Lan.


Selir Wu kini berjalan dengan pelan ke arah jendela, melihat burung bulbul yang bersuara dengan merdu di dahan pohon, ia merasa begitu tenang.


Sebentar lagi.. hanya sebentar lagi..

__ADS_1


__ADS_2