Abandoned Princess

Abandoned Princess
Kencan Pertama


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


"Jiang Junwei." Shen Haofeng memanggil Jiang Junwei yang sedang berlatih pedang dengan pelan.


"Ya, Yang Mulia?" Jiang Junwei segera behenti dari segala aktivitasnya sesaat. Ia menyarungkan pedangnya dan berjalan pendek ke arah sumber suara.


Shen Haofeng sedang duduk dengan elegan di sebuah kursi sambil meminum secangkir teh yang kini ia letakkan di sisinya.


"Aku.. Eh.. bagaimana cara menyentuh.. emm." Shen Haofeng kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya. Ia sangat ingin bertanya namun malah tidak menemukan kata-kata yang pas. Jiang Junwei terkekeh pelan saat mendengar tuannya yang berbicara dengan terputus-putus. Baru kali ini ia melihat Shen Haofeng begitu gugup.


Untungnya, Jiang Junwei sudah sangat paham dengan kepribadian Shen Haofeng.


"Cara menyentuh Qiao Rong dan cara mendekatinya?" Jiang Junwei bertanya dengan penasaran. Seharusnya ia berterimakasih pada Qiao Rong karena sudah memberinya kesempatan untuk melihat sisi lain dari tuannya itu.


Shen Haofeng mengangguk. Ia merasa hatinya sangat tidak enak, seperti dikerubungi dan dikelitiki sesuatu. Ia merasa malu.


"Hmm..." Jiang Junwei berpikir sebentar. "Pilih cara yang paling gampang saja. Ajak dia berkeliling kota." Jiang Junwei lalu mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Shen Haofeng. Mode guru Jiang Junwei telah diaktifkan.


Shen Haofeng hanya bisa mengangguk-angguk.


"Ingat!! Hanya boleh berdua, Yang Mulia! Kalau gadis itu ingin mengajak orang lain, segera raih tangannya dan ajak dia berjalan ke arah kereta yang akan hamba siapkan." Mata Jiang Junwei sangat berapi-api. Memang pemuda itu kadang punya sesuatu untuk romansa.


Shen Haofeng hanya bisa tercengang melihat semangat Jiang Junwei. Bahkan pemuda itu ketika berlatih pedang dengannya tidak se-semangat itu dihadapannya. Jiang Junwei terus melanjutkan ocehannya. Namun, Shen Haofeng yang baru saja belajar mengenai hal-hal seperti itu rasanya hanya bisa mengerti seperempatnya saja.


"Lalu kalau kau mengajaknya makan, pastikan untuk mengelap makanan yang ada di bibirnya dengan jarimu. Seperti ini." Jiang Junwei segera memeragakan postur jarinya. Ia memandang Shen Haofeng lekat-lekat, namun belum juga sampai ibu jarinya ke bibir Shen Haofeng, tangannya itu sudah ditepis dengan kuat. Jiang Junwei mengaduh kesakitan, namum ia tetap melanjutkan ocehannya.


"Jangan lupa untuk berbicara lebih banyak saat kau berjalan dengannya. Para wanita lebih suka pria yang terbuka dengannya." Itulah kalimat terakhir Jiang Junwei yang dapat Shen Haofeng ingat.


*****


"Qiao Rong?" Shen Haofeng melambai-lambaikan tangannya di depan mata Qiao Rong. Qiao Rong yang masih bengong pun akhirnya tersadar.

__ADS_1


"Ah.. ya baiklah, aku juga tidak ada rencana apapun hari ini. Ayo kita ajak Duan Yi dan yang lainnya." Mendengar Qiao Rong berkata begitu, Shen Haofeng mengernyitkan alisnya.


Begitu Qiao Rong membalikkan badan untuk berjalan ke arah rumah Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping, Shen Haofeng segera menjulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan Qiao Rong.


Namun ocehan Jiang Junwei tidak seindah realita. Membayangkan tangan pria dan wanita yang tidak terlalu pantas jika bersentuhan, Shen Haofeng menjadi ragu dan terhenti sebentar. Sementara, tangan Qiao Rong kini sudah jauh dari jangkauan tangannya. Shen Haofeng menjadi panik.


"Qiao Rong!" Mendengar namanya dipanggil, Qiao Rong segera membalikkan badan lagi ke arah Shen Haofeng.


"Ya?" Qiao Rong bertanya dengan bingung. Namun, hal itu memberi kesempatan untuk Shen Haofeng, karena sekarang ia dapat menjangkau tangan Qiao Rong dengan mudah kembali. Shen Haofeng segera menepis pikiran tidak pantas dari otaknya dan meraih tangan Qiao Rong.


Jiang Junwei yang diam-diam melihat mereka awalnya kecewa karena Shen Haofeng berhenti dengan ragu. Namun akhirnya ia bisa tersenyum dengan senang.


Kini, tangan kanan Shen Haofeng sudah menggenggam erat tangan kiri Qiao Rong. Dan ia mulai berlari.


*****


Qiao Rong kini sedang memegangi Cong You Bing, yaitu sebuah panekuk daun bawang yang ia beli untuk dua koin perunggu beberapa menit yang lalu.


Suasana sekarang lumayan canggung. Qiao Rong tahu, pasti sangat banyak hal yang ingin ditanyakan pemuda itu padanya. Misalnya, mengapa ia dapat mendapatkan Buah Kunlun begitu mudah, mengapa Ular Nirwana akrab dengannya, dan banyak lagi hal lainnya. Namun ia juga tidak akan nyaman menjawabnya jika Shen Haofeng benar-benar akan menanyakan mengenai hal-hal itu.


Qiao Rong menghela napas dan kembali menggigit panekuk di tangannya. Ia makan dan makan, namun akhirnya menangkap basah Shen Haofeng yang sedaritadi memandanginya.


"Apa yang kau lihat?" Apakah aku begitu menarik? Mengapa dia memelototiku? Qiao Rong bertanya pada dirinya sendiri.


Shen Haofeng tidak menjawab, hanya menjulurkan ibu jarinya ke wajah Qiao Rong. Qiao Rong yang agak terkejut pun reflek mundur dengan sendirinya. Wajahnya menjadi jauh dari jangkauan jari Shen Haofeng.


"Apa yang kau lakukan?" Sekarang situasinya benar-benar canggung.


Jiang Junwei yang sudah mengikuti mereka daritadi dan berpura-pura sebagai salah satu pedagang di jalan itu diam-diam menepuk dahinya. Apakah kau bodoh? Biarkan saja ia mengelap bibirmu! Batin Jiang Junwei dengan kesal.


Karena perasaan kesal sesaatnya itu, Jiang Junwei tanpa sadar malah membiarkan Qiao Rong melihat gerak-gerik mencurigakannya. Qiao Rong yang memiliki mata yang tajam segera mengenali pedagang itu sebagai Jiang Junwei.

__ADS_1


"Jiang Junwei?" Qiao Rong mengerjap-ngerjapkan matanya. Kenapa pria itu ada disini?


Jiang Junwei segera menutupi wajahnya, namun semuanya sudah terlambat. Jiang Junwei menoleh ke arah Shen Haofeng yang terlihat marah besar. Tuannya itu mengernyitkan alis dengan kesal. Jiang Junwei tahu itu bukan pertanda baik.


"A-ah.. hanya khawatir perjalanan kalian tidak berjalan dengan baik. Kalian kan sedang.. berkencan?" Jiang Junwei mencoba tersenyum dan mendorong keadaan mereka berdua. Qiao Rong segera tersipu mendengar kata terakhir itu, tapi ekspresinya langsung berganti dengan sebuah senyuman nakal.


"Hm.. khawatir ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kau saja yang kencan denganku?" Mendengar itu, tidak hanya Jiang Junwei, bahkan Shen Haofeng pun langsung memelototi Qiao Rong dengan kaget.


Wanita ini sepertinya sangat ingin membunuhku. Batin Jiang Junwei dengan wajah putus asa.


"Tidak boleh!" Shen Haofeng langsung berteriak dengan tegas.


Namun, baru saja Qiao Rong ingin menanyakan apa alasannya, tiba-tiba sebuah gerobak datang dari arah berlawanan menuju mereka dengan kecepatan tinggi.


"Minggir!" Si pendorong gerobak kelihatannya panik karena jalanan miring yang membuat gerobaknya turun tidak terkendali. Jiang Junwei segera menghindar, sementara Qiao Rong dan Shen Haofeng menggunakan qinggong bersama untuk menghindari gerobak itu.


Setelah Jiang Junwei sadar, tuannya dan Qiao Rong sudah tidak berada dalam jangkauan penglihatannya lagi.


*****


Shen Haofeng dan Qiao Rong berakhir di sebuah gang kecil yang dipenuhi dengan tumpukan keranjang anyaman. Mereka berhimpitan di tengah gang yang sempit itu, jarak mereka kurang dari satu meter. Bahkan Qiao Rong bisa merasakan napas Shen Haofeng di dahinya.


"S-Shen Haofeng.." Qiao Rong memecah keheningan di antara mereka. Padahal di luar gang itu, ramai sekali orang-orang yang lalu lalang di jalan. "Apa.. kau menyukaiku?" Qiao Rong memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.


Shen Haofeng sangat bingung harus menjawab seperti apa. Qiao Rong menangkap ekspresi bingung Shen Haofeng dan segera memperjelas pertanyaannya. "M-Maksudku.. kalau tidak akan bertemu denganku lagi, apakah tidak apa?" Qiao Rong merutuki dirinya sendiri yang sudah berbicara dengan begitu percaya diri di depan Li Junyan. Padahal saat menatap mata Shen Haofeng saja dirinya rasanya sudah grogi seperti masuk ke dalam jurang.


"Tidak boleh!" Lagi-lagi Shen Haofeng berteriak dengan tegas seperti tadi.


"Artinya kau menyukaiku?" Qiao Rong kembali mengulang pertanyaannya setelah rasa leecaya dirinya perlahan pulih.


Belum sempat Shen Haofeng berpikir untuk menjawab, dari sisi luar gang ada seorang anak kecil yang bertanya pada ibunya dengan suara kencang. "Ibu! Lihat! Apa yang mereka lakukan di dalam?" Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengajak anak itu pergi secepat mungkin.

__ADS_1


Wajah Qiao Rong dan Shen Haofeng kini sudah merah seperti tomat. Mereka segera berjalan keluar dari gang itu satu persatu.


__ADS_2