Abandoned Princess

Abandoned Princess
Kembalinya Shen Haofeng


__ADS_3

Shen Haofeng memandangi keadaan rumahnya itu. Sangat berantakan. Ia langsung membersihkan dan merapikan perabotan-perabotan yang sangat berdebu.


Dari belakang, Jiang Junwei datang menggunakan Teknik Bayangan Bulan.


"Selamat, Yang Mulia. Dapat membuat pasukan Raja Langit mundur. Sungguh sebuah kehormatan melayani anda." Jiang Junwei berlutut dan mengepalkan kedua tangannya.


"Berdirilah. Kau sudah dapat informasinya?" Shen Haofeng bertanya dengan penasaran.


"Menjawab Yang Mulia, ya. Wanita itu adalah Qiao Rong, putri ke-7 Kaisar Qiao. Kabarnya, ia tidak memiliki roh pelindung." Jawab Jiang Junwei.


"Tidak memiliki roh pelindung? Sangat menarik." Shen Haofeng tersenyum. Ia lalu mengangkat tangannya dan memberi tanda pada Jiang Junwei.


"Hamba pamit." Jiang Junwei lalu menyatu dengan kegelapan malam, dan pergi.


"Qiao Rong.. "


*****


"Yang Mulia!" Chu Yue berteriak begitu kencang pagi itu, bahkan hingga membangunkan Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping yang berada di rumah sebelah.


"Ada apa, Chu Yue? Kau tidak akan berteriak kecuali ada masalah." Qiao Rong bangun sambil menguap. Badannya masih terasa agak sakit.


"Shen.. Shen.." Chu Yue menunjuk-nunjuk rumah Shen Haofeng.


"Shen Haofeng? Dia kembali?" Qiao Rong bertanya dengan ekspresi terkejut, namun tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Melihat Chu Yue mengangguk, Qiao Rong merasa begitu senang.


Namun senyuman Qiao Rong hanya bertahan beberapa detik. "Lalu kenapa? Apa hubungannya denganku?" Qiao Rong lalu kembali tidur di atas ranjangnya.


Chu Yue tercengang. Siapa yang dua minggu ini sepertinya begitu tersiksa memikirkan pemuda itu? Apakah benar-benar Qiao Rong yang ini?


Chu Yue sungguh tidak bisa memahami pemikiran Qiao Rong. Ia sudah sungguh lelah mencoba menebak dan memberinya saran dari kemarin. Suka ya suka, rindu ya rindu, sekarang orang yang bersangkutan sudah kembali tapi malah menolak. Apa namanya kalau bukan jual mahal?

__ADS_1


Chu Yue hanya menggelengkan kepala dan bersiap memasak sarapan.


*****


Shen Haofeng sudah menunggu tiga jam. Selama tiga jam itu ia menghabiskan waktu membaca beberapa buku yang ada di rumahnya, serta kembali membersihkan beberapa perabotan yang belum sempat ia bersihkan kemarin malam.


Aneh. Qiao Rong biasanya akan muncul pada jam-jam ini. Kini matahari sudah hampir mencapai puncaknya, namun batang hidung gadis itu tidak kelihatan sama sekali.


Tanpa sadar, Shen Haofeng sudah menunggu dan mengharapkan kunjungan Qiao Rong. Ia juga merasa dirinya sangat aneh. Belum pernah bertemu wanita yang bersikeras untuk berkunjung pagi, siang, dan malam ke rumah seorang pemburu biasa. Apalagi dia adalah seorang putri. Shen Haofeng tidak bisa memikirkan alasan yang bagus mengapa Qiao Rong begitu sering mengunjunginya.


Sepertinya ia sudah terbiasa dengan kunjungan Qiao Rong yang cerewet dan selalu menanyakannya ini itu. Entah hal itu bagus atau tidak, ia masih tidak tahu.


*****


"Yang Mulia, apakah hari ini anda tidak akan mengunjungi Sh—" Sebelum Duan Yi bisa menyelesaikan kata-katanya, Qiao Rong sudah lebih dulu memotong perkataannya itu.


"Siapa yang berani menyebut namanya?!" Bentak Qiao Rong sambil memukul meja.


Duan Yi seketika langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak akan berbicara lagi hari ini, suasana hati Qiao Rong sedang seperti ini, jika salah berbicara tentu akan sangat fatal.


Memikirkan hal itu, lama-kelamaan wajah Qiao Rong menjadi memerah tanpa disadarinya. Hu Fei yang menyadarinya pun segera bertanya dengan khawatir. "Apakah Yang Mulia tidak apa? Mengapa wajah Yang Mulia begitu merah?"


Namun Qiao Rong belum sempat menjawab saat sepuluh orang berbaju hitam menerobos pagar rumah mereka. Qiao Rong sebenarnya tidak terlalu terkejut, ia sudah lama menantikan mereka.


*****


Shen Haofeng baru saja ingin berjalan ke arah rumah Qiao Rong, berniat ingin menumpang makan malam bersama. Walaupun memang benar beras yang habis itu belum ia beli lagi, namun dalam hatinya juga ada keinginan melihat wajah gadis itu.


Namun, saat ia baru beranjak beberapa langkah dari pagar rumahnya, ia bisa merasakan banyak aura qi yang menuju ke arah rumah Qiao Rong.


Benar saja, sepuluh orang berbaju hitam tiba-tiba datang menggunakan qinggong dan langsung menerobos pagar rumah itu. Shen Haofeng segera kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah pedang, lalu kembali bergegas ke arah rumah Qiao Rong. Shen Haofeng segera mempercepat langkahnya. Namun bagaimana pun juga, ia tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya dengan sembrono. Ia harus tetap menetapkan sebuah batasan pada kekuatan yang dikeluarkannya agar mereka, terutama Qiao Rong, tidak curiga pada identitasnya.

__ADS_1


Shen Haofeng ikut menerobos pagar rumah Qiao Rong. Di dalam, Qiao Rong dan yang lainnya sudah sibuk melawan para pria berbaju hitam itu.


Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping, masing-masing melawan dua orang. Namun mereka kelihatan kewalahan karena tingkat kultivasi para pria berbaju hitam itu kelihatannya lebih tinggi. Qiao Rong sendiri sedang fokus melawan empat orang sambil melindungi Chu Yue yang ada di belakangnya.


Shen Haofeng segera bergabung dalam pertikaian itu. Qiao Rong yang melihatnya terlihat sangat terkejut. Shen Haofeng segera memancing dua orang dari empat orang yang sedang dihadapi Qiao Rong.


"Tidak boleh ada dari mereka yang boleh hidup malam ini!" Teriak Qiao Rong dengan lantang.


Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping segera mengangguk, sementara Chu Yue hanya bisa berlindung di belakang Qiao Rong karena ia tidak mempunyai pengalaman bertarung atau teknik apapun.


Qiao Rong lebih kaget lagi karena melihat Shen Haofeng yang bisa berkultivasi, setidaknya berada di tingkat yang sama dengannya. Bisa dibilang, dari pengamatan Qiao Rong, setidaknya Shen Haofeng memiliki tingkat kultivasi Bumi Menengah.


Para pria berbaju hitam itu juga seharusnya bertingkat Bumi Menengah. Namun dengan teknik-teknik yang dimiliki Qiao Rong, tentu mereka bukanlah tandingannya. Dua orang itu tumbang tidak lama kemudian. Ia segera membantu Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping.


Sementara di sisi Shen Haofeng sendiri, ia sedang berhati-hati memilih teknik yang akan ia gunakan untuk melawan kedua orang itu. Walaupun yang ia pakai hanyalah teknik-teknik sederhana bertingkat perunggu, namun tingkat pelatihannya bisa dibilang sudah mencapai tingkat paling sempurna.


Kini, dari sepuluh orang, hanya tersisa dua pria berbaju hitam yang sedang terpojok. Qiao Rong memakai Teknik Pemotong Angin yang pernah ia pelajari dari Kitab Yin Yang, untuk segera menyayat leher salah satu pria itu.


Gao Ping lalu memegangi kerah baju pria yang satunya. "Siapa yang mengutusmu?!" Gao Ping mempererat cengkramannya.


Namun, siapa sangka pria itu malah akan menggigit lidahnya sendiri dan bunuh diri. Qiao Rong segera memeriksa apa yang ada di mulut pria itu.


"Racun Fu Le. Menyebabkan jantung berhenti secara mendadak. Mereka adalah pembunuh bayaran yang lumayan profesional." Qiao Rong menjelaskan hal yang ia lihat.


Namun, untuk sementara, ia membalikkan badannya dan memandang baju Shen Haofeng yang berlumuran darah. "Kenapa kau ada disini? Tidak kusangka tingkat kultivasimu lumayan juga." Kata Qiao Rong dengan dingin.


Shen Haofeng tidak tahu mengapa, namun mendengar perkataan Qiao Rong yang dingin itu, ia merasa sedikit kecewa. "Aku ini pemburu, tentu saja bisa berkultivasi." Jawab Shen Haofeng.


Shen Haofeng menyarungkan kembali pedangnya. Ia lalu pamit kepada mereka. Dan berjalan pulang begitu saja.


Qiao Rong menjadi semakin kesal. Pemuda itu ikut menerobos ke rumahnya tanpa sebab, ikut bertarung, dan pulang begitu saja tanpa penjelasan apapun. Qiao Rong merasa sangat marah. Ia langsung pergi membersihkan diri dan menyuruh Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping untuk membereskan mayat-mayat itu dari rumahnya. Tidak peduli akan mereka kuburkan dimana, Qiao Rong sudah sibuk karena rasa kesalnya pada Shen Haofeng. Mereka kini juga sudah tidak berselera makan lagi akibat pertarungan itu.

__ADS_1


"Yang Mulia.. siapa yang akan berbuat begitu kejamnya padamu hingga mengirimkan pembunuh-pembunuh bayaran ini?" Tanya Chu Yue dengan polos.


"Siapa lagi kalau bukan Putri Lan? Bukankah kesempatan besat untuk membunuhku saat diluar istana? Heh." Qiao Rong tersenyum mengejek sesaat, dan segera bersiap tidur.


__ADS_2