
Qiao Rong atau lebih tepatnya, Li Wenhua, tentu sudah bukan pertama kalinya baginya menginjakkan kaki di penjara.
Sewaktu di Sekte Wuling, ia adalah orang yang bertugas untuk menentukan hukuman para pengkhianat dan kriminal yang ditangkap. Jadi tentu ia sudah sangat akrab dengan istilah penjara.
Penjara di istana sendiri terdapat di bagian istana yang paling jauh dari daerah kediaman para putri, pangeran, dan selir. Penjara ini terletak tepat di depan kediaman para prajurit istana.
Kini di dalam salah satu sel penjara yang gelap dan dipenuhi teriakan para penjahat, Putri Lan yang malang sedang meringkuk sambil menangis.
"Ugh, Yang Mulia.. anda yakin akan tetap mengunjungi Putri Lan? Disini bau sekali, juga sangat kotor." Komentar Chu Yue yang begitu masuk langsung menutup hidungnya erat-erat.
Qiao Rong melihat ke sekitar, sepertinya hewan-hewan yang sering ia jumpai dahulu memang merupakan penghuni tetap penjara istana. Tikus, dan serangga lainnya kini sudah berkumpul di setiap sudut sel yang terisi.
Akhirnya setelah melihat kondisi sekitar, Qiao Rong menyuruh Chu Yue untuk menunggu di depan gerbang penjara. Gadis itu mengangguk dengan lega, lalu pergi.
Setelah berjalan sebentar, Qiao Rong kini berada tepat di depan sel Putri Lan. Begitu melihat gadis itu, Putri Lan langsung berdiri dan meraung-raung seperti orang kesetanan.
"Keluarkan! Keluarkan aku dari sini! Kalian tidak tahu siapa aku?! Kau! Kau! Dasar wanita jalang!!" Tangan Putri Lan meraih-raih keluar celah sel untuk menggapai tubuh Qiao Rong. Tentunya, Qiao Rong segera menghindar ke belakang.
Qiao Rong hanya tertawa mengejek.
Kalaupun Putri Lan kini merasa sangat tersiksa, apakah itu setimpal dengan apa yang selama ini Qiao Rong rasakan? Bahkan Li Wenhua yang hanya memiliki memori itu tanpa pernah mengalaminya saja bisa merasakan bagaimana tersiksanya Qiao Rong dipermalukan bertahun-tahun.
Bahkan belum cukup, wanita yang sedang meraung-raung di depannya juga merenggut nyawa gadis malang itu.
Kalaupun Qiao Rong akan membalaskan dendam itu, ia tidak akan membiarkan Putri Lan mati begitu saja. Ia akan memastikan wanita itu hidup begitu menderita dan malu untuk menampilkan wajahnya ke depan orang banyak, sama seperti Qiao Rong yang dulu.
Hanya mendapatkan hukuman mati, sebenarnya Qiao Rong sudah sangat berbaik hati pada wanita itu.
Hukuman yang Qiao Rong berikan adalah, untuk berpisah dari suaminya walaupun baru beberapa hari menikah. Dua hari lagi, mereka akan segera di eksekusi bersama. Qiao Rong hanya berharap mereka dapat hidup bersama di neraka berdua nantinya. Dengan begitu Qiao Rong yang asli dapat tenang.
"Kau bahkan tidak menyadari kesalahanmu sendiri. Begitu licik, jahat, membunuh satu persatu saudari sedarah kita. Tentu kau tidak membunuhku dulu karena merasa aku bukanlah ancaman. Bagaimana dengan sekarang?" Qiao Rong mulai membuka mulutnya.
__ADS_1
Putri Lan memandang Qiao Rong dengan tatapan benci, bercampur dengan marah, kesal, sedih, dan perasaan lainnya yang saling tindih satu sama lain.
Namun sejak Putri Lan menginjakkan kaki di penjara ini, teriakan dan tangisannya tak pernah berhenti. Ia tidak pernah berhenti memanggil nama-nama untuk menolongnya. Kaisar, Su Xiao, Selir Wu, bahkan Pangeran Qin, semuanya tidak terlewat dari urutan nama yang ia teriakkan.
Qiao Lan merasa hidupnya bisa sampai pada titik ini semuanya karena gadis kurang ajar di hadapannya kini. Ia menyesal karena tidak membunuhnya dari dulu. Juga menyesal menjadi terlena dan menurunkan kewaspadaannya karena pernikahannya.
Ia bahkan tidak bisa membayangkan siksaan penjara yang dilakukan terhadap suami dan ayah mertuanya sekarang. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah mencoba meloloskan dirinya sendiri, yang tentunya mustahil pula.
Qiao Rong hanya tersenyum lebar, tidak menunggu jawaban keluar dari mulut Qiao Lan. Melihat wanita di hadapannya itu diam seribu kata dan seperti mengalami transisi seperti orang gila. Akhirnya Qiao Rong memutuskan untuk pergi daripada harus membuang-buang waktu di tempat itu.
Qiao Rong menyapa Duan Yi dan Hu Fei yang kebetulan sedang mendapat tugas berjaga di depan penjara istana. Mereka kelihatan sangat senang karena Qiao Rong datang dan menyempatkan waktu untuk menyapa dan mengunjungi mereka. Sayang sekali, Gao Ping sedang berpartisipasi dalam tim ekspedisi untuk membasmi monster-monster berbahaya di kawasan Kerajaan Wen yang tidak dihuni masyarakat.
Qiao Rong yang sengaja ingin mengunjungi Duan Yi dan Hu Fei saat ke penjara istana, sudah menyiapkan masakan Chu Yue yang baru selesai dimasak saat mereka akan berangkat. Itu tentunya ia lakukan untuk mengingatkan mereka pada saat-saat di Desa Nanshan saat mereka semua tinggal sebagai saudara.
Qiao Rong dapat bersahabat baik dengan ketiga pria itu tentunya karena mereka tidak memandang Qiao Rong yang tidak memiliki roh pelindung. Malahan, mereka menilai Qiao Rong dengan sudut pandang individual. Oleh karena itulah Qiao Rong sangat menghormati mereka walaupun jabatan mereka lumayan rendah.
Setelah berbincang-bincang agak lama, akhirnya Qiao Rong memutuskan untuk kembali ke Paviliun Yun bersama Chu Yue.
*****
Kaisar Qiao hanya bisa menundukkan kepalanya terus menerus karena tertekan oleh jumlah qi mengerikan yang dikeluarkan pria itu.
Mengenai penangkapan dan eksekusi mati putrinya, Kaisar hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Oleh karena itulah beberapa hari ini ia tidak bisa tidur sama sekali.
Sampai akhirnya... surat dari pria itu datang.
"Bagaimana? Bukankah kesepakatan ini sangat menarik?" Pria itu tertawa lagi.
"Y-ya tentu." Kaisar Qiao hanya bisa sedikit tertawa canggung.
"Tidak usah sungkan begitu. Bukankah dalam kesepakatan ini kau tidak kehilangan apapun? Aku sudah berbaik hati akan menukar putrimu di penjara nanti. Bahkan menjadikannya selirku walaupun ia sudah bersuami! Hahaha! Dan kau hanya perlu membayarku dengan sedikit pasukan. Bukankah itu menggiurkan?" Pria itu kini berjalan ke arah tahta Kaisar Qiao.
__ADS_1
Kaisar Qiao membeku. Ingin rasanya ia meneriaki pria itu bahwa ia sudah sangat lancang dan kurang ajar padanya. Namun kalau benar ia mengatakan itu pada pria itu, tentulah itu perbuatan bunuh diri.
Kaisar Qiao mulai berkeringat dingin melihat pria itu dengan santai duduk di atas tahtanya. Tahta miliknya. Namun bahkan keberanian kecil di hati Kaisar menyarankannya agar tidak bergerak sedikitpun.
Kaisar tahu, di depan pria itu, ia hanyalah sebuah semut kecil yang bisa dibunuh kapan pun pria itu mau.
Setelah bermain-main cukup lama, pria itu tiba-tiba kini sudah berada tepat di depan Kaisar.
Pria itu menangkap kedua leher Kaisar Qiao dengan salah satu tangannya dengan mudah dan perlahan mengangkat tubuh Kaisar ke atas.
Kaisar Qiao memohon-mohon ampun agar pria itu segera menurunkannya. Cadangan oksigen di paru-paru Kaisar semakin menipis, dengan usianya yang sudah agak tua, Kaisar tentu lebih kesulitan bernapas daripada orang biasa.
"Kalau kau berani coba-coba untuk menipuku... Kau tentu tahu bahwa aku tidak akan berhenti sampai pada seperti hari ini saja." Kata pria itu sebelum menghempaskan tubuh Kaisar ke lantai.
Kaisar segera terbatuk-batuk dan memegangi lehernya yang kini sudah memerah seluruhnya. Kaisar menjadi ketakutan dan segera tergopoh-gopoh menyeret dirinya kebelakang untuk menjauhi pria itu.
Namun pria itu malah memandanginya dengan tatapan bengis. Ia tidak suka kalau orang lari darinya.
Kaisar yang menyadari hal itu langsung berdeham dan mengembalikan wibawanya kembali seperti semula.
"Ehem! Tentu saja." Kaisar lalu berdiri dan menunduk kepada pria itu.
Pria itu lalu tersenyum puas dan saat Kaisar kembali memandang pemandangan di depannya, pria itu sudah menghilang di tengah kegelapan malam.
Begitu Kaisar mengecek dengan benar bahwa itu pergi, Kaisar segera merosot pada kursi tahtanya. Pasukan kecil? Balasan yang ia minta adalah seluruh pasukan elit Kerajaan Wen yang langsung di komando oleh Kaisar Qiao sendiri.
Namun, demi keselamatan putrinya, juga demi relasi dengan pria itu kalau benar nanti Qiao Lan akan menjadi selir pria itu, bahkan Kaisar Qiao merasa dua kali lipat pasukan yang pria itu minta, juga akan ia berikan.
*****
Mendengar laporan Jiang Junwei yang kini berada di belakangnya, Shen Haofeng hanya tersenyum senang
__ADS_1
"Sepertinya sudah selesai ya? Kalau begitu, aku akan segera datang."