
Keduanya saling menghindar, mata mereka juga saling bertaut.
Liu Liwei berusaha menghindar dari setiap pecutan cambuk Qiao Rong. Ia yakin, jika terkena sekali saja, nasibnya akan sama seperti Putri Lan yang kini sedang diobati tabib-tabib kerajaan. Tenaga Qiao Rong membuat pecutan cambuk itu sangat ganas. Liu Liwei harus mengakui bahwa ia ketakutan hingga menghindari canbuk itu seperti berlari untuk hidupnya.
Sementara di sisi yang sama, Qiao Rong juga menghindari setiap tebasan pedang Liu Liwei. Walaupun ia tahu tebasan pedang itu tidak akan menimbulkan sayatan separah pecutan cambuknya. Namun Liu Liwei punya keuntungan yang lebih, yaitu roh pelindung. Karena itu, Qiao Rong berusaha untuk mengenai bagian tubuh pria itu sebelum ia sempat mengeluarkan roh pelindung miliknya.
Tapi mereka berdua sama-sama lincah. Qiao Rong sendiri sangat penasaran teknik apa yang digunakan pria itu hingga menyamai Teknik Seribu Kaki miliknya. Mereka menyerang dan menghindar sambil mempertahankan jarak masing-masing.
Sorakan penonton memenuhi seluruh panggung, mereka sangat terpukau dengan instensitas pertarungan itu. Sebelumnya, tidak ada pertandingan yang begitu menarik seperti pertandingan kali ini.
Di sisi lain, sudah banyak penonton yang menaruh taruhan mereka masing-masing. Namun hampir semuanya memasang taruhan pada Liu Liwei. Karena mereka semua tahu pasti Qiao Rong akan kalah begitu Liu Liwei mengeluarkan roh pelindungnya.
Karena kemampuan mereka yang kelihatannya setara, hanya menunggu hitungan waktu agar salah satu dari mereka kehabisan energi dan kalah. Oleh karena itu, Liu Liwei berhenti bermain-main lagi dan langsung mengeluarkan roh pelindungnya.
"Jin Niu! Bantu aku!" Jin Niu adalah nama yang diberikan Liu Liwei untuk roh pelindungnya. Walaupun roh pelindung nya itu tidak cukup bertingkat tinggi untuk bisa berbicara, mereka memiliki hubungan pengertian yang cukup dalam.
"Hmm.. Kerbau Emas itu memang memiliki kesetiaan dan semangat paling tinggi dari seluruh roh lainnya." Ucap Lan Long yang bertelepati dengan Qiao Rong.
Namun, Qiao Rong sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi kerbau itu.
Jin Niu berlari ke arah Qiao Rong dan menunjukkan kedua tanduknya. Qiao Rong segera menghindar. Namun, sesaat ia kehilangan jejak Liu Liwei, yang langsung menebasnya dari belakang. Tebasan itu memberikan sebuah sayatan pada punggung Qiao Rong, walaupun lukanya tidak terlalu dalam, namun darah segar tetap merembes dari pakaian gadis itu. Qiao Rong segera menghindar dan berhenti di salah satu sudut panggung.
Qiao Rong segera menggabungkan Teknik Seribu Kaki dengan pecutan cambuknya yang ia latih tadi. Sedikit demi sedikit pecutannya itu mengenai tubuh Jin Niu yang tubuhnya terlalu besar untuk menghindar. Qiao Rong memang tidak bisa mengimbangi mereka berdua, sehingga pecutan itu harus ia ganti dengan beberapa sayatan di tubuhnya.
Namun lama kelamaan, efek dari pecutan-pecutan yang ia layangkan mulai terlihat. Kedua sisi tubuh Jin Niu mulai mengeluarkan darah. Itulah kegunaan dari latihan Qiao Rong mengayunkan cambuknya berkali-kali ke kedua sisi tembok di ruang tunggu tadi.
Menyadari hal itu, Liu Liwei tidak tinggal diam, ia langsung menyerang Qiao Rong yang luka-luka dengan agresif. Namun melihat Jin Niu yang sudah mulai lemas di lantai panggung akibat terlalu banyak kehilangan darah membuatnya ceroboh.
Liu Liwei tidak menghitung jarak mereka sehingga dengan mudah pecutan Qiao Rong mengenai tubuhnya. Namun Liu Liwei masih terus menerjang, hingga akhirnya dia berhenti.
__ADS_1
Ujung cambuk Qiao Rong sudah terhenti di sebelah lehernya.
Liu Liwei akhirnya menyerah dan menyatakan kekalahannya.
"Sungguh pertandingan yang menegangkan. Saya menikmatinya, Putri." Liu Liwei membungkukkan badan untuk memberi hormat terakhir kalinya dan tersenyum kepada Qiao Rong sebelum pergi dan menghilang ditelan kerumunan penonton yang kecewa karena uangnya habis akibat taruhan itu.
*****
"Putri Qiao Rong, dihadiahi sepuluh meter kain sutra dari Timur! Gelang-gelang dan anting-anting kerajaaan! Dan jamuan kemenangan oleh Kaisar!" Kepala Kasim Zhu meneriakkan dekrit Kaisar di aula istana.
"Terimakasih, Yang Mulia." Qiao Rong menerima dekrit itu dan segera berdiri dari posisi berlututnya.
Qiao Rong agak kesusahan berdiri karena luka-lukanya yang masih sakit walau telah diobati oleh tabib kerajaan. Dia berkali-kali mengaduh saat diobati di Paviliun Yun tadi. Bahkan Chu Yue meringis saat melihat luka-luka di sekujur tubuh gadis itu.
Kaisar kini memandangi Qiao Rong dengan penasaran. "Mengapa kau bisa secepat itu berkultivasi?" Kaisar mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke tahta. Untungnya, Qiao Rong sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan seperti ini.
"Oh, seorang guru? Bisa kau beritahu aku siapa namanya?" Kaisar tersenyum. Jika benar guru yang ditemui Qiao Rong berasal dari salah satu sekte besar, maka tentu akan merupakan sebuah keuntungan bagi Kerajaan Wen.
"Sayangnya tidak. Guru hanya lewat ke Gunung Shan dan bertemu denganku. Ia tidak memberiku namanya dan setelah mengajariku, ia pergi." Qiao Rong menunduk dan berpura-pura sedih.
Kaisar berdecak sebal sekaligus kecewa. Namun setidaknya, kemenangan Qiao Rong hari ini atas Liu Liwei telah memperbaiki harga diri Kerajaan Wen sebagai tuan rumah kompetisi. Kaisar pun kembali tersenyum pada putrinya yang baru membuatnya bangga itu. Label 'tidak berguna' atau 'aib kerajaan' sudah ia hapuskan sejak menonton pertandingan itu.
Setelah puas menanyai Qiao Rong akhirnya Kaisar memperbolehkannya kembali ke Paviliun Yun.
Baru saja ia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Tiba-tiba Chu Yue yang berada di belakangnya langsung menangis. Qiao Rong yang kebingungan harus berbuat apa hanya mengelus pundak gadis itu dengan lembut.
"Yan-yang Mulia.. Hikss.. Pasti sangat sakit kan?" Chu Yue yang tiba untuk menonton Kompetisi Empat Musim tepat saat babak final selalu menjerit dengan ngeri setiap kali tebasan pedang Liu Liwei mengenai tubuh Qiao Rong.
"Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa." Qiao Rong kembali mengelus dan memeluk gadis itu. Namun diam-diam Qiao Rong tersenyum. Ia tidak mempunyai teman perempuan sejak dahulu, sekarang tiba-tiba memiliki teman yang seperti ini, entah kenapa rasanya sangat senang.
__ADS_1
"Untung saja tidak ada yang mengenai wajahmu.. Hiks.. Jika tidak, bagaimana kau akan menikah nantinya.. Hiks.." Chu Yue sudah agak tenang sekarang.
Namun perkataan Chu Yue benar-benar membuat Qiao Rong berpikir keras. Ia tidak pernah memikirkan sampai situ. Hidupnya dari dulu hanyalah berkultivasi, berkultivasi, dan berkultivasi seumur hidupnya. Tidak pernah memikirkan pernikahan, atau keturunan. Sekarang ia sudah bukan Li Wenhua lagi, ia Qiao Rong. Seharusnya sudah tidak seperti itu lagi bukan?
*****
"Luka-luka?" Shen Haofeng menoleh ke arah Jiang Junwei. Melihat Jiang Junwei mengangguk, rasanya seperti ada pusaran amarah dalam hatinya. Tapi pembawaannya tetap tenang, sama sekali tidak terganggu sedikitpun.
"Bukankah masih ada mata-mata kita di Kerajaan Yuan?" Shen Haofeng bertanya, yang langsung disusul oleh anggukan pria dibelakangnya.
"Kalau begitu, titipkan salamku pada tuan perdana menteri." Nada dingin Shen Haofeng membuat Jiang Junwei bergidik. Ia bahkan tidak usah bertanya lagi untuk mengerti maksud tuannya itu.
Sepertinya bertemu Qiao Rong memang menjadikan Shen Haofeng sedikit lebih berperasaan. Tapi bukankah begini terlalu ekstrem?
Jiang Junwei hanya mengangguk dan segera menjalankan tugasnya.
*****
Di Kerajaan Yuan, kini sudah banyak orang yang tahu bagaimana Perdana Menteri Liu diserang oleh pria berbaju hitam yang menyergapnya sewaktu akan pergi ke rumah bordil di malam hari.
Sekarang karena ia terluka, bahkan tidak bisa turun dari ranjang.
Perdana Menteri Liu terus menerus menjadi buah bibir orang banyak, karena tepat setelah itu, salah satu bisnisnya bangkrut dalam semalam. Tentu mereka semua sangat penasaran siapa yang melakukannya. Namun tidak tahu siapa yang berani melakukan hal separah itu terhadap seorang perdana menteri?
Bahkan kabar itu sampai pada Kerajaan Wen, tersangka utamanya adalah Perdana Menteri Huang yang kemarin putranya kalah melawan Liu Liwei.
Namun mereka masih meragukan hal itu karena seorang perdana menteri tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Sama sekali tidak ada petunjuk, dan Kaisar dari kedua kerajaan juga tidak ingin memperpanjang masalah untuk menjaga perdamaian.
Perdana Menteri Liu yang malang hanya bisa terbaring meratapi nasibnya yang sial.
__ADS_1